Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi Aiden benar benar datang ke tempat janjian pada pukul 11 malam. Dengan mengenakan celana panjang dan Hoodie hitam serta masker putih ia melambaikan tangan ke arahku.
"Saya terkejut anda benar benar datang."
Aiden nyengir.
"Aku juga terkejut kau tidak terlambat."
Mataku menyipit. Aiden menyindirku.
"Anda sudah izin kan, Tuan Muda?"
"Tidak, Mama dan papa tidak ada di rumah. Memangnya mau izin ke siapa?"
"Lalu bagaimana Anda bisa keluar? Bukankah ada satpam di depan, banyak pelayan dan penjaga."
Aiden menggeleng.
"Aku keluar lewat pintu belakang. Kalau satpam aku tidak tahu, tapi para pelayan dan penjaga itu, mereka semua sudah tidur atau mungkin malah tidak ada di rumah. Kalau papa dan mama pergi, mereka semua jadi malas bekerja. Kadang sarapanku saja diantar bersamaan dengan makan siang."
Astaga! Aku tidak tahu jika keadaannya seperti itu. Bukankah itu parah, tidak mungkin keluarga Askara sembarangan memperkerjakan orang. Tapi aneh sekali jika nyonya dan tuan Askara tidak mengetahuinya. Bukankah di setiap sudut rumah besar itu memiliki cctv?
"Meera, jangan melamun. Ayo pergi."
"Tuan Muda..."
"Aiden. Panggil namaku saja. Ayo pergi sekarang, aku harus kembali sebelum pagi."
Aku menghela napas. Aku tidak tahu sekarang harus mengikuti permintaan Aiden atau harus melaporkannya pada nyonya Askara.
"Jadi, mau naik apa? Sudah tidak ada bis jam segini. Mau memesan taksi?" tanyaku. Aku tidak bawa uang banyak, aku menawarkannya dengan harapan Aiden yang akan membayar taksinya.
"Aku sudah pesan."
"Eh, anda tahu caranya?"
Aiden mengangguk.
"Jangan memakai bahasa formal, Meera. Orang yang mendengarnya bisa curiga."
Itu memang benar. Tapi meskipun tanpa aku bicara formal, aku yakin beberapa orang pasti curiga. Style yang sedang dipakai Aiden memang terlihat sederhana dan umum, tapi melihat dari merk nya, harga Hoodie dan celana Aiden setara dengan uang semesteran kuliah kedokteranku.
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Aiden sembari memicingkan mata, ia tidak nyaman dengan tatapan mataku yang kagum dengan kekayaannya.
"Ngomong ngomong, apa kamu pernah keluar rumah sebelumnya?"
Aiden menggeleng. Kedua tangannya masuk ke saku jaket.
"Anda kedinginan? Apa masih sakit?" aku menyentuh pipinya yang memerah, khawatir jika tuan muda ini masih demam dan malah memaksakan diri untuk keluar. Kan tidak lucu kalau dia tiba tiba pingsan di jalan. Tapi entah kenapa kedua pipi tirus itu malah semakin merah. Mata Aiden juga membelalak. Dia masih tidak terbiasa dengan sentuhan fisik.
Aiden menepis tanganku. Kemudian mengalihkan pandangan ke jalan.
"Aku baik baik saja. Jangan... Jangan menyentuhku sembarangan!"
"Aku hanya mengecek suhu tubuhmu. Aku ini doktermu."
"Meera belum lulus, jangan mengaku ngaku!"
"Badanmu masih agak panas, Aiden. Bagaimana kalau kita kembali saja?" aku menatap khawatir. Bisa gawat jika dia sakit di jalan nanti.
Bersamaan dengan kata kataku, taksi yang dipesan Aiden sudah tiba di depan kami. Tuan Muda yang tingginya sejajar denganku itu langsung membuka pintu, menarik tanganku agar masuk ke dalam, duduk di sebelahnya.
"Tempatnya agak jauh, aku akan tidur dulu sebentar." Aiden menarik Hoodie jaketnya ke depan hingga menutupi mata. Kemudian bersandar di bahuku. Dapat kurasakan suhu tubuhnya yang masih sedikit lebih panas dari suhu tubuh normal.
"Hei, kamu masih sakit, tadi sudah minum obat kan?" tanyaku, sembari berbisik.
"Jangan menggangguku, Meera."
Aku menghela napas kesal. Itu Artinya belum. Sampai sekarang aku tidak mengerti cara pikir Aiden, dia sakit tapi tidak mau minum obat. Itu tidak seperti anak anak yang tidak bisa minum obat, Aiden hanya tidak mau meminumnya jika tidak dipaksa. Dia tidak punya masalah dengan menelan pil. tiga butir besar besar saja bisa ia telan sekaligus dengan seteguk air.
"Aiden."
"Hm"
"Kupikir kamu sudah tidur."
"Aku baru menutup mata."
Jika sedang seperti ini, aku tidak melihatnya seperti seorang Tuan Muda kaya raya di keluarga Askara. Tapi hanya seperti adik laki laki yang tiga tahun lebih muda dariku.
"Apa kepalamu sakit? Kalau kau menjawab tiga pertanyaanku dengan jujur aku janji tidak akan bertanya lagi."
"Hanya sedikit berat."
"Tubuhmu lemas?"
"Sedikit."
Kalau benar begitu, sepertinya aku bisa tenang.
"Aku akan memberi tahu nyonya Askara soal dirimu yang mengajak keluar. Apa kamu akan marah?"
"Tidak."
"Sungguh?!"
Aiden berdecih. Aku terkekeh, dia benar benar hanya mau menjawab tiga pertanyaan. Tapi dia mengizinkanku untuk bicara pada nyonya Askara.
Aku langsung mengeluarkan gadget di tas, mulai mengirimkan email. Tapi sangat sulit untuk merangkai kalimatnya. Ini sangat mendadak, nyonya Askara pasti terkejut. Aku malah khawatir beliau salah paham.
"Meera, jangan banyak bergerak. Bahumu bergoncang. Aku jadi tidak nyaman."
"Tidur di sini saja." aku menepuk nepuk pahaku.
Aiden meliriknya sekilas. Kemudian bangun. Ia langsung duduk tegap. Bersandar pada sandaran tempat duduk.
"Kau tidak boleh menawarkan pahamu pada laki laki lain Meera."
"HAH?!" Aku reflek berteriak. Kenapa kata katanya ambigu sekali!
"Pfftt..."
Bahkan supir taksi pun sampai tertawa. Aiden kurang ajar! Aku besok akan mengajarinya tentang sopan santun dan cara bicara pada wanita.
30 menit kemudian kami sampai di tempat yang sama sekali tidak kuduga. Ini adalah toko elektronik yang ada di balik gang sepi, kelihatan tua dan tidak punya banyak barang.
"Kamu yakin di sini?"
Aiden mengangguk mantap, mendahuluiku masuk.
Padahal jika menyangkut seorang tuan muda kaya raya dari keluarga Askara, aku pikir dia akan memilih toko elektronik paling bergengsi di dekat alun alun kota.
"Aku mencari mikrofon, untuk bermain game."
Tidak aku duga lagi, ternyata penjualnya adalah seorang kakek tua dan Aiden berbicara dengan begitu lancar. Padahal aku pikir dia akan menyerahkan komunikasi dengan penjual padaku. Ternyata tugasku benar benar hanya menemaninya.
"Meera tunggu di sini, aku kesana dulu, sepertinya akan sedikit lama." Aiden membawakan kursi plastik, ia letakkan di dekat meja. Aku mengangguk, duduk di kursi itu.
Aiden dan kakek tua pemilik toko mulai mengobrol, membicarakan tentang tipe, keunggulan dan kelemahan macam macam jenis komputer dan benda benda elektronik yang tidak aku pahami.
Yang aku lakukan hanya mengamati interaksi keduanya. Aiden tidak memiliki kesulitan dalam berkomunikasi. Meski wajahnya tidak bisa tersenyum, tapi Aiden berbicara secara normal dengan orang lain. Padahal kata nyonya Askara Aiden tidak pernah berinteraksi dengan siapapun kecuali dengan teman temannya di game.
Sungguh! Aiden yang sekarang terasa berbeda dibandingkan Aiden pada pertemuan pertama, yang aku sentuh saja bisa langsung marah.
Aku rasa sebenarnya Aiden tidak punya masalah berkomunikasi. Aiden cerdas, gestur tubuhnya saat berbicara juga alami.
Tapi kenapa, kenapa Aiden yang aku kenal rasanya sangat berbeda dengan Aiden yang dikenal oleh nyonya Askara. Padahal aku baru dua Minggu mengenalnya.
Tring!
Ponselku berbunyi, ada balasan email dari nyonya Askara.
'Aku akan sampai di rumah besok pagi, datang dan laporkan semuanya padaku'
Aku menelan susah salivaku. Semoga Nyonya Askara tidak marah.
"Aku sudah selesai, ayo kembali."
"Kamu beli apa?"
"Banyak. Barangnya akan diantar besok."
Aku mengangguk. Aiden menggandeng tanganku, kami keluar beriringan. Aiden juga sudah memesan taksi untuk pulang, taksinya sudah menunggu di depan toko.
Di dalam taksi Aiden tidak banyak bicara, aku juga tidak bicara apapun, pikiranku memikirkan apa yang akan terjadi besok pagi. Aku harus menjelaskan apa saja pada nyonya Askara.
"Beri aku nomor teleponmu." Aiden memberikan ponselnya padaku. Eh ini ponsel baru, keluaran terbaru, dan sangat mahal. Harganya hampir 5 kali lipatnya dari milikku. Yeah itu tidak mengejutkan.
"Mau aku beri nomor nyonya Askara juga?" tawarku.
"Tidak perlu."
"Tentu saja perlu, Aiden!" Aku tetap memasukkan nomor telepon nyonya Askara meski Aiden bilang tidak.
Pukul 01.00, Taksi sudah sampai di terminal tempat aku dan Aiden bertemu tadi. Aiden turun di sini sedangkan aku akan diantar pulang.
"Kamu yakin tidak perlu kutemani?" aku bertanya lagi, memastikan apakah Aiden benar benar bisa sendiri.
Aiden sudah di keluar, kemudian kepalanya bersandar pada jendela kaca yang terbuka. Ia mengangguk mantap. Menunjukkan jempolnya.
"Besok aku akan streaming. Jangan menggangguku."
Sialan. Dia tidak pergi pergi hanya untuk mengatakan kalimat itu?! Jadi sampai sekarangpun Aiden ini masih tetap mengganggapku sebagai seorang pengganggu ya. Anak nakal. Aku mencubit pipinya. Aiden mengeluh sakit. Senang sekali melihat wajah cemberutnya.
"Kalau begitu sampai jumpa besok, Meera. Oh iya, ini hadiah untukmu."
Aiden melemparkan sebuah kotak ke dalam mobil, di atas pahaku. Kemudian langsung berlari pergi.
Taksi sudah berjalan kembali, mengantarku pulang.
Gila!
Hadiah yang diberikan Aiden padaku adalah sebuah ponsel baru yang sama seperti miliknya. Astaga! Ini terlalu mahal untuk jadi sebuah hadiah. Aku tidak bisa menerimanya.
Besok akan kukembalikan.
Ngomong ngomong hari ini Aiden manis sekali. Dia ternyata sangat peka dan perhatian. Tidak membuatku menunggu lama, sudah memikirkan kemana tempat yang dituju, kendaraan, bahkan tadi mengambilkan aku kursi untuk duduk. Ah itu sangat manis, seandainya Aiden menjadi remaja normal yang bersekolah di SMA biasa, aku yakin ia pasti memperlakukan pacarnya dengan sangat baik.
Haha... Dia bahkan memberikan hadiah. Meski hadiahnya sangat menggambarkan siapa dirinya, dasar anak orang kaya! Aku harus memberi pemahaman soal 'hadiah' pada Aiden. Aku jadi khawatir dia bertemu orang tidak baik yang memanfaatkan uangnya. Aiden masih terlalu polos.