Pagi masih sama dengan suara kicauan burung, sang embun yang mulai beranjak pergi digantikan kehangatan yang diberikan sang mentari. Semua yang terjadi secara berulang-ulang begitu sistematis, tetapi orang-orang yang menyambut setiap pagi berbagai perasaan campur aduk. Ada yang bersyukur, suntuk dan bahkan menantikan setiap hari yang datang. Pagi ini Ridwan sudah siap dengan setelan seragam kerjanya, disetrika begitu rapi oleh sang istri. Adelia menemani sang suami yang sedang duduk menyantap sarapan paginya, tidak ada yang special semuanya serba sederhana. “Akhirnya kerja juga dah!” Celetuk Ridwan membuat Adelia hanya tersenyum, menurutnya tingkah suami sedikit aneh. “Kenapa gitu?” Tanya Adelia justru heran dengan ucapan Ridwan yang biasanya juga tidak terlalu mengharapkan panggilan

