Bab 26

1065 Words
Airin sudah berjanji untuk mengerjakan semua laporan Luna. Dia sengaja meminta Theo untuk malam ini saja tidak tidur di kamarnya. Kertas-kertas akan berserakan dan bunyi ketikan akan mengganggu keponakannya ketika tidur. Theo setuju dan setelah Marvel tertidur lelaki itu langsung memindahkannya ke kamar pribadinya Luna benar-benar membuatnya bergadang. Gadis itu tidak memberikan semua file yang ia butuhkan untuk mengerjakan laporan ini bahkan Airin harus menelepon gadis itu dan memintanya untuk segera mengirimkannya. Otaknya seperti diperas bahkan kantuknya hilang entah kemana karena lebih fokus mengkaji semua berkas. Seperti yang ia duga kertas-kertas banyak berserakan di lantai, bahkan kasurnya mendadak menjadi meja belajar ada pulpen, penghapus, pensil dan tipe x. Memindahkan Marvel ke tempat ayahnya adalah pilihan yang tepat. Dia tidak mau anak itu ikut bergadang yang akan membuatnya jatuh sakit. Suara tangisan Marvel membuatnya kaget. Dia bahkan langsung turun dari kasur dan segera berlari menuju kamar yang berada di sampingnya. Terlihat Theo yang sedang kesusahan menenangkan anaknya sambil ia gendong ke sana kemari. “Kak, Marvel kenapa?” tanya Airin dengan wajah paniknya. Dia melihat wajah anak itu sangat pucat berbeda dengan terakhihr mereka bertemu. “Kayaknya deman Rin.” “Tante Airin,” panggil Marvel dengan wajah memerah, Airin menatapnya dengan tatapan prihatin. Kenapa anak ini tiba-tiba seperti ini? Tadi dia masih sehat. “Tante di sini Marvel.” Jawab Airin sambil berdiri di belakang Theo yang sedang mengusap-usap punggung anaknya. Ia meletakkan telapak tangannya ke kening Marvel dan berjengit kaget ketika merasakan panas tubuh yang dikeluarkan oleh keponakannya. “Kak, Marvel harus dikompres. Kakak bawa handuk sama air hangat biar Airin yang jaga di sini.” Perintah Airin kepada kakak iparnya. Da segera membawa Marvel dari gendongan Theo dan mendurkannya. “Aku jadi nyusahin kamu ya Rin?” tanya Theo setelah kembali dari dapur membawa peralatan yang diinginkan oleh adik iparnya. Airin menggelengkan kepalanya. Dia tidak tega mendengar tangisan Marvel, pasti anak itu merasa kesakitan mana mungkin dia bisa pura-pura mendengar dan membiarkan Theo mengurusnya sendirian. Dengan cekatan Airin mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat dan diperas dengan kencang sampai handuk itu mengering. Marvel hanya diam sambil memejamkan matanya Theo yang ada di sampingnya hanya menatap anaknya dengan tatapan khawatir. “Kak Theo tidur aja di kamar aku. Besok harus kerja kan?” Airin melihat Theo yang sangat kelelahan tanpa pikir panjang dia menyuruh kakak iparnya untuk tidur di kamarnya. “Kamu aja yang tidur. Besok kamu kerja kan?” Mereka berdua saling tatap, tidak ada suara keduanya terdiam sambil merasakan sesuatu yang mendadak muncul diantara keduanya. “Tante Airin.” Marvel mengigau dan kembali tertidur dengan posisi miring ke kanan. Airin tersenyum tipis dan mengelus rambut keponakannya dengan lembut. “Kayaknya aku di sini juga. Takut nanti Marvel bangun dan cari aku. Kasihan kan kalau Marvel kembali menangis lagi.” Theo setuju, tadi saja ia kaget karena Marvel langsung menangis dan memanggil-manggil Airin. Theo tidak bisa membawa anaknya ke kamar wanita itu karena dia tahu Airin sedang mengerjakan tugasnya dan mana mungkin dia berani mengganggunya. “Aku tidur di bawah dan kamu tidur di atas. Nggak papa kan Rin malam ini kamu tidur di sini?” “Nggak apa-apa Kak.” Airin naik ke sebelah kanan kasur dan membaringkan tubuhnya di samping Marvel. “Selamat malam kak.” Theo tersenyum tipis. “Selamat malam Airin.” Esok paginya Endang heboh karena Airin tidak ada di kamarnya. Dia sudah mencarinya di dapur, kamar mandi, halaman belakang dan menantunya tidak ada di mana-mana. Niatnya sekarang adalah menyuruh Theo untuk ikut mencari keberadaan menantu kesayangannya. Sebelum 1X24 jam dia harus berusaha mencarinya sendiri lebih dari itu dia bisa lapor kepada polisi jika Airin menghilang. Namun, Endang dikejutkan dengan pemandangan yang sangat langka. Ketika dia masuk ke kamar Theo dia melihat sang pemilik kamar tergeletak di bawah, dan di atas kasur ada Marvel dan Airin. Kenapa menantunya ada di sini? Ada apa? Ia berjalan mengendap-endap dan berusaha memabangunkan anaknya terlebih dahulu. “Ibu!” Endang langsung menarik Theo yang baru saja sadar dari tidurnya dan masih setengah sadar untuk berbicara empat mata dengannya. “Kenapa Airin ada di kamar kamu? Kamu nggak apa-apain dia kan?” Theo menggaruk rambutnya dengan malas. “Semalam Marvel demam Bu. Ibu cucu nangis kencang gitu nggak kedengaran sama sekali? Jahat banget! Untung Airin datang dan mau bantuin ngurus Marvel.” Endang hanya diam, dia memang sedang nyenyak tidur dan benar-benar tidak mendengar tangisan cucunya. “Udah dikasih obat?” Theo mengangguk. “Udah, kayaknya udah mendingan.” “Yaudah kamu mandi, biar Ibu yang bangunin Airin.” Theo yang ingin kembali masuk ke dalam dihalangi oleh Endang. “Mandi di kamar Ibu aja. Nanti bajunya Ibu yang ambil.” Theo mengangguk dan memutuskan untuk turun. Ketika masuk ke dalam kamar dia melihat Bakti yang masih tertidur dengan nyenyak, merasa tergoda ia memutuskan untuk iktu bergelung di selimut bersama dengan ayahnya. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak apalagi hanya beralaskan selimut. Endang berhasil membangunkan Airin dan Marvel. Suhu tubuh cucunya tidak terlalu tinggi sepertinya semalaman Airin berhasil membuat cucunya kemabli sehat. Tiba di kamarnya Endang menghela nafas kesal ketika melihat pemandangan super yang bisa membuatnya berteriak. “Theo! Kenapa masih tidur! Kamu hari ini kan ada rapat! Ayah juga! Dari tadi Ibu bangunin tapi nggak bangun-bangun!” Marvel dan Bakti kaget dan mereka berdua langsung duduk di kasur. “Ini udah bangun Bu. Theo Ayah dulu yang mandi, barus setelah itu kamu.” “Iya Yah.” Ayah berjalan menuju kamar mandi dengan mata yang masih mengantuk, dan Theo memutuskan untuk berbaring sambil memejamkan mata menunggu Ayahnya selesai mandi. Tema masakan kali ini adalah sehat, ada sayur bayam, s**u, tempe tahu, ayam goreng. Lalu buah-buahan, buah naga, semangka, melon yang sudah di kupas. Endang tidak mau cucu kesayangannya kembali sakit. “Hari ini kamu berangkat bareng Theo lagi Rin?” tanya Endang sambil memasukkan makana satu sendok bayam ke dalam mulutnya. Rasanya segar di tenggorokkan apalagi ia menambahkan daun seledri dan irisan bawang goreng. “Iya Nenek. Marvel kan mau anterin Tante Airin kerja.” Airin tersenyum simpul dan mengusap rambut Marvel dengan lembut. “Kalau begitu Marvel makan yang banyak supaya sehat.” Marvel menganggukkan kepalanya dan memakan makanan yang ada di hadapannya dengan semangat. Semalam Airin sangat khawatir sekali dengan keadaan anak itu, ingin sekali dia membawanya ke rumah sakit. Dia takut jika Marvel pergi meninggalkannya seperti yang Theo lakukan mungkin Aiin tidak akan bisa bangkit lagi **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD