“ Del, nanti malam keluarga om surya datang.” Ucap Dea, mamah Adelia datang memberikan buah yang sudah dikupas dan dipotong.
Adelia memandang mamahnya dengan wajah sebal, bagaimana tidak ini sudah kesekian kalinya Adelia dikenalkan dengan anak dari rekan kantor papahnya dulu. Dan tidak ada satupun yang mampu mengikat hati perempuan berumur 32 tahun itu. Semuanya karena Ridwan, sahabat karib abangnya yang ia kenal semasa abangnya menempuh bangku kuliah S2.
“Kemarin om didit, sekarang Om Surya. Ya tuhan, Mah. Aku masih laku.” Rengek Adelia begitu geram karena tampaknya kedua orang tuanya tak sabar melihat Adelia yang masih bermain-main. Padahal kembarannya sudah menikah dengan cara dijodohkan pula.
“Kamu mau perawan tua.” Sentak Dea tak habis fikir dengan putri semata wayangnya itu, begitu keras kepala.
“Ih, Mamah! Amit-amit gak baik bilang gitu.” Ucap Adelia kaget mendengar ucapan mamahnya.
“Makanya, Adek nurut sama Mamah. Dijodohin itu gak kuno, mungkin memang jalan dari Allah adek harus dijodohkan untuk bertemu jodohnya.” Ucap Dea akhirnya melembut kembali, menatap wajah Adelia itu mengingatkannya ketika muda. Sedang Akbar, jangan ditanya putra semata wayangnya itu adalah copy paste papahnya dari segi manapun.
“Yayaya.” Ucap Adelia mulai jengah setiap masalah jodoh ia selalu diceramahi habis-habisan padahal ia punya seseorang yang membuatnya menunggu dan menolak setiap orang yang datang, meski pada kenyataannya orang itu tidak mengharapkan kedatangannya barang sebentar pun. Klasik sih tapi bodoh!
“Kamu mau cari yang gimana?” Tanya Papah yang baru datang ikut mengintrogasi Adelia, terlebih saat Akbar juga ikut menghampiri dan menunggu jawaban adeknya.
“Aaahhh… gue tahu nih!” Ucap Akbar menggoda Adelia yang kini sudah melotot kepadanya.
Bagaimana ia tidak tahu, tentu saja Adelia hanya mengharapkan seorang malaikat penjaga surga, Ridwan Permana.
“Siapa Bang? Adek udah punya pacar?” Tanya Dea kepada putranya yang sepertinya mengetahui sesuatu.
“Udah punya dong ! suka sama itu orang mah si Adek tapi gak pernah diterima.” Ledek Akbar tertawa membuat Adelia manyun kesal campur aduk.
Ia juga malu, Adelia pun beranjak lari menuju kamarnya meninggalkan Akbar yang menatapnya dengan tertawa. Ia tak habis fikir, bagaimana bisa saudari kembarnya itu begitu terpikat oleh Ridwan. Padahal Akbar tahu, Ridwan sama sekali tidak memberikan respon kepada Adelia.
“Akbar!” Tegur Adam melihat Akbar yang kini mencemot potongan apel yang sudah dikupas oleh Dea.
“Kenapa pah?” Tanya Akbar heran melihat tatapan ayahnya yang tampak serius menatapnya disusul mamahnya yang menyodorkan sebuah jus kepadanya.
“Akbar bercanda pah.” Ucap Akbar dengan senyum menutupi, ia hanya tidak ingin ikut campur soal Ridwan dan Adelia.
“Nggak mungkin kalok bercanda sampai adekmu ngambek.” Sahut Dea dengan nada mendesak agar Akbar jujur kepada mereka berdua.
“…”
“Adelia itu suka sama Ridwan, sahabat Akbar.” Jawab singkat Akbar kemudian melanjutkan acara menghabiskan potongan buah di mangkuk.
“Ridwan?” Tanya Dea, sepertinya mamahnya sedikit familiar dengan nama itu.
“Ridwan temen kuliah kamu itu?” Tanya Adam tidak yakin jika yang ia maksud sama dengan yang dijelaskan Akbar.
“Iya, pah. Manager purchasing dia.” Jawab Akbar memperjelas.
Setelah itu suasana hening, Akbar menyadari sepertinya ia salah berbicara. Sedang papahnya hanya mengangguk paham mengapa putri semata wayangnya belum mau menerima perjodohan yang ia tawarkan selama ini.
“Jangan bilang papah mau jodohin Ridwan sama Adelia.” Selidik Akbar melihat gelagat papahnya dengan senyum misterius.
“Tepat sekali.” Jawab Adam sambil menepuk pundak putranya yang menebak dengan tepat jalan pikirannya.
Akbar ternganga dengan sikap Adam yang kini ia tunjukan, itu memang kabar baik, tapi Akbar sangat tahu bagaimana hubungan Ridwan dan Adelia. Hanya sepihak, begitulah kiranya kata yang terwakilkan.
“Tapi pah, Ridwan itu tidak menyukai Adelia.” Bantah Akbar.
Ia teringat bagaimana hari pertama pernikahannya dengan istirnya, Fariza. Begitu canggung karena mereka menikah karena perjodohan kolot yang akbar tidak menyangka juga bakal dialami oleh saudara kembarnya.
“Memang dulu Akbar cinta sama Fariza?” Tanya Dea dengan senyum menggoda.
“….”
“Hayo… dulu juga papah sama mamah juga gak cinta, malah perjodohan papah sama mamah semasa bangku sekolah.” Tambah Dea mencoba mencairkan ego Akbar.
“Tapi, pah tetap saja.” Bantah Akbar masih tidak rela jika Adelia harus mengalami perjodohan kolot seperti ini. Terlebih Akbar sudah tahu dengan jelas jika Ridwan tidak menyimpan perasaan sedikitpun kepada saudara kembarannya. Sungguh begitu terbalik dengan hati Adelia.
“Sudahlah, apa salahnya kita coba Akbar.” Ucap mamahnya menenangkannya sekarang.
Ia berusaha berpositif thinking dan yakin bila memang Adelia menemukan cinta sejatinya melalui perjodohan yang kini mungkin adalah sebuah lelucon di telinga masyarakat umumnya. Akbar pun menyerah dan lebih memilih melanjutkan acara ngopinya yang tertunda karena bahasan tadi.
***
“Mas Ridwan!” Bisik Adelia dari luar ruangan, kepalanya hanya berani mengintip di pintu yang setengah terbuka itu.
Sang pemilik nama hanya diam dan melirik sebentar begitu mengetahui siapa yang memanggilnya. Bayangan percakapannya dengan ayahnya di Bandung kembali teringat, bukan itu saja bayangan Maryam juga menghinggapi dalam tidurnya.
Sampai sekarang ia belum memberitahu kepada perempuan itu jika ia lebih memilih menerima perjodohan daripada meminang pujaan hatinya.
“Waduh gue ganggu nih.” Cibir OKki yang sejak tadi mengamati Ridwan dan Adelia secara bergantian.
“Bagus sadar!” Ucap garang Adelia pada Oki yang hanya memanyunkan bibir melihat respon Adelia yang selalu galak kepadanya.
Adelia pun masuk begitu di ruangan hanya tinggal Ridwan saja dan dirinya tentunya. Adelia selalu memasang wajah berbinar setiap bertemu dengan Ridwan padahal yang ia terima hanya muka galak, dingin paling mending datar dari seorang Ridwan Permana.
“Ngapain kamu kesini?” Tanya Ridwan sarkatik menatap Adelia yang sedikit tertegun dengan pertanyaan dari Ridwan.
“Biasanya juga Adel kesini.” Gumam Adelia entah kepada siapa menanggapi pertanyaan Ridwan.
“Oh, iya gue lupa. Ini kan kantor bokap elo!” Cibir Ridwan pada Adelia yang justru memandangnya dengan penuh tanda tanya.
“ Oh iya selain lo berhak masuk sini. Elo juga bebas ya milih siapa yang jadi suami elo dari semua karyawan bokap elo.” Sindir Ridwan tak tanggung-tanggung.
“Maksud Mas Ridwan?” Tanya Adelia yang semakin dibuat bingung.
“Udahlah Del nggak usah pura-pura bego gitu. Naif banget!” Ucap Ridwan dengan nada sarkatik dan tak merasa bersalah barang sedikitpun.
“Apasih gue gak ngerti!” Ucap Adelia dengan nada sedikit tinggi.
Ridwan justru tersenyum sinis menanggapi wajah Adelia yang tetap saja polos, tak mengerti apapun. Ridwan beranjak berdiri menghampiri Adelia berusaha menghapus jejak diantara mereka berdua.
“Elo kan yang minta bokap lo ke Bandung, untuk jodohin kita!” Tuding Ridwan dengan mengacungkan jari telunjuk tepat di tengah mata Adelia. Adelia masih terdiam, tiba-tiba saja ia tidak bisa berfikir jernih, otaknya belum bisa mencerna apa yang dikatakan Ridwan barusan.
“ Papah gue? Ke Bandung? Rumah mas Ridwan?” Ulang Adelia masih belum juga tersadar. Ia sudah paham tapi otaknya tidak singkron sama sekali.
“Iya, puas lo!” Bentak Ridwan membuat Adelia mundur satu langkah.
Bukan karena dia takut karena bentakan Ridwan tapi karena mengetahui satu hal yang ternyata kemarin papahnya benar-benar pergi ke Bandung,. Adelia menyodorkan kotak bekal yang selalu ia bawa untuk Ridwan. Tanpa ba-bi-bu ia berlari keluar ruangan entah kenapa!
Sedang dalam ruangan masih tertinggal Ridwan yang tertegun menatap raut wajah Adelia sampai perempuan itu pergi. Sampai ia tak sadar kotak bekal dari perempuan itu masih ia topang dikedua tangannya.
Adelia berjalan menuju ke parkiran secara terburu-buru, ia harus pulang meminta penjelasan papahnya mengapa ia bisa pergi ke Bandung. Tapi suasana rumah tampaknya juga baik-baik saja semua berjalan seperti biasanya.
Dalam perjalanan pulangnya, ia masih menimang-nimang, bagaimana bisa ia dijodohkan dengan Ridwan padahal Adelia tahu benar jika kedua orang tuanya tak saling kenal dengan orang tua mas Ridwan. Sebuah senyum terlukis tanpa sadar, jikapun memang Ridwan adalah jodohnya ia tak perlu capek-capek belajar mencintai suaminya kelak.
Karena sekarangpun ia sudah benar-benar tergila-gila pada Ridwan yang tidak banyak bicara.
***
Makan malam menjadi hening, Adelia diam membisu ia sedang berpura-pura marah kepada kedua orang tuanya karena menyembunyikan tentang Ridwan padanya. Papahnya menatapnya dari balik kacamatanya yang bertengger di hidung, anak perempuannya tak seperti biasanya. Mamahnya juga memandangnya aneh sambil memberikan porsi sayur untuk Adam.
“Kamu kenapa dek?” Tanya Dea heran dengan perubahan mood anaknya, tadi siang sepertinya mereka biasa saja.
Adelia tidak menjawab hanya menggeleng pelan, melihat respon Adelia papahnya justru mencebikkan bibirnya.
“Halah, sok-sokan ngambek. Ada apa kamu?” Titah Adam tak sabar sendiri melihat Adelia yang tidak cocok untuk acara ngambeknya.
“Papah jelasin kenapa pergi ke Bandung?” Tanya Adelia dengan nada seakan tidak terima.
“Oh, Papah ada perjalanan bisnis disana.” Sahut Dea sedikit gelagapan dengan pertanyaan Adelia.
“Bohong banget!” Cibir Adelia mengetahui jika papah dan mamahnya berusaha menutupi rencana perjodohan Ridwan dan Adelia.
“Tahu darimana kamu papah pergi ke Bandung? Biasanya juga bodo amat papah mau pergi kemana, mau pulang kapan.” Cibir Adam kemudian menyeruput kopi di cangkir buatan istrinya.
“Udah deh pah! Ngaku aja ngapain kemarin papah pergi ke rumah Mas Ridwan.” Desak Adelia tidak sabar dengan sikap Adam dan Dea yang sangat jelas menutup-nutupinya.
Mendengar ucapan Adelia secara terang-terangan, Adam dan Dea saling pandang. Saling lempar tatapan, agar salah satu saja yang menjelaskan pada anaknya yang kini menatapnya kesal.
“Jodohin kamu lah!” Ucap Adam dengan santai sambil mengambil kursi sebelahnya untuk menselojorkan kaki.
“Papah!” Rengek Adelia dengan jawaban Adam yang secara terang-terangan tanpa embel basa-basi sekalipun.
“Kok bisa sama Mas Ridwan?” Tanya Adelia masih penasaran bagaimana Adam mempunyai gagasan menjodohkan putrinya dengan karyawan di perusahaannya sendiri.
“Ya kamunya mikir kenapa sampe papah jodohin kamu Ridwan.” Cibir Adam yang bikin Adelia manyun, benar-benar tidak habis fikir dengan jawaban Adam yang tidak ada bijaknya sama sekali.
“Lah kenapa jadi Adelia yang mikir.” Bantah Adelia tidak terima seolah-olah semua perjodohan berjalan begitu saja karena salahnya sendiri.
“Ah tauk ah!” Tambah Adelia semakin murung, kemudian beranjak pergi. Meninggalkan papahnya yang justru terkekeh melihat Adelia yang menyerah untuk menanyakan perihal perjodohan yang telah ia buat.
Meski pada kebenarannya, Ridwan belum memberikan apakah ia setuju dengan tawaran perjodohan. Pasalnya kedatangan Adam kemarin ke Bandung, hanya menyampaikan niat baiknya meminang Ridwan. Dan orang tua mereka meminta waktu agar mereka dapat menjelaskannya pada Ridwan. Perihal Adelia, Adam takkan bertanya pada perempuan itu. Dimana tanpa ditanya pun sudah jelas jika pasti putri semata wayangnya itu mau menerima perjodohan.
Sedang Adelia di kamar hanya duduk termangu menatap luar jendela yang kini sedang mendung. Tangan kanannya menggenggam ponselnya, tanpa berniat untuk memainkannya. Otak dan hatinya sedang berkecamuk, saling beradu gagasan.
Ia dalam dilema besar, membiarkan papahnya melakukan perjodohan ini atau justru mengatakan pada Ridwan jika ia tak harus menerima perjodohan konyol ini. Sejujurnya, Adelia sangat bahagia jika pun ia akhirnya berjodoh dengan pujaan hatinya. Tetapi, bayangan bagaimana Ridwan memperlakukannya membuatnya terdiam.
To Mas Ridwan : Mas Ridwan nggak usah menerima lamaran papah aku.
Akhirnya, sebuah pesan singkat terkirim ke sebuah nama yang tertera di layar ponselnya. Setelah melalui adu argumentasi antara otak dan hati yang tidak sejalan.
Tingg…
Ini pertama kalinya, Ridwan membalas pesan Adelia. Adelia senang bukan kepalang, akhirnya nama yang selama ini selalu ia hubungi dan tak pernah mendapat sebuah balasan. Adelia terdiam, ia enggan membaca pesan pop up yang muncul di layar. Namun, hatinya penasaran dan
BOOM
Mas Ridwan : Nggak usah naif lo, lo pikir gue gak tahu kalok elo kan yang nyuruh bokap elo buat pergi ke Bandung dan bikin persepakatan kayak gini. Basi Del!
Setelah membaca pesan dari Ridwan, tidak ada senyum yang terlukis di wajahnya yang cantic. Matanya hanya berkaca-kaca, bibirnya terkatup rapat, tangannya saling bertaut erat seolah menguatkan hatinya yang bak diiris belati dan kemudian ditancapkannya.
Bagaimanapun pandangan Ridwan tetap sama pada Adelia, tidak ada yang berubah.
***
Tok..tok…
Suara ketukan pintu dari luar membuat Adelia mau tak mau harus beranjak dari aktivitas rebahannya. Dengan rasa malas, ia membuka pintu kamarnya menemuka pembantu rumahnya yang sudah berdiri di ambang pintu membuat alis Adelia bertaut tak seperti biasanya jam segini perempuan paruh baya itu mengetuk pintu kamar Adelia.
“Iya?” Tanya Adelia seraya menutup mulutnya yang menguap lebar.
“ Mbak Adel, ada Mas Ridwan di bawah. Kata bapak suruh panggilin mbak.” Jelas Yanti pada Adelia yang masih memasang muka datar.
“…”
“Eh, gimana?” Tanya Adelia terkejut begitu otaknya mulai bekerja apa yang baru saja pembantu rumahnya katakan. Ridwan disini, Adelia terdiam dan entah keringat dingin mulai keluar di pelipis wajahnya.
“Aku turun suruh ngapain?” Tanya Adelia bingung. Ridwan pasti kesini bukan karena ingin bertemu dengannya. Sudah pasti ingin membahas perjodohan yang ditawarkan oleh Adam.
Lebih tepatnya, lelaki itu memberikan jawaban yang sudah pasti Adelia tahu betul apa yang akan dikatakan Ridwan pada papahnya. Sebuah penolakan!
“Kata bapak suruh nemenin mas Ridwan keliling rumah.” Jawab Yanti kemudian berangsur pergi begitu saja padahal obrolan keduanya juga belum selesai.
Adelia masuk kamar, merapikan rambutnya yang berantakan karena acara rebahannya. Ia melihat kaca, rasanya ia tidak ingin turun barang bertemu Ridwan sebentar pun. Ia belum siap, lebih tepatnya. Belum siap mendengar jawaban Ridwan atas lamaran papahnya.
Setelah dirasa rapi, Adelia turun menemui tiga orang yang tengah bercengkrama dengan salah satunya masih memakai atribut kantor di tubuhnya. Melihat kedatangan Adelia, semuanya tersenyum terlebih Ridwan senyum yang dipaksakan.
“ Ya sudah! Saya tinggal dulu ya Ridwan biar ditemani Adel keliling rumahnya.” Ucap Adam beranjak berdiri serta mengajak istrinya untuk meninggalkan Adel dan Ridwan di ruangan.
Ridwan hanya tersenyum mengangguk menanggapi ucapan calon mertuanya, begitu mereka berdua dipastika sudah di lantai atas. Ridwan mengisyaratkan untuk bercengkrama diluar saja. Adelia yang menangkap sinyal Ridwan membuang muka dan tanpa basa- basi keluar rumah.
“ Seneng kan lo!” Cibir Ridwan begitu gambling mengucapkannya pada Adelia.
“Mas Ridwan aku kan udah bilang, nggak usah diterima.” Ucap Adelia tampak mengontrol emosinya.
Yang diinginkan perempuan itu hanyalah mengobrol biasa dengan Ridwan tanpa ada emosi atau pertengkaran dan keterpaksaan. Namun melihat gelagat Ridwan rasanya mustahil untuk perempuan itu berbicara dengannya.
“ Mau ditaruh dimana muka gue, nolak lamaran bos perusahaan gue sendiri.” Jawab Ridwan tidak terima dengan ucapan Adelia yang dengan seenaknya menyuruhnya membatalkan perjodohan.
“ Mas, kalok kamu nggak mau ya tinggal ngomong daripada kamu hidup dikelilingi rasa paksaan saja.” Ucap Adelia mulai meninggikan nada bicaranya.
Mengapa Ridwan ternyata begitu kolot, keras kepala tak ada tandingannya. Dan lagi mengapa dengan sikap seperti itu justru Adelia benar-benar jatuh terpikat padanya. Benar-benar cinta membutakan segalanya.
“Lo pikir dengan gue nolak lamaran bokap lo, nggak berpengaruh di pekerjaan gue setelahnya. Ngotak dong Del!” Sentak Ridwan dengan kasarnya menatap tajam Adelia yang bungkam.
“…”
Tercengang, Adelia terdiam tercengang mendengar ucapan Ridwan tanpa rasa sungkan atau takut menyakiti perasaan perempuan di depannya. Dengan mudahnya, acara sacral seperti itu dibandingkan dengan pekerjaannya.
“Jadi maksud mas Ridwan? Mas Ridwan menerima perjodohan papah karena takut kehilangan pekerjaan kamu yang sekarang.” Ucap Adelia menyudutkan Ridwan yang memandang dingin Adelia.
“Jelas, apalagi? Karena gue nyimpen rasa buat elo? Mimpi!” Tandas Ridwan benar-benar membenci Adelia, padahal salah Adelia karena ia mempunyai perasaan untuknya.
“…”
Lagi dan lagi Adelia hanya terdiam dengan senyuman hambar di wajahnya, apakah benar cintanya membutakan segalanya. Bagaimana bisa ia menanam duri dalam hatinya sendiri, dengan mencintai seorang Ridwan yang hatinya sekeras batu.
“ Minggu depan kamu siap-siap kita ke Bandung, orang tua gue pengen ketemu elo!” Ucap Ridwan dengan nada dingin.
Ridwan berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya yang menyala, Adelia yang menatapnya hanya tersenyum miris. Dulu ia selalu mengejar Ridwan karena sikap Ridwan yang hanya dingin tanpa ada ucapan penolakan.
Sekarang Adelia bisa duduk bersandingan dengan pria itu, tetapi dengan tancapan duri di setiap ucapan yang keluar dari pria bernama Ridwan itu. Dia benar-benar dekat tapi seperti angina benar-benar tak bisa di sentuh.
“Oke!” Jawab Adelia dengan nada sumringah.
Ridwan langsung menoleh mendapati wajah Adelia yang kembali seperti kemarin. Tampak berbinar, tidak seperti saat bertengkar begitu redup dan lemah.
“Jangan seneng dulu kamu.” Ucap Ridwan memperingati Adelia bahwa tidak aka nada kebahagiaan yang Ridwan bawa untuk Adelia!
“Aku seneng dong, mau ketemu calon mertua aku.”Ucap Adelia dengan senyum sumringah tanpa keterpaksaan dalam hatinya.
“Del, elo itu batu! Gue gak pernah ada rasa buat elo!” Ucap Ridwan untuk kepersekian kali mengatakan hal yang sama. Jika ia tak memiliki rasa apapun pada Adelia.
“Iya, aku tahu. Tapi setelah menikah nanti lama-lama juga Mas Ridwan bakal suka sama Adelia.” Jawab Adelia optimis jika hati manusia tetaplah hati dimana akan luluh karena kehangatan dan ketulusan. Sekeras apapun batu juga akan tetap hancur karena air.
“Mimpi Lo!” Gertak Ridwan dengan nada sedikit tinggi, ia benar-benar harus mengontrol ucapannya agar calon mertuanya tidak mendengar ucapannya.
“…”
Entah terbuat dari apa hati seorang Adelia Aninbagaskara, tak peduli penolakan seperti apapun, perkataan menusuk seperti apapun tak bisa membuat kakinya melangkah mundur. Sampai dituduh dia yang mengusulkan untuk melakukan perjodohan ini pun, dia tetap melangkah ke depan.
“Elo harus tahu Del, gue nikahin elo bukan soal gue suka nggak ya, gue cuman mau balas budi perlakuan keluarga elo ke gue selama ini.” Tandas Ridwan dengan dingin untuk pertama kalinya menatap mata Adelia yang tak bisa ditutupi betapa terlukanya perempuan di depannya itu.
“Dan gue gak bakal memberi kebahagiaan buat elo gak terpikir sama sekali. Lo bilang gue berengsek atau apalah itu. Gue gak peduli, gue gak mau terlihat baik, gue benar-benar gak suka cewek kayak elo!” Tandas Ridwan menancapkan duri semakin dalam ke hati Adelia.
“…”
Adelia tak berani menatap Ridwan yang justru sekarang memandangnya dengan seksama, mencurahkan segala isi otak yang menggebu-gebu. Hidupnya benar-benar tergantung sebab dia bukan orang berpengaruh besar.
“ Dan gak menutup kemungkinan, ketika semuanya gue udah raih. Kita akan bercerai.” Ancam Ridwan, pernikahan belum dimulai tetapi sebuah penceraian sudah direncanakan.
“Nggak, aku yakin suatu hari mas Ridwan bakal sayang sama aku.” Bantah Adelia memotong agar ucapan-ucapan tajam tak terus menghujani hatinya yang sudah berumuran luka.
“Percuma Del, udah ada orang di dalam hati gue. Jadi elo nggak perlu berusaha terlalu keras.” Peringatan Ridwan membuat Adelia terpaku.
Selalu dalam otaknya ia tanamkan bahwa Ridwan tak menghiraukannya karena pria itu focus pada karirnya. Namun perkataan itu menghancurkan keteguhan hatinya yang sudah sekian lama berdiri. Ia tahu satu hal, Ridwan mencintai orang lain.
“Picik banget ya!” Ucap parau Adelia menanggapi ucapan enteng Ridwan.
“Panggilin bokap elo, gue mau pamit.” Titah Ridwan pada Adelia yang segera masuk ke rumah memanggil papahnya.
Ridwan mengatur nafasnya yang menggebu-gebu setelah mengucapkan segalanya agar Adelia mengerti tentang tujuan yang sebenarnya ia menikahi perempuan itu. Nafasnya tercekat ketika mengucapkan segalanya, menahan emosinya sebisa mungkin tidak meledak-ledak.
“Udah mau pulang Wan!” Sahut Adam dari dalam ruangan membuat Ridwan sontak berdiri dan menghampiri pria paruh baya yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Iya, Om. Besok udah kerja lagi.” Ucap Ridwan dengan senyum tulus kepada Adam.
Dia menegaskan pada hatinya, bahwa ia tak membenci keluarga ini. Bagaimanapun keluarga ini yang membantunya mencapai dirinya sekarang. Hanya untuk Adelia ia benar-benar tak bisa membalas perasaan perempuan itu karena sudah ada Maryam dihatinya, pujaan hatinya.
TBC