Sebuah Senyum

1102 Words

Rehan Aditya "Kamu nggak makan sama Allan?" tanyaku pada Nanda. Ia menghentikan suapannya untuk sejenak. Kupikir, Nanda akan langsung dan meletakan sendoknya begitu saja seperti di film-film, merasa murung atau marah mungkin. Tapi ternyata ia tetap melahapnya. Wajahnya tampak biasa, nggak terpengaruh badai apapun. "Jangan memancing pertanyaan yang pernah membuat kita berada dalam masalah oke!" Nanda memperingatkanku. Ya bagaimanapun juga, Nanda dan Allan berada di satu atap yang mengharuskan mereka bertemu setiap hari. Saling bertatap muka juga berinteraksi. Bukan suatu hal mustahil jika Nanda menyimpan hati lagi. Apalagi mengingat sikap Allan yang terlihat jelas masih menyukai Nanda. Untuk pertama kalinya aku merasa insecure pada diri sendiri. Bukan sok keren, toh aku memang keren k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD