"Terimakasih, kau juga sangat tampan Shem," balas Alana memuji ketampanan suaminya.
Dia bersyukur Shem masih mencintai nya meski dia sulit memberi keturunan, tapi tak pernah ada kata keberatan pada Shem. Pria tersebut benar-benar menerima nya apa adanya.
Alana merasa bahagia, meski akhir ini dia merasa ada yang tidak beres dengan suaminya sendiri. Setiap Brian pulang malam selalu ada bau parfum wanita yang menempel di kemeja nya.
Hal itu bukan pertama tapi sudah enam bulan terakhir terus terjadi. Shem yang curiga tidak pernah menanyai itu pada Shem. Jika dia bertanya itu sama saja, dia sedang meragukan suaminya, tidak mempercayai dan itu sangat di benci Allah.
"Pasti sayang, aku suami mu. Jika kau istri ku cantik maka aku suami mu harus tampan biar di kata serasi."
"Aku cantik karena mu Shem. Karena kau merubah ku seperti ini. Terimakasih sudah selalu ada bersama ku 9 tahun ini."
"Kenapa kau terus berterimakasih? aku ini suami mu bukan orang lain. Sudah seharusnya aku melakukan itu, jika bukan aku siapa? jadi stop mengatakan hal seperti itu, aku tidak mau mendengar lagi."
"Iya, aku tidak akan mengatakan lagi, sekarang kita pergi ayo. Nanti kau bisa terlambat ke kantor," ajak Alana mengakhiri mengingatkan Shem ada yang lebih penting sekarang.
"Astaga, hampir saja lupa kalau kau tidak mengatakan sayang."
Shem menggandeng tangan Alana pergi, kedua keluar kamar dengan mesra, bertepatan dengan itu Mama Neta lewat yang ingin menuju ke kamar nya.
Panas sekujur tubuh melihat kebahagiaan pada wajah wanita yang tidak pernah dia sukai. Ingin rasanya dia melempar jauh wanita yang bersama putra nya jauh.
"Ma, Shem dan Alana pergi dulu. Kalau Mama mau kembali silakan, tidak perlu berlama-lama di sini," ucap Shem enteng, meraih tangan Mama nya, di cium punggung tangan itu.
Saat berganti Alana ingin mencium tangan mertuanya sudah terlebih dahulu pergi tanpa mengatakan apapun.
Perkataan putra nya itu membuat nya kesal, dia yakin sikap Shem yang tidak sopan karena Alana, Alana wanita licik yang mempengaruhi.
"Sudah tidak perlu di pikirkan lagi, Mama memang seperti itu. Kau sudah mengetahui jadi biarkan saja," Shem mengusap lengan Alana memberi kekuatan dengan sikap Mama nya.
"Tidak apa-apa, ayo," tenang Alana dengan wajah seolah tidak terjadi apapun.
"Kau wanita yang terbaik Alana. Aku mencintaimu, sampai kapanpun tidak akan melepaskan mu," batin Shem tersenyum, sikap dewasa Alana membuat nya terus jatuh hati.
Meski kadang mereka sedikit ribut mengenai sesuatu yang tidak penting. Tapi kedewasaan Alana yang selalu menyatukan mereka, hingga pertengkaran mereka tidak berlangsung lama, hanya beberapa jam tidak mencapai 1 hari.
"Sayang, tahun baru ini kau mau kemana?" tanya Shem menoleh sang istri duduk manis di sebelah nya.
"Terserah mu saja, kemana kau membawa aku akan ikut," jawab Alana tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu kita ke Korea saja, bagaimana?"
"Serius?"
"Iya sayang, aku tau kau dari dulu ingin ke Korea menemui idola mu, sekarang akan aku wujudkan."
"Terimakasih Shem, aku memang sudah lama menginginkan itu, tapi aku tidak mau merepotkan mu dengan keinginan ku."
"Tidak, aku sama sekali tidak repot. Apapun demi mu akan ku lakukan."
Beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai Shem tiba di parkiran kantor khusus pemilik perusahaan.
Alana dan Shem bersamaan dengan tangan kedua saling bergandengan.
"Aku akan ke ruang meeting, kau tidak apa-apa ku tinggal di ruangan ku?" tanya Shem menatap Alana di samping nya.
"Kerjakan kerjaan mu, tidak perlu memikirkan aku," sahut pengertian Alana.
Cup...
"Masuklah ke dalam, aku akan kembali setelah kerjaan ku selesai."
"Iya, kau semangat kerja nya."
Alana pun masuk ke ruang kerja Shem, melihat itu pria tersebut bukan berbelok ke kiri masuk ke ruang meeting, malah naik lift.
Keluar dari lift, dia masuk ke ruangan pegawai.
Cekrek...
"Shem, kau di sini? ada apa? bukan nya ada meeting sebentar lagi?" tanya seorang wanita yang kaget dengan kedatangan atasannya tidak lain suami sahabat nya Alana.
"Aku merindukan mu sayang, bagaimana dengan mu? apa tidak merindukan ku?" tanya Shem berjalan mendekat kursi wanita tersebut.
"Tentu, merindukan mu sayang. Apa kau ingin servis kecil sebelum meeting di mulai?" tawar nya menarik dasi Shem mendekat wajah nya.
"Apalagi? lakukan sekarang," terima Shem dengan senang hati.
"Kau sangat tidak sabaran Shem. Apa Alana tidak memuaskan mu? hingga selalu mencari ku?" tanya wanita tersebut bernama Vio.
"Bukan seperti itu, Alana selalu memuaskan ku, tapi aku merindukan sentuhan mu sayang. Jadi lakukan sekarang."
"Dasar pria tidak pernah puas. Aku akan memuaskan."
Hmmmpt...
Vio menempelkan bibir mereka, dia berjalan bersama She. ke sofa dan kedua duduk di sana, ciuman mereka tidak lepas terus menarik satu sama lain.
Bibir kedua saling mengekspor leluasa, penuh hasrat tidak ada cinta selama panutan berlangsung.
Shem mengendorkan dasi yang di kena kan dan membuka kemeja Vio.
"Pelan-pelan, sayang. Aku tidak kemana-mana," ucap Vio mulai kehabisan nafas. Saat ciuman mereka terlepas, Shem mulai melakukan sesuatu yang disuka.
"Jangan menghentikan ku saat aku puas sayang. Semalam aku tidak melakukan bersama Alana karena dia kedatangan tamu bulanan. Dan kau tau aku tidak bisa tidak melakukan percintaan," kata Shem semangat tidak bisa mengatur keinginan nya untuk masuk gawang.
"Ya, kau saja aku tidak aman menghentikan mu," senyum Vio, dia sudah lama menyukai Shem, tapi Shem malah menyukai Alana sahabat nya yang miskin tidak memiliki apapun, dari pada dia yang kaya.
Vio memilih kerja di perusahaan Shen dari pada perusahaan nya Papa nya, karena dia ingin selalu berada di dekat Shem.
Bagaimana cara nya dia harus memiliki Shem dan sekarang perlahan berhasil membuat Shem berada di pelukan nya.
Bahkan dia kadang menginap di mansion Alana dan Alana wanita yang di juluki bodoh menyetujui tanpa menaruh curiga.
"Ahh... Shem ini sangat enak... " desaah Vio puas, pria tersebut sangat hebat dalam memuaskan nya. Dan bukan hanya Shem yang mendapat kepuasan tapi juga Vio.
"Ahh... Sayang, aku tidak pernah salah menjadi mu partner ranjang ku," tak kalah Shem puas mendesaah nikmat nya permainan mereka.
"Tentu, Shem karena aku tidak mau kau kecewa dengan ku. Aku bukan hanya partner ranjang mu, sebentar lagi status ku akan menjadi istri mu Shem," monolog Vio tersenyum licik.
"Aku akan melakukan dengan cepat, tahan kita akan sama-sama keluar."
"Iya sayang."
"Ahhk... aku sudah tidak tahan sayang, cepat atau aku akan duluan," tidak tahan Vio sudah berada di ujung.
"Tahan sebentar sayang, hitungan ketiga."