8. Next Target

1546 Words
-Roby's POV Hancur.. hancur sudah semuanya.. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku sengaja mengajak Ren dan Harel untuk tidak bersama dengan Daren pagi ini. Aku ingin mereka berdua tidak memberi tau Daren dulu soal ini. Ya, aku baru saja jadian. Tepatnya aku jadian dengan Shela mantan Daren yang putus beberapa hari yang lalu. Daren selalu saja seenaknya memperlakukan cewek. Dia tidak pernah benar-benar serius dengan mereka. Dia hanya bermain, dia bermain dengan perasaan orang lain. Sementara aku? Aku hanya penonton di hidup Daren dengan Daren selalu jadi tokoh utama. Aku juga ingin jadi tokoh utama nya. Aku ingin seperti Daren. Tidak ada seorang pun cewek yang sanggup menolaknya. Kecuali cewek yang selalu dilihat Daren akhir-akhir ini. Cewek yang digadung-gadung sebagai pelaku pembunuhan di sekolah ini. Sekaligus cewek yang selalu menolak Daren dan ketus padanya. Siapa sangka seorang Daren justru takluk pada seseorang yang tidak pernah dianggap keberadaan nya? Yang terpenting bukan lah itu. Kami datang terlalu pagi. Belum ada siapa-siapa di sekolah kecuali satpam yang baru membuka gerbang. "Tumben pagi banget datangnya. Silahkan masuk" Satpam itu membukakan gerbang untuk motor kami dengan senyuman. "Tuh kan-- apa juga gue bilang. Jam segini itu gue masi bobok cantik tau" "Kan ada yang mau gue omongin-- lo pahami gue dong sekali-sekali" "Iya-iya -- lama-lama lo kayak cewek beneran ya" "Kok bau ya" Aku dan Ren pun ikut mengendus-endus layaknya anjing pelacak. Kami pun saling melihat satu sama lain mengisyaratkan bahwa pikiran kami sama. Tanpa dikomando kami segera berlari masuk dan di tengah lapangan kami melihat seorang cewek terbaring lemas di lapangan. Wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam. Di sekelilingnya terlihat cairan yang membuat tanah lembab dan sudah hampir-hampir kering. Semakin kami mendekat ke sana, bau hanyir dan busuk makin tercium keras. Bahkan kami pun sempat terbatuk-batuk saking bau nya. Kami terkejut melihat hp yang layarnya masih redup-redup itu. Ada sebuah sms dari nomor tak dikenal. "BOOO... Kejutan untuk nona manis" Kami pun sadar bahwa ini pasti kejadian yang sama dengan kejadian yang menimpa Sarah. Aku yang sedari tadi dapat feeling gaenak langsung mencoba menyingkap rambut cewek itu. Wajahnya penuh darah dan sudah sedikit hancur. "S.. Sh... Shela!!!" Aku berbalik melihat Ren yang berteriak sangat keras hingga satpam yang tadi nya di gerbang berlari ke arah kami. Bahkan seorang Harel yang ekspresi nya datar juga sangat-sangat terkejut. Aku memasang wajah kebingungan melihat mereka. Pak satpam segera menelfon ambulans dan polisi untuk menangani ini. Dengan gemetaran Harel menunjuk name tag cewek yang terbaring mengenaskan itu. Hanya name tag itu yang bisa menunjukkan identitas nya sekarang. Shela Federica "Shela? Shela?! Shelaaaaaa..." Aku yang masih shock mengusap wajah cewek yang terbaring dengan darah menggenang itu untuk memastikan bahwa dia benar-benar Shela. Wajahnya seperti disayat-sayat dengan pisau tumpul karena sayatan nya sangat jelek. Setelah ku perhatikan lama-lama akhirnya aku tersadar bahwa itu adalah Shela. Ya, dia Shela. Shela pacar ku yang baru beberapa hari lalu putus dengan Daren, cowok yang sejauh ini menjadi cowok terkeren dan paling diidam-idamkan cewek. Pantas saja Shela cewek tercantik di sekolah ini suka padanya. Dibandingkan aku yang selalu dianggap kacung pangeran Daren pastinya dia lebih suka Daren. Tapi entah kenapa, tiba-tiba dia mau membalas pesan ku dan kami bahkan sempat berkencan. Sampai-sampai kami sempat jadian tanpa sepengetahuan Daren. Aku tidak ingin makin dibenci semua orang karna seorang kacung mengambil sang putri, mantan dari sang pangeran. Untunglah Ren bisa jaga mulut dan Harel tidak terlalu peduli. Aku pun memeluk jasad Shela yang bau hanyir darah itu dan ku rasa air mataku sudah membasahi mayat nya. Siapa yang tidak akan menangis di saat-saat seperti ini? Asal tau saja, aku sudah menyukai Shela sekitar setahun lalu, jauh sebelum Daren datang dan merusak semuanya. Aku tau Daren ga salah apa-apa. Tapi dia membuat Shela mati mengenaskan. Ini pasti karena Shela menyiram anak aneh itu dengan air busuk. Pastinya dia yang membunuh Shela karna sudah mengganggunya. Dari awal aku dan pastinya semua orang di sini sudah curiga dengan si aneh itu. Peristiwa ini mulai saat dia datang ke sini, beberapa bulan sebelum Daren datang. Ajaibnya, dia selalu dapat peringkat teratas semenjak sekolah di sini. Dendam ku serasa membara karena melihat Shela yang sedang di pelukan ku sudah tak bernyawa lagi. "Roby.." "Pergi kalian!" Aku menepis tangan Ren yang mencoba menenangkan ku. Bagaimana aku bisa tenang di saat-saat seperti ini. Aku sangat-sangat tertekan melihat cewek yang sudah ku cintai dari lama nyawa nya terenggut begitu saja. Aku teringat ketika aku tidak bisa menjemputnya karena terlalu capek menemani Daren dan si aneh. Akhirnya aku beralasan kalau sedang ada acara keluarga. Karna aku tidak bisa menjaga nya, Shela jadi begini. Ini gara-gara Daren dan cewek anehnya itu. Orang-orang mulai banyak berdatangan. Karena masih sangat pagi, polisi dan ambulan akan datang terlambat. Aku terus memeluk Shela dengan erat sambil berharap agar dia bangun dan marah-marah padaku seperti biasanya. Aku sangat ingin bicara dengan nya meskipun itu hanya pertengkaran yang tidak ku ingin kan (inspired by Author's eks). Semua orang menatap dengan sangat kasian dan prihatin sekaligus bersyukur ini tidak terjadi pada mereka. Sayangnya mereka hanya melihat, tidak berusaha membantu. Ren, Harel dan satpam berusaha menutupi agar Shela tidak menjadi tontonan lagi. Aku masih terus menangis dan memeluk Shela saat Daren datang menerobos kerumunan. Aku dapat merasakan awkward yang dirasakan Ren dan Harel. Pastinya mereka tak ingin menyembunyikan apapun dari Daren maupun dari ku. Aku lebih berminat untuk menangisi Shela dari pada melihat Daren. "Ro.. Roby? Itu-" "Iya ini Shela! Lo udah bikin gue.. kehilangan cewek YANG PALING GUE SAYANG!" Pastinya semua orang sekarang sedang memperhatikan kami. Aku menyadari semua orang tercengang dan terdiam mendengar aku membentak Daren. Semua orang tau nya kami adalah teman dekat. Ren dan Harel pun juga hanya bisa diam. Petugas polisi langsung mengambil hp Shela dan beberapa orang dari ambulan membawanya. Aku dilarang ikut ke rs karna harus tetap sekolah. Aku, Ren, Harel dan Daren hanya saling terdiam di ruang basket. "Rob-" "Apa?! Apa lagi yang lo mau hah? Lo udah ngambil perhatian semua orang, jadi cowok paling keren, jadi ketua tim basket hanya dalam waktu beberapa bulan. Lo.. lo juga yang ngambil Shela... Lo tega nampar Shela! Lo ngebuang Shela! Lo bikin dia malu!" "Gue.. gue ga bermak-" "Berhenti membual! Ucapan lo itu udah gaada gunanya! Emang lo bisa balikin Shela? Lo bisa ngidupin Shela lagi? Balikin muka nya yang cantik..." Skakmat. Kali ini Daren sudah benar-benar ga bisa menjawab. Dia hanya tertunduk. Yang bisa didengar hanyalah isakan tangis ku yang entah kenapa tidak bisa berhenti. "Udah Rob. Ini semua udah kejadian, doain Shela damai bersama Tuhan" Ren mencoba menghiburku setelah cukup lama kami hanya terdiam. "Gabisa gitu! Ini salah Daren! Dia selalu ngambil apapun dari gue! Gue ga terima.. Shein! Ya, ini pasti gara-gara Shein. Cewek yang mati-matian dideketin Daren. Dia itu pelaku nya. Lo dan Harel harus percaya sama gue. Kita temen udah dari lama kan? Ya kan?? Jauh sebelum pengacau ini dan cewek aneh itu datang!" Ren dan Harel cuma terdiam. Daren segera mengangkat kepalanya saat mendengar nama Shein. Berani taruhan, dia pasti akan protes karna membawa-bawa Shein pada masalah ini. "Dasar bodoh! Ini gaada hubungan apa-apa nya sama Shein. Kalo kalian gapercaya dia, terserah aja. Ternyata pertemanan kalian itu cuma sebatas ini ya. Ga nyangka gue. Cuma karna ada orang gila di antara kita yang hobi bunuh-bunuhan kalian semua jadi kacau. Oke, gue gabakal ganggu kalian. Silahkan berduka sesuka kalian. Kalian yang mempertemukan gue sama Shein. Gue yang bakal buktiin kalo dia gabersalah!" Daren membanting pintu dan melemparkan kunci ruangan klub sekaligus bat capten nya lalu pergi meninggalkan kami semua. "Apa kalian- mau pergi juga?" "Entahlah. Daren butuh waktu lebih buat sendiri, gue rasa" "Gue masih ada pertanyaan. Kemana aja sih lo Rel, pas si aneh itu hilang juga?" "Maksudnya? Hilang kapan?" "Itu lho waktu ada yang foto-foto dia sama Daren. Kan elo hilang juga sampe udah malam banget" "Gue hilang? Kapan sih? Gue beneran gainget" ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ -Daren's POV Kalo seseorang akan bertanya pendapat ku tentang Roby aku akan dengan senang hati menjawab 'DIA SUDAH GILA'. Dia bahkan tidak memberitau bahwa selama ini dia menyukai Shela. Dia juga tidak protes saat Shela bersama ku. Bagaimana aku bisa tau kalo dia ga ngasi tau? Dia kan bukan cewek yang hobi ngode-ngode. Ku rasa masih wajar jika dia marah-marah padaku. Tapi untuk membawa-bawa nama Shein bukanlah hal yang wajar lagi. Bisa-bisa nya dia percaya gosip murahan tentang Shein yang gila dan membunuh semua orang. Yah, aku memang belum bisa membuktikan Shein ga bersalah. Dan.. aku juga sedikit ragu. Tapi ada bagian lain dalam diriku yang meneriaki kalo Shein ga bersalah. Dan ukh.. kalian harus tau betapa menjijikan nya mayat Shela. Aku bahkan menyempatkan diri untuk muntah sebentar di toilet. Apa cuma aku atau semua orang benar-benar tidak menduga kalo Roby ternyata bukan pribadi lucu seperti yang sering ia tampilkan. Persetan dengan mereka. Aku harus mencari Shein dan bertanya langsung padanya. Aku berhasil menemukan dia di taman sendirian saat semua orang pastinya sudah di kelas. Dia terlihat sibuk dengan tas nya. Aku pun segera menghampiri nya. "Apa- apa elo yang bunuh Shela?" Dia hanya diam dan menatapku tanpa ekspresi. Perlahan dia mulai mendekat padaku dengan tatapan tajam. Harus kuakui aku sedikit keder dengan nya. Tanpa ku sadari, aku mundur perlahan. Sialnya kaki ku justru tersandung batu dan aku terjatuh. Dan lebih s**l lagi, Shein semakin mendekat. Ia jongkok di hadapan ku. Tersenyum sangat seram seakan-akan mata belo nya akan keluar dan bibir nya akan robek. Dia mengeluarkan sebuah.. pisau?! Pisau nya pun juga berdarah-darah. Ia memegang nya dengan sarung tangan seolah-olah tidak mau meninggalkan jejak. Dia memegang dagu ku dan memain-mainkan pisau nya di leher ku. Darah yang ada pada pisau itu belepotan di leher ku. Apa.. apa yang sedang ia lakukan padaku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD