RUMAH KAMI?

3768 Words
Mengurus segala kebutuhan untuk pindah rumah rupanya tidak semudah yang dibayangkan. Harus mengurus ini itu terlebih Adelia juga tidak memahami bagaimana kehidupan di Bandung. Ridwan benar-benar menyerahkan segalanya kepada istrinya itu, ia tidak ingin ikut campur. Ridwan sendiri juga sibuk mulai bekerja di perusahaan yang dipasrahkan papah mertuanya kepadanya. Ridwan sarapan ditemani dengan Adelia di hadapannya dan ayah serta ibunya berada di sampingnya. Dia tidak bisa menolak, karena tidak enak dengan ayah dan ibunya. Jika saja ia hanya hidup berdua dengan Adelia mungkin laki-laki itu akan marah-marah setiap Adelia memasak untuknya, barang sesuap pun dia tidak akan memakannya. Ibunya tersenyum begitu Ridwan mengambil kembali tumis jamur tiram di hadapannya. Adelia terdiam sambil dengan seksama memperhatikan suaminya menyuapkan nasi dan jamur ke mulutnya. Begitu tatapannya bertemu, Adelia segera menunduk dan melanjutkan sarapannya. “Itu tumis jamur yang masak Adelia lo yah!” Sindir ibunya seolah-olah memberi tahu suaminya padahal sangat jelas ia hanya ingin memberitahu Ridwan. “Iya, enak banget. Bumbunya terasa beda sama masakan kamu. sama-sama punya ciri khas. Ridwan tahu nggak itu masakan istri kamu?” Tanya Rokhim langsung melontarkan pertanyaan pada Ridwan yang sangat jelas tidak bisa menutupi wajahnya yang terkejut begitu mengetahui yang ia santap adalah masakan istrinya. “Ridwan tau dong yah! Ridwan hafal masakan Adelia gimana.” Ucap Ridwan sedikit kesal karena ayahnya sengaja bertanya seperti itu kepadanya. Ridwan menangkap pandangan Adelia yang sinis mendengar jawaban Ridwan. “Dasar penjilat!” Umpat Adelia dalam hati, begitu kesal suaminya sangat pintar bersandiwara, Ridwan sangat pintar memainkan perannya sebagai suami Adelia. Seolah-olah rumah tangga mereka benar-benar baik saja. “Ridwan mau bawa bekal?” Tanya ibu menawarkan melihat lauk pauk cukup banyak karena ia sengaja memasak semuanya dibantu dengan menantu satu-satunya, Adelia. “…” Bukannya menjawab Ridwan terdiam, ia tidak enak hati menolak tapi ia berprinsip tidak akan memasak masakan Adelia. Ia menyesal menyantap tumis jamur, jika tahu itu masakan Adelia ia tidak akan mengambilnya. Meski ia tidak memungkiri, masakan Adelia enak mempunyai ciri khas yang belum pernah lidah Ridwan rasakan. “Tapi biasanya mas Ridwan nggak pernah bekal bunda.” Sahut Adelia melihat Ridwan yang tampak bingung menjawab tawaran ibunya. “Loh kamu tuh gimana Wan! Masakan istri enak kok malah beli diluar.” Gerutu ibunya tetap bersikeras menyiapkan sebuah kotak bekal yang terdiri beberapa sekat. Sebentar lagi akan penuh dengan berbagai makanan mungkin. “Kan Adel nggak pernah masak bunda.” Jawab Adelia sambil tersenyum malu. “Oh, Adel nggak pernah masak ya. Sekarang disini harus masak sama bundamu ya, sayang lo bakatnya nggak kepake.” Ucap Ayahnya berlagak galak pada menantunya yang justru hanya membalas dengan senyuman tersipu malu. “Ih, enak aja ya! Nggak dong.” Ucap Ridwan bersikap seolah tidak terima dengan senyuman ia berdiri dan beranjak pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Adelia kemudian membantu ibu mertuanya mencuci piring, sambil menambahkan beberapa lauk yang ia tahu Ridwan suka. Ibu mertuanya diam-diam melirik kemudian tersenyum, rupanya benar-benar Ridwan sangat tepat memilih Adelia sebagai istrinya. Perempuan itu tahu segala hal tentang Ridwan sekalipun itu hal kecil. Sayang, ibunya tidak tahu bagaimana sikap Ridwan kepada Adelia yang sebenarnya. Begitu selesai, Adelia segera naik ke atas juga menyusul Ridwan yang mungkin sedang memakai dasi. Baru saja pandangan Adelia dan Ridwan bertemu, seperti dugaan Adelia, suaminya itu memang sedang memakai dasi. “Mas, nanti kalok emang nggak mau makan bekal dikasih seperti biasanya aja sama karyawan kamu kek.” Ucap Adelia duduk di tepi ranjang, melihat suaminya yang masih sibuk berdiri di depan cermin merapikan penampilannya. “Kasih siapa? Okky juga nggak disini.” Jawab Ridwan ketus, menatap sinis Adelia dari pantulan cermin. “Ya kasih yang lain, dibuang sekalian juga nggakpapa. Lagian nggak mau makan masakan aku itu kenapa sih? Nggak ada peletnya kok mas.” Goda Adelia dengan senyum membuat Ridwan semakin bersungut kepadanya. “Nggak pengen aja berurusan sama semua tentang elo!” Tukas Ridwan dengan nada sedikit tinggi, menandakan jika ia sedang tidak bercanda membuat Adelia menatapnya sendu. “Buktinya tadi tumis jamur juga nambah dua kali.” Sombong Adelia mengingat Ridwan juga ketagihan merasakan masakan Adelia untuk pertama kalinya. “Lain kali juga gue tanya ibu mana yang masakan elo!” Ucap Ridwan semakin menjadi-jadi. Melihat Adelia yang tak bisa menutupi tatapannya menjadi redup tak sebinar tadi. Ridwan benar-benar merutuki dirinya sendiri yang tidak terkendali setiap berdekatan dengan Adelia. Bagaimana bisa hati dan fikiran tidak sejalan. “Nanti barang yang dari kontrakan Jakarta kapan nyampenya?” Tanya Adelia yang mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan. “Nanti sore, elo belanja aja dulu apa yang elo pengen beli.” Jawab Ridwan diam-diam laki-laki itu menghela nafas, ia menyadari betapa lapang d**a istrinya. Setiap permasalahan yang dimulai baik Adelia atau Ridwan yang memulainya, Adelia lah yang selalu mengalah dan mengajak berbicara kembali lebih dulu. Ddrrttt..ddrrrttt.. Maryam is Calling… Ddrrttt…dddrrttt… Nomor tidak dikenal Sebuah kebetulan ponsel Adelia dan Ridwan berdering bersamaan. Bukannya ia mengangkat panggilan dari Maryam justru Ridwan berjalan menghampiri Adelia yang hanya memandang ponselnya yang bergetar. Ridwan merebutnya begitu saja, membuat Adelia terkejut dan berdiri. “Apaan sih mas kembaliin!” Ucap Adelia yang mencoba meraih ponselnya kembali. Sayangnya cukup dengan Ridwan mengangkat tangan yang menggenggam ponsel itu ke atas Adelia sudah tak bisa merebutnya. “Mas Ridwan kembaliin.” Rengek Adelia yang masih mencoba meraihnya. Adelia seketika bungkam begitu Ridwan melempar tatapan mematikan miliknya. Ponselnya yang masih berdering dilempar di tempat tidur begitu saja, ia lebih cenderung focus pada ponsel Adelia yang bergetar kembali. “Halo ini siapa?” Tanya Ridwan to the point begitu menggeser tombol hijau. “Adelia?” “Ini suami Adelia, tolong jangan ganggu istri saya. Saya tidak segan-segan mendatangi anda ya!” Ketus Ridwan dengan nada tinggi, emosinya meledak begitu mendengar suara laki-laki yang tersambung telepon dengannya. Adelia merebut ponselnya kembali dengan marah, ia keluar menuju balkon kamar. Menghela nafasnya dalam-dalam, ada sedikit pikiran yang mengganggunya padahal seharusnya ia bersenang hati ketika Ridwan mengakuinya sebagai istri. “Mau marah?” Tantang Ridwan yang tiba-tiba muncul dibelakang Adelia. “Kalok aku yang telepon Maryam terus bilang kayak gitu kira-kira siapa yang marah? Maryam atau kamu mas?” Bantah Adelia dengan suara parau menahan tangis. Ridwan bungkam, ia memilih beranjak pergi meninggalkan Adelia yang masih tersulut emosi. Menurutnya suaminya itu selalu berlagak seenaknya, selalu berlagak jika Adelia adalah benar-benar istri dimatanya, namun dalam sekejap semudah membalikkan tangan Adelia bisa saja merasakan jika ia bukan siapa-siapa dalam hidup Ridwan. Adelia melihat riwayat panggilan yang baru saja Ridwan jawab. Adelia tidak asing dengan nomor itu, tapi ia selalu mengabaikannya dan sengaja tidak memblokirnya berharap suatu hari nanti ia akan memaafkan kesalahan orang di masa lalunya itu. Selain Elang, Adelia sedikit merasa terganggu dengan kehadiran mantannya di hidupnya. *** Adelia pulang ke rumah mertuanya, setelah menata rumah barunya dengan beberapa perabotan yang sudah datang dari Jakarta sore hari ini. Kedatangannya disambut oleh ayah mertuanya yang tengah sibuk memandang tanaman-tanaman yang ia tanam di polybag, demi mengisi waktu senggang di hari pensiunnya. “Nggak dijemput Ridwan?” Tanya Rokhim begitu Adelia hanya pulang seorang diri. “Nggak katanya ada urusan mendadak di kantor.” Jawab Adelia senyum seraya menggeleng-geleng. Bohong Adelia, suaminya tidak menawarinya untuk dijemput. Perempuan itu tidak enak hati merengek demi menuruti keserba tidakbisaannya terhadap sesuatu. Hidup di Bandung, ikut dengan suaminya yang sejak kecil hidup di lingkungan sederhana membuatnya mau tak mau harus mengikuti jalan cerita suaminya juga. Tak berapa lama suara mobil Ridwan terdengar, membuat ayahnya tersenyum dan Adelia hanya tersenyum canggung. Adelia memilih masuk ke kamar daripada harus menemui Ridwan yang entah bagaimana suasana hatinya sekarang. Ceklek.. Suara pintu kamar dibuka, menampilkan Ridwan dengan muka yang sangat kumal dan dasi yang sudah tidak berbentuk. Adelia yang melihatnya hanya diam kemudian memilih menata meja kerja Ridwan yang sedikit berantakan. “Capek banget Del!” Keluh Ridwan tanpa sadar keluar begitu saja, tidak hanya Adelia yang terkejut, Ridwan yang mengucapkan sendiri tiba-tiba matanya terbuka setelah mengucapkan kalimat yang tanpa dia sadari keluar begitu saja. “Mau Adel pijetin mas?” Tanya Adelia dengan suara lirih, ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia tawarkan kepada Ridwan. Ridwan terdiam memandang Adelia, tak mendapat balasan hanya sebuah tatapan yang tidak bisa ia mengerti. Adelia merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dia yang menawarkan hal yang sangat jelas akan ditolak oleh suaminya. Ridwan yang selalu tidak mau apapun yang menyangkut tentang Adelia ada di kehidupannya. “Boleh!” Jawaban singkat Ridwan membuat Adelia terpaku tak berkedip untuk sebentar. Ridwan memposisikan dirinya duduk di depan Adelia, Adelia mendekatkan dirinya sedikit canggung. Tangannya bergetar ketika untuk pertama kalinya menyentuh bahu suaminya. bahu yang begitu lebar, bahu yang mampu menanggung segala keluh kesah yang disembunyikan dibalik wajah dinginnya. Hening, Adelia memberikan pijatan pelan di bahu Ridwan. Dan Ridwan tengah menimbangkan secara seksama apa reaksi yang tubuhnya terima begitu tangan-tangan lentik Adelia memberikan pijatan nyaman di bahunya. “Paket dari Jakarta udah datang?” Tanya Ridwan membuka obrolan agar tidak larut terlalu dalam dengan suasana canggung yang menyelimuti keduanya. “Udah, tadi sore waktu aku hampir pulang.” Jawab Adelia sambil menetralkan detak jantungnya yang perlahan teratur tidak seperti sebelumnya yang berdetak kencang entah lelaki di depannya bisa mendengarnya atau tidak. “Laki-laki tadi masih menghubungi ?” Tanya Ridwan membuat Adelia justru mengeryitkan alisnya, seperti bukan Ridwan. Lelaki ini bersikap posesif bak sedang mengintrogasi kekasihnya. “Enggak!” Jawab Adelia singkat, ia mulai malas. “Nggak usah ditanggepin nomor-nomor nggak kenal itu!” ucap Ridwan memperingatkan Adelia untuk tidak sembarangan ketika menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. “…” “Dengar nggak!” Tanya Ridwan sedikit menaikkan nada bicaranya membuat Adelia yang sedang menggerutu dalam hatinya sedikit terlonjak kaget. “Berarti kalau udah kenal boleh?” Tanya Adelia sengaja memancing keributan. “Kok nawar.” Sahut ridwan sewot, rupanya laki-laki itu tidak mengerti arah pembicaraan Adelia. “Berarti nggak boleh ya? Ya udah mas Ridwan juga nggak boleh telepon sama Maryam. Sekalipun kenal!” Ucap Adelia dengan nada dingin melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi memijat bahu Ridwan. Adelia memilih keluar kamar, membantu ibu mertuanya memasak untuk makan malam. Ridwan hanya terdiam di kamar, ia merasa tertohok dengan ucapan Adelia kepadanya. Ada benarnya juga sebenarnya, mengapa laki-laki itu dengan mudahnya mengatur ini itu untuk Adelia sedangkan dirinyalah yang melanggar aturan yang ia buat sendiri. Adelia menghampiri ibu mertuanya yang rupanya justru sedang duduk termangu di tepi kolam renang memandangi satu persatu tanamannya. Adelia tiba-tiba datang kemudian ikut duduk di samping sang mertua. “Bunda lagi ngapain?” Tanya Adelia sambil memandang bundanya yang rupanya juga tengah memandangnya. “Duduk aja, menikmati sore.” Jawab Fatma sambil menyodorkan minuman kepada menantunya. Adelia beranjak berdiri, mendekat pada tanaman yang baru saja tumbuh. Entah mengapa, ketika hatinya selalu menuntunnya untuk mendekat pada ibu mertuanya jika ia usai bertengkar dengan Ridwan. “Kenapa apa kamu baru bertengkar dengan Ridwan?” Tanya Fatma melihat Adelia yang hanya mendekat padanya tetapi hanya diam. “Nggak kok bunda, Adel kangen papa.” Jawab Adelia tiba-tiba teringat orang tuanya di Jakarta. Beberapa minggu di Bandung ia tidak sempat menelepon karena sibuk mengurus kebutuhan dan keperluan untuk rumah barunya. “ Nanti kalau mulai tinggal di rumah baru. Mereka suruh kesini.” Jawab Fatma memberikan energy positif kepada menantunya akan mampu bertahan dengan segala kesulitan yang ia hadapi untuk sekarang. “Iya!” Ucap Adelia menoleh kepada Fatma dengan senyuman tulusnya. “Ada masalah dengan Ridwan cerita sama bunda. Bunda akan menjadi pendengar setia kamu. meski bunda akan menahan agar tidak ikut campur di rumah tanggamu.” Ucap Fatma membujuk Adelia agar lebih terbuka dengannya. “ Nggak ada masalah serius kok bunda, bukannya perselisihan di rumah tangga itu wajar.” Ucap Adelia tetap menolak menceritakan segalanya kepada ibu mertuanya. “Iya, benar. Bunda yakin Adel kamu itu pilihan terbaik Ridwan.” Ucap Bunda mengusap pundak menantunya. Adelia terdiam, matanya justru berkaca-kaca begitu mendengar ucapan Fatma yang entah mengapa begitu menusuk tepat pada relung hatinya, hatinya bergejolak ada kebahagiaan yang tidak disangka-sangka datang. Adelia mempunyai tameng dari segala masalahnya, Adelia mengangguk pelan menanggapi ucapan mertuanya. Dibalik tirai jendela, Ridwan berdiri mengamati dan mendengarkan dengan seksama apa yang sedang dilakukan istri dan ibunya. Ridwan menatap lurus dengan tatapan sangat sulit diartikan, lurus pada Adelia yang tidak menyadari kehadiran Ridwan. Hatinya tercubit menyadari ia telah melupakan bagaimana perasaan Adelia jauh dari orang tuanya dan hidup bersama lingkungan baru. Ridwan juga melupakan bagaimana Adelia pandai mengatur emosinya agar tidak terpancing emosi dan tetap bersikap baik pada Maryam yang telah menolongnya di hari pertamanya datang ke Bandung. Tidak seperti perempuan lain yang akan mengamuk dan marah ketika bertemu dengan kekasih gelap suaminya, perempuan itu memilih menyimpan emosinya rapat-rapat dan menghilangkannya secara rapi tanpa jejak. Dua perempuan hebat di hadapan Ridwan, Ridwan tiba-tiba menarik sudut bibirnya dengan senyuman simpul menatap kedua perempuan yang berada di sisinya selama ini. Tiba-tiba, tepukan di pundaknya membuatnya hampir terjungkal begitu ayahnya muncul di belakangnya kemudian menggeleng. Mengajak Ridwan untuk menjauh dari Adelia dan ibunya. “Ada apa ayah?” Tanya Ridwan begitu mereka akhirnya duduk di teras rumah. “Biarkan Adelia disana. Biarkan Adelia mencurahkan segalanya disana.” Jawab Rokhim dengan santai. “Ridwan tidak akan memarahi Adelia kok yah kalaupun dia bilang apa-apa pada ibu.” Bantah Ridwan seolah menjelaskan jika ayahnya tengah salah paham padanya. “Bukan, maksud ayah biarkan Adelia menceritakan apa yang ia pendam pada ibumu, sepertinya istrimu itu hanya percaya pada ibumu di rumah ini.” Ucap Rokhim menggeleng menandakan bahwa justru Ridwan yang salah dengannya. “Tapi Ridwan suami Adel yah.” Bantah Ridwan tidak mau kalah, rupanya Ridwan keras kepala ingin mengetahui apapun tentang Adelia tidak peduli sekecil apapun. “Tapi kamu bukan yang dipercaya.” Skakmat, Ridwan bungkam mendengar balasan ayahnya yang tepat sasaran. Mendorongnya jatuh ke jurang yang paling dalam. Benar, Ridwan memang suami Adelia tapi bukan yang paling dekat. Ridwan tidak pernah memberikan kesempatan kepada Adelia untuk memberitahukan segalanya tentang perempuan itu kepadanya, lebih tepatnya Ridwan tidak mau mencari tahu dan tidak ingin mengetahuinya. Berbanding terbalik dengan Adelia yang hal sekecil apapun tentang Ridwan entah menyakitkan atau menyenangkan Adelia tetap mencari tahunya. “Sampai nanti kamu adalah yang dipercaya, sampai ia melakukan hal sekecil apapun itu dia akan menceritakannya kepadamu.” Ucap ayahnya membuat Ridwan tertunduk mencoba memahami maksud ayahnya. Secara tidak langsung, Rokhim berusaha menyuruh Ridwan untuk membuat Adelia memercayainya. Agar Adelia merasakan bahwa Bandung kini tempatnya ia pulang juga, rumah baginya. Tidak merasakan keasingan kembali. *** Ddrrtt…ddrrttt… Maryam is calling… Ponsel Ridwan berdering, Ridwan menatap reaksi Adelia yang tetap bersikap biasa tidak peduli pada siapa yang menghubungi suaminya di waktu menjelang tidur itu. Ridwan justru membiarkan ponselnya berdering sampai berhenti dengan sendirinya. Ia lebih tertarik menatap Adelia yang masih bersikap biasa menonton serial film yang ia sambungkan dengan ponselnya. “Tadi ngobrolin apa sama ibu di belakang?” Tanya Ridwan menanyakan baik-baik entah mengapa ucapan ayanya tadi sore begitu menganggunya. “Ngobrol biasa aja kok mas.” Jawab Adelia terlihat santai seperti tidak menyebunyikan apapun dari Ridwan. Ridwan tak ingin bertanya kembali, ia membenarkan kata ayahnya jika Adelia memang belum sepenuhnya membuka dirinya untuk Ridwan. Terlihat jelas dari matanya perempuan itu seperti menyimpan rapat-rapat masalahnya, menunjukkan pada Ridwan bahwa dirinya hanyalah perempuan yang manja dan tidak bisa melakukan apa-apa. “Oh ya, nanti kalau udah mau pindah rumah baru bilang ya mas, biar papah sama mamah kesini.” Ucap Adelia Ridwan tersenyum akhirnya yang dinanti terjadi pula, Adelia mengatakan apa yang diingikannya meski sebenarnya tidak penting. Sejak ucapan ayahnya meracuni fikirannya bagi Ridwan ia ingin mengetahui segalanya tentang Adelia, sangat berbeda dengan dulu ketika ia justru membentak Adelia yang selalu mengucapkan hal tidak penting baginya. “Boleh!” Jawab Ridwan singkat. Adelia tersenyum senang kemudian membawa ponsel keluar di balkon kamar. Ia akan menelepon papahnya yang beberapa minggu tidak menghubunginya, Ridwan mengamati dengan seksama apa yang akan dilakukan istrinya itu. “Halo, papah. Adelia kangen!” Rengek Adelia begitu terdengar suara yang begitu familiar membuat hatinya perlahan semakin hangat. “Dih, baru juga beberapa minggu di Bandung.” Suara Adam diiringi gelak tawa yang menggelegar, Adelia tiba-tiba merasakan air mata yang tiba-tiba saja memenuhi kantung matanya. Buru-buru ia menghapus air matanya agar tidak mempengaruhi suaranya di dengar oleh Adam. “Papah nanti sama mamah kesini ya kalok rumah mas Ridwan jadi.” Ucap Adelia begitu girang mendengar suara mamahnya yang jaraknya dari kejauhan. “Emang udah jadi Del?” “Udah kok mah, tinggal dirapiin lagi. Kan mas Ridwan belinya langsung jadi rumah.” Ucap Adelia begitu senang akhirnya mendengar suara mamahnya. Adelia terlalu sibuk menatap bintang-bintang yang bersinar tersebar di atap langit tanpa menyadari kehadiran Ridwan yang menyusulnya. Lelaki itu diam-diam ikut mendengarkan tetapi ia hanya duduk di belakang Adelia yang berdiri. “Ridwan mana?” “Mas Rid…” “Iya pah ini Ridwan.” Ucapan Adelia dipotong Ridwan begitu ia merebut ponsel Adelia dengan cepat sampai Adelia hampir terjungkal ke belakang beruntung ia tak jatuh. “Udah jadi Wan rumahnya?” “Sudah, tinggal mengisi perabotan. Ridwan mah nggak ngerti dekorasi biar Adelia saja ya kan pah yang mengisinya.” Jawab Ridwan dengan ucapan yang terdengar lembut, Adelia tercengang melihat Ridwan yang sangat lancar berbicara dengan mertuanya berbeda dengan Adelia ketika berhadapan dengan kedua orang tua Ridwan, masih terselip rasa canggung. “Iya bener Wan, lagipula itu rumah kalian berdua jadi harus keduanya ikut dalam andil.” Suara Dea membuat Adelia tersenyum getir, bagaimana bisa rumah itu dibuat semata-mata untuk sementara. Dibuat oleh Ridwan untuk masa depannya dengan Maryam, Adelia? Akan dibuang jika tidak diperlukan. “Iya, mah.” Jawab Ridwan kemudian menatap sejenak Adelia yang ikut duduk disampingnya memandang kolam renang yang memantulkan cahaya sang rembulan sabit. “Gimana Adelia rewel nggak disana Wan?” “Waduh gak tau kalau itu pah.” Jawab Ridwan tertawa renyah, Adelia yang mendengar pertanyaan Adam yang nyeleneh langsung cemberut menatap ponselnya. “Papah tuh dikira Adelia lagi dititipin di rumah nenek.” Gerutu Adelia mendekatkan wajahnya pada ponsel yang dipegang oleh Ridwan. “Orang papah tanya sama menantu papah. Kenapa kamu ikut-ikut.” “Mamah, papah nyebelin!” Rengek Adelia lalu tersenyum, meski jauh sekalipun jarak tidak menghalangi Adam untuk tetap mengusili anak perempuan semata wayangnya itu. “Ayah sama bunda sehat kan Del?” “Sehat kok pah, mah.” Jawab Adelia tersenyum pada ponselnya, padahal papah dan mamahnya mungkin tidak tahu betapa seringnya Adelia tersenyum mendengar suara orang tuanya. Adelia melakukan panggilan via suara bukan video call. “Papah mau tidur dulu ya Del!” “Oh udah jam sepuluh malam ternyata.” Ucap Adelia melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul belum terlalu larut malam menurutnya. “Semalam malam anak kesayangan papah.” Tutt..tutt… Sambungan telepon terputus, Adelia berdiri dan akan beranjak pergi tetapi lengannya ditarik Ridwan untuk duduk kembali di tempatnya. Karena tarikan cukup kuat, Adelia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan duduk terlalu dekat bahkan tidak ada jarak dengan Ridwan. “Kenapa mas?” Tanya Adelia dengan mata polos menatap mata Ridwan yang justru begitu hitam dan pekat. “Duduk disini dulu!” Ucap Ridwan menahan tubuh Adelia yang perlahan menjauhkan diri darinya seperti sangat menghindari kontak fisik dengannya. Ridwan diam memandang langit-langit rumahnya, tangannya masihs etia mendekap erat tubuh Adelia. Sedangkan Adelia tampak kaku, tidak terbiasa dengan kontak fisiknya dengan Ridwan. Rasanya aneh dan Adelia justru sedikit khawatir dengan kontak fisik yang membuatnya nyaman, membuatnya melupakan Ridwan adalah milik masa lalunya. “Del !” Panggil Ridwan, sang empunya sudah menoleh padanya tetapi lelaki itu tetap pada pandangannya lurus ke depan. “Kenapa?” Tanya Adelia penasaran, sudah menoleh tak juga Ridwan menjawab mengapa ia tiba-tiba memanggil istrinya yang jelas-jelas ada di sampingnya. “Ngapain lo pakek bilang rumah gue? Bukan rumah kita aja? Mau ngasih kode gitu sama orang tua elo? Mau narik simpati mereka iya?” Cecar Ridwan dengan berbagai pertanyaan seiring dengan nafasnya yang menggebu-gebu menahan kekesalan, Adelia menarik nafasnya dalam-dalam dengan mata yang terpejam berusaha sebisa mungkin agar tidak tersulut emosi, mudah terbakar seperti Ridwan setiap berbicara dengannya. “Sama aja kan! Mau aku bilang rumah kamu, rumah kita, rumah aku? Sama aja! ” Ucap Adelia membantah seolah tidak masalah dengan permainan kata, entah rumah kita atau rumah Ridwan bahkan rumah Adelia. “Jelas beda!” Ucap Ridwan tidak menerima, bagaimana Adelia menyamakan kosa kata yang jelas berbeda arti itu. “Sama aja mas, lagian rumah itu beli pakai uang kamu. aku cuman bawa raga doang ke Bandung.” Ucap Adelia tertawa getir. Ridwan menoleh pada Adelia menatap tajam tak suka dengan ucapan Adelia, tawanya sangat terlihat betapa ia menderita dengan sandiwara yang mereka ciptakan sendiri. Adelia terdiam menatap Ridwan yang seperti marah kepadanya, matanya tampak berapi-api menusuk ke dalam pandangan Adelia. “Gue serius!” Jawab Ridwan kemudian beranjak masuk ke dalam kamar, meninggalkan Adelia yang lagi-lagi dibuat bingung dengan tingkah suaminya. bagaimana tidak terkadang ia bersikap seolah memang menjadi suami Adelia sebenarnya, dilain waktu bersikap seolah Adelia bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Hanya wanita yang dijodohkan untuknya, Ridwan benar-benar memiliki sikap yang tidak stabil. “Kenapa sih dia?” Gerutu Adelia kemudian ikut masuk kamar, sambil menutup kembali pintu kamar menuju balkonnya. Malam mulai dingin meniupkan angina malam yang tidak baik untuk tubuh, Ridwan sudah membaringkan badannya memunggungi Adelia, Adelia yang melihatnya gemas sekali ingin rasanya ia memukul punggung kokoh itu agar lelaki itu tidak bisa bersikap seenaknya kepadanya. “Kamu kenapa sih mas? Dikit-dikit marah dikit-dikit baik.” Gerutu Adelia yang ikut berbaring disamping Ridwan yang membelakanginya. Ridwan membuka matanya kembali tapi tidak berniat untuk menjawab membuat Adelia semakin gemas pada suaminya yang bertingkah seperti anak kecil yang sedang merajuk. Adelia pun ikut membelakangi Ridwan, ia tidak mau ambil pusing dengan tingkah suaminya, lebih baik dia segera tidur dan mempersiapkan apa yang harusnya ia segera kerjakan agar rumah barunya bisa ia tempati segera. “Lo itu suami marah malah diem doang.” Ucap Ridwan tanpa membalikkan badannya membuat Adelia membuka matanya kembali dan justru tersenyum. “Mas Ridwan kenapa?” Tanya Adelia perlahan memeluk pinggang Ridwan. Ridwan terkejut bukan kepalang, tubuhnya sedikit terangkat seperti kaget karena ada sesuaru. Adelia tersenyum melihat respon Ridwan untuk Adelia yang pertama kalinya memeluknya. Entah mengapa ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan di dalam hatinya, membuat senyumnya perlahan mengembang tanpa bisa ia tutupi. “Bodo amat gue mau tidur!” Ketus Ridwan dengan nada sewot membuat Adelia mencebikkan bibirnya, ia merasa rayuannya tidak mempan. Adelia terkejut begitu tangannya yang perlahan ia tarik dari pinggang Ridwan ditahan oleh lelaki yang tengah membelakanginya itu. Ridwan memejamkan matanya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan karena ulah Adelia. Adelia memberanikan diri menempelkan kepalanya di punggung Ridwan, memejamkan matanya. Ridwan yang dibuat semakin tidak karuan justru tidak bisa tidur dengan jenak karena detak jantungnya yang tidak beraturan dan kupu-kupu dalam perutnya yang bertebangan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD