TERNYATA TIDAK

1007 Words
Rasanya sungguh sekarat saat kuping mendengarkan dan kaki yang bergetar, siapa lagi kalau bukan wanita yang saat ini sedang menatap tak karuan wanita yang berada di depannya. "Apakah aku hanya bermimpi!" rasanya dia mengertakkan giginya sendiri. "Apakah kamu mau Vanessa menjadi menantu ibu," untuk yang kedua kalinya, Vanessa merasa benar-benar terbang. Bola mata mereka masih menjamah satu sama lain, tidak ada hal dan juga bukti yang mengatakan bahwa pandangan itu akan selesai saat ini, hati yang sudah ketar-ketir memberikan jawaban terlihat jelas rautnya dari wajah Vanessa, sedangkan Miracle dia dalam hati masih sedikit bingung apakah ini adalah jalan yang benar untuk dirinya dan juga masa depannya nantinya. Saatnya kali ini dia menarik napas, lelaki dengan kerah baju yang dia longgarkan sedikit, wajahnya belum terlihat sepenuhnya namun dari postur tubuhnya dia terlihat seperti lelaki yang sudah berumur. Dia duduk dan melihat ponselnya, foto yang sekarang dia pandang rasanya bisa mengiris hatinya, sekarang dia mulai membuka suaranya. "Apakah aku akan berhasil melupakan kamu? rasanya aneh jika kita berdua hilang kontak sepeti ini," dia menoleh ke samping tetapi matanya belum tampak hanya pergerakan dari tubuhnya yang sangat sempurna bisa memanipulasi setiap orang yang melihatnya. Sebentar dia menghisap rokok yang ada di antara jari tengah dan manisnya, dia juga membuang asap rokok itu, rasanya pikirannya seketika berubah plong, dia berjalan ke arah balkon, tempat tinggalnya memang berada di antara rumah orang kaya, karena dia juga orang kaya dengan cabang perusahaan yang ada di mana-mana. Dia menatap ke depan dengan percaya diri, tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya, dan menghitung beberapa bintang yang ada di langit. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sem__" pada hitungan sembilan tangannya berhenti bergerak pasalnya ponsel yang berada di atas nakas berbunyi. "Apakah ada hal yang sangat penting, kenapa saat-saat seperti ini ada suara yang mengangku?"dia mengusar napas kesal dan membuangnya jauh tak beraturan. Setelah dia selesai mengangkat sambungan itu, lelaki itu mengambil posisi untuk tidur, dia tampak lesuh ketika mendengarkan berita dari si penyambung tadi, dia menutup matanya dengan kasar dan menangis dalam hati, perih rasanya ketika dia hampir kembali menuju wanita yang dia cintai, tetapi wanita itu telah pergi meninggalkan dirinya. Pagi telah datang, masih belum ada jawaban yang keluar dari mulut Vanessa, kalian tahu saat itu juga mereka masih sangat dan sangat setia untuk menunggu satu kalimat keluar dari mulut Vanessa, ini benar-benar menjengkelkan bukan hanya untuk Zee, yang sekarang bola matanya hampir saja keluar untuk menunggu jawaban,tetapi matanya telah dia tahan. Untuk Miracle dia masih tetap bersih kuku untuk jawaban yang sebentar lagi dia dapatkan. "Apakah kamu akan menahan kami?" tanya Miracle sembari meraih kedua tangan dari Vanessa,"apakah aku layak untuk menjadi menantu dari keluarga yang kaya ini?" tanyanya membuat Mutiara sedikit lega, karena dari semalam baru ini saja dia membuka suara. "Apakah kamu merasa miskin?" tanya Mutiara sembari menaburkan senyum yang antusias kepada Vanessa. Vanessa menggelengkan kepala keras, dia tidak miskin dan juga tidak kaya, maka dari itu Mutiara berpindah tempat duduk, kali ini dia duduk di samping Miracle dan mencoba memberikan kode keras kepada anaknya. "Berikan ini," ibunya berucap sembari memberikan cincin yang sangat berkilau dengan hiasan yang telah di ukir nama Vanessa. Miracle menolak, masih ada sedikit hal yang harus dia katakan kepada mereka semua yang berada di tempat itu, Miracle mulai berdiri dan meminta untuk Vanessa mendengarkan dengan baik-baik, sebelum Vanessa memberikan jawaban yang pasti Miracle juga ingin mengatakan apa hal yang perlu dia katakan. "Apakah kamu bersedia menjadi istriku, Vanessa aku butuh jawaban kamu sekarang bukan nanti dan bukan tahun depan," Vanessa terkejut ternyata setegas itukah hati dari Miracle. "Saya bersedia," ucapnya dengan kepala yang menunduk. Zee merasa dirinya telah jatuh berkali-kali, dia merasa tidak pantas lagi untuk menjadi seorang yang berharga, lelaki yang dia temani beberapa tahun lamanya, kali ini telah mengikat janji dengan seorang wanita yang bahkan batu saja masuk ke dalam lingkungan keluarga mereka, ini adalah hal yang sangat menyedihkan. "Apakah ada hal yang perlu kamu sampaikan lagi, dia sudah mau menjadi istrimu," tawa dan juga raut kesenangan keluar dari hati ibu Miracle, namun dalam sekejap Miracle memusnahkan hal itu, dia menghancurkan harapan kedua wanita yang tadinya sudah senang tak kalah main. "Aku belum siap menikah sekarang, dan lagipula kami belum mengenal saling dekat, aku hanya ingin mengikat janji dengan dia, dan rasanya kami juga belum mengenal satu sama lain, di dalam waktu dekat ini, aku hanya ingin mengenal dia dan mencoba mencintai dirinya lebih dekat lagi," ucapnya melihat Vanessa yang juga melihat dirinya dengan tatapan yang sedikit sendu. Mutiara rasanya tidak terima, dia menatap ke arah Alexander yang juga menatap Miracle tidak pantas, dia berdiri dan mencoba memberikan kepada anaknya sedikit saja pengarahan, namun apa boleh buat itu semua tidak akan berpengaruh karena apapun yang dikatakan oleh anaknya tidak akan pernah bisa berubah. "Apakah kamu percaya dengan hal yang kamu ucapkan tadi?" tanyanya sembari memegang lengan dari Miracle dengan kasar. "Aku mempunyai pendirian sendiri," ucapnya semakin membuat semuanya merasa tegang. Zee sekarang bisa menarik napas dengan legah, pasalnya masih ada kesempatan bagi dirinya untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Apa? hak? rasanya Zee sudah menjadi pelakor sebelum waktunya, bagaimana mungkin dia bisa merencanakan hal yang sekotor ini, bahkan dirinya juga sedih melihat perilakunya yang kurang baik ini, dia melangkah untuk mundur dan mencoba menghindari keluarga yang sangat pelan-pelin itu. "Saya permisi dahulu," ucap nya sembari membawa nampan itu menuju ke dapur, dia melangkah dalam hati sudah ingin tertawa puas, melihat bagaimana tadinya reaksi yang telah di berikan oleh Mutiara. Untuk Maya dia baru sadar bahwa sedari tadi malam, mereka semua tidak tidur kecuali dengan dirinya, selebihnya dia hanya memasak di dalam dapur mencoba untuk tidak mengurusi semua ini. Dia melihat bahwa putrinya telah datang, kondisinya sangat sulit untuk di definisikan namun yang pasti dia hanya perlu untuk bertanya akan apa hal yang terjadi. "Apakah kamu di hukum?" pertanyaan yang selalu sama jika ada kondisi yang tegang seperti ini. "Dan akhirnya ini adalah harapan aku yang paling bodoh, ibu ini semua tidak jadi, aku masih mempunyai satu harapan," ucapnya terlampau gembira dengan suara yang sedikit ingin dia besarkan namun rasanya tidak bisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD