Bab 28

1065 Words
“Rin, gue mohon ya hari ini aja pulang bareng gue.” Meskipun Airin berusaha untuk membuatnya dekat dengan Luna ia tidak akan pernah putus asa. Dia akan mencoba terus mendekati wanita yang ia cintai sebelum janur kuning melengkung. Hari ini Airin memang tidak membawa mobil karena tadi Theo dan Marvel mengantarnya. Dia juga tidak belum memberitahu kakak iparnnya untuk segera menjemputnya. Ia juga tidak akan berduaan dengan Revan karena ada Luna yang ikut dengan mereka. Karena kejadian tadi gadis itu jadi besar kepala dan meminta untuk pulang bersama dengan Revan. Sepertinya tidak ada masalah jika ia pulang bersama dengan Revan, sudah lama juga dia pulang bersama dengan sahabatnya itu jika di pikir-pikir hubungan mereka tambah renggang karena ia menganggap sahabatnya mencintainya. “Oke,” jawab Airin dan membuat Revan mengukir senyuman. Dia harus mendekati Airin dengan perlahan tidak boleh tergesa-gesa. Jam pulang sudah tiba Airin pun lekas membereskan barang-barang yang ada di meja. Revan juga sudah selesai membereskan barangnya di sampingnya ada Luna yang sudah memasang wajah bahagia karena mendapat lampu hijau dari lelaki yang ia cintai. “Udah selesai?” Airin mengangguk dan berdiri kemudian jalan paling depan karena tidak mau merusak momen Revan dan Luna. Sayangnya Revan mensejajarkan langkahnya dengannya dan membuat Luna sendirian di belakang. “Kasihan Luna sendirian,” bisik Airin karena takut Luna yang ada dibelakang mereka mendengarnya. Mereka bertiga memasuki lift dan posisi berganti sekarang gadis itu yang berada di depan dan mereka berdua di belakangnya. “Biarin,” jawab Revan dan dibalas oleh cubitan kecil di pinggangnya. Luna mendengar semuanya! Jarak mereka tidak terlalu jauh dan entah disengaja atau tidak dia masih mendengar suara Airin walaupun volumenya dikecilkan. Dia memutar bola matanya dengan malas dan berusaha sabar agar tidak menghacurkan momen berharga ini. Jarang sekali Revan memperbolehkannya untuk pulang bersama dengannya. Mereka bertiga pun sudah berada di lantai bawah. Luna terpaksa berjalan paling depan sebenarnya ia ingin sekali menyingkirkan Airin dari sini, hanya saja bagaimana caranya? Ketika melewati pintu keluar kantor Luna membulatkan mata ketika melihat laki-laki yang pernah ia lihat mengantar Airin waktu itu, sudut bibirnya tertarik dan menampilkan senyuman tipis. “Marvel,” panggil Airin yang baru sadar dengan keberadaan seorang anak kecil yang tengah duduk di tangga. Ia buru-buru turun dan langsung menggendongnya setelah bisa meraih anak imut itu. “Kamu kenapa di sini? Loh, badannya panas banget Kak,” ujar Airin setelah merasakan suhu tubuh Marvel yang kembali seperti kemarin. Theo memasang wajah khawatir. “Iya tadi siang panasnya naik lagi. Tadinya mau langsung ke dokter tapi dia maksa mau tunggu kamu pulang.” “Yaudah sekarang kita ke dokter kak,” Airin langsung masuk ke dalam mobil sembari menggendong Marvel. Dia tidak mau terjadi hal buruk kepada keponakannya, cukup ia harus kehilangan Tendi. Theo pun menuruti keinginan Airin dan segera masuk ke dalam kursi pengemudi. Mereka berdua mengabaikan Luna dan Revan yang menatap mereka berdua dengan pandangan tidak percaya. Orang yang tidak kenal Airin dari lama pasti menyangka bahwa Theo dan Marvel adalah suami dan anaknya dan itu membuat Revan terbakar amarah dan ingin sekali ia melampiaskannya kepada seseorang. “Aduh Kak! Aku lupa kalau udah janjian sama temen sekolah! Aku pulang dulu ya, bye.” Luna segera pergi meninggalkan Revan seorang diri. Dia tidak mau jadi sasaran empuk kemarahan lelaki itu. Dia memang mencintai Revan hanya saja jika dijadikan sebagai pelampiasan dia tidak sudi. Dokter mengatakan jika Marvel hanya terkena demam dan memberikan obat penurun panas beserta vitamin untuk keponakannya. Marvel juga dilarang untuk keluar rumah dulu apalagi ketika siang hari saat matahari berada tepat diatas kepala. Dokter juga menyarankan agar anak itu makan teratur dan tidak memakan es karena selain panas Marvel juga terserang batuk dan flu. Airin mencoba mengingatnya di dalam kepalanya, dia harus memberitahu Ibu dan Ayah mertuanya agar memperhatikan makanan yang dimakan oleh cucunya. Sekarang Marvel sedang tertidur di pangkuannya setelah menangis saat diperiksa oleh dokter. “Tadi kamu sama temen kamu mau pergi main ya?” tanya Theo yang sedang sibuk menyetir di depan. Seperti biasa Airin duduk di belakang bersam dengan Marvel. “Nggak kok. Tadi niatnya mau pulang bareng Revan dan Luna.” Theo mengangguk mengerti. “Kamu udah baikan sama Revan?” Airin tersenyum simpul. “Udah, nggak enak juga kan kalau terlalu lama bertengkar?” “Iya sih, tapi kamu nggak boleh terlalu dekat sama Revan. Dari kejadian dia kejar kamu aku khawatir kalau dia kayak gitu lagi dan berbuat hal negatif.” Airin setuju sekali. Alasan dia menerima permintaan Revan yang ingin pulang bersamanya juga karena Luna ikut bersamanya jika tidak mana mungkin dia mau. “Tenang aja kak.” Theo tersenyum dan kembali fokus menyetir. Entah kenapa jika dilihat dengan benar Airin itu sangat cantik, memang Tendi tidak pernah salah dalam memilih pasangan. Mantan istrinya juga cantik hanya saja dia sangat anti berdekatan dengan kedua orangtuanya seperti manusia yang jijik melihat kuman penyakit. “Kak Theo kapan pulang ke Singapur?” Pertanyaan itu terus terngiang di dalam kepala Theo. Sudah hampir dua minggu mereka berdua berada di Indonesia. Dia meninggalkan tempat yang menurutnya sangat nyaman selama itu! Bahkan ketika kedua orangtuanya meminta untuk datang ke Indonesia Theo pasti menolak karena di sana tidak nyaman seperti ia tinggal di Singapur. Jika pulang pun paling lama satu minggu, kadang dia pulang pergi dan dihadiahi pukulan telak di kepala dari Ibunya. Kenapa dia betah sekali berada di sini? Apa yang membuatnya nyaman? Sepertinya karena dia tidak perlu masak dan mengurus Marvel. “Kamu itu malam-malam gini kenapa masih melamun! Tidur sana.” Endang duduk di meja makan tepat di depan Theo dan meneguk air dingin yang baru saja dia bawa. “Bu, kenapa aku lama tinggal di sini ya? Biasanya kan paling lama juga satu minggu. Ini udah dua minggu loh!” Endang berdecak pelan. “Nggak tahu! Tanya diri kamu sendiri kenapa betah tinggal di sini. Ibu juga udah pusing lihat kamu di sini, sana balik ke habitat.” Theo membulatkan matanya. “Ibu jahat! Aku pindah aja ke sini ah… Marvel juga kayaknya udah betah tinggal di sini.” Endang menggelengkan kepalanya. “Nggak boleh! Kalau besan Ibu tahu mereka paksa Airin untuk keluar dari rumah ini.” “Loh kenapa?” “Kamu itu duda dan Airin janda. Jihan itu khawatir kalau kalian berdua cinlok dan jadi turun ranjang. Jihan nggak mau makanya waktu itu maksa Airin untu keluar dari rumah ini dan tinggal sendirian di tempat lain.” **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD