What if...

1656 Words
Asha kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menghembuskan nafas lelah. Rasa bosan mulai menguasai diri gadis manis tersebut. Ia mengedipkan mata berulang kali, menatap plafon rumahnya yang berwarna putih sembari memainkan tungkai kaki yang kemarin diperban oleh Brian. Ini semua salah Brian. Karena bukannya membawa Asha pulang ke asrama atau ke klinik kampus, lelaki itu justru membawanya ke rumah bunda dan berakhir dengan Asha yang tidak boleh masuk kuliah dulu selama beberapa hari. Kakinya hanya lecet sedikit. Bahkan mungkin lebih parah saat dirinya pernah dicakar oleh Joko, kucingnya. Tetapi Brian yang memang selalu berlebihan jika berurusan dengan Asha, memaksa ia untuk menurut saat pemuda itu memberi perban di kakinya. “Brian, gue bosen,” rengek Asha. Membuat Brian yang tadinya berbaring sambil bermain ponsel di bawah, terduduk menatap gadis itu. Pemuda tersebut sejak kemarin memang sudah menginap di rumah Asha, dan bunda dengan senang hati mengizinkannya. “Jadinya mau kemana?” Untuk kesekian kalinya ia bertanya. Sejak tadi, Asha terus merengek bosan. Namun jika ditanya ingin pergi kemana, gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepala sampai Brian bosan sendiri dengan tingkah laku Asha. “Mau balik ke asrama.” Brian menghela nafasnya kesal. Dari sekian tempat yang patut dikunjungi, kenapa Asha malah memilih untuk kembali ke asrama? Padahal, lelaki itu sudah bersusah payah membujuk salah satu dosen agar mereka mendapatkan tugas secara online, dengan alasan kaki Asha yang terluka parah sehingga tidak bisa berjalan. “Beli jajan di taman terus lanjut ke pantai aja gimana?” usul Brian setelah mengingat bahwa ada sebuah pantai yang sering mereka berdua kunjungi sewaktu kecil dulu. Jaraknya yang lumayan dekat tidak akan membuat mereka pulang terlalu malam. Setelah berpikir sebentar akhirnya Asha menyetujui usul Brian. Toh, jika dirinya tetap kekeuh untuk meminta kembali ke asrama juga tidak akan diperbolehkan oleh lelaki itu. Sekalian juga ia akan membeli banyak makanan pinggir jalan, agar bisa menghabiskan uang Brian yang katanya tidak akan pernah habis hingga turunan ke sepuluh. “Sini, gue gendong." Ujar Brian sudah siap dengan posisi membelakangi gadis itu, dengan badan yang sedikit membungkuk agar Asha bisa naik ke punggungnya. “Brian, kaki gue cuma kegores kecil. Bukan patah tulang!” protes Asha melihat sikap berlebihan dari Brian, kemudian mengambil tas selempang dan jaketnya lalu turun ke bawah. Membuat Brian terkekeh dan berlari menyusul Asha. Saat tak melihat keberadaan bundanya di depan televisi ruang keluarga dan di halaman depan, Asha langsung berjalan menuju dapur. Ia yakin Bunda saat ini sedang membuat camilan untuk kedua anak tersayangnya “Bunda, bikin apa?” sapa Asha sembari merangkul pinggang Sang bunda. “Bunda mau buat cookies kesukaan kamu sama Brian. Tapi jadinya masih lama sih ini,” jawab bunda tanpa mengalihkan fokusnya dari tepung yang telah ditimbang untuk dimasukkan ke dalam wadah. Ah, ternyata bunda masih mengingat makanan kesukaannya, Asha pikir posisinya sudah tergantikan oleh Brian. Tapi mengingat raut cemas Sang bunda dua hari yang lalu, saat tau bahwa Asha sempat hilang membuat gadis itu yakin posisinya masih aman sebagai anak semata wayang. Sedangkan Brian hanya anak pungut Bunda. “Brian sama Asha mau ke pantai boleh nggak, Bun? Bentar doang, kok,” ucap Brian yang baru saja turun dari kamar Asha, berbalut jaket jeans hitam dan ikut menghampiri Bunda. “Iya boleh. Eh kok Asha nggak digendong lagi sama Brian?” goda bunda membuat Asha kembali merengek. Ia benar-benar tertekan berada di dekat bundanya yang suka menggoda, dan Brian yang selalu berlebihan. Gadis itu ingin kembali ke asrama saja rasanya. *** “Mau lima!” Teriak Asha dari bangku taman sembari mengangkat kelima jari tangannya. Sementara dari kejauhan, Brian langsung mengacungkan jempol dan mengatakan kepada pedagang telur gulung itu untuk segera membuatkan pesanannya. Kini mereka berdua berada di taman kompleks perumahan Asha. Taman ini memang selalu ramai pengunjung. Entah dari dalam perumahan, ataupun luar perumahan karena areanya yang sangat luas. Asha bahkan dulu selalu joging di sini ketika hari libur tiba. “Mau apa lagi?” Tanya Brian menghampiri Asha yang sedang duduk menikmati semilir angin. Asha melihat banyak kantung plastik berisi makanan yang berada di kedua tangan Brian, dan kembali melirik jam di tangannya. Sudah pukul empat sore, ia tidak ingin menghabiskan waktu di mobil dan telat melihat sunset di pantai nanti. “Segitu aja udah banyak, ayo ke pantai!” Seru Asha menyeret tangan Brian agar segera masuk ke dalam mobil, melupakan misinya untuk menghabiskan semua uang lelaki itu. Setelah masuk ke dalam mobil, Brian mulai menyalakan mesin sekaligus menancapkan kabel USB ke tape mobil, yang sebelumnya sudah ia sambungkan dengan ponsel pintarnya dan bersiap memutar lagu. Asha tentu saja dengan mudah bisa menebak lagu apa yang akan diputar oleh Brian, dan tebakannya sejurus kemudian langsung benar. “Brian kalau sekali lagi lo muter lagu itu gue geplak ya!” ancam Asha. Pasalnya, sejak di dalam kamar tadi, Brian sudah tak terhitung berapa kali memutar lagu dari Kaleb J ini. Asha mode senggol bacok memang menyeramkan. Tidak, ia tidak sedang kedatangan tamu bulanannya. Mungkin pikirannya sekarang sedang kusut hingga ingin memarahi semua orang, termasuk Joko yang tadi sempat tidur di atas kasurnya. Setelah mengancam Brian, Asha membuang wajahnya ke jendela mobil. Mencoba untuk melihat pemandangan di jalanan menuju pantai. Matanya memang mengarah ke tepi jalan. Tapi pikirannya sekarang terpaku pada Mahesa yang tidak menghubunginya sama sekali. Persis dengan kejadian saat Mahesa ingin menciumnya dulu. Bicara tentang Mahesa, gadis itu juga penasaran bagaimana kabar lelaki yang membentaknya dua hari lalu. Apakah Mahesa akan meminta maaf kepada Asha saat kembali kuliah, atau justru akan menjauh? Ah, Asha tidak ingin memikirkan itu untuk sekarang. “Nggak mau turun, Neng?” ucap Brian memecah lamunannya. Tak terasa sudah 30 menit Asha melamun dan Brian membiarkannya, padahal lelaki itu selalu banyak omong jika pergi dengan Asha. Asha harus bersyukur karena letak rumahnya yang dekat dengan pantai tidak perlu membuatnya terlalu lelah di perjalanan. Namun di sisi lainz ia juga merasa sedikit khawatir jika tiba-tiba terjadi tsunami. Pantai ini lumayan sepi karena bisa dibilang belum terlalu dikenal banyak orang. Jalanan yang agak rusak membuat orang-orang lebih memilih ke Ancol daripada ke pantai tanpa penjual oleh-oleh seperti disini. Jangankan cenderamata, es kelapa muda pun tak ada. Brian memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Mereka berdua tidak akan pergi ke bibir pantai, melainkan duduk di kap mobil sembari menikmati jajanan khas anak SD yang sempat dibeli oleh Brian. Menikmati angin yang berhembus kencang, serta menunggu matahari terbenam, hal yang akhir-akhir sulit untuk mereka berdua lakukan karena sibuk dengan urusan perkuliahan. “Makasih,” ucap Asha saat Brian membantunya duduk di kap mobil. Sudah terbiasa seperti itu memang. Yang satu menganggap semuanya normal, yang satu lagi berusaha menetralkan detak jantungnya. Mata coklat Brian tak sengaja memandangi wajah Asha yang bersemu merah akibat terpapar sinar matahari, membuat gadis itu semakin indah bak dewi yang turun dari langit. Lelaki itu meneguk ludahnya kasar. Melihat Asha dari jarak dekat seperti ini selalu saja berhasil membuat hatinya berdebar dengan kencang. Dalam hati, ia selalu mengucap syukur kepada Tuhan karena telah menghadirkan sosok perempuan berparas cantik di kehidupannya. Sangat cantik hingga mungkin Brian akan berpikir bahwa Asha tak pantas untuk ia miliki. "Ekhem," Brian terbatuk. Lelaki tersebut sengaja mencari perhatian agar Asha mengalihkan atensi ke arahnya. Ia cemburu dengan langit yang saat ini sedang gadis itu tatap. “Mau?” tanya Asha saat netra keduanya bertemu. Brian menggeleng mantap. Baginya, melihat Asha makan dengan lahap adalah kesenangannya sendiri. “Tipe cowok yang lo suka kayak gimana sih, Sha?” Pertanyaan bodoh yang keluar begitu saja dari mulut Brian membuat Asha kembali menatapnya. “Tumben?” ucap Asha penasaran. Pasalnya, Brian tidak pernah membahas masalah percintaan sebelumnya dengan gadis itu. Brian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berusaha mencari alibi yang dirasa sempurna. "Ya dari pada pikiran lo kemana-mana, mending bahas sesuatu yang gak pernah kita bahas gitu," ungkapnya. Bibir gadis itu membentuk huruf ‘o’, ia kemudian meletakkan kembali makanannya ke dalam plastik. “Nggak munafik, sih. Yang pasti harus cakep, kaya, tinggi, putih, sempurna. Jawab Asha sambil mengeluarkan kekehan kecilnya. Dari dulu selera Asha memang tinggi. Karena ia yakin, pasti ada lelaki seperti itu yang akan menerima dirinya. Dan mungkin, Asha sudah menemukan lelaki yang sesuai dengan kriterianya tapi entah mau menerima ia atau tidak. “Gue, dong?” Lagi-lagi Brian membiarkan hatinya berbicara. Tanpa meminta izin kepada otak untuk mengolah kalimat itu akan memalukan atau tidak kedepannya. “Iya kali." Brian mematung saat Asha dengan enteng menjawab hal itu diiringi tawa yang cukup keras. “Aslinya sih gue udah nggak pakai kriteria lagi. Kalau gue suka ya suka aja gitu. Cinta itu nggak butuh alasan, Bri.” Lanjut Asha menatap Brian dengan senyum manisnya. “Kalo gue, lo suka?” Ibarat tercebur setengah badan ke dalam kolam, Brian lebih memilih untuk kembali menceburkan seluruh badannya daripada harus berdiri lagi. Ia sudah penasaran dengan jawaban Asha. Asha kembali tertawa. Tak ingin membalas perkataan Brian karena gadis itu yakin ini hanya gurauan semata. Ia justru membayangkan bagaimana jika Mahesa yang berkata seperti itu, pasti dirinya sudah ikut tenggelam bersama matahari. Merasa tak mendapat jawaban yang ia nantikan, Brian kembali bertanya, " Tapi, Sha, gimana kalau gue bener-bener suka sama lo?" “Hah?” Kali ini Asha terdiam menatap Brian dengan tatapan terkejut. Aneh dan bingung menjadi satu. Brian yang melihat perubahan mimik wajah dari Asha langsung kembali berusaha mengontrol dirinya sendiri. “Santai aja kali, gue cuma becanda." Ucapnya dengan tawa yang dibuat-buat. Brian tidak ingin Asha merasa canggung setelah ini. Tak disangka, lelaki itu justru mendapat pukulan yang lumayan keras dari Asha. “Gue kira beneran. Lo kan sahabat gue dari kecil, jadi ga mungkin kalau kita punya perasaan lebih dari saudara, kan?” Ucapan Asha sontak membuat tawa palsu Brian berhenti. Ada nyeri yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Memang seharusnya Brian tidak nekat untuk membahas hal ini. Karena sekarang, ia harus menahan rasa sakit ini sendiri di depan orang yang sangat dirinya cintai. “Iya, gak mungkin." Jawabnya dengan senyuman pahit, Sembari menatap Asha yang fokus memotret matahari terbenam dengan ponsel pintarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD