Ananda Rhea Prahadi
"Sendirian aja Nenk Nanda?"
Aku sedang duduk berhadapan dengan sepiring nasi beserta lauk pauknya, saat Bu Sari alias penghuni Dapur 2 menyapa. Menu makan siang hari ini ada capcay, goreng ayam dan bakwan jagung. Disini kalau soal makan memang terjamin. Sudah ada yang bertugas membuat makan siang untuk karyawan dengan menu berbeda setiap harinya. Nggak perlu takut kelaparan, apalagi acara ngutang dulu ke warteg.
"Iya nih bu," jawabku agak lesu. Entah kenapa hari ini aku memang sangat malas melakukan apapun dari sejak bangun tidur sampai sekarang.
"Allannya kemana?" Pertanyaan Bu Sari membuatku menoleh.
"Lagi jadwal off bu. Jadi saya makan sendiri."
Bu Sari lalu duduk di dihadapanku. Kalau diperhatikan, Bu sari ini terlihat ayu. Dia itu umurnya mungkin sudah mulai sepuh, tapi jangan dikira orangnya loyo. Bahkan, kekuatanku saja kalah dengan beliau.
"Makanya, Nenk Nanda kalau hubungan itu kasih jarak. Jangan nempel mulu, jadi kebingungankan kalau dianya nggak ada," seru Bu Sari.
"Hubungan apa sih bu. Saya sama Allan cuma temen kok."
"Temen kok mesra gitu sih Nenk." Bu Sari malah tertawa lalu meninggalkanku.
Aduh, jadinya semua orang benar- benar mengira aku dan Allan jadian ya? Aku sih memang berharap lebih, sangat berharap malah. Tapi ya gimana? Kalau bukan jodoh, aku mana bisa berkutik.
"Ini kosong kan?"
Aku mendengar suara pria, tapi malas untuk bertatap muka. Tanpa menoleh aku hanya berdehem untuk menjawabnya.
"Heeemm," seruku. Aku masih melamun dalam pikiran. Memikirkan tujuan awal kenapa aku bisa bekerja di tempat ini. Mencari pekerjaan agar ijazah ku berguna, agar bisa punya uang, bisa membeli apapun yang ku mau, juga agar bisa membantu Sekolah Adikku. Harusnya aku fokus di kerja saja. Meski gajihku tidak sebanyak pejabat, paling tidak aku bisa bantu keluarga walau hanya sedikit. Tapi kenapa sekarang, pikiranku terbagi bagi. Bukannya fokus kerja malah memikirkan Allan.
Allan yang perhatian, Allan yang baik, Allan yang memberi harapan, tapi tak kunjung memperjelas hubungan kami. Apa aku yang terlalu berlebihan, atau sebenarnya hanya aku yang terlalu berharap.
Atau mungkin, mungkin dan mungkin, terlalu banyak kemungkinan.
Lamunanku mendadak tersadar saat aku mengangkat kepala yang tadinya tertunduk lesu. Di hadapanku, seorang pria kini menggantikan tempat yang diduduki Bu sari tadi. Aku ingat, dia pria yang tempo hari absen berbarengan denganku. Saat itu aku hanya melihatnya sekilas, bahkan saat ia bersama Allan di dapur, aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi kali ini berbeda.
Ia ada di depanku, dengan jarak nggak sampai satu meter, membuatku leluasa memandangnya. Kulitnya nggak terlalu putih sih, tapi bersih. Hidungnya mancung tapi nggak semancung punya Allan. Dan matanya, matanya berbeda. Sepasang mata coklat, yang membuatku ingin memandangnya. Ia menghentikan acara makannya, dan membalas tatapanku. Mungkin merasa risih. Tapi serius loh, untuk pertama kalinya, aku nggak bisa mengalihkan perhatian dari seseorang yang bahkan tidak ku kenal. Tatapannya gelap dan tajam, tapi tidak membuatku takut. Justru entah kenapa aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
"Kenapa Nanda?"
Aku mengerjap seketika, saat dia memanggilku. Aku tidak salah dengar kan? Dia panggil aku Nanda?
"Apa?"
Ku jawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi, memastikan dia benar memanggilku Nanda.
"Iya kamu kenapa ngeliatin aku terus?" jawabnya dingin.
"Bukan itu. Kamu panggil aku Nanda"
"Iya, Ananda atau Nanda? Tapi dua duanya benar kan?"
"Kok kamu tahu?"
Dia tersenyum sinis lalu menyendok makanannya, memasukan ke dalam mulut. Lalu kembali menatapku.
"Siapa yang nggak kenal kamu. Pacarnya Allan kan? Pangestu Ibu itu sempit, kenapa harus nggak kenal sama karyawan baru."
Lagi lagi pacar Allan, kenapa nggak ada yang bilang kalau pertemananku dengan Allan itu wajar. Ya memang sih, pasti hanya orang bodoh yang berpikir kami just friend.
"Nggak makan?" tanyanya lagi.
Aku menatap piring di depanku yang masih utuh tanpa berkurang sedikitpun. Bagaimana ya? Sejak pagi aku malas makan. Biasanya kalau nggak sempat sarapan ada Allan yang membawakan makanan, walau cuma sekedar nasi goreng, bubur atau nasi uduk. Atau sebelum mulai kerja dia akan membuatkan sarapan dari bahan yang ada di Dapur 1, dan itu khusus untukku. Kalau makan siang biasanya juga dia yang ngajak duluan, lalu setelah itu baru aku mau makan. Awalnya aku malu makan sendiri di kantin karena aku karyawan baru, jadi Allan selalu menemaniku, tapi lama kelamaan semua itu berubah jadi kebiasaan.
Kami bahkan kerap kali makan sepiring berdua. Ini gila ya, semua nya Allan, dan Allan lagi. Kok aku baru sadar kalau selama dua bulan terakhir ini Allan begitu berpengaruh dalam semua kegiatanku, aku baru sadar sebergantung itu aku sama dia. Segitu nggak berdayanya aku tanpa dia. Ada yang salah sama hati dan pikiranku. Kayanya aku mulai gila.
"Masih niat bengong disitu? Kalau gitu aku duluan deh."
Dia beranjak, sementara aku masih dalam posisi semula. Meski begitu, mataku tak beralih sampai akhirnya dia hilang di balik pintu. Kalau memang begini harus ada kejelasankan? Apa boleh kalau aku yang memulainya. Apa harus aku yang bertanya? Tapi aku perempuan, dimana harga diriku?
________
Aku berjalan keluar Pos Security setelah selesai absen jam pulang. Di depan sudah ada Allan yang menungguku, bersama helm yang langsung disodorkannya padaku. Awalnya, sering ada bisik bisik tetangga atau sekedar kata cie cie cie dari karyawan lain. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka juga sudah terbiasa.
"Masih sore, kalau maen dulu ke rumahku kamu mau nggak?"
Aku belum pernah ke rumah Allan sekalipun. Kalau menghabiskan waktu kami lebih sering pergi ke taman kota, atau cari tempat makan. Ehm, ini bisa di bilang sebagai lampu hijau nggak ya, aku butuh penjelasan dan sepertinya mungkin ini saat yang tepat. Aku pun mengangguk cepat, lalu mengiyakan ajakannya.
Rumah Allan, tidak terlalu besar, tapi posisinya strategis tepat di pinggir jalan, sangat mudah menemukannya. Ia mengajakku masuk, aku duduk di ruang tamu, mengelilingkan pandangan dan mencari sesuatu yang menarik. Lalu ku dengar ia memanggil manggil mama nya. Tapi sepertinya tak ada jawaban. Allan terlihat menelpon seseorang lalu tak lama kemudian menutupnya lagi.
"Mamahku mendadak ada kumpul kumpul ibu ibu nggak jelas gitu."
Seru Allan, tapi nggak ku gubris aku terlalu sibuk memperhatikan beberapa foto, ehm maksudku banyak foto foto yang terpajang di dinding ruang tamu.
"Itu fotoku, waktu aku masih SMA. Ini Mamahku. Dia cantik kan? Yang ini adikku, tahun ini dia akan lulus SMA, dan yang ini Ayahku. Cukup kan kenalannya, kita ke ruang tengah. Nonton Netflix. Aku akan ambil minum dan cemilan."
Dia menarik tanganku begitu saja, membuatku merasa agak canggung. Tapi anehnya kenapa seperti tak ada lagi getaran di hatiku. Jantung ku juga normal, tidak ada debaran yang aneh, aku senang tapi merasa aneh. Apa yang salah. Nggak, nggak, nggak. Mungkin karena hari ini nggak ketemu dia, aku jadi merasa aneh. Karena biasanya dia selalu nempel, jadi aku mulai merasa aneh saat aku tidak bersamanya.
Allan datang dengan beberapa snack juga minuman. Kami duduk bersebalahan, setelah ia menyalakan tv.
"De ..."
Panggilnya saat aku mulai serius menikmati adegan drakor. Aku yakin dia mau protes dengan film yang ku pilih. Habis gimana ya, aku suka acara Drakor, isinya romantis dan selalu sukses membuatku baper. Akan tetapi, aku mendadak bisa, saat tanpa basa basi Allan berkata ...
"Jadi pacarku, mau nggak?"
***