LW - 7

1024 Words

Sang Jenderal mengetatkan rahangnya. Sorot matanya mendingin pada Kapten Madava ketika dia ikut mendongak, dan dua pesawat tempur milik Ankara mendarat sempurna di atas lapangan. "Katakanlah, istrimu sebentar lagi benar-benar akan menjadi wanita tangguh." Kapten Madava berbicara serius. Dia mendesah sebentar, kemudian menatap Adonia yang tengah merapikan ikatan rambutnya dan berjalan mendekati mereka. "Bubarkan barisanmu. Nanti malam akan ada pesta. Fokus kalian berdua adalah keamanan utama." Kedua Kapten itu mengangguk serentak. "Siap, Jenderal." Jenderal lantas berbalik. Bertemu Adonia yang mengernyit bingung ke arahnya. Napasnya berubah kasar ketika Sang Jenderal mendekat. "Kau bilang kau ingin kembali berhibernasi dan aku meninggalkanmu di kamar. Sekarang apa? Aku seharusnya mengu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD