BERTEMU

1501 Words
Siang itu di mansion Duke Benjamin, keadaannya sudah sangat kacau. Kevin dan para pengawalnya juga para pelayan mengaku tidak melihat dan tidak mengetahui kepergian Duchess Maura. Ben tampak sangat emosi dipenuhi amarah karena tak berhasil menemukan Maura juga Quinzy di seluruh ruangan di dalam mansion itu. CCTV pun tidak ada yang merekam kepergian Maura dan putrinya. Ponsel Maura juga tak bisa dihubungi, karena tidak diaktifkan. Ben membanting semua barang yang ada didekatnya. Segala kursi dan meja sudah terbalik dan tidak pada posisi semula. Para pelayan terlihat sangat ketakutan.   Ben mencengkram bagian atas jas Kevin dan menatapnya tajam. "Kau...harus menemukan istri dan anakku secepat mungkin!!! Atau aku akan memecatmu dan menjebloskanmu ke dalam penjara dengan tuntutan kelalaian sehingga menyebabkan istri dan anakku diculik. CEPAT!!!" perintah Ben dengan nada menekan dan membentak di wajah Kevin. "Maaf Tuan atas kelalaian saya, saya akan segera mencari Nyonya." Sahut Kevin.   Kevin pergi bersama anak buahnya, mencari Maura namun tak benar-benar mencarinya dengan serius. Kevin masih teringat bagaimana Maura menangis memohon padanya untuk dibebaskan dari sarang iblis Benjamin. Hingga larut malam Kevin dan para pengawalnya kembali lagi ke mansion Ben, tanpa membawa Maura. Ben langsung naik pitam melihat Kevin datang dengan tangan kosong dan tanpa berita apapun tentang keberadaan Maura. Ben segera memberi perintah lagi pada Kevin untuk melacak keberadaan Dixie. Ben menaruh curiga bahwa Dixie lah yang sudah membawa Maura dan putrinya pergi dari rumah. Kevin segera melangkah ke ruangan satelit, diikuti oleh Ben, dia segera melacak keberadaan Dixie melalui satelit menggunakan deteksi wajah dan juga alamat tinggal Dixie. Layar itu hanya menampilkan Dixie dan segala aktifitasnya tanpa ada Maura di sekitarnya, baik di kantor maupun di apartemen Dixie. Kevin juga melacak semua rumah yang dimiliki oleh Dixie termasuk rumah yang ada di pinggiran pantai, namun semua nihil. Semua rumah Dixie yang lain kosong tak berpenghuni, Dixie hanya menempati apartmentnya saja.   "Nihil Tuan, sepertinya Nyonya memang tidak dibawa oleh tuan Dixie." Ucap Kevin selesai pelacakannya. "Lacak Maura melalui satelit!" Ucap Ben. Kevin pun segera melakukan tugasnya sambil memohon dalam hati semoga Maura tak tertangkap di satelit. "Nihil juga Tuan, satelit tidak menangkap keberadaan Nyonya dimanapun." Ucap Kevin memberi laporan, di hatinya ada sedikit lega. "s**t!!! Dimana Maura berada?! Kenapa satelit pun tak mampu menangkap keberadaanya?!" Umpat Ben kembali marah, Kevin hanya diam.   Ben keluar dari ruangan satelit itu dengan membanting pintu. Kevin sebenarnya masih penasaran dimana sebenarnya sang Duchess berada, Kevin kembali meneliti lebih lagi, namun dia tetap tidak menemukan Maura. Saat Kevin keluar dari ruangan satelit itu, dia melihat Ben terlihat melangkah keluar dari rumah. Kevin segera mengejarnya dan mengikutinya naik ke dalam mobil. Tugasnya memang mengawal kemanapun, kapanpun Ben pergi. Kevin merasa sangat terkejut saat Ben ternyata malam itu justru mendatangi rumah selingkuhannya Ms. Ellyane. Kevin benar-benar merasa lega berhasil melepaskan Duchess Maura dari iblis Ben. Kevin tak habis pikir, bagaimana mungkin Tuannya itu saat sedang mengkhawatirkan istri dan anaknya yang hilang namun juga pada saat yang sama menghampiri selingkuhannya.   Sepanjang malam Kevin bersama Marco sopir pribadi Ben itu, menunggu diluar di halaman rumah Ms. Ellyane. Saat pagi tiba, Tuannya belum juga keluar dari rumah wanita itu. "Kasihan Nyonya Maura, memiliki suami yang seperti iblis itu. Semoga kali ini Nyonya benar-benar berhasil kabur dari Tuan." Ucap Marco dan Kevin hanya menatapnya diam. "Kevin, kau sungguh tak tahu dimana Nyonya berada?" Tanya Marco dan Kevin hanya menggelengkan kepala.   Saat siang hari, akhirnya Ben keluar dari rumah wanita itu, diikuti oleh wanita itu yang bergelayut manja di lengan Ben sambil tersenyum, Kevin dan Marco juga melihat bahwa Tuannya juga sudah bisa tersenyum saat ini sambil menatap wanita itu dan mengecupnya. "Benar-benar iblis!" Ucap Marco lirih namun masih bisa terdengar oleh Kevin, membuat Kevin menoleh dan menatap Marco heran. Marco segera masuk ke bagian sopir, sedangkan Kevin segera membukakan pintu bagi Tuannya itu lalu menutupnya lagi saat Ben sudah masuk ke dalam mobil, diikuti dia yang juga masuk ke bangku penumpang bagian depan di samping Marco.   "Bawa aku menemui Tuan Lambroche, aku harus bertanya pada istrinya tentang keberadaan istriku." Perintah Ben pada Marco. Seketika membuat Kevin dan Marco kembali tegang. "Baik tuan." Jawab Marco tetap berusaha tenang.   Tiba di XXL Corp, kantor Xander. Ben segera memberitahu ke bagian resepsionis siapa dirinya dan maksud kedatangannya. Resepsionis itu langsung menghubungi sekretaris Xander untuk memberitahu kedatangan Duke Benjamin, dan tak lama kemudian sekretaris Xander turun ke lobby lalu mengantarkan Duke Benjamin bersama Kevin naik ke atas menuju ruangan Xander. "Hai Duke Benjamin, apa kabar anda? Ada keperluan apa sehingga anda harus datang sendiri menemui saya?" Sapa Xander tersenyum tenang menyambut kedatangan Ben. "Saya ingin menemui istri anda Tuan Lambroche." Sahut Ben tanpa basa basi. "Elsa maksud anda? Ada keperluan apa kalau saya boleh tahu?" Tanya Xander. "Saya tahu kedekatan istri saya dengan istri anda, kemarin siang istri saya mendadak meninggalkan rumah bersama putri kami, dan sampai kini belum kembali ke rumah. Saya pikir kemungkinan istri anda mengetahui keberadaan istri saya." Sahut Ben dan Xander hanya mengangguk-angguk kepalanya mencoba mengerti. "Baiklah, saya akan meminta istri saya untuk datang kemari. Anda bisa menunggunya." Ucap Xander dan Ben hanya mengangguk.   Xander segera menghubungi Elsa untuk memintanya datang ke kantor karena sudah ditunggu oleh Duke Benjamin. Elsa langsung memahami apa maksud Ben ingin bertemu dengannya, dan Elsa sudah mempersiapkan diri dan juga jawaban. 30 menit kemudian Elsa tiba di ruangan Xander. Elsa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ben sambil mengangguk tersenyum sopan.   "Apa kabar Duke Benjamin?" Sapa Elsa, Xanderpun segera mendampingi Elsa di sampingnya sambil merangkul Elsa. Mereka duduk di sofa dalam ruangan kerja Xander. "Saya ingin menanyakan keberadaan Maura dan putri kami, apa anda mengetahuinya?" Tanya Ben pada Elsa. "Maura?! Entahlah saya juga tidak bisa menghubunginya seminggu ini. Apa yang terjadi pada Maura?! Maafkan saya, karena Maura yang kukenal sangat tertutup mengenai hal-hal pribadinya. " Sahut Elsa. "Dia pergi bersama Quinzy meninggalkan rumah dari kemarin. Saya tak bisa menemukannya, saya pikir mungkin anda bisa membantu saya menemukannya." Ucap Ben. "Maaf, saya juga tidak mengetahuinya, saya mengetahui dia meninggalkan rumah juga baru saja saat anda mengatakannya." Sahut Elsa tetap tenang, apalagi ada Xander disampingnya membuat Elsa lebih tenang lagi menghadapi Duke Benjamin. "Maafkan saya kalau sedikit memaksa anda, bisakah anda segera menghubungi saya jika mendapat kabar dari Maura? Saya sangat mengkhawatirkan Maura juga Quinzy." ucap Ben mengharap bantuan dari Elsa. "Baiklah, tentu Duke Benjamin, saya akan menghubungi anda jika ada kabar nantinya." Sahut Elsa.   Ben segera bangkit berdiri dari sofa itu diikuti oleh Elsa juga Xander, lalu mereka saling berjabat tangan dan Ben berpamitan pada Elsa dan Xander. Sesaat sebelum keluar dari pintu ruangan kerja Xander, Ben mendadak berbalik ke Elsa dan Xander lagi. "Maaf, apa hubungan kalian dengan Dixie?" Tanya Ben menyelidik. "Ouw Dixie adalah saudara sepupu aku, dia putra dari pamanku yang sudah meninggal. Ada apa anda menanyakan Dixie?" Sahut Xander balas berbalik. "Dimana saya bisa menemui Dixie saat ini?" Tanya Ben lagi. "Dia pasti ada di kantornya, temui saja dia disana, bukankah Anda sudah pernah kesana?" Sahut Xander lagi. "Ouw baiklah. Terima kasih, saya pergi dulu." Ucap Ben pada akhirnya pergi dari kantor Xander. Elsa segera menghela nafas lega sambil memeluk Xander. Xander memeluk Elsa dengan penuh sayang membelainya. "Tenanglah dia sudah pergi. Sebaiknya kita hubungi Dixie saat ini supaya dia bisa menjaga emosinya jadi keberadaan Maura tetap aman." Ucap Xander dan Elsa langsung mengangguk setuju.   Xander segera menghubungi Dixie untuk memperingatkan supaya bisa menjaga emosinya saat Ben datang  ke kantornya, mengingat karakter Dixie yang sering ceroboh dan emosional, akan membongkar persembunyian Maura saat ini. Dixie mengerti apa yang Xander maksudkan, dan Dixie mencoba tenang sebelum Ben datang.   Tak lama kemudian Ben sudah tiba di kantor Dixie, namun kedatangan Ben  kali ini dengan sopan tidak seperti yang sebelumnya. Dixie langsung berdiri dari kursi kerjanya, saat sekretarisnya mengantarkan Ben masuk ke ruangannya. Suasana tegang merasuk diantara tatapan dua pria itu saat bertemu dan saling mengunci pandangan lawan bicara di depannya.   "Katakan dimana Maura?! Aku yakin kau yang membawa Maura pergi dari rumah.!" Ucap Ben memulai pembicaraan. "Hahahaha... kenapa kau selalu curiga padaku setiap ada yang terjadi dengan Istrimu?! Aku tak ada hubungan apapun dengan istrimu!  Apakah kau selalu memperlakukan semua pria yang menolong istrimu dengan curiga seperti ini?! Kasihan sekali istrimu pasti tak akan ada orang yang mau menolongnya seandainya dia mengalami sesuatu yang buruk diluar sana." Sahut Dixie menertawakan sikap Ben. "Tutup mulutmu! Kau tak tahu siapa aku hah?!" Ucap Ben mulai emosi melihat Dixie menertawakannya.   Dixie langsung mencengkram bagian atas jas Ben, dan menatapnya tajam. "Aku tahu jelas siapa kau! Kau adalah seorang bangsawan yang berkelakuan sampah! Ingatlah bahwa kau sedang dalam pengawasan dari sang Mulia Ratu! Jadi jaga sikapmu Duke! atau aku akan mengajukan segala bukti tentang kelakuan sampahmu pada sang Mulia Ratu.!" Sahut Dixie mengancam Ben.   Raut wajah Ben seketika berubah, ada raut terkejut mendengar ucapan Dixie, Ben tak menyangka bahwa Dixie tahu tentang Sang Mulia Ratu yang memang sedang mengawasi setiap tingkah lakunya. Dixie segera melepaskan cengkeraman tangannya dari jas Ben dengan sedikit menghentaknya. "Sekarang lebih baik kau pergi dari hadapanku! Dan satu hal lagi! aku memang tertarik dengan istrimu. Jadi jagalah dia baik-baik jika kau tak ingin dia berlari ke pelukan pria lain dan itu aku!" Ucap Dixie.   Ucapan Dixie tentu saja membuat Ben semakin geram padanya, namun Ben tak mungkin melawan Dixie sekarang, mengingat ultimatum yang memang sudah sang Mulia Ratu berikan padanya. Ben harus benar-benar menjaga perilakunya di kalangan umum saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD