chapter tujuh belas

1323 Words

Di pagi yang agak mendung ini, kesunyian melanda ruang makan keluarga besar Burhan. Hanya terlihat sepasang suami istri yang tengah melahap makanannya masing-masing tanpa ada sedikitpun suara terdengar. "Genta mana?" tanya Burhan, si kepala keluarga saat melihat anak satu- satu nya(?) tak terlihat di meja makan. "Di kamar, tadi belum bangun. Biarkan saja, toh ini hari libur," jawab sang istri agak ketus. "Aku ada rapat mungkin pulang malam, kau cepatlah pulang temani Genta," ujar Burhan. "Tidak bisa, aku juga ada acara." Sikap dingin istrinya pagi ini membuat kernyitan di dahi lebar Burhan. "Kau kenapa, sayang?" ucap Burhan lembut. "Tak ada, kau cepat hubungi Reyhan atau Lintang untuk menemaninya. Aku pergi." Srek~ Burhan memandang aneh pada sosok yang sudah tertelan pintu. Ia me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD