BAB : 10

1394 Words
Kinara panik, langsung keluar dari kamar itu dan mencari seseorang. Entah, siapapun juga yang ada di dalam rumah ini. Yang jelas, ia butuh bantuan. Menuruni anak tangga dengan berlari. Sampai bingung harus melangkah ke arah mana. Ini rumah terlalu banyak ruangan, hingga membuatnya pusing sendiri. “Maaf, Non mau kemana?” Pertanyaan itu sontak membuatnya kaget. Bagaimana tidak ... ini posisinya lagi bingung mau melangkah ke arah mana, trus tiba-tiba diberi pertanyaan itu. Nara langsung berbalik badan, dihadapkan pada seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah padanya. “Saya salah satu asisten rumah tangga di rumah ini,” ujarnya memperkenalkan diri, agar tamu majikannya ini tak bingung. “Non mau kemana subuh-subuh begini? Kalau Den Darrel tahu, dia bakalan marah.” Kinara menghembuskan napasnya lega, saat bertemu dengan seseorang yang akhirnya bisa membantunya. “Bik, yok ke atas ... Darrel pingsan,” ujarnya langsung menarik tangan wanita itu agar bergegas mengikuti langkahnya. “Yang benar, Non?” Pertanyaan itu tak dijawab Nara. Kelamaan, harus menjelaskan. Keduanya sampai di dalam kamar Darrel. Serius, ya ... ini badannya panas banget. Berasa kebakar kalau disentuh. “Ya ampun, sepertinya karena hujan-hujanan semalam,” ujar Bibik bergumam. “Hujan?” “Iya, Non. Aden kan jemput Non tengah malam setelah dapat telepon. Trus, pas pulang udah basah kuyup,” jelasnya. Barulah, mendengar semua itu Nara ingat. Sepertinya kepalanya mengalami benturan hebat, hingga dengan mudahnya lupa hal yang terjadi semalam. “Ya ampun,” gerutunya menggetok-getok kepalanya dengan tinju. “Ini pasti gara-gara semalam gue mabuk, nih ... sampai otak gue mengalami pergeseran.” Bibik sibuk menelepon seseorang, sedangkan Nara berjalan menghampiri Darrel yang masih belum sadar. Saat ia pegang, tubuh dia panas, tapi tampak menggigil. “Apa kamu kedinginan?” Mengusap pucuk kepala dia perlahan. “Non, temani Aden sebentar, ya. Bibik mau nunggu dokter yang sebentar lagi akan datang.” “Hmm,” angguknya menyahuti. Wanita paruh baya itu keluar dari kamar, meninggalkan Kinara yang duduk di pinggiran tempat tidur, di mana Darrel tidur di sampingnya. Jujur, ia masih ragu harus bersikap seperti apa pada cowok ini. Karena tak tahu seperti apa dia sebenarnya. Hanya satu hari kenal, bukan berarti ia sudah memahami aslinya Darrel, kan. Awalnya hanya fokus pada Darrel yang masih dengan kedua mata terpejam. Tampak tenang, tak seperti saat dia sadar. Hanya saja karena efek demam, membuat napas dia tampak begitu cepat. “Kamu tahu, apa penilaianku saat pertama betemu denganmu? Ya ampun, aku seperti melihat sosok malaikat yang berdiri dihadapanku. Karena jujur dan ku akui, untuk bagian fisik, kamu berada di level atas, Darrel.” Menghembuskan napasnya panjang. “Tapi, semua pikiran manisku itu anjlok ke dasar lautan, saat mengetahui sikap aslimu yang ... bikin naik darah. Kamu nyebelin.” Menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur. “Iya, kamu nyebelin, Tapi, jangan sakit dong. Meskipun nyebelin, aku juga khawatir tahu, tentang kondisimu. Ditambah lagi tadi Bibik bilang kamu hujan-hujanan semalam gara-gara jemput aku. Plis, nanti jangan minta hutang budi, ya ... apalagi sampai memberikan lembur padaku saat bekerja.” Di saat yang bersamaan, pintu dibuka dari arah luar. Ia yang awalnya duduk, sontak kaget dan langsung beranjak dari posisinya. Takut, dikira bersikap aneh-aneh pada Darrel. Seorang cowok yang kalau dilihat-lihat seumuran dengan Darrel. Hanya saja dia tampak lebih ramah, dari raut wajahnya, ya. Tak seperti Darrel, nyebelin dari awal hingga ending. “Non, Ini Den Reza. Sepupunya Den Darrel, yang juga dokter pribadinya Aden,” jelas Bibik memperkenalkan sosok cowok yang berdiri dihadapannya. “Hallo, aku Kinara. Hmm ...” Sampai bingung harus memperkenalkan diri sebagai siapa di sini. “Aku, karyawannya Darrel.” Dahi Reza berkerut saat mendengar pengakuan Kinara sebagai keryawan. “Yakin, hanya sekadar karyawan?” tanya Reza. “I-iya. Apalagi.” Reza hanya membalas pengakuan Nara dengan senyuman simpul. Kemudian segera memeriksa kondisi Darrel. “Dia minum obatnya nggak, sih, Bik?” tanya Reza pada Bibik, tapi tetap melanjutkan pemeriksaan pada Darrel. “Bibik nggak tahu, Den.” “Ini juga dahi kenapa?” Merasa pertanyaan Reza seakan sedang menyindirnya secara sengaja, meskipun dia nggak tahu kalau dirinya adalah penyebabnya. “Itu, aku yang bikin dia luka,” ungkap Nara pelan. Iya, pelan ... tapi pandangan Reza dan Bibik seketika fokus menatapnya. “T-tapi aku nggak sengaja, kok. Aku nggak berniat. Dianya aja yang bikin aku kesal. Jadinya ya, gitu.” Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mencoba menghindar dari tatapan tajam Reza. Nggak enak, sih, sebenarnya. Meskipun tak sengaja, tapi dirinya seolah jadi yang paling bersalah. Berjalan perlahan, keluar dari sana menuju kamar di mana tadi ia tidur. Tampak, pakaiannya masih basah. Ya, mau nggak mau tetap baju Darrel yang ia kenakan. Menyambar tas nya yang ada di nakas, kemudian berlalu pergi dari sana. Mending pulang, takut di sini. Dan lagi, Darrel juga sudah ada di tangan yang tepat. Ada dokter yang ternyata juga sepupu dia. Pulang dengan sebuah taksi. Jujur saja, suasana benar-benar terasa dingin. Bagaimana tidak. Ia hanya mengenakan kaos oblong yang oversize di badannya. Anggap saja sedang mengenakan mini dress. Sampai di rumah, suasana masih gelap. Iyalah, ini masih jam empat subuh. “Pak, buka pagar!” teriaknya di depan pagar setingga tiga meter itu. “Loh, Non.” Tampak kaget karena kedatangan Nara di subuh-subuh. Ditambah lagi dengan pakaian majikannya yang tampak seperti seorang yang baru bangun tidur. Nyeker lagi. Melanjutkan langkahnya menuju rumah. Langsung masuk dan bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Masih sepi, hanya terdengar suara Bibik yang sibuk di dapur. Sedangkan kedua orang tuanya? Tentu saja mereka masih berada di alam mimpi. Hingga melupakan keberadaan putri sendiri. “Harusnya gue yang anak satu-satunya, diberikan sebuah kasih sayang serta kenyamanan hidup. Lah, ini ... malah dijadikan umpan untuk menangkap seekor ikan emas.” Sampai di kamar, langsung menghempaskan badannya di kasur. Capek, pusing, kepalanya nyut-nyutan. Tidur adalah jalan terbaik untuk melenyapkan semua rasa tak mengenakkan itu. Hembusan angin yang masuk melalui jendela kamar, membuat ia yang sedang tidur nyenyak merasa terganggu. Memutar kepalanya ke arah berlawanan, malah langsung dihantam oleh cahaya matahari yang masuk secara brutal. “Ya ampun, bahkan saat tidur nyenyak pun masih ada yang mengganggu,” umpatnya langsung bangun dan duduk bersila di atas kasur. Menyambar ponselnya yang tergeletak di bawah bantal, berniat melihat waktu di layar datar itu, tapi ia justru keburu kaget dengan jarum jam yang terpampang nyata di dinding. “Omaigat! Gue telat kuliah!” Langsung melompat turun dari tempat tidur, saking kagetnya dengan waktu yang tertera. Sial tak dapat ditolak, efek tindakannya malah membuat ia jatuh karena pergelangan kakinya terpelintir, bahkan terdengar suara krek. “Aduh.” Langsung meringis memegangi kakinya yang terasa sakit dan ngilu. “Jangan-jangan kaki gue patah, nih.” “Mama!” Berteriak heboh, sengaja agar mamanya datang saat mendengar suaranya. Tak lama, pintu dibuka dari arah luar. Dikira mamanya yang datang, tapi ternyata Bibik. “Ya ampun, Non kenapa, sih,” kagetnya saat mendapati Kinara yang duduk di lantai sambil menangis memegangi kakinya. “Jatuh,” jawabnya. “Kaki ku sakit banget.” “Mama mana, Bik?” “Lah, Tuan dan Nyonya kan udah berangkat kerja, Non,” jelasnya. “Ayok, ayok, Bibik bantuin bangun.” Jadilah, ia yang tadinya heboh karena telat mau ke kampus, sekarang malah dapat karma dadakan. Masih pagi juga, benar-benar sial sekali harinya. “Ya ampun, langsung bengkak,” ungkap Bibik saat mendapati pergelangan kaki Kinara yang tampak memerah dan bengkak. “Sakit, Bik. Jangan-jangan tulang ku patah.” “Hus, si Non. Ini bukan patah, Non. Tapi kayaknya terkilir.” Ya gimana pikirannya nggak buruk. Tadi pas jatuh, ia mendengar suara krek dari kakinya. Kebayang aja kalau benar-benar patah. “Bibik kaget tadi. Tahunya Non semalam kabur. Kenapa tiba-tiba udah ada di kamar aja.” “Udah deh, Bik. Jangan banyak tanya. Aku lagi kesakitan, malah diinterogasi segala,” berengutnya. Kinara menyambar ponselnya, kemudian menghubungi mamanya. “Mama, pulang sekarang.” Langsung menangis saat panggilan teleponnya mendapat respon. “Ini ada apa, sih, Sayang. Nangis kenapa? Kamu masih di rumahnya Darrel, kan?” “Aku udah di rumah kita, Ma. Aku jatuh, kakiku sakit banget.” “Jatuh di mana?” “Lompat, di kamar.” “Astaga! Nara! Kamu ini ...” Kinara langsung menutup percakapan dengan mamanya. Kebiasaan, kalau dirinya salah pasti omelan mamanya bakalan sepanjang jalan kenangan. Biarlah, nanti lanjut kena omel di rumah saja. Karena sakit di kakinya saat ini, jauh lebih parah dibandingkan sakit kena omel mamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD