Pagi yang tidak ramah, suasana mendung sang fajar sedang bertemu dengan awan hitam. Cahayanya dihalang oleh sang awan. Namun, tidak mengurungkan niat Adelia dan Ridwan untuk pulang ke Bandung. Tidak terlalu memuat banyak barang. Yang ada di mobil hanyalah dua koper dan satu tas ransel kecil milik Ridwan yang berisikan dokumen-dokumen penting, awalnya ia mengira akan membutuhkannya untuk mencari pekerjaan nantinya. Adelia selesai memasukkan barang-barangnya, menatap Pak Mahmud dan Bu Rini yang sejak tadi memandang sedih mereka berdua, Adelia tersenyum ia kemudian menghampiri Bu Rini yang seperti tidak rela untuk melepas teman barunya kembali ke kota asal mereka. Ridwan pun ikut menghampiri sepasang suami istri yang banyak membantunya selama ia tinggal di Jogjakarta. “Kapan-kapan main la

