Suasana kantor pagi ini sedikit berbeda, tak ada karyawan yang duduk santai menikmati teh atau kopi mereka. Wajah-wajah mereka terlihat tegang karena Pak Harsya pemilik perusahaan datang, dia memang sebulan sekali datang berkunjung karena kantornya bukan di sini melainkan di kantor utama yang berada di luar kota. Pak Harsya biasanya datang untuk melakukan meeting bulanan, mengevaluasi kinerja karyawan juga melihat perkembangan Arya dalam memimpin perusahaan.
Karin mengetuk pintu ruang meeting membawakan minuman, Pak Harsya mempersilahkan masuk. Karin menaruh air mineral untuk semua peserta rapat kecuali untuk Pak Harsya dan Arya, dibawakan minuman sesuai pesanan mereka.
Dengan hati-hati Karin menaruh setiap minuman sambil badannya membungkuk sesekali. Tiba saatnya ia menaruh minuman untuk Arya, tanpa sengaja kedua mata mereka bertatapan membuat ritme jantung Karin semakin cepat. Senyum manis Arya semakin membuat Karin tak karuan, buru-buru ia menyelesaikan tugasnya dan segera keluar dari ruangan.
"Kenapa lo Rin, kayak abis ngeliat setan". Bukan setan namun tatapan tajam seorang pangeran yang habis Karin lihat.
"Ihh apaan sih Kak Melda nih, udah sana lanjut kerja lagi". Ucap Karin sembari menaruh nampan yang tadi ia bawa.
"Sabar neng, gue abis minum obat nih. Biasa lah asam lambung". Melda menepuk-nepuk perutnya.
"Makanya kurangin makan pedesnya, bandel sih". Karin memang kesal dengan kebiasaan makan temannya itu.
"Tapi tadi Riki tau yang kirim obatnya ke sini, seneng deh". Wajah Melda berbunga-bunga.
"Ciee... Kakak udah jadian ya sama dia?". Karin mulai curiga.
"Ya... gitu deh". Melda tersipu, keluar dari pantry meninggalkan Karin.
"Ayo ngaku, Kak! awas ya". Karin pun mengejar Melda.
**
"Karin!". Suara setengah berbisik terdengar memangil Karin yang tengah membersihkan jendela di dekat lobby.
Arief melambaikan tangannya dari luar, Karin menghampirinya.
"Ada apa Mas?".
"Saya denger Melda lagi sakit, tolong kasih ini ya buat dia". Arief memberikan bungkusan.
Karin memeriksanya, isinya buah-buahan.
"Dia kan asam lambung, setau saya harus makan buah yang gak asem. Jadi saya beli pir sama apel. Tolong kasih ya".
"Kenapa gak Mas Arief sendiri aza yang kasih?".
"Kamu tau sendiri kan Melda gimana? tolong ya!". Pinta Arief sedikit memelas.
"Ya udah nanti aku kasih".
Arief pun tersenyum lebar.
"Makasih ya Rin".
**
Pak Harsya sudah berada di ruangannya selesai meeting tadi, dia melihat-lihat tanamannya yang tumbuh sehat dan segar membuat dia senang.
Pak Akbar masuk setelah tadi Pak Harsya menyuruhnya datang melalui Lala sekertarisnya.
"Bapak memanggil saya?". Pak Akbar menundukkan kepalanya.
"Duduk saja, ada yang mau saya tanyakan". Pak Harsya menyuruh Pak Akbar duduk.
"Bagaimana kondisi Arya sekarang?". Tanya Pak Harsya setelah mereka duduk bersebelahan.
"Sudah membaik Pak, dia juga rutin kontrol ke klinik dan minum obatnya". Jelas Pak Akbar.
Pak Harsya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lantas bagaimana dengan serangan paniknya? apa sering kambuh?".
"Sudah lama tidak Pak, terakhir waktu kejadian karyawan cleaning service pingsan di ruangannya".
"Karyawan pingsan? koq bisa? kenapa?". Pak Harsya tampak kaget.
"Sudah saya antar ke rumah sakit, kata dokter dia keletihan kerja dan kurang istirahat". Jawab Pak Akbar.
Pak Harsya terdiam seperti berpikir, menyandarkan tubuhnya, keningnya berkerut, jemarinya menempel di bibirnya.
"Tapi semenjak itu Mas Arya terlihat lebih senang, dia banyak tersenyum tidak seperti biasanya yang selalu tampak muram dan dingin". Terang Pak Akbar, dia berharap Pak Harsya tidak terlalu cemas dengan kondisi Arya sekarang.
"Dia lebih happy sekarang? kamu tau apa penyebabnya?". Pak Harsya mencondongkan badannya.
"Sebenarnya saya juga kurang tau, yang jelas setiap bertemu dengan Karin, Mas Arya terlihat lebih bahagia". Pendapat Pak Akbar.
"Karin? loh dia bukannya petugas cleaning service?". Pak Harsya memang mengenalnya karena hanya dia yang menurutnya bisa membuat minuman pas sesuai seleranya.
"Betul Pak, kebetulan dia juga karyawan yang pingsan di ruangan Mas Arya".
"Saya kurang paham? gimana maksudnya ini?".
"Waktu itu kebetulan Mas Arya menemukan obat yang sama persis seperti miliknya dan ternyata obat itu punya Karin dan juga ternyata Karin berobat di klinik yang sama dengan Mas Arya".
"Jadi Karin itu punya gangguan panik seperti Arya?".
"Saya juga kurang paham kalo soal itu Pak dan bukan hanya itu saja. Saya sempat melihat Mas Arya senyum-senyum sendiri waktu saya jemput dari Mall dan ketika saya tanya katanya tidak sengaja bertemu Karin di Mall itu".
Pak Harsya kebingungan, kenapa seorang petugas cleaning service bisa membuat anaknya terlihat bahagia padahal selama ini dia sudah berusaha mendekatkan Arya dengan anak-anak rekan bisnisnya yang tentu lebih cantik dan berpendidikan namun tak ada yang membuat Arya tertarik, ia selalu memasang wajah dingin setiap bertemu mereka.
"Baiklah kalo begitu, tolong kamu tetap awasi Arya ya". Perintah Pak Harsya sebelum Pak Akbar pamit.
Setelah Pak Akbar keluar, Pak Harsya menelpon Lala menyuruhnya memanggil Arya untuk masuk ke ruangannya.
"Ada apa Pah". Tanya Arya ketika ia masuk ke ruangan ayahnya.
"Bagaimana kabar kamu nak?". Pak Harsya menyambut Arya dengan penuh senyuman.
Arya mengangkat bibir. Sedikit tersenyum, kemudian duduk di depan ayahnya.
"Seperti yang Papa liat, aku baik. Papa sendiri gimana?".
"Tentu saja Papa sehat. Oh ya minggu ini Papa ada janji main golf sama rekan bisnis Papa dan dia mau bawa keluarganya, ada putrinya yang baru lulus kuliah dari Toronto sama seperti kamu, siapa tau kamu kenal".
"Sorry Pah, aku lagi gak minat. Aku kan sekarang mulai rutin kontrol lagi ke dokter, ditambah capek sama kerjaan kantor". Arya malas karena sudah tahu maksud ayahnya ini.
"Justru itu Papa ajak kamu, biar refresing gak penat sama urusan kantor". Pak Harsya sedikit membujuk dengan memasang wajah ceria.
"Pah please, jangan suka memaksa". Arya berdiri dari kursinya.
"Karin? bagaimana dengan Karin?". Tiba-tiba Pak Harsya melemparkan pertanyaan itu.
Mata Arya membulat, kedua alisnya terpaut. Seakan tak mengerti maksud pertanyaan ayahnya itu.
"Karin? memangnya kenapa dengan Karin?". Arya balik bertanya.
"Papa dengar kamu mulai dekat dengan dia".
Arya menyeringai, kedua bibirnya tertarik ke satu arah.
"Aku cuma beberapa kali ketemu dia tanpa sengaja lalu apa hubungannya? aku gak suka kalo Papa berpikir aneh-aneh". Arya pun keluar dengan raut wajah kesal.
**
Gado-gado jadi menu makan siang Karin dan Melda hari ini, mereka memakannya di ruang istirahat. Tadi mereka beli di tukang yang lewat jadi dibungkus tidak bisa makan di tempat.
"Wah, enak nih abis makan cuci mulut pake buah". Melda langsung menggigit apel dari bungkusan yang tergeletak di meja.
"Iya makan aza, itu punya Kak Melda koq. Dari Mas Arief". Ucap Karin santai.
Seketika Melda terbatuk dan menaruh kembali apel yang baru ia gigit.
"Apaan sih Rin, bilang dong daritadi. Males banget gue makannya". Melda mendengus.
"Mubazir Kak, lagipula gak boleh nolak makanan pemberian orang. Mas Arief tau Kak Melda lagi sakit makanya dia beliin buah buat Kakak". Karin kesal dengan sikap Melda.
"Wiihh... ada buah nih". Daus datang diikuti Dayat di belakangnya.
"Makan aza, abisin sekalian". Ujar Melda senang ada yang menghabiskan buahnya.
"Mantap!". Daus dan Dayat langsung menyerbu.
"Eh, ngomong-ngomong Mpok Wati ke mana jarang keliatan?". Tanya Dayat yang sibuk memotong apel.
"Semenjak kejadian itu dia lebih banyak diem, mojok aza sendirian". Jawab Daus yang sembari lahap memakan apel.
"Iya lah mana berani dia berulah lagi, takut dipecat". Melda Nimbrung.
"Tapi kangen juga ya sama ocehan dia". Seru Dayat sambil tertawa diiringi tawa yang lainnya.
Hanya Karin yang terdiam, ada rasa prihatin yang menjalar di hatinya. Mpok Wati yang dulu aktif dan cerewet sekarang berubah menjadi pendiam dan sering tertunduk lesu.
"Eh, aku minta apel sama pirnya dong". Karin kemudian memasukkannya ke dalam plastik.
Melda menggandeng lengan Karin bersiap masuk ke kantor melanjutkan pekerjaan mereka.
"Mel!". Terdengar suara orang memanggil.
Riki melambaikan tangannya, Melda tersenyum riang menghampiri Riki.
"Koq kamu ke sini? ada apa?".
"Aku mau minta uangku". Ucap Riki tanpa ragu.
"Uang kamu? maksudnya?". Melda terheran.
"Uang yang tadi abis beli obat kamu. Totalnya kan ada di struknya tadi tapi kalo kamu mau tambahin sih ya gak pa-pa". Riki tak mau bertele-tele.
"Oh, aku kirain... ".
"Apa? kan kamu sendiri yang chat tadi minta dibeliin obat nanti uangnya kamu ganti". Riki memotong ucapan Melda, nampaknya ia mulai kesal.
Melda merogoh sakunya.
"Iya, iya, nih". Ia memberikan selembar uang seratus ribu.
Riki tersenyum lalu mengusap pipi Melda dengan lembut.
"Makasih ya sayang, nanti pulangnya aku jemput". Suaranya berubah manja.
Melda mengangguk senang.
Karin mendengar jelas percakapan mereka karena jaraknya tak jauh dari tempat Karin berdiri. Walaupun ia tak pernah pacaran, tidak mengerti bagaimana harus bersikap kepada pasangan tapi ia kesal dengan sikap Riki yang seperti itu rasanya ia ingin protes pada Melda namun melihat wajah Melda yang terlihat sangat bahagia akhirnya ia hanya bisa diam takut merusak kebahagiaan temannya itu.
"Rin, lo duluan ya. Gue ke gudang dulu ambil handsoap, tadi gue liat di kamar mandi udah pada abis".
Karin pun berjalan sendiri masuk ke kantor, di depan pintu ia berpapasan dengan Mpok Wati. Mpok Wati berlalu begitu saja melewati Karin.
"Tunggu Mpok". Panggil Karin.
"Ini ambil, dimakan ya". Karin memegang tangan Mpok Wati dan menyerahkan bungkusan berisi buah apel dan pir yang tadi ia ambil.
"Makasih". Jawab Mpok Wati tanpa ekspresi.
***
Langit terlihat cerah hari ini sepertinya sudah mulai musim kemarau, sudah lama hujan tidak turun dan jam enam pagi seperti sekarang saja matahari sudah tinggi sekali, terasa hangatnya sinar matahari menyentuh kulit Karin yang berjalan dengan penuh semangat. Semalam ia asyik mengobrol dengan Melda dan Intan melalui video call, mereka tertawa bersama walaupun berjauhan. Tadi malam Intan meminta maaf tidak bisa memberikan kado ulang tahun untuk Melda dan sebagai gantinya sepulang kerja hari ini ia akan mentraktir makan malam di restoran favorit Melda.
"Rin, kata Pak Aris nanti jam 10 kumpul ya di ruangannya". Dayat memberi informasi saat Karin menyimpan tasnya di loker.
"Oke siap Bang". Karin mengangguk cepat.
Semua petugas cleaning service mengerjakan tugasnya masing-masing dan tepat jam 10 mereka masuk ke ruangan Pak Aris, sudah ada Melda, Mpok Wati dan Dayat ketika Karin masuk, tak lama Daus masuk menyusul.
"Saya mengumpulkan kalian hari ini untuk mengumumkan sesuatu". Ujar Pak Aris membuka percakapan.
"Sebenarnya kemarin saya mendapat surat resign dari Nur, katanya setelah melahirkan dia tidak bisa meninggalkan anaknya, tidak ada orang yang mengasuhnya jadi dia mengajukan resign". Lanjut Pak Aris lagi.
Semua orang mengangguk-angguk mengerti.
"Yang ingin saya tanyakan, menurut kalian apa perlu menambah karyawan lagi pengganti Nur?". Tanya Pak Aris menatap semua orang yang hadir.
Suasana hening, mereka saling melirik tapi tak ada yang berani memulai berbicara.
"Bagaimana?". Tanya Pak Aris lagi melihat tak ada yang kunjung menjawab.
Mpok Wati mengangkat tangannya.
"Menurut saya gak perlu Pak, saya rasa cukup lima orang saja seperti sekarang". Jawabnya yakin.
Suasana hening kembali sepertinya semua orang mulai berpikir.
"Saya rasa sih perlu Pak". Kemudian Dayat berbicara.
"Memang sekarang kita tidak terlalu keteteran walau cuma berlima tapi kalo ada yang izin atau yang sakit gimana? pasti kurang orang banget Pak, baru terasa nanti keteteran". Jelasnya lagi.
"Iya betul Pak, saya baru kepikiran". Daus menimpali dengan sedikit terkekeh.
"Bener Pak kata Bang Dayat, kan gak selamanya kita semua bisa full masuk terus. Saya ngerasain gimana repot dan capeknya kalo lagi kurang orang". Melda pun kini mengutarakan pendapatnya.
Pak Aris manggut-manggut mendengar semua jawaban.
"Baiklah kalo begitu, lalu saya harus ganti karyawan perempuan lagi atau laki-laki jadi pas tiga perempuan tiga laki-laki". Pak Aris meminta pendapat lagi.
"Menurut saya laki-laki saja Pak soalnya kalo harus bantu angkat barang-barang kantor yang lumayan berat kita agak kesulitan karena kurang tenaga laki-laki". Kali ini Karin yang berbicara.
"Ya Pak, betul Pak". Semua kompak menjawab.
"Oke kalo begitu, sepakat semua ya saya tambah satu karyawan laki-laki".
Semuanya mengangguk tanda setuju lalu mereka bubar dan kembali bekerja.
Seharian bekerja hari ini Karin hanya mendengarkan cerita Melda yang terus membicarakan Riki, semua yang dia ucapkan pasti tentang Riki. Bosan rasanya Karin mendengarnya namun ia maklumi, sahabatnya ini tengah jatuh cinta. Karin hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Rasa kesal pada sikap Riki sebelumnya pun ia hempaskan, ia belum mengenal lebih jauh tentang Riki jadi tak pantas rasanya cepat menilai sikapnya lagipula Riki sudah membuat Melda sebahagia ini, yang belum pernah Karin lihat sebelumnya.
***
Karin, Melda dan Intan keluar dari taxi masuk ke restoran Jepang yang memang makanan favorit Melda. Wajah-wajah mereka tampak riang, senang rasanya bisa berkumpul bersama lagi, sudah lama memang mereka tidak jalan bersama.
Intan memesan shabu-shabu juga sushi yang beraneka ragam, seperti tak cukup ia pun memesan ramen untuk masing-masing dari mereka. Malam ini perut mereka benar-benar terisi penuh.
"Bagus banget jam tangan kamu Mel". Intan memegang jam tangan kulit berwarna merah yang melingkar di tangan kiri Melda.
"Iya ini hadiah dari Karin". Ujar Melda senang.
"Wih... Mantap Karin". Intan mengacungkan dua jempolnya.
Tak mungkin Karin mengatakan bahwa sebenarnya jam itu pemberian Pak Arya pasti mereka akan banyak bertanya dan berpikir yang tidak-tidak, Karin tidak mau itu terjadi.
"Iya kan aku sengaja nabung berbulan-bulan supaya bisa beliin hadiah yang Kak Melda suka". Akhirnya Karin berbohong walau tak sepenuhnya karena nyatanya ia memang menabung namun uangnya tetap tidak mencukupi.
"Uuhh so sweet... sini peluk". Melda merangkul Karin, kepala Karin dikepit dengan lengannya, Karin meronta, mereka pun tertawa.
Intan yang memperhatikannya pun ikut tersenyum namun kemudian tanpa sengaja air matanya menetes. Gadis muda di depannya ini kondisinya tidak sehat dan parahnya lagi ia tidak mengingat keluarganya sendiri. Hatinya perih mengetahui kenyataan ini dan ia tak tega kalau Karin sampai tahu keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Eh koq Kak Intan nangis?". Karin melihat air mata yang jatuh di pipi Intan.
Segera Intan menyekanya.
"Oh ini karena aku kepedesan, aku pesen ramen pedes banget". Intan beralasan.
"Telat nih nangisnya, orang ramennya udah abis daritadi". Melda terkekeh.
"Iya baru berasa sekarang". Intan berusaha ikut tertawa agar tak ketahuan.
Hape Intan yang ditaruh di atas meja bergetar, ada pesan masuk, Intan membacanya.
"Oh iya nanti aku pulang duluan ya, mau dijemput Maher soalnya kita mau sekalian jemput Kakek di rumah sakit". Ucap Intan selesai membalas chat.
"Loh emang Kakek sakit?". Karin jadi khawatir.
"Gak, cuma kontrol aza. Belakangan ini kakinya sering sakit kalo terlalu sering jalan jadi aku suruh rutin check up". Intan menjelaskan.
"Oh syukurlah kalo gak pa-pa". Ada rasa lega di hati Karin, ia tahu melalui cerita Intan bagaimana dulu Kakeknya berjuang agar bisa berjalan lagi setelah hampir satu tahun di kursi roda karena kecelakaan mobil yang ia alami.
"Aku juga sebenernya nanti dijemput Riki". Melda mengalihkan pembicaraan.
"Riki? siapa?". Intan masih asing dengan namanya.
Melda nyengir.
"Pasti pacar ya? ayo ngaku?". Tunjuk Intan membuat Melda salah tingkah.
"Bisa dibilang begitu". Lagi-lagi Melda nyengir.
"Ciee... yang udah punya pacar". Intan pun menggoda.
Semuanya tertawa.
"Eh kalo gitu Karin gimana pulangnya? Halte bus dari sini jauh loh, taxi juga pasti mahal apalagi udah malem gini. Mending kamu naik ojek online Rin". Intan kepikiran Karin yang pulang sendiri.
"Aku gak punya aplikasinya, terus gak ngerti juga". Jawab Karin cengengesan.
"Sini gue download'in sambil gue ajarin juga, gampang koq". Melda mengambil hape Karin yang juga tergeletak di meja.
"Maher!". Intan melambaikan tangannya ke sosok pria yang baru saja masuk.
"Hai semua". Sapa Maher ramah ketika ia menghampiri.
Melda terpukau memandang sosok Maher yang gagah dan tampan dengan jambang tipisnya, Karin pun ikut terpesona melihat Maher dengan pakaian yang berbeda dari biasanya yang ia lihat di klinik, biasanya ia tak lepas dari jas dokternya, malam ini ia mengenakan kaus turtleneck warna coklat sedikit ketat menampakkan dadanya yang bidang dan lengan yang berotot, seketika Karin membayangkan Pak Arya, badan mereka hampir sama hanya dr. Maher terlihat lebih kekar, badannya lebih berisi.
'Astaghfirullah'. Karin istighfar menggelengkan kepalanya.
"Tan, kalo kamu udah selesai kita bisa pergi sekarang? soalnya takut macet, rumah sakitnya juga kan lumayan jauh dari sini kasian kalo kakek sama nenek nunggu terlalu lama". Maher melirik jam tangannya.
"Iya aku udah selesai koq, aku duluan ya". Intan pamit.
"Sorry ya kita pulang duluan". Maher pun pamit sebelum keduanya pergi.
"Hati-hati ya". Ucap Karin dan Melda berbarengan.
"Cowoknya Intan ganteng banget ya". Seru Melda setelah mereka keluar.
"Bukan cowoknya, kata Kak Intan sih cuma temen. Mereka udah temenan dari kecil".
"Sayang banget kalo cuma temen".
"Iihh udah, gimana itu aplikasinya?".
"Eh iya, sini gue ajarin".
**
Karin sibuk memperhatikan layar hapenya setelah ia pesan tadi, maklum baru pertama kali mencoba jadi ia sedikit kaku.
Ada suara notif dari aplikasinya, gegas ia memberitahu Melda.
"Kak, kalo kayak gini gimana?". Karin memperlihatkan hapenya kepada Melda.
"Oh itu ada keterangan lima menit lagi drivernya sampe". Jawab Melda melirik, ia pun tengah sibuk membalas chat dari Riki.
"Kalo gitu aku tunggu di luar aza deh, aku duluan ya Kak". Karin berlari keluar takut drivernya kesulitan mencari dirinya.
"Yeh, main lari aza padahal nunggu di dalem juga gak masalah. Dasar Karin". Melda geleng-geleng.
Karin berdiri di pintu keluar, matanya terus menatap hape lalu celingukan mencari motor dengan plat yang sama dengan yang tertera di aplikasi. Hapenya bergetar, panggilan masuk dari aplikasi ojek onlinenya.
"Halo Kak, maaf saya kejebak macet. Gak pa-pa ya nunggu lebih lama". Ucap driver ketika telponnya baru diangkat.
"Ya sudah Pak, saya tunggu aza". Karin pasrah takut kesulitan kalau harus pesan ulang karena ia belum terlalu paham.
Ia menghela nafas panjang, sedikit kecewa karena harus menunggu lagi. Karin mencoba mencari tempat duduk lalu ia melihat Melda yang masih di parkiran, sudah ada Riki di sana.
"Lebih baik aku minta Kak Melda temenin aku nunggu deh". Karin melangkah mendekati Melda.
Baru dua langkah Karin berjalan terdengar suara Riki yang sedikit meninggi. Karin memundurkan kembali langkahnya, berdiri dibalik pepohonan yang membentuk pagar.
"Aku kan cuma minta uang bensin, motor aku juga kan perlu bensin buat jemput kamu ke sini".
"Aku gak ada uang lagi, tadi uangnya kan udah aku kasih ke kamu untuk ganti obat".
"Kamu bisa makan-makan di restoran mahal gini tapi masa buat beli bensin aza gak ada".
"Kan aku udah bilang, aku ditraktir temen sebagai ganti kado ulang tahun aku".
Raut wajah Riki masam, ia hanya diam. Melda merasa tak enak.
"Ya udah nanti sampe rumah aku ganti, uangku di rumah, kalo kerja kan aku bawa uang secukupnya aza".
Riki kembali sumringah setelah mendengar ucapan Melda.
"Gitu dong sayang, ya udah kita pulang ya". Riki memberikan helmnya.
Mereka pun pergi dengan Melda yang memeluk erat tubuh Riki.
Kali ini Karin tak mau tinggal diam, besok ia harus membicarakannya dengan Melda.
***
Angin kencang menerpa tubuh Karin yang memang tidak menggunakan jaket, tadi pagi cuaca panas jadi ia tidak kepikiran memakai jaket, Karin mulai kedinginan berada di atas motor.
Sekujur tubuhnya menggigil ketika turun dari motor, ia terus mendekap tubuhnya sendiri, mengusap-usap lengannya. Segera ia membuka pintu kamarnya, mencari selimut, menghangatkan badannya.
Tiba-tiba perutnya melilit, mulas sekali. Ia memang memesan ramen dengan level pedas, sekarang terasa efeknya. Karin melihat jam dindingnya, sudah jam sebelas, sebenarnya malas kalau harus ke kamar mandi tengah malam begini namun ia tak kuat lagi, semua isi perutnya minta segera dikeluarkan.
"Bawa hape aza deh, suka iseng kalo malem-malem gini". Karin memasukkan hape beserta headset ke dalam saku celananya.
Di dalam kamar mandi Karin mendengarkan musik, sesekali mulutnya ikut bernyanyi. Kemudian suara iklan terdengar memekakkan telinganya, dengan cepat ia melepas headsetnya.
"Giliran lagu kecil, pas iklan kenapa suaranya jadi kenceng sih, sakit". Karin mengusap kedua telinganya.
Karin hendak memasang headsetnya kembali ketika mendengar samar-samar suara orang berbicara, terdengar seperti suara laki-laki namun tak lama ia juga mendengar suara Siska, paling Mbak Siska lagi video call, pikirnya karena semua tahu peraturan ketat Bu Winda yang melarang membawa laki-laki masuk ke dalam kost.
"Ahh... Lega rasanya". Karin melangkah keluar dari kamar mandi.
Dia melihat seekor kucing belang hitam tengah naik ke atas meja mengeong mencari makan.
"Huss, Huss, Huss...". Karin mengusirnya menggunakan sapu.
Si kucing berlari ketakutan keluar melalui pintu belakang yang terbuka.
"Loh pantes itu kucing bisa masuk, pintunya terbuka gini. Ehh bukannya tadi waktu aku mau ke kamar mandi pintunya tertutup ya?". Karin tertegun di depan pintu.
'Gresek, kresek, kresek'
Terdengar suara ribut dari belakang.
Di belakang dapur memang terdapat tanah kosong dengan pagar kayu sebagai pembatas, gudang dan penampungan sampah berada di sana. Biasanya petugas sampah mengambil sampah-sampah melalui pintu pagar kayu tersebut.
'Grek, kretek'.
Suara-suara itu terdengar kembali.
Suaranya seperti berasal dari gudang, Karin menyalakan senter hapenya karena di sana gelap tak ada lampu penerangan. Untuk hal seperti ini Karin memang berani, ia tak pernah takut yang namanya hantu, menurutnya tak ada hantu, yang ada hanya rasa takut yang membuat seseorang berpikir macam-macam sehingga tanpa sadar menciptakan sosok-sosok tertentu yang menakutkan.
Perlahan tapi pasti Karin melangkah mendekati gudang. Pintunya sedikit terbuka, Karin mendorongnya. Seseorang menutup wajah dengan kedua tangannya, silau terkena cahaya senter hape Karin. Terlihat ia sedang menaiki tangga menuju atap seperti Bu Winda waktu itu. Sosok itu mendekatinya, ternyata Siska.
Siska segera turun, mendorong Karin ke tembok, ia mencengkram erat kerah baju Karin membuat Karin kesulitan bernapas, keringatnya mengucur deras, wajahnya memerah kekurangan oksigen.
"Jangan bilang siapa-siapa kalo gue sembunyi di sini". Tekan Siska dengan bola mata membulat, menyeramkan sekali ketika Karin melihatnya.
Karin hanya bisa mengangguk, ia tak bisa berbicara untuk bernapas pun sulit, sesak karena cengkraman Siska yang begitu kuat. Siska melepaskannya, Karin terbatuk, ia membungkukkan badannya, napasnya tak beraturan namun Siska seolah tak peduli. Ia mengangkat wajah Karin menekan pipinya, memaksa Karin menatap wajahnya.
"Kalo lo sampe bilang-bilang, keekk!". Siska memperagakan tangannya memotong leher.
Karin ketakutan, seluruh tubuhnya kini bergetar, kembali ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"I-iya, iya". Karin berlari secepatnya, masuk ke dalam mengunci pintu dapur.
Karin berlari lagi menuju kamarnya namun baru keluar dari dapur ia mendengar suara keributan, derap langkah kaki terasa semakin dekat. Pada saat itu Lina dan Irma pun keluar karena suaranya memang gaduh sekali. Ketiganya berdiri di depan kamar Lina, saling menatap dengan penuh tanda tanya.
Seseorang segera mendekati mereka, sosoknya tak asing, ia mengenakan seragam polisi lengkap. 'Nila Sari' nama yang tertulis di name tag pada seragamnya.
"Mbak Sari!". Sontak ketiganya berteriak.
"Iya, saya Sari. Iptu Nila Sari". Suaranya tegas berbeda dari biasanya.
"Saya ke sini membawa surat penggeledahan juga penangkapan atas nama Siska yang diduga terlibat dalam kasus penyalahgunaan narkotika". Sari memperlihatkan secarik kertas.
Mereka bertiga terperangah, tak percaya pada apa yang baru saja mereka dengar.
"Saya meminta izin untuk memeriksa kamar kalian semua". Sari pun memimpin penggeledahan malam ini.
Beberapa petugas polisi masuk membawa tiga ekor anjing pelacak. Tubuh Lina gemeteran menyaksikan kejadian di depan matanya kini, sama dengan Irma yang terus-terusan menggigit jarinya, pertama kali dalam hidupnya ia mengalami peristiwa mendebarkan seperti sekarang. Tak beda jauh dengan Karin, ia lemas menjatuhkan tubuhnya, bersandar pada dinding, kakinya seakan tak mampu lagi menopang badannya apalagi ia juga habis diancam oleh Siska.
Bu Winda datang menghampiri mereka bertiga, memeluk dan menggenggam tangan anak-anak kostnya yang sedang ketakutan. Mata Bu Winda berkedip-kedip seakan memberi isyarat dan mereka mengerti, apalagi kalo bukan soal Siska keponakan tersayangnya itu.
Sari yang melihat kedatangan Bu Winda meminta berbicara empat mata dengannya.
"Lina, Karin, Irma, kalian nanti diminta ikut ke kantor polisi dulu ya. Kalian jangan khawatir, hanya menjawab beberapa pertanyaan sebagai saksi". Ucap Bu Winda ketika menghampiri ketiganya lagi.
"Tapi kalian ingat ya, jangan ada yang membahas Siska kalo tidak ditanya dan kalo ditanya pun kalian jawab saja tidak tau". Suara Bu Winda sedikit berbisik.
Seluruh ruangan kost sudah digeledah tak ada yang terlewat, beberapa barang dari kamar Siska pun ada yang disita. Para petugas polisi terus menyisir sampai ke belakang, Sari melihat gudang, ia segera masuk dengan senternya. Sari melihat sekeliling gudang yang hanya berukuran 10x12 meter itu, hanya ada tumpukan barang-barang bekas di sana, cahaya senternya terus mengelilingi gudang dan ketika akan menyoroti atap, seorang petugas yang menuntun anjing pelacak berteriak.
"Bu Nila, ke arah sini bu". Seru petugas itu, tangannya tertarik tali anjing pelacak yang terus menggonggong.
Sari mengikutinya keluar melalui pintu pagar kayu, beberapa pagar rusak karena diinjak para petugas polisi dan anjing pelacak yang terus berlarian.
Tiga jam berlalu mereka tak berhasil menangkap siapapun namun polisi berhasil menemukan barang bukti sabu-sabu yang disembunyikan di kamar Siska. Petugas mengakhiri operasinya malam ini. Karin, Lina dan Irma pun turut dibawa, hanya Bu Winda yang meminta waktu. Ia berjanji segera mendatangi kantor polisi.
**
Pukul empat pagi mereka sampai di kantor polisi, ketiganya masuk ke ruangan yang berbeda. Diinterogasi oleh masing-masing petugas. Karin sendiri diinterogasi oleh Sari langsung. Ia memang sengaja ingin berbicara dengan Karin, sebagai seorang polisi yang berpengalaman ia menangkap gelagat yang tak biasa dari Karin, sepertinya ia tahu sesuatu.
Sari duduk berhadapan dengan Karin, di mejanya ada laptop, setiap selesai bertanya ia akan mengetiknya di laptop.
Sari memberikan Karin minum, membuat ia senyaman mungkin karena sangat jelas Karin gelisah, ia terus menggigit bibirnya.
"Kamu tenang aza ya Karin, ceritakan saja apa yang kamu tahu, jangan takut. Kamu tahu sekarang niat saya kost di sana melakukan penyamaran dan terakhir saya bertengkar dengan Siska pun sengaja untuk menaruh alat penyadap. Dari situ saya tau kalo selama ini dia bertransaksi di kamarnya dan dia juga mendapat barangnya dari Bandar yang paling dicari-cari selama ini".
Karin tersentak mendengar penjelasan Sari ternyata diam-diam Siska melakukan kejahatan di kostnya, pantas Lina pernah cerita ia sering mendengar suara-suara berisik dari kamar Siska yang membuatnya jadi sulit tidur. Karin ingin menceritakan itu namun ia ingat pesan Bu Winda yang melarang mereka membahas apapun tentang Siska. Bagaimanapun Bu Winda pemilik kostnya, ia takut membuat Bu Winda marah dan mengusirnya.
Lina dan Irma diinterogasi selama tiga jam dan akhirnya mereka diperbolehkan pulang. Sementara Karin masih berada di ruangan interogasi, feeling Sari kuat kalau Karin pasti tahu sesuatu entah apa itu.
"Karin, kamu tahu kalau kita ada yang namanya perlindungan saksi dan korban? Sekarang kamu menjadi saksi maka kamu pun sudah pasti dilindungi, justru kalo kamu menutupi sesuatu kamu bisa ikut terlibat, dianggap menutupi kejahatan dan mengganggu kelancaran penyelidikan". Sari melakukan segala cara agar Karin membuka mulutnya.
Usaha Sari tak sia-sia menginterogasi Karin selama hampir lima jam, akhirnya Karin memberitahu di mana Siska bersembunyi. Tanpa membuang waktu Sari memberi perintah kepada bawahannya untuk segera menangkap Siska sesuai petunjuk Karin.
Tak butuh waktu lama Siska sudah dibawa ke kantor polisi dengan diborgol diikuti dengan tangisan Bu Winda yang terus memohon kepada para petugas polisi untuk melepaskan Siska.
"Pak, tolong pak. Keponakan saya tidak bersalah, dia cuma dijebak. Bapak tangkap saja bandarnya". Bu Winda memelas dengan beruraian air mata.
"Iya Bu, biar kami proses dulu. Ibu tunggu saja dan ikuti aturannya". Jawab seorang polisi dengan sedikit geram, kesal karena Bu Winda terus merengek.
Karin yang baru keluar dari ruangan interogasi menyaksikan semua itu. Bu Winda pun menatap tajam kepada Karin, wajahnya terlihat sangat marah seolah-olah akan menerkam Karin. Karin takut dan menundukkan kepalanya kemudian ia diantar pulang oleh salah satu petugas.
**
Karin sampai di kostnya, seluruh tubuhnya lemas. Ia tak tahu apakah keputusan yang ia ambil itu sudah benar? Bagaimana kalau Bu Winda murka kepadanya? Wajahnya pucat tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Lina dan Irma yang melihat Karin pulang segera menemuinya, ketiganya berpelukan di kasur Karin, menangis bersama dan saling menguatkan. Kejadian yang tak pernah terpikirkan oleh mereka terjadi begitu saja dalam satu malam.
"Kalian tenang ya, kita pasti bisa lewatin ini semua". Sebagai yang paling tua, Lina menenangkan teman-temannya itu.
Tak ada suara yang keluar lagi dari bibir mereka, hanya isak tangis yang terdengar.
'Brak'.
Pintu kamar Karin dibuka dengan kencang. Semua orang di dalam terkaget.
Bu Winda masuk dengan napas yang memburu, ia langsung menjambak rambut Karin. Lina dan Irma berusaha melepaskannya.
"Bu, ibu kenapa? Tenang bu, ibu gak boleh begini". Teriak Irma.
"Istigfar bu, lepasin bu". Jerit Lina juga.
Sementara Karin tak bisa berbuat apa-apa, ia pasrah, sejak tadi ia memang sudah merasa tak memiliki tenaga lagi. Bu Winda menghantam tas yang ia bawa ke kepala Karin, seketika Karin tersungkur.
"Anak gak tau diri, gak tau diuntung. Lo bisa hidup kayak sekarang berkat gue. Terus ini balesan lo? Hahh...!!!". Bu Winda seperti kerasukan terus berteriak dan tangannya tak berhenti memukul kepala dan wajah Karin dengan tasnya.
Irma dan Lina pun menjerit, mereka berusaha keras menarik Bu Winda menjauh dari Karin namun seperti mendapatkan kekuatan yang entah dari mana Bu Winda kini sangat kuat sehingga justru Irma dan Lina yang terpental.
Mata Karin tetap terbuka lebar namun ia sudah tak bisa merasakan atau mendengar apapun, ia melihat gambaran yang terlintas di pikirannya. Ia melihat dirinya menangis meraung-raung kemudian ada sosok perempuan dan anak kecil laki-laki mendekapnya. Kemudian gambaran itu hilang, berganti dengan gambaran lain, kini ia melihat dirinya tergeletak dengan berlumuran darah, darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya, tangannya seperti hendak menggapai sesuatu.
'Bugh'.
Hantaman yang jauh lebih keras mengenai kepalanya lagi kemudian kupingnya berdenging, kencang sekali.
'Ngiiing...'.
Matanya pun terpejam, ia tak sadarkan diri.
***
Bersambung ke Bab 9.