MINGGU BERIKUTNYA

1004 Words
Ini yang di tunggu-tunggu oleh manusia yang berada di dalam kamar sana, wajahnya tampak putih pucat dan sepertinya beban pikirannya terlalu berat saja, dia bergumam tak jelas, entah apa yang dia katakan saat itu. Zee dari seberang sana hanya bisa membuang air liurnya merasa berlebihan, yah kalian tahu bukan siapa wanita yang saat ini sedang memiliki wajah pucat, sudah jelas dia adalah Vanessa calon tunangan dari Miracle. Calon tunangan? Sepertinya ada niat-niat Zee ingin menghancurkan hubungan itu, dan benar sekali Zee tidak mempunyai niat untuk hal itu dia hanya sebentar saja untuk menidurkan perasaan jahat itu, namun kenyataanya dia telah keluar. "Apakah, Mbak tidak masuk ke dalam kamar?tanya seorang pembantu yang melihat Zee saat ini berdiri seperti tiang di depan pintu kamar Vanessa. "Tidak apa-apa, saya memang layak berada di tempat ini, dan lagi pula tempat saya memang di sini," katanya memang sangat lembut tapi maknanya sungguh sangat tajam,"baiklah," pembantu itu menggelengkan kepala pelan dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Setelah dia berjalan melintasi Tuan Miracle dan juga putri dari Nyonya mereka, kali ini pembantu tersebut di panggil oleh Miracle, dan meminta dia untuk membuatkan jus. "Apakah anda bisa membuatkan kepada saya Jus?" tanyanya dengan bada sopan, tangannya satu melingkar pada pergelangan tangan Vanessa. Vanessa hanya tersenyum, lelaki ini masih tetap berada di sampingnya dalam keadaan suka dan duka, dia sangat jatuh cinta semakin hari semakin besar rasa cintanya kepada lelaki dengan kekayaan dan juga sifat kebaikan yang sangat besar ini. Sekali lagi karena pintu terbuka, bola mata dari Zee sedikit membulat, dia mengepal tangan kuat, dasar bodoh! adakah hal yang membuat Zee harus bersikap seperti ini? kenapa dia selalu marah, dia adalah tunangan yang saja dari Tuan Miracle, lantas kenapa dengan dirinya yang selalu merasa tidak terima. Zee melihat bahwa sekarang Miracle berada di atas ranjang dari Vanessa, dengan tangan yang saling melingkar dan juga selimut yang hanya memang berada di atas tubuh dari Vanessa, tetapi apakah itu tidak keterlaluan? sebelum.matanya.lebih merasakan sakit yang luar biasa, kali ini dia membuang pandangan dan niat jahat serta pikiran jahat yang datang merasuki dirinya. "Kamu harus sadar, kamu tidak boleh berbuat hal konyol seperti ini," gumamnya sembari menatap ke depan dengan tatapan istifar. "Apakah kamu bisa membuatnya juga untuk saya?" Vanessa berkata. Lantas mendengarkan hal itu jelas-jelas membuat baik tensi dari Miracle, dia sudah demam tetapi kenapa dia meminta jus, oleh karena itu iblis datang.lagi menghantui pikiran dari wanita yang sudah mengepal kuat tangannya di luar sana, dengan tatapan tajam seolah ingin memakan hidup-hidup orang yang membuatnya benci seperti ini. "Apakah kamu bodoh, sayang? kamu sudah sakit, tetapi kenapa kamu meminta jus, hey kamu," ucapnya memberikan saran kepada Vanessa dan kembali memangil pembantu yang masih setia berdiri di depan mereka dengan kepala yang tertunduk. "Ada apa Tuan?" dengan nada yang sangat menghargai di bertanya,"jangan pernah kasih jus sebelum dia sembuh total," perintahnya sebagai aturan baru. "Apakah ini adalah ajang untuk memerhatikan seorang cewek?" gumamnya mengerutu,"tidak, lebih baik aku pergi saja dari tempat ini, rasanya aku tidak tahan apalagi nanti bagaimana kalau diriku berubah menjadi sosok yang tidak diinginkan," pikirannya kembali lagi melayang dan senyumnya benar-benar tidak bisa lagi dia bentuk. Langkah kakinya gontai, wajahnya yang berkerut dan juga jangan lupa untuk kepala yang selalu menunduk membuat orang tua dari Vanessa heran, apakah ada setan di siang hari, dan kalaupun ada kenapa harus datang ke rumahnya, dia benar-benar membuat ibu Vanessa kaget. "Apakah kamu setan?" "Astaga, siapa yang di maksud setan." "Yah, kamu kenapa kamu seperti itu, jalanmu yang gontai membuat bulu kudukku sedikit merangkak naik." "Apakah kamu bo," dia tidak sempat.mengazakan kata bodoh karena melihat wajah dan juga bentuk tubuh yang teratur pastinya itu adalah orang yang berkelas di rumah ini. Tatapan mata mereka saling melirik satu sama lain, hingga pada hitungan berikutnya suasana kembali lagi berganti, karena Miracle yang datang dan menghancurkan suasana yang tegang itu. Dia berjalan, tadinya juga merasa takut, kenapa dengan pembantunya kali ini, apalah pembantunya menginap salah satu penyakit baru lagi? dia benar-benar frustasi. "Ada apa, Ibu?" memangil kata ibu membuat perasaan tenang kembali lagi menguasai hati dari wanita yang heran tadi. "Apakah kamu mengenal dia, kenapa dia bisa masuk ke rumah ini, lihat saja pakaian dan gaya jalan yang gontai nya jelas membuat ibu merinding," wanita dengan status ibu Vanessa itu mendekati Miracle dan tatapan yang dia lemparkan pada Zee benar-benar tidak sesuai ekspektasi. "Apakah aku terlihat sangat bodoh dengan berjalan seperti ini?" dia bergumam dan kembali lagi menggaruk tengkuknya seperti orang yang linglung. "Dia adalah pembantu aku ibu, jangan khawatir dia memang mempunyai kelalaian dalam setiap tugasnya," Miracle benar-benar bodoh bulannya dia memberikan semangat dan pujian kepada Zee, tetapi dia malah dengan seenaknya menjatuhinya. Bola mata dari Zee sedikit tidak bisa dia kontrol, di mengeram kuat kenapa tadi dirinya harus ikut ke tempat ini, sungguh ini adalah pilihan yang sangat buruk, dia tidak mau berada di rumah ini, maka dia memutuskan untuk mendapatkan izin dari lelaki yang tidak tahu malu ini. Tetapi untuk saat dia ingin meminta izin, barangkali ibu Vanessa dan juga Miracle telah menjatuhkan dirinya untuk yang keberapa kali ini, dia tidak sedih hanya saja dia menganggap ini sebagai latihan dan penguatan mental sebelum dia menjadi orang kaya, yah walaupun tidak ada harapan dia menjadi sosok yang kaya namun yang pasti dia sudah tahu bagaimana sakitnya menjadi seorang pembantu di rumah orang kaya. "Kan dia adalah pembantu, berarti ibu bisa meminta dia untuk bekerja sebentar?" tanyanya dengan menunjuk posisi Zee saat ini. Dan segera diangguki oleh Miracle dengan kata yang paling menyakitkan lebih sakit dari ribuan belati,"yah semua untuk ibu, dia adalah pembantuku dan otomatis dia adalah pembantu ini, lakukan apa yang ibu suka," ucap Miracle jelas-jelas membuat ibu Vanessa merasa senang dengan kehadiran dari dirinya. "Apakah benar kamu mau saya perintah kan? sekali lagi dia menguji nyali dari Zee," yah benar sekali seperti apa yang di katakan oleh Tuan Miracle, bahwa saja adalah pembantu yang dia punya dan otomatis saya adalah pembantu anda juga," ucapnya terlalu serius menatap wajah Miracle. Miracle terdiam, apakah dia merasa bersalah? tidak mungkin, Miracle tidak mungkin bisa merasa bersalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD