Bab 30

1073 Words
“Rin ayolah malam ini aja makan bareng gue. Gue yang traktir deh,” ujar Revan kembali setelah untuk kesekian kalinya ia tidak pernah bosan mengajak cewek itu makan malam bersama. Airin menggeleng pelan. Punggung mungilnya ia sandarkan kepada mobil Honda Jazz berwarna hitam sambil memandang Revan yang sedang memohon kepadanya. Sebenarnya ia ingin makan malam bersama dengan sahabatnya itu hanya saja sedari tadi mertuanya sudah menelepon agar ia cepat pulang, Marvel sudah menanyakan kapan ia pulang dan itu membuat mertuanya pusing. “Nggak bisa Van. Marvel udah cari aku. Sorry,” ucapnya sambil masuk ke dalam mobil meninggalkan Revan yang berdiri membeku di pinggir jalan. “Sia!” maki Revan ketika mobil merah itu mulai menjauh darinya. Kedua tangannya ia cengkram dengan erat mencoba menyalurkan semua emosinya. Revan menghela nafas kesal ketika membuka pintu rumahnya. Suasana di tempat ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya, sepi. Tidak ada satu pun orang yang menyambutnya Mamah da Papahnya memilih untuk tinggal di luar kota dia anak tunggal dan mengakibatnya kesepian seperti ini.  Jika tadi Airin bisa ia ajak makan malam bersama pasti suasana hatinya tidak akan suram seperti ini. Revan membawa kunci mobilnya kembali dan memutuskan untuk pergi dari rumah sepi ini. Sepertinya ia membutuhkan teman-temannya untuk membuat suasana hatinya menjadi tenang. Marvel berlari dan memeluk erat kaki Airin, anak itu sangat senang ketika mendengar suara mobil Tante yang paling ia sayangi. Bahkan kantuknya mendadak hilang ketika mengetahui Airin pulang. Dia memasang senyum lebar ketika Tante Airin mulai menggendongnya. “Belum tidur?” Marvel menggelengkan kepalanya. “Belum dong. Marvelkan mau menunjukkan sesuatu,” ucapnya dan membuat Tantenya menjadi penasaran. “Apa itu?” tanya Airin dia sangat senang jika Marvel mulai cerewet kepadanya. “Ada di kamar Tante barangnya,” jawab anak itu dan membuat Airin berjalan dengan tergesa-gesa sambil menggendong Marvel. Endang yang melihat itu berteriak mencoba memberitahukan kepada menantunya agar hati-hati. Airin tidak mendengarkannya dan setelah sampai kamar dia menurunkan Marvel dan duduk di kasur empuknya. “Mana coba Tante lihat.” Marvel menunjukkan sebuah kertas gambar yang terdapat gambar pesawat dari mainan yang baru di belinya kemarin. Gambar itu sangat indah walaupun sangat berbeda jauh dari aslinya hanya saja karena ini dibuat oleh anak berumur empat tahun membuatnya sangat spesial. “Wah, bagus sekali Marvel.” Mendengar hal itu Marvel terseyum senang, dia sangat bahagia ketika Airin memuji karyanya. Jika ia memberikannya kepada Theo Daddynya itu tidak mungkin memujinya seperti ini. “Besok Marvel akan gambar yang banyak. Nanti Tante Airin nilai karya Marvel ya.” “Boleh. Siap laksanakan,” jawab Airin dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan. Airin kembali menggendong Marvel agar anak itu duduk di kedua pahanya, dia memeluknya erat dan sesekali mencium keningnya. Beberapa menit kemudian Endang datang dan menyuruhnya untuk makan. Mereka berdua berjalan menuju meja makan dengan riang bahkan Endang tersenyum melihat keduanya. “Bu, Marvel gambar pesawat bagus banget loh. Ibu mau lihat?” “Mau dong. Mana gambarnya?” Endang sangat antusias dia juga ingin melihat karya dari cucunya sendiri. Airin pun mendudukkan Marvel di kursi dan berlari ke kemar. Dia ingin memperlihatkan karya yang baru saja Marvel buat. Walaupun sederhana namun, memliki arti yang sangat dalam untuknya. “Hai Van,” sapa laki-laki yang dengan gesit menerima kunci mobil yang dilempar oleh Revan. Lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil temannya dan memarkirkannya di garasi rumah Revan masuk dengan santai ke dalam rumah yang mewah itu ketika di dalam terlihat tiga temannya yang sedang asik memainkan game di playstation. Tidak ada yang menyapanya karena semuanya sedang fokus menatap layar televisi. “Kapan datang Van?” tanya Riki laki-laki berambut hitam yang panjangnya sampai ke bahu.  Revan memutar bola matanya malas dan memilih untuk memejamkan kedua matanya. Dia ingin menenangkan diri tidak mau menjadikan teman-temannya sebagai pelampiasan nafsunya. “Kenapa lagi sih Van? Galau karena Airin lagi ya?” Saat ini Reno yang bertanya dia mematikan televisi dan duduk di sebelah Revan. Revan membuka kedua matanya ketika mendengar nama Airin. “Susah banget tahu nggak dapetin dia. Padahal suaminya udah meninggal tapi ada aja hambatannya.” “Kalau dia suka sama lo nggak akan kayak gini Van,” ujar Pandu yang sedang duduk di bawah dan menatap lekat kepada sahabatnya. Revan tertegun mendengar perkataan Pandu. Dia belum pernah menyatakan cintanya kepada Airin. Tidak ada waktu yang pas untuknya apalagi wanita itu selalu menolaknya ketika ia mengajaknya jalan berdua. Ada saja alasannya dan itu membuat kepalanya mendadak merasa pening. “Sekarang tuh cewek tinggal di mana?” Robi masuk setelah memarkirkan mobil Revan, dia membawa satu kantong plastik yang isinya makanan ringan dari mobil Revan. “Tinggal sama mertuanya.” “Mamah dan Papah Tendi?” Pandu syok ketika mendengar informasi itu. Jika benar peluang sahabatnya untuk mendapatkan Airin sangat tipis. Revan mengangguk dan itu sukses membuat empat sahabatnya menghela nafas kesal. Jika seperti itu kesempatan Revan mencuri hati Airin tidak akan ada. Apalagi dari yang mereka tahu Airin dan Tendi tinggal bersama dengan kedua orang tua Tendi dan yang paling parah wanita itu akan terus terbayang-bayang dengan sosok Tendi.  “Kalau kayak begitu susah Van. Gue kasih tahu, Airin dan Tendi kan tinggal di sana otomatis semua barang-barang Tendi dan foto pernikahan mereka ada di sana. Bayangkan lo jadi Airin setiap hari lihat foto suaminya yang meninggal dan itu akan membuatnya susah untuk melupakan suaminya,” jelas Pandu dan di setujui oleh ketiga sahabatnya yang lain. “Apalagi tinggalnya sama kedua orangtua Tendi Van, persentase lo masuk ke hati Airin akan semakin kecil. Lo tahu sendiri mereka bisa mempengaruhi Airin untuk nggak berdekatan dengan laki-laki lain,” sambung Robi dan berhasil mempengaruhi Revan. Revan sangat setuju dengan perkataan teman-temannya apalagi sekarang ada Theo dan Marvel dan itu semakin membuat jarak ia dan Airin semakin menjauh. Dia harus menghancurkan dinding yang menghalanginya untuk bersama wanita yang ia cintai. “Berarti gue harus bisa mengeluarkan Airin dari rumah itu?” Semuanya mengangguk sebagai jawaban dari ke empat sahabatnya. Itu adalah solusi yang benar untuk memudahkan Revan mendekati Airin. “Gue penasaran deh, kenapa di saat cewek lain nggak suka sama mertuanya kok Airin malah sebaliknya?” tanya Riki karena dari pengalamannya banyak sekali cewek yang tidak suka dengan mertuanya termasuk istrinya sendiri. “Nggak tahu, gue juga bingung. Mungkin karena dasarnya Airin yang baik jadi dia bisa betah hidup sama mertuanya,” jawab Revan seadanya dia juga tidak tahu alasan wanita itu begitu harmonis dengan mertuanya. Namun, yang terpenting sekarang ia harus bisa memisahkan mereka.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD