Hiroshi bangun dengan mata yang terasa lebih ringan dari biasanya, seolah-olah mimpi buruk yang sudah berbulan-bulan menghantuinya telah digantikan oleh sesuatu yang lebih lembut—sebuah melodi yang belum ia kenal namanya. Sinar pagi yang menyaring masuk melalui tirai apartemen studio yang sempit terasa berbeda hari ini, tidak lagi dingin dan impersonal, melainkan hangat dengan kemungkinan yang samar-samar.
Dia tidak langsung bangkit seperti biasanya, tidak langsung meraih ponsel untuk mengecek email atau berita yang akan merusak suasana hatinya sebelum hari dimulai. Sebaliknya, ia berbaring sejenak, membiarkan ingatan tentang malam sebelumnya mengalir kembali dalam benaknya seperti air yang jernih.
Wajah itu. Profil yang sempurna, terbingkai oleh rambut hitam yang jatuh seperti tirai sutra. Cara dia membaca dengan konsentrasi yang begitu dalam, seolah-olah buku itu adalah satu-satunya hal yang ada di seluruh semesta. Ada ketenangan dalam cara dia duduk, ketenangan yang anehnya menular, membuat gerbong kereta yang biasanya terasa sesak dan asing menjadi tempat yang... aman.
Sepanjang hari kerja, pikiran Hiroshi terus melayang. Saat atasannya berbicara tentang deadline campaign, matanya menatap kosong ke arah layar komputer sambil membayangkan mata yang lembut itu. Saat rekan kerjanya mengeluh tentang traffic jam pagi tadi, telinganya mendengar tapi pikirannya memutar ulang suara lembut halaman buku yang dibalik dengan perlahan.
"Kau baik-baik saja?" Tanaka, supervisor tim, menepuk bahunya dengan agak keras. "Kelihatannya kau... melayang hari ini."
Hiroshi berkedip, kembali ke realitas fluorescent office yang menyilaukan. "Ah, maaf. Hanya sedikit lelah."
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kau sudah kerja lembur hampir setiap hari minggu ini." Tanaka menggeleng-gelengkan kepala. "Pergi pulang lebih awal hari ini. Istirahat yang cukup."
Tapi Hiroshi tidak ingin pulang lebih awal. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia ingin waktu berjalan lebih cepat. Ia ingin jam menunjuk pukul 23:15, ingin keluar dari kantor, ingin berjalan lima menit ke stasiun, ingin menunggu kereta pukul 23:47.
Ingin melihat apakah dia akan ada di sana lagi.
---
23.43.
Empat menit lagi. Hiroshi berdiri di platform yang sama, di posisi yang sama, dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Jantungnya berdegup tidak teratur, seperti drummer pemula yang mencoba mengikuti lagu yang terlalu rumit. Telapak tangannya berkeringat meski udara malam cukup dingin.
Apa yang akan terjadi jika dia tidak ada di sana? pikiran itu mengganggu ketenangan harapannya. Apa yang akan kulakukan jika kemarin hanya kebetulan?
Tapi ketika kereta itu datang dengan suara gemerisik yang familiar, ketika pintu terbuka dengan bunyi pssssh yang lembut, ketika ia melangkah masuk ke gerbong yang hangat—
Dia ada di sana.
Kursi yang sama. Posisi yang sama. Persis seperti malam sebelumnya.
Hiroshi berhenti sejenak di ambang pintu, hampir tidak percaya pada matanya sendiri. Perempuan itu duduk di kursi pojok dekat jendela—kursi 7A, ia baru menyadari—dengan postur tubuh yang identik dengan kemarin. Tangan kanannya di pangkuan, kepala sedikit miring ke kiri, rambut hitam panjang yang jatuh dengan cara yang persis sama, menutupi sebagian wajahnya.
Dan buku yang sama di tangannya. Buku bersampul biru tua yang sama.
Aneh, pikir Hiroshi sambil memilih duduk di kursi yang sama seperti kemarin—tiga kursi darinya, cukup jauh untuk tidak terlihat seperti mengawasi, cukup dekat untuk bisa merasakan kehadirannya. Apakah dia membaca buku yang sama berulang-ulang? Atau... apakah dia tidak pernah selesai membaca halaman kemarin?
Kereta mulai bergerak, meninggalkan platform menuju kegelapan terowongan. Lampu-lampu kota mulai berlalu di luar jendela seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Tapi mata Hiroshi tidak menatap pemandangan itu. Ia terpesona oleh sesuatu yang lebih dekat, lebih nyata, lebih menawan dari apapun yang bisa dilihatnya di luar kaca.
Cara perempuan itu membaca.
Kemarin ia sudah memperhatikan, tapi malam ini ia benar-benar mengamati. Ada ritual dalam setiap gerakannya. Cara matanya mengikuti baris demi baris dengan kecepatan yang sangat lambat, seolah-olah setiap kata perlu dirasakan dengan seluruh indra sebelum ia pindah ke kata berikutnya. Cara jari-jarinya yang pucat menyentuh sudut halaman, membelainya dengan lembut sebelum membaliknya dengan gerakan yang hampir sakral.
Dan napasnya. Hiroshi bisa mendengar—atau mungkin merasakan—ritme napasnya yang teratur. Lambat, dalam, tenang. Seperti meditasi. Seperti doa.
Siapa yang membaca seperti itu di zaman sekarang? ia bertanya dalam hati. Di era dimana semua orang scrolling dengan jari yang tidak sabaran, membaca headline tanpa membaca isinya, menyerap informasi dengan kecepatan cahaya tanpa benar-benar memahami maknanya, perempuan itu membaca seperti sedang meresapi anggur vintage—perlahan, dengan penghargaan penuh, dengan kesadaran bahwa setiap momen adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.
Gerbong mulai terisi penumpang yang naik di stasiun Harajuku. Seorang kelompok anak muda dengan pakaian harajuku yang mencolok masuk sambil tertawa keras, suara mereka memecah keheningan malam. Seorang businessman dengan koper besar duduk di seberang Hiroshi sambil menelepon dengan suara yang cukup keras tentang meeting besok pagi.
Tapi perempuan itu tidak terpengaruh. Dia tetap tenggelam dalam bacaannya, seolah-olah ada gelembung invisible yang melindunginya dari semua gangguan dunia luar. Bahkan ketika anak muda itu berlalu di depan kursinya sambil berteriak-teriak tentang konser band yang akan mereka tonton, dia tidak menengadah, tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu.
Hiroshi memperhatikan sesuatu lagi. Meski gerbong semakin ramai, kursi di sebelah perempuan itu tetap kosong. Bukan karena tidak ada penumpang yang mau duduk—ada beberapa orang yang sempat mendekati kursi itu, tapi kemudian berubah pikiran dan memilih berdiri atau mencari kursi lain.
Aneh.
Ia mengamati lebih teliti. Ada sesuatu tentang area sekitar perempuan itu, sesuatu yang membuat orang-orang secara tidak sadar menghindarinya. Bukan karena dia terlihat menakutkan atau tidak ramah—sebaliknya, ada aura ketenangan yang melingkupinya. Tapi ketenangan itu terasa... berbeda. Seperti ketenangan yang terlalu dalam, terlalu sempurna untuk dunia yang selalu bergolak ini.
Kereta berhenti di stasiun Shinjuku. Lebih banyak penumpang masuk dan keluar. Hiroshi memperhatikan dengan seksama, berharap bisa melihat apakah perempuan itu bersiap untuk turun. Tapi dia tetap duduk dengan tenang, mata tetap tertuju pada bukunya, seolah-olah perjalanan ini akan berlangsung selamanya dan dia tidak keberatan dengan hal itu.
Kapan dia turun? Hiroshi bertanya dalam hati. Stasiun mana tujuannya?
Ia mencoba mengingat rute kereta ini. Setelah Shinjuku akan ada Takadanobaba, kemudian Ikebukuro, lalu beberapa stasiun kecil sebelum mencapai tujuan utama. Mungkin dia tinggal di salah satu daerah itu. Mungkin dia memiliki alasan untuk naik kereta begitu larut setiap malam.
Atau mungkin...
Mungkin apa? Hiroshi menegur dirinya sendiri. Jangan terlalu banyak berpikir. Dia hanya penumpang biasa seperti kau. Mungkin dia shift malam, mungkin dia kuliah malam, mungkin dia...
Tapi ketika kereta berhenti di Takadanobaba, dia tidak turun. Ketika kereta berhenti di Ikebukuro, dia tidak turun. Stasiun demi stasiun berlalu, dan perempuan itu tetap duduk di kursi 7A, tetap membaca bukunya, tetap berada dalam gelembung ketenangan yang aneh itu.
Hiroshi mulai merasa tidak nyaman dengan keanehan ini, tapi pada saat yang sama, ada sesuatu yang menenangkan tentang konsistensi itu. Di dunia yang penuh dengan perubahan yang tidak terduga, dengan jadwal yang berubah-ubah, dengan orang-orang yang datang dan pergi tanpa jejak, ada sesuatu yang indah tentang sosok yang selalu ada di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dengan ketenangan yang sama.
Seperti mercusuar dalam badai.
Seperti north star yang selalu bisa diandalkan.
Seperti... rumah.
Rumah? Hiroshi terkejut dengan pikirannya sendiri. Kenapa aku memikirkan kata itu? Aku bahkan tidak mengenalnya.
Tapi perasaan itu sulit dipungkiri. Ada sesuatu tentang kehadiran perempuan itu yang membuat gerbong kereta yang biasanya terasa dingin dan impersonal menjadi tempat yang hangat, tempat dimana ia ingin berlama-lama. Bukan karena dia ingin mendekatinya—meski itu juga benar—tapi karena kehadirannya memberikan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Ketenangan.
Kepastian.
Rasa bahwa ia tidak sendirian di dunia yang terlalu besar dan terlalu acuh ini.
Kereta mulai melambat saat mendekati stasiun Shibuya. Hiroshi bersiap untuk turun, tapi kali ini ia tidak buru-buru berdiri. Ia ingin mengamati apakah perempuan itu akan memberikan tanda-tanda akan turun juga. Ingin melihat apakah ada perubahan dalam postur tubuhnya, dalam cara dia memegang buku, dalam ritme napasnya.
Tapi tidak ada perubahan. Dia tetap duduk dengan tenang, seolah-olah Shibuya hanyalah stasiun lain yang akan dilalui dalam perjalanan yang tidak ada akhirnya.
"Shibuya. Shibuya. Penumpang yang turun di Shibuya, silakan bersiap-siap."
Hiroshi berdiri perlahan, mata masih tertuju pada perempuan itu. Untuk sesaat—hanya sesaat—ia berharap dia akan menengadah, akan melihatnya, akan tersenyum kecil yang mengakui kehadirannya. Tidak perlu kata-kata, tidak perlu perkenalan formal. Hanya pengakuan sederhana bahwa mereka berbagi ruang yang sama, waktu yang sama, momen yang sama.
Tapi dia tidak menengadah. Jari-jarinya membalik halaman buku dengan gerakan yang sama lembut seperti kemarin, mata tetap tertuju pada kata-kata yang hanya dia yang bisa baca.
Hiroshi turun dari kereta dengan perasaan campur aduk. Ada kekecewaan karena tidak ada interaksi, tapi juga ada antisipasi yang aneh. Karena sekarang ia tahu—dia akan ada di sana lagi besok malam. Di kursi yang sama, dengan posisi yang sama, dengan buku yang sama.
Dan entah kenapa, kepastian itu membuatnya merasa... aman.
Saat kereta mulai bergerak lagi, ia sempat melihat melalui jendela. Perempuan itu masih duduk di sana, profil cantiknya terbingkai oleh cahaya kuning lampu kereta. Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Untuk sesaat—sangat singkat—ia melihat perempuan itu menengadah dari bukunya dan menatap ke arah jendela.
Ke arah dimana Hiroshi berdiri.
Mata mereka bertemu hanya selama sedetik, mungkin bahkan kurang dari itu. Tapi dalam sedetik itu, Hiroshi merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan hanya koneksi mata—tapi koneksi yang lebih dalam, lebih mendasar. Seolah-olah jiwa mereka saling menyapa dalam bahasa yang tidak memerlukan suara.
Kemudian kereta itu pergi, meninggalkan Hiroshi berdiri di platform dengan jantung yang berdegup kencang dan pertanyaan yang semakin banyak berkembang di benaknya.
Siapa dia sebenarnya?
Mengapa dia tidak pernah turun dari kereta?
Dan mengapa perasaan ini—perasaan bahwa ia telah mengenalnya selamanya—begitu kuat hingga membuatnya sulit bernapas?
Saat berjalan pulang malam itu, langkah Hiroshi terasa lebih ringan dari kemarin. Bukan karena ia mendapat jawaban, tapi karena sekarang ia memiliki misteri yang indah untuk dipikirkan. Memiliki sesuatu—atau seseorang—yang membuat hari esok terasa bermakna.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak sabar menunggu kereta pukul 23.47 esok malam.
Tidak tahu bahwa di dalam kereta yang terus meluncur dalam kegelapan, sepasang mata yang lembut sedang menatap refleksinya sendiri di kaca jendela, dengan senyuman tipis yang menyimpan rahasia yang lebih dalam dari samudra.
Tidak tahu bahwa pertemuan mata tadi bukan kebetulan.
Dan tidak tahu bahwa ada sesuatu tentang dirinya—sesuatu tentang kesepian yang sama, tentang kekosongan yang sama, tentang pencarian yang sama—yang membuat dia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain.
Membuat dia menjadi satu-satunya orang yang bisa melihat gadis yang tidak pernah turun dari kereta itu.
Gadis yang menolak untuk.....?
Gadis yang bernama........?