“Rin, saya butuh laporan yang kemarin ya,” ucap Pak Ahmad sambil berdiri dari duduknya.
“Siap Pak.” Airin menganggukkan kepalanya dan kembali fokus mengerjakan laporan di hadapannya. Hari ini ia akan benar-benar fokus bekerja tanpa membuka ponselnya sedikit pun.
Wanita itu terkejut ketika melihat satu botol soda ada di samping mejanya. Seseorang memberikan kepadanya dan dia tersenyum simpul ketika tahu siapa yang memberikan minuman itu kepadanya.
“Makasih Van.”
Revan membalas senyuman Airin dan meneguk minuman soda yang ada di tangannya. “Sama-sama, butuh bantuan?”
Airin menggelengkan kepalanya. “Nggak.
Revan pun mengangguk singkat dan kembali duduk di meja kerjanya. “Kalau butuh bantuan bilang aja Rin.”
“Aku butuh bantuan Kak Revan,” ujar Luna dia berbalik dengan senyum simpul yang membingkai di wajahnya
Lelaki itu memutar tubuhnya dan menatap gadis itu dengan tatapan sebal. “Kamu bisa minta bantuan ke Pak Ahmad, dia pasti lebih pintar dari gue.”
“Kalau begitu Kak Airin juga minta bantuannya ke Pak Ahmad aja, kenapa harus ke Kak Revan?”
“Aku bisa sendiri kok, Siapa yang bilang aku butuh bantuan?” Akhirnya Airin membuka suara dengan tatapa jengkel kepada gadis itu.
Wanita itu tidak mengerti dengan sikap Luna kepadanya kadang baik dan bisa berubah menjadi musuh. Apa ini karena kedekatannya dengan Revan? Ia mengakui sahabatnya itu ganteng hanya saja dia tidak pernah memiliki perasaan lebih kepadanya. Mereka hanya sahabat dan tidak akan lebih dari itu.
Mendengar perkataan Airin membuat Luna memutar bola matanya kesal dan kembali menghadap komputer miliknya. Dia sangat benci melihat Airin akrab dengan Revan padahal kemarin mereka sudah lumayan dekat dan kembali renggang ketika wanita itu ada.
Suasana di dalam ruangan itu pun kembali hening dan hanya suara ketikan komputer saja yang terdengar, kedua mata Airin tidak sengaja melihat foto ia dan Marvel, gambar itu mereka ambil ketika berada di belakang rumah ketika menanam sayuran. Dia tersenyum bahagia setelah beberapa hari belakang ini merasa kesepian akibat meninggalnya Tendi.
“Daddy udah kasih tahu Tante Airin bahwa kita pulang kan? Jangan bilang belum!” ujar Marvel yang sedang digendong oleh Daddnya. Mereka berdua sudah menginjakkan kaki di Indonesia dan sekarang sedang berjalan menuju pintu keluar untuk pulang ke rumah Endang.
Theo memejamkan matanya selama beberapa detik dan memasang senyum simpul, dia tidak mungkin mengatakan bahwa Airin hanya membaca pesannya tanpa membalasnya. Jika anak itu tahu pasti dia akan menyalahkannya karena sudah membuat Tante kesayangannya itu kesal.
“Sudah, tapi katanya dia sedang banyak kerjaan makanya nggak bisa jemput. Kita naik taxi aja ya? Lebih cepat naik taxi daripada harus tunggu jemputan.”
Marvel menatap Daddynya dengan tatapan curiga. “Daddy nggak bohong kan?”
Laki-laki itu mengelengkan kepalanya. “Daddy nggak pernah bohong,” ujarnya sambil mengeratkan kedua tangannya agar anak itu tidak jatuh dari gendongannya.
Marvel hanya terdiam dia tidak pernah percaya bahwa Daddynya itu tidak pernah berbohong. Apa di sama sekali nggak ingat jika karena dia mereka berdua kemaring tidak jadi pulang.
Suasana di luar bandara tidak berbeda jauh ketika mereka berada di dalam, ramai. Ia dan Daddnya menunggu taxi di pinggir jalan dan masuk ke dalam taxi ketika Daddynya menemukan mobil yang kosong. Dia tersenyum bahagia ketika sebentar lagi mereka berdua akan segera bertemu dengan Airin.
Musik bintang kecil mengalun indah dari dalam taxi, anak itu juga menikmati nyanyian itu bahlan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti melodinya.
Airin
Airin. Sekarang aku dan Marvel sudah di Indonesia. Ini sedang naik taxi menuju rumah.”
Theo memotret jalanan di hadapannya dan mengirimkannya kepada wanita itu. Hanya saja tidak seperti sebelumnya pesan itu tidak mendapatkan balasan apa pun membuat perasaanya sedih dan kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas miliknya.
Airin benar-benar tidak bisa diganggu apalagi ketika jumlah pengeluaran di dalam laporannya tidak sama dengan laporan fisik yang ia terima. Kedua tangannya menggenggam erat kepalanya berusaha memfokuskan dirinya.
“Airin, butuh bantuan?” bisikkan itu kembali terdengar. Revan selalu menawarkan bantuan ketika ia terlihat pusing dengan pekerjaannya. Bagus sih, hanya saja dia tidak enak jika terus-menerus meminta tolong kepadanya.
Airin menggelengkan kepalanya dan bersandar ke punggung kursi miliknya, dia membuka laci di meja dan memakan cemilan yang ada di sana. “Tinggal sedikit lagi,” ujarnya sambil tersenyum untuk menutupi kesulitannya.
Revan membalasnya dengan senyum simpul. Suara mesin cetak milik laki-laki itu terdengar dia menyatukan kertas yang sudah dicetak menjadi satu dan kembali menatap kepada Airin. “Laporan gue udah beres, kalau butuh bantuan lo bisa bilang ke gue,” lalu dia berdiri dan berjalan menuju Pak Ahmad.
Wanita itu sedikit iri kepada sahabatnya. Revan memang terkenal pintar dari SMA sampai di kantornya. Bahkan banyak atasan yang menganggumi kepintaranya. Selain ganteng dia juga pria paling komputen di divisi keuangan. Dari gosip yang beredar saat Pak Ahmad pensiun bisa saja lelaki itu yang akan menggantikan posisinya padahal dia yang merupakan asisten atasannya.
Maka dari itu dia tidak akan pernah menerima tawaran bantuan dari Revan. Jika dia dibantu oleh sahabatnya itu orang kantor akan kembali menggosipkan betapa pantasnya lelaki itu menjadi kepala divisi keuangan.
Marvel menekuk wajahnya ketika mendengar Airin sedang bekerja. Padahal kemarin Tantenya itu sudah berjanji akan menjemputnya dan mungkin mereka akan seharian bersama.
“Makanya kalau jadi orang jangan PHP. Padahal Airin sudah meminta izin. Anak itu jarang sekali meninggalkan pekerjaanya ketika sakit pun dia akan tetap datang ke kantor,” jelas Endang sambil memeluk Marvel yang sedang ia gendong. Kedua tangannya mengelus kepala anak itu agar pusing setelah naik pesawat segera hilang.
“Sekarang kamu tidur saja. Istirahat. Airin bawa mobil sendiri jadi kamu nggak bisa jemput dia,” tambah Endang lalu membawa cucunya naik ke atas untuk tidur.
Theo mengehela nafas dan memilih beristirahat di tas sofa ruang tamu. kepalanya sedikit pening dan dia butuh segelas air dingin untuk meredakan sakit di kepalanya. Hanya saja tidak ada yang bisa ia suruh ibunya sudah naik ke atas dan sekarang hanya ada dirinya di sini.
Dia kembali menatap pesan yang ia kirim untuk Airin dan pesan itu belum dibaca. Sepertinya wanita itu sedang sibuk dengan pekerjannya. Seharusnya kemarin ia telepon, bodohnya dia jika ia menelepon Airin mungkin Marvel akan bertemu dengan Tante kesayangannya itu.
Ketika ia memejamkan matanya. Theo mendengar bunyi pesan masuk. Dia tersenyum senang ketika mengetahui siapa yang mengirim pesan kepadanya.
Airin
Serius pulang Kak? Maaf baru bales tadi fokus kerjain laporan. Pusing banget tapi alhamdulillah bisa diselesaikan. Maaf nggak jemput, kirain aku Kak Theo nggak akan jadi pulang. Yah… malam ini aku lembur tapi tenang aja besok aku libur kok. Tolong sampaikan permintaan maaf aku ke Marvel ya Kak karena nggak jadi jemput.
**