"Gila sih parah kamu, Sam. Nyosor utama aja di pertemuan keluarga kamu." Samudera menoleh ke arah Oceana sekilas seraya menampilkan senyuman manis, kemudian kembali memandang langit yang penuh taburan bintang. "Gak apa-apa lah, biar mereka tahu kalau kamu milikku, dan mereka gak melihat atasannya dengan siapa saja aku menikah." Pascanya, setelah adegan tadi, Samudera langsung menarik Oceana ke balkon kamarnya. "Yang nikah aja bisa cerai, apalagi yang masih pacaran, Sam." Refleks Samudera langsung menoleh dan menatap tajam Oceana. "Jangan ngomong gitu lagi, kita lagi. Kamu milik aku dan aku milik kamu." "Kita bukan Tuhan yang bisa menyelesaikan segala sesuatu yang akan terjadi di kehidupan kita kelak." "Menyenangkan itu harapan aku, Na." Oceana menghela napas perlahan. "Terkadang

