BAB : 21

1234 Words
Baru mengenal, tapi kenapa rasanya saat dia bicara seperti ini seolah dirinya dibuat miris. Kemana sikap dan sifatnya yang selama ini dikenal terlalu dingin untuk merasa tersentuh? Apa itu tak berlaku pada Kinara? “Pernah merasakan hal seperti itu?” Awalnya ingin memberikan sebuah jawaban, tapi kenapa seolah itu bukanlah jalan yang tepat. Yang awalnya menatap dia seolah sedang serius mendengarkan, kini memilih untuk berpaling. Menatap langit yang luas dengan hamparan bintang layaknya tepian pantai dengan pasir yang berkilauan. “Setidaknya seorang anak harus melakukan apa yang membuat orang tuanya bahagia, kan? Termasuk kamu.” Kinara ikut menatap ke arah langit malam. “Jadi, menurutmu?” “Ya, begitulah.” Nara berdecak mendengar saran menyebalkan yang diutarakan Darrel padanya. “Heran, ya. Ada orang yang jelas-jelas sedang berbuat tak baik padamu, tapi malah dengan santainya memberikan peluang untuk melakukan itu.” “Kehidupan siapa yang tahu. Termasuk nanti siapa yang akan jadi pelaku dan korban dari kejahatan itu.” “Dan aku akan jadi sebuah objek yang terombang-ambing di antara permasalahan pelik itu ... layaknya sebuah benda yang tak ada artinya.” Darrel memejamkan kedua matanya, menghembuskan napas berat seolah sedang melepaskan seonggok masalah dalam otaknya. “Berapa usiamu?” “Sebagai seorang atasan, bukannya saat menerima karyawan kamu tahu berapa usia mereka?” “Kamu bukan karyawanku.” “Ah, ya ... lupa. Aku kerja tanpa digaji. Jadi, data diri atau apapun itu tak ada yang perduli.” “Jadi?” “Dua puluh satu.” “Selama hidup dua puluh satu tahun, kapan kamu menyadari kalau semua alur kehidupanmu ternyata diatur?” Kinara tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan Darrel. Bukan tak tahu jawaban, lebih tepatnya kok ia merasa miris dengan dirinya sendiri. Seolah selama ini berada dalam sebuah hipnotis, hingga menurut saja. “Baru beberapa hari ini,” jawabnya perlahan. Darrel mengarahkan pandangan pada Kinara yang ada di sampingnya. Terlihat raut sendu tercetak di wajah dia, dengan kedua mata terpejam. Hingga akhirnya air bening itu tampak mengalir dari sudut mata dia. Ingin menyentuh dan menghapus, tapi rasanya masih ragu. “Aku lapar,” ujar Darrel tiba-tiba. Nara yang awalnya masih fokus dan terbawa perasaan, mendnegar perkataan seperti itu tentu saja ia merasa jengkel. Pengin menggetok kepala cowok ini rasanya. Apa dia tak merasa peka, kalau saat ini hatinya sedang tak baik. “Apa?” tanya Nara memastikan. “Aku lapar.” Darrel menatap Kinara fokus. “Aku ke sini minta kamu menemaniku. Jadi, aku tak akan mengijinkanmu untuk sedih. Sebagai karyawan yang tak digaji, bisakah memberikanku makanan? Sebenarnya kesal, loh, dengan kata-kata Darrel. Tapi, kenapa ia malah mengumbar senyum pada dia. Sepertinya dirinya mulai tak baik-baik saja. Menyambar makanan yang sudah tersedia di meja, kemudian mengarahkan pada Darrel. Lihatlah, tatapan tajam itu seakan sedang menerkamnya. Mengarahkan satu sendok makanan ke arah mulut Darrel, meskipun terpaksa. “Ternyata kamu peka juga,” ujar Darrel hendak menerima satu suapan makanan yang disodorkan oleh Nara padanya. Hanya saja dia malah mengelakkan. “Jangan main-main, loh. Aku beneran lapar.” Terkekeh melihat tampang memberengut dia. “Happy birthday,” ucap Nara langsung menyuapi Darrel dengan satu sendok makanan yang diarahkan ke mulut dia. Hidup selama dua puluh enam tahun, baru sekarang ia rasakan hal seperti ini. Biasanya hanya sendirian menikmati hidup yang tak ada nikmatnya sama sekali, tapi kenapa gadis ini seolah mengubah segalanya. Rasanya yang mati, seolah dibuat hidup oleh dia. Hatinya yang dingin, dalam beberapa waktu saja seolah dia buat jadi cair. Biasanya akan bicara beberapa kalimat dalam sehari, itupun mengomel di kantor. Tapi dalam beberapa hari ini mulutnya seolah tak bisa diam jika bersama dia. “Jangan menatapku seperti itu. Bisa-bisa kamu beneran naksir padaku,” ujar nara tersenyum menjahili Darrel dengan kata-katanya. “Bisa jadi,” respon Darrel singkat. “Heh, apanya?” Darrel tak menjawab, apalagi mulutnya sibuk mengunyah makanan yang diberikan Nara. Dan lagi, ia tak akan membuat gadis ini berpikiran aneh tentang dirinya. Seperti ini saja mungkin akan lebih baik. Ingin merasakan saat sentuhan dia tak pernah hilang dari rasanya. Darrel menyodorkan telapak tangan ke arah Kinara. “Apa?” “Aku ulang tahun, kamu nggak mau memberikanku sebuah hadiah?” Nara memanyunkan bibirnya. Memutar bola matanya malas. “Aku nggak tahu kamu ulang tahun, bagaimana mau kasih hadiah.” “Jadi, aku nggak dapat apa-apa?” Kinara tertawa mendengar pertanyaan Darrel. Serius, ya. Imej dingin dan kalem dia pergi kemana, sih? Kenapa semua justru malah berubah. “Aku sudah menemanimu tengah malam begini, meskipun besok harus kejar waktu ke kampus. Dan aku sudah jadi babu karena harus menyuapimu makan. Jadi, kamu mau hadiah seperti apalagi, Darrel?” “Itu bukan hadiah, tapi memang sudah kewajibanmu sebagai ...” “Hayo ... sebagai apa?” Menimpalki perkataan darrel. “Nggak ada karyawan yang harus menemani atasannya di luar jam kerja begini, loh. Salah orang, sih ... harusnya minta pacarmu yang di sini. Ini malah memintaku. Nggak ada toleransi sama sekali lagi. Lihat, kakiku sakit, dengan paksa kamu bawa ke sini.” Darrel malah tersenyum mendnegar Nara mengomelinya. “Jangan memutar kata-kata. Mana, hadiah untukku.” Menyodorkan telapak tangannya ke arah Kinara. Kinara meletakkan piring berisi makanan di meja. Kemudian menatap horor ke arah Darrel yang ada dihadapannya masih menuntut hadiah. “Sudah ku bilang, aku nggak tahu kamu ulang tahun. Jadi, mau ku kasih apa padamu sekarang, hah?” Gregetan banget rasanya. Pengin nyubit mulut dia. Saling bertatapan, tapi seketika Darrel menarik ikatan rambut milik Kinara yang berbentuk karet dengan bandul inisial huruf N, hingga rambut panjang gadis itu tergerai. “Ih, darrel!” pekiknya dengan nada kesal. Kinara kesal, tapi tidak dengan Darrel. Jujur saja, ya ... di pandangan matanya Kinara itu memiliki dua sisi yang berbeda jika penampilannya berbeda. Saat rambutnya tergerai, seolah-olah ada maghnet tersendiri yang membuat dia tampak begitu manis. “Balikin, nggak!” Merebut kembali ikatan karet yang diambil paksa oleh Darrel dari rambutnya, tapi tak berhasil karena dia menghindar. Bahkan dia melingkarkan benda itu di pergelangan tangannya. “Nggak ada hadiah yang kamu berikan padaku, tapi benda ini ku ambil sebagai hadiah darimu.” Menunjukkan benda karet berwana hitam yang sudah nangkring di pergelangan tangannya. “Tapi jangan mengambil itu.” “Hmm, kenapa? Apa ini hadiah dari pacarmu?” “Pacar, pacar! Itu aku beli sendiri, loh. Tanpa make duit orang tuaku. Jadi, jangan mengambilnya.” “Baguslah. Sekarang biar aku yang make.” “Kenapa kamu begitu menyebalkan, sih, Darrel.” Darrel malah terkekeh saat sikap Nara padanya terasa berubah-ubah. Kadang manis, kadang dingin, kadang mengomel dan sekarang malah merajuk. Dan ia suka itu. Sedangkan Kinara. Lihatlah tampang cemberutnya. Bisa-bisanya Darrel membuatnya kesal di tengah malam begini. Hingga akhirnya hanya bisa pasrah saat ikatan rambut kesayanagnnya diambil alih oleh dia. “Lihat, kan, berantakan,” gerutunya saat merasa gerah dengan rambutnya yang tergerai. “Begini lebih bagus, di mataku.” “Ish, siapa kamu yang harus memberikan nilai padaku. Simpan saja nilai plus dan minus itu untuk pasanganmu. Jangan berikan padaku.” “Hmm, baiklah ... tunggu waktunya saat nilai itu ku berikan padamu,” gumam Darrel menyambar satu gelas minuman dan menguknya sampai habis. “Apa maksudmu?” Darrel duduk berhadapan dengan Kinara, mendekatkan wajahnya ke arah gadis yang tampak menunggu penjelasan darinya. “Maksudku ... hmm, kamu mau menginap di sini denganku?” Menonjok ulu hati Darrel dengan tinjunya, hingga cowok itu meringis. “Itu, satu lagi hadiah ulang tahun dariku, Darrel. Aih, nyebelin banget, sih, kamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD