b

1005 Words
Dokter Lami mendengus cepat. Tangannya bersedekap dengan ekspresi mencemooh luar biasa. "Sosok yang kalian puja dan banggakan itu, tidak akan ada apa-apanya dibanding Adonia. Takdir yang mengutus gadis itu menjadi istimewa. Dan menjadikan lainnya seperti sampah. Dia berlagak seolah dia pahlawan sekaligus ratu. Padahal yang terjadi, dia bukan apa-apa." Addi Julian menahan napas mendengarnya. Dokter Lami memejamkan mata menahan diri. "Aku mencoba membuat Adonia dibenci karena membohongi Andara bahwa dia pengkhianat. Aku yakin, Jenderal dan semua isi di dalam benteng juga menganggapnya demikian. Jika itu masih terjadi, kesempatan kalian hanya tinggal satu. Bawa Adonia padaku." "Dokter Rin akan membunuhmu." Dokter Lami menyeringai dingin. "Dia pikir dia bisa apa?" Darius yang sejak tadi diam mendengarkan, memberanikan bicara. "Dokter, jika Adonia mengorbankan diri untuk Andara, militer hitam itu tidak akan terkalahkan, kan? Dan keinginan kita membentuk dunia yang baru tidak akan terwujud?" Kepala Dokter Lami menggeleng tegas. Dia menyilangkan kaki dengan ekspresi serius. "Lambang kupu-kupu itu berarti kekuatan. Kepercayaan kuno yang bilang bahwa dia keabadian. Kemenangan mutlak. Adonia tidak akan mudah mati begitu saja kalau dia punya tekad hidup yang tinggi." Mata Dokter Lami menatap Addi Julian dan Darius bergantian. "Akan tetapi, jika dia berkeinginan untuk mati dan putus asa, dia akan mati dengan mudah." "Apakah dia abadi?" Kepala Dokter Lami menggeleng. "Dia seperti manusia biasa." Dokter Lami mengambil buku di atas meja kerjanya. Membacanya dengan guratan di dahi. "Struktur molekul di dalam tubuhnya yang kebal. Dia mempunyai sistem imun yang tinggi. Beberapa serangan yang mematikan mungkin hanya membuatnya lumpuh sementara, tidak akan merenggut jiwanya. Adonia adalah salah satu dari banyak korban yang mati karena kesalahan genetik pasca perang dunia kelima. Dia percobaan paling sempurna yang lahir di dalam Andara. Darahnya, darahnya mampu membuat orang lain kuat. Jika Andara mengambil sampel darahnya, militer hitam akan tak terkalahkan. Jika darahnya dikembangkan dalam bentuk senjata, kalian akan lenyap menjadi debu." Darius membelalakkan mata tak percaya. Addi Julian termenung. Menatap Dokter Lami yang menutup bukunya dan kembali duduk dengan tenang. "Lalu, siapa yang mampu mengalahkannya?" Dokter Lami memandang Julian dengan tatapan serius. "Sosok yang kalian coba hidupkan di dalam tabung bersama Dokter Rin. Hanya dia yang bisa membunuhnya. Pastikan kalian mendapatkan darah Adonia yang cukup banyak. Darah yang benar-benar murni diambil. Bukan yang sudah tercampur dengan tanah atau lainnya. Setelah itu, bunuh dia." Panglima Sai dan Letnan Aristide membeku hebat mendengar semua pengakuan Dokter Lami yang diam-diam membuat pucat merayap di wajah mereka. *** "Kau berjalan-jalan?" Komandan Rei menatap Adonia yang tengah berkeliling antusias menatap rumah sakit Ankara yang besar dan megah. Senyum gadis itu tidak lenyap saat mata mereka bertemu pandang. Komandan Rei berjalan mendekat. Melepas topi militernya saat Adonia menatapnya dengan senyum tertahan. "Kapten Davira baru saja datang menjengukku bersama Kapten Madava. Setelahnya, dirimu." Adonia menatap pemandangan rumah sakit dari lantai empat dengan senyum. "Ah, betapa menyenangkan saat orang-orang menganggapmu ada." Ada kesakitan dan kepedihan saat Adonia bicara tentang dirinya. Komandan Rei membuang pandangannya. Merasa dia begitu jahat karena pernah menuduh gadis ini sebagai pengkhianat Andara. "Apakah Jenderal sudah datang?" Adonia menoleh dengan alis terangkat. "Dia tidak datang." Senyumnya tampak kecut. Tetapi, Adonia bersikap santai. "Aku tidak peduli." Komandan Rei mendengus. Dia ikut memutar badan, menatap pemandangan sesak di lantai satu rumah sakit Ankara yang ramai. "Dia suamimu." Adonia hanya diam. Dia menatap telapak tangannya yang masih berbalut perban walau dia tidak lagi merasakan sakit sekarang. Semua lukanya terasa membaik dengan cepat. Adonia terkadang heran, tetapi dia tidak tahu apa pun tentang dunia medis. Komandan Rei menatap telapak tangan yang masih berbalut perban itu dengan kening mengernyit. "Apa kau sudah lebih baik? Terakhir kali aku melihatmu, kau seperti pasien yang siap pulang." Adonia menatap ke arah Komandan Rei dengan tatapan ngeri kemudian berubah hangat. "Benarkah? Aku memang tidak ingin di rumah sakit. Bau obat-obatan dan pendingin ruangan yang menyengat membuat kepalaku pusing dan ingin muntah." Adonia tampak lepas menceritakannya dengan polos. Membuat Komandan Rei mengernyit, kemudian mendengus padanya. "Kau harus terbiasa." Adonia belum sempat berbicara saat dia mendapati Jenderal masuk ke dalam rumah sakit bersama Letnan Aristide dan Panglima Sai di lantai dasar. Membuat Komandan Rei memicingkan matanya tajam dan terkejut karena Jenderal tampak begitu kacau. "Ada apa?" Adonia bertanya dan Komandan Rei menggeleng lemah. Dia memutar badan, bersiap menunggu Jenderal saat Adonia hendak melarikan diri ke kamar, tangan Sang Komandan menahannya. "Tetap di sini." "Jenderal akan marah kalau aku berjalan-jalan." Adonia menepis tangan itu dan Komandan Rei masih setia menggenggamnya dengan gelengan kepala kuat. Sang Jenderal berjalan dengan ekspresi kaku menahan diri yang siap meledak saat dia membeku, menemukan sang istri tengah bersama Komandan Rei dan dengan tangan Sang Komandan ada di tangan lainnya yang bebas. Membuat Sang Jenderal merangsek maju, melepas tangan itu saat dia membawa Adonia masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa, Jenderal?" "Aku harus bicara berdua denganmu." Jenderal mengabaikan Letnan Aristide dan Panglima Sai di belakangnya. Saat mereka mendengar suara bantingan pintu dari kamar inap Adonia dan mata biru laut Letnan Aristide melempar sinis pada Komandan Rei. "Kau membuat Jenderal semakin naik darah." Panglima Sai mengejek dengan ekspresi dingin. Membuat Komandan Rei menyahut santai. "Kenapa? Aku tidak berbuat kesalahan." "Kesalahannya adalah dia milik Jenderal." Letnan Aristide membalas dingin dan Komandan Rei memiringkan kepala, menatap menantang pada Sang Letnan. "Jenderal bilang dia membenci istrinya karena dia seorang pengkhianat. Apa-apaan semua berubah dalam sekejap mata?" Letnan Aristide menghela napas saat dia melirik Panglima Sai yang berekspresi dingin. Kau harus tahu ini, Komandan." Dan menceritakan segalanya. Alterio Edzard bersedekap. Memandang jauh ke dalam tabung saat Addi Julian menjelaskan segalanya tanpa terkecuali. "Jadi, memang gadis berlambang kupu-kupu sudah menjadi takdir setiap pemimpin Andara? Begitu?" Addi Julian memasang wajah muram. Dia menatap Nohara Rin yang tampak acuh di depannya. "Adonia akan menjadi penyempurna Alterio Zedyn dalam segala sisi. Kekuatan, kekebalan, sistem imun dan lainnya. Dia akan menjadi Jenderal yang tak terkalahkan. Sama seperti ayahmu dulu, Jenderal Saveri. Menjadi Jenderal besar yang ditakuti karena Alterio Kaila menyempurnakannya." Alterio Edzard menunduk dengan ekspresi keras. "Aku rasa, Letnan Jaasir dan Panglima Reiki sudah mengetahui hal ini. Dia memaksa Zedyn agar menikah cepat. Karena aku yakin, Zedyn tidak berniat menikah dalam waktu dekat."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD