BAB 2 : Karena obat yang hilang

1067 Words
"Astaghfirullah... Ya Allah". Lina menjerit dan berlari keluar melihat Karin yang terjatuh tepat di depan kamar kostnya. Karin mengusap lutut dan kedua telapak tangannya, telapak tangan kirinya sedikit berdarah. Lina menghampirinya. "Kamu kenapa Rin? mana yang sakit?". Lina mengecek keadaan Karin. Dia melihat sekeliling, tidak ada penghalang apapun dan jalan juga tidak licin tapi kenapa Karin tiba-tiba terjatuh. "Kamu sakit ya?". Lina memegang dahi dan pipi Karin. Sedikit demam. "Agak pusing sih Teh". Jawab Karin mencoba berdiri. Lina membantunya bangun. "Ya udah gak usah kerja dulu kalo gitu, istirahat". Saran Lina. "Maunya sih gitu Teh tapi justru dari jam setengah enam tadi udah ditelpon kepala bagian suruh dateng lebih awal soalnya banyak yang izin jadi di kantor lagi kekurangan orang". Karin menjelaskan. "Ya tapi kalo sakit gini masa mau dipaksain?". Lina yakin Karin benar-benar sakit terlihat dari wajahnya yang pucat pasi. Karin hanya diam termenung. Lina semakin khawatir. "Gini aza deh, aku anterin kamu ya ke kantor, kebetulan aku lagi bawa motor punya kakakku". Lina menunjuk motor honda beat merah yang terparkir di depannya. "Gak usah lah Teh, Teteh juga kan mesti kerja. Ngerepotin aza". Karin menolak. "Apanya yang ngerepotin sih? kantor kita kan searah". Lina tetap memaksa. "Tapi kantor aku lebih jauh". Karin kekeuh tak mau merepotkan Lina. "Gak masalah, aku bisa anterin kamu dulu. Kan naik motor jadi cepet. Bentar ya aku ambil tasku dulu". Lina segera masuk ke kamar takut Karin menolak lagi dengan segala macam alasan. "Makasih Teh". Teriak Karin agar terdengar oleh Lina yang berada di dalam. Lina mengantar Karin sampai depan pintu masuk kantornya. "Kamu yakin gapapa Rin?". Lina masih cemas, tapi dia melihat muka Karin yang terlihat lebih cerah tidak sepucat tadi. Karin mengangguk. "Iya, ini kepalanya juga udah gak pusing koq". Jawabnya sembari menyerahkan helm. "Syukurlah, tapi kalo mulai sakit lagi izin pulang aza ya. Tenang, kamu gak bakal dipecat koq cuma gara-gara izin sakit". Lina sedikit mengajak Karin bercanda. Karin tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Iya Teh, iya. Makasih ya, Teteh ati-ati". Pesan Karin. Lina menjalankan kembali motornya, Karin menatapnya sambil melambaikan tangan. Karin merasa beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat peduli dan menyayanginya, baik di kantor maupun di tempat tinggalnya. Ia bersyukur walaupun hidup sebatang kara namun ia tidak pernah merasa kesepian. *** Melda masuk ke ruang perlengkapan dan melihat Karin sedang mengambil peralatan kebersihan. "Siap-siap double job hari ini Rin, banyak yang gak masuk". "Iya nih Kak, emang siapa aza sih?". "Mbak Nur kan cuti hamil, Bang Dayat katanya anaknya sakit sama Mpok Wati. Eh, lo mau bersihin area mana dulu Rin?". "Tadi kata Pak Aris, aku ke lantai atas dulu. Biasanya kan tugas Bang Dayat bersihin toilet di sana". "Oke deh, selamat bekerja Ibu Karin". Melda mencubit manja kedua pipi Karin. Karin meringis namun kemudian tersenyum. Arya masuk kantor lebih awal, banyak pekerjaan yang harus segera dia selesaikan hari ini. Arya hendak membuka pintu ruangannya tapi pandangannya teralihkan ketika Karin melintas di ujung koridor yang menuju kamar mandi. "Kenapa Mas? Ada apa?". Pak Akbar bingung melihat Arya yang hanya terdiam di depan pintu ruangannya. "Oh gak apa-apa Pak, saya masuk dulu". Pak Akbar mempersilahkan Arya masuk dan dia pun pergi. Tugasnya memang memastikan Arya aman dan selamat sampai di tempat kerjanya. "Aneh, sepertinya aku pernah liat perempuan itu". Arya mencoba mengingat. Walaupun hanya terlihat tampak samping tapi rasanya dia sangat mengenal wajah itu. Hari ini merupakan hari yang sibuk bagi Karin dan Melda sampai mereka tidak sempat makan siang di luar. Untungnya Melda membawa bekal dari rumah dan membaginya dengan Karin. Mereka makan di ruang istirahat yang memang khusus untuk petugas cleaning service dan satpam. Melda menggeliat, selepas makan tadi dia tertidur. Dia melihat Karin yang juga tidur di kursi panjang. "Rin, bangun. Bentar lagi selesai jam istirahat". Karin bangun sambil mengucek kedua matanya. Melda mengambil dua botol air mineral. "Bener ya capek banget hari ini". Keluh Melda sambil memijit-mijit bahunya. "Iya repot kalo kurang orang kayak gini". Timpal Karin. "Walaupun capek tapi gue ngerasa tenang kerjanya". Raut wajah Melda berubah ceria. "Tenang? Kenapa?". Karin heran. "Karena gak ada si nenek lampir". "Maksudnya Mpok Wati?". "Iya lah, siapa lagi. Kalo ada dia ribet kerjaannya ngomel-ngomel mulu mentang-mentang senior di sini". "Gak boleh gitu Kak, dia...". Karin belum selesai bicara tapi sudah dipotong Melda yang nampak kesal. "Apa? jangan belain deh Rin emang dia orangnya nyebelin, muka dua. Di depan kita baik tapi di belakang ngomongin kita mulu sama atasan, untung orang-orang kantor gak ada yang kehasut ama dia". Melda meluapkan kekesalannya. "Ya Allah Kak, gak baik kayak gitu". Karin menenangkan Melda yang semakin emosi. "Gue ngomongin fakta Rin, inget gak dulu Bu Yuli sampe resign gegara gak kuat sama kelakuan dia. Terus waktu awal-awal lo kerja juga kan pernah difitnah sama dia. Waktu Mbak Lala keilangan jam tangannya terus dia nuduh lo cuma gegara abis liat lo keluar dari ruangan Mbak Lala, suruh orang-orang liat CCTV segala, hampir-hampir mereka percaya. Untung itu jam ditemuin Si Arief di kamar mandi". Melda tidak bisa berhenti bicara. Awal kerja Karin memang sering kena omelan juga makian Mpok Wati karena merasa Karin masih terlalu kecil tidak bisa bekerja. Karin merasa dibully setiap harinya, ia sempat ingin berhenti kerja namun Melda selalu menguatkannya, selalu melindungi Karin sampai sekarang. "Iya sih Kak". Karin mengenang masa itu. "Iya kan? Jahat banget dia pantes jadi perawan tua". "Duh, Kak Melda nih. Udah ah jangan ngomongin orang mulu. Oh ya ngomong-ngomong soal Mas Arief kemarin dia titip salam buat Kakak". Ucap Karin dengan nada sedikit menggoda. "Dih... si gendut. Dia mah emang suka ke GR'an Rin gegara gue suka baik sama dia". Karin tertawa melihat bibir Melda yang naik turun ketika membahas Arief. "Lucu tau gak kalian berdua tuh. Kayaknya serasi deh". Karin semakin meledek. "Ih Karin nyebelin". Melda memalingkan mukanya kesal. "Canda Kak, oh ya koq tumben amat Mpok Wati izin? dia kan paling rajin orangnya". "Rajin karena pengen dipuji". Sungut Melda. "Dia emang izin pulang cepet dari kemaren, dapet telpon dari adeknya yang tinggal di luar kota. Ibunya yang lagi nengokin adeknya itu meninggal kena serangan jantung katanya sih kecapean". Lanjut Melda menjelaskan. "Innalillahi... Ya Allah Kak, dia lagi berduka tapi kita malah ngomongin dia". Karin memukul-mukul mulutnya merasa bersalah. "Iya sih gue juga turut berduka apalagi dia kan masih tetangga gue tapi emang bener kan nyatanya dia jahat orangnya. Lagi lo Rin jadi orang terlalu baik tau gak, lo kalo kesel, marah, ungkapin aza kalo dipendem mulu juga gak bagus tau". Karin menggigit bibirnya. Ucapan Melda seakan menusuknya. Bukannya ia tidak mau ungkapkan segala emosinya namun ia merasa fisiknya terlalu lemah, ia seperti kehabisan tenaga untuk sekedar berdebat bahkan jantungnya berdebar-debar ketika ia ingin marah. Ketika kerja pun pandangannya sering kabur dan berkunang-kunang tapi selalu ia tahan. Karin pernah menjelaskan kondisinya pada Intan, menurut Intan itu adalah efek obat tidur yang tiap hari ia minum. *** Tok... Tok... Tok... Pintu ruang kerja Arya diketuk. "Masuk". Sahutnya dari dalam. "Mas Arya manggil saya?". Tanya Pak Akbar menghampiri Arya. "Oh iya Pak". Arya yang sedari tadi sibuk dengan filenya menatap Pak Akbar yang sudah berdiri tepat di depannya. "Bapak sudah ketemu sama Ibu cleaning service itu?". Tanyanya kemudian. "Sudah saya cari kemarin tapi katanya dia izin pulang lebih awal karena dapat berita ibunya yang sedang di luar kota meninggal dunia". Pak Akbar menerangkan. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ya sudah kalo gitu. Nanti kalo sudah ada kabar lagi tolong Bapak kasih tau saya". "Baik Mas". Pak Akbar melangkah keluar ruangan. Sudah pukul lima sore, jam pulang kantor. Semua karyawan sudah berhamburan keluar, hari Jum'at tidak ada yang lembur. Parkiran nampak penuh dengan karyawan yang sibuk mengeluarkan kendaraan pribadinya baik mobil maupun motor. Memang banyak karyawan di kantor ini yang membawa mobil, semakin tinggi jabatan maka semakin mahal juga mobilnya. Tapi masih ada juga yang menunggu jemputan taksi atau ojek online, mungkin cuma Karin yang tetap setia naik kendaraan umum. "Praang...". Gelas-gelas dan nampan yang dibawa Karin jatuh. Melda yang hendak keluar membawa sampah langsung berlari menghampiri Karin. "Rin, kenapa?". Tanyanya sambil mengusap punggung Karin. "Kepala aku pusing banget Kak". Karin memijit-mijit keningnya. Melda pun memapah Karin duduk di bangku. "Nih minum dulu". Melda memberikan segelas air minum. "Lo pulang duluan aza ya, kan masih ada Daus nanti yang bantuin. Tuh lo demam lagi". Melda meraba dahi Karin. Karin hanya diam memegangi gelas dengan kedua tangannya. "Jangan ngeyel deh, atau mau gue anter ke klinik?". Melda sedikit sewot, kadang Karin memang susah kalau diberitahu. Apa-apa suka gak enakan. "Gak Kak, gak perlu. Iya aku pulang". "Ya udah ati-ati ya, kuat kan?!". Melda masih khawatir. Karin menganggukan kepalanya dan berlalu pergi. Arief masuk ke pantry. "Mel, tadi saya liat Karin pulang duluan". "Iya dia lagi gak enak badan jadi gue suruh pulang aza". Sahut Melda tanpa menoleh pada Arief, sibuk membersihkan pecahan gelas. "Eh itu ati-ati Mel, biar saya bantuin". Arief menawarkan bantuan. "Gak perlu. Tapi kalo mau bantu, tolong buang sampah aza ke belakang". Pinta Melda dengan juteknya. Melda takut kalau dia ramah, Arief akan semakin menyalah artikan sikapnya karena Melda memang tidak punya perasaan apapun pada Arief. Arief pergi membawa dua kantung sampah. Karin duduk di kursi bus, pusingnya tak kunjung hilang. Ia menyandarkan kepalanya, terhantuk-hantuk ke kiri dan ke kanan mengikuti bus yang sedang berjalan. Sesaat kemudian samar-samar Karin mendengar suara seseorang. "Kak, Kak...". Kini suaranya terdengar jelas. Karin membuka mata, petugas bus dengan seragam merah orange berdiri di depannya. "Maaf Kak, ini sudah pemberhentian terakhir". Ucapnya ramah. Karin tersentak kaget, rupanya ia tertidur. Tadi malam memang ia tetap terjaga karena obat tidurnya hilang, mungkin pusing ini juga disebabkan ia tidak tidur semalaman. "Oh iya Mas, maaf ya". Karin pun keluar, menunggu lagi bus arah kost nya. Berarti sudah terlewat empat halte kalau di pemberhentian terakhir. Walaupun terlewat tapi ia malah merasa senang. "Akhirnya, ternyata aku bisa tidur juga". Katanya dalam hati. *** Hari sabtu ini langit cerah, matahari bersinar terang. Karin senang pakaiannya pasti cepat kering, sudah dari semalam ia mencuci pakaiannya karena tidak bisa tidur, tidak ada kegiatan dan akhirnya ia putuskan untuk mencuci malam-malam berharap setelah kecapean mungkin ia akan tertidur tapi lagi-lagi semuanya sia-sia sekarang sudah jam sembilan pagi pun ia tetap tidak merasa ngantuk. Perut Karin keroncongan, ia memang belum sarapan. Karin membuka dompetnya ada dua lembar uang lima puluh ribu dan selembar uang seratus ribu. "Tinggal dua ratus ribu, untuk seminggu lagi cukup gak ya?! harus cukup Karin, jangan kasbon mulu". Karin menasehati dirinya sendiri. Kemudian ia membuka laci-laci di meja berharap menemukan uang recehan, lumayan kalau ada untuk tambahan. "Ketemu. Satu, dua, tiga. Yah, cuma enam ribu". Karin menghitung tiga lembar uang dua ribuan. Akhirnya Karin memutuskan membeli 10 bungkus mie instan dan 1 kg telur di minimarket, untuk stok sarapan dan pulang kerja pikirnya biar hemat. "Dek, di sini ada yang namanya Irma ya?". Tanya bapak-bapak dengan jaket khas ojek online di depan gerbang kostnya ketika Karin baru pulang dari minimarket. "Oh iya ada Pak, nanti saya panggilin". "Makasih dek". Karin masuk, melihat Irma yang sedang memakai sepatunya. "Ma, ojeknya udah dateng tuh". "Oh iya Rin". Irma sibuk mengikat tali sepatunya. "Ke kampus ya? Tumben hari sabtu ke kampus?". "Iya nih, cuma nyerahin tugas doang sih. Ribet dosennya minta sekarang juga padahal udah kirim lewat email. Ya udah lah, aku jalan ya". Irma merasa percuma menjelaskan, mungkin Karin pun tidak akan mengerti. Nyatanya Karin memang bingung dengan ucapan Irma, banyak hal yang ia masih belum mengerti dan kurang paham. Terkadang Intan mengajaknya ke toko buku, memilihkan bacaan yang Karin perlukan bahkan membelikannya beberapa buku, dari situ sedikit demi sedikit bisa menambah wawasannya. Sepertinya ia harus terima ajakan Irma untuk belajar, lumayan untuk menambah pengetahuannya. Karin memasak mie rebus pakai telur, akhirnya ia bisa mengganjal perutnya yang kelaparan sejak tadi. Beres merapikan bekas makannya, ia melihat tempat sampah yang sudah penuh. "Gak ada yang mau buang sampah apa? sampe numpuk begini". Karin membawa tempat sampah ke belakang, ada tempat penampungan di sana biasanya tiga hari sekali diambil petugas sampah. kreket Suara pintu gudang di samping penampungan sampah terbuka tertiup angin, pintunya memang sudah usang jadi bunyinya sedikit berderit. Karin menengok ke dalam gudang, ada Ibu Winda pemilik kost turun dari tangga yang bisa ditarik dari atap. Dia tidak sadar Karin memperhatikannya. Bu Winda keluar sambil menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu. "Ibu Winda". Karin menyapa ramah. "Eh kamu Rin, lagi ngapain?". "Buang sampah bu. Lagi beres-beres gudang ya bu? ada yang bisa saya bantu?". "Oh gak usah, udah koq. Saya cuma naro barang-barang yang udah gak kepake di rumah. Ya sudah saya pulang ya". Rumah Bu Winda memang tidak jauh dari tempat kost, dia tinggal sendiri setelah setahun lalu ditinggal pergi suaminya tanpa kabar. Banyak orang bilang kalau suaminya menikah lagi karena Bu Winda tidak bisa punya anak. Satu-satunya keluarganya cuma Siska keponakannya, makanya dia sangat memanjakan Siska. Irma baru turun dari ojek saat berpapasan dengan Lina di gerbang kost. "Wih... mau ke mana Kak udah bawa tas gede?". Irma langsung bertanya. "Mau nginep di rumah Kakak, sekalian mau pulangin motornya nih". Lina sedikit menggoyangkan motor yang sedang dia naiki. "Iya deh, mumpung masih libur ya besok". "Iya udah lama banget soalnya gak ketemu ponakan, kangen". Lina hendak menyalahkan kembali motornya namun dia ingat sesuatu. "Oh ya Ma aku minta tolong liatin Karin ya dari kemarin dia sakit, kasian kan kalo sendirian". Pinta Lina pada Irma. "Karin beneran sakit ya? emang sih mukanya pucet aku liat juga". "Iya makanya tolong ya". "Siap Kak, ya udah Kakak jalan hati-hati. Salam untuk keluarga". Mereka pun saling melambaikan tangan. *** Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar Irma, sinarnya membuat Irma silau. Dia menyalakan handphone yang berada di sampingnya, jam 08.17 tertera di layar handphone. "Udah siang banget ternyata pantes matahari terik". Irma menguap sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Irma bergegas ke kamar mandi. "Udah siang jendela kamar Karin masih tutupan aza, gak biasanya". Pikir Irma yang hendak masuk kamarnya setelah mandi. Irma mencoba mengintip jendela kamar Karin tapi tidak terlihat apapun karena hordengnya masih tertutup rapat. Dia mencoba mengetuk pintu, memanggil-manggil Karin, tidak ada sahutan. "Apa pergi ya? tapi kata Kak Lina, Karin lagi sakit, jangan-jangan...". Irma melompat lari ke kamarnya mengambil handphone, mencoba menelpon nomer Karin. Nada dering telpon terdengar dan suaranya berasal dari kamar Karin. "Rin, Karin. Kamu di dalem ya? buka Rin". Irma menggoyang gagang pintu sambil terus menggedor pintu kamar Karin. Tetap tidak ada jawaban. Irma panik, dia langsung menelpon Ibu Winda pemilik kost meminta kunci cadangan. Tak lama berselang Bu Winda datang. "Kamu yakin Irma, kalo Karin di dalam?". Bu Winda pun ikut cemas tangannya sibuk mencari kunci dalam sekumpulan kunci yang dia bawa lalu dia mengambil kunci dengan tanda tulisan no.5. "Iya Bu, saya telpon suara handphonenya kedengeran dari kamar". Nada suara Irma terdengar sangat panik. Benar saja ketika pintu terbuka, Karin tergeletak di bawah tempat tidurnya. Irma dan Bu Winda pun teriak berbarengan. "Bantu saya angkat Karin ke kasur". Perintah Bu Winda. "Gimana ini Bu?". Tanya Irma takut setelah meletakkan tubuh Karin di atas kasur. "Coba cari minyak kayu putih atau obat gosok". Irma melihat sekeliling kamar, ada minyak kayu putih di atas meja kecil di pojok samping tempat tidur. Dia menyerahkannya pada Bu Winda. Bu Winda langsung menggosokannya pada kening, telapak tangan dan kaki Karin. Terakhir dia mengoleskan di bawah hidung Karin, terus mendekatkan ke hidung Karin agar terhirup dan berharap Karin segera tersadar. Kepala Karin bergerak-gerak, perlahan matanya mulai terbuka. Pandangannya masih kabur, ia tidak mengenali siapa yang berada di hadapannya. "Karin, Rin...". Suara Bu Winda lembut. Akhirnya Karin dapat melihat dengan jelas, ada Bu Winda dan Irma, wajah mereka terlihat sangat khawatir. "Alhamdulillah kamu sadar juga Rin". Peluk Irma mendekap tubuh Karin, dia benar-benar merasa lega. "Apa yang sakit Rin? kamu ingat kenapa bisa pingsan di lantai". Bu Winda bertanya penasaran. "Seinget aku semalam habis maghrib tiba-tiba kepala aku pusing banget, semua terasa muter". Jawab Karin lemah. "Kamu punya riwayat vertigo kali ya?". Bu Winda bertanya kembali. "Vertigo itu apa Bu?". Tanya Irma mendahului Karin yang sebenarnya juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama. "Kalo orang tua bilang tujuh keliling, sering pusing yang benar-benar muter gitu". Terang Bu Winda. "Oh iya, aku seringnya denger pusing tujuh keliling". Ucap Irma. "Ya udah ibu mau buatin teh manis dulu buat Karin, kamu temenin Karin ya Ma". "Iya Bu". Irma mengangguk. Bu Winda datang dengan segelas teh manis, biskuit juga bolu. Dia memang terbiasa menyediakan cemilan di dapur buat anak-anak kost. Awalnya cuma untuk Siska namun takut ada kecemburuan sosial di antara penghuni kost, akhirnya dia menaruhnya di dapur agar bisa dimakan bareng-bareng. Setengah jam berlalu, Karin mulai terlihat jauh lebih baik. Tubuhnya sudah lebih bertenaga tidak terkulai lemas seperti tadi. "Ibu pamit ya, banyak kerjaan di rumah. Tapi kamu bener udah gak papa Rin? mau berobat?". Bu Winda beranjak dari tempat duduknya. "Gak usah Bu, saya udah mendingan koq". Jawab Karin. "Ibu liat di dapur ada nasi, tadi juga ibu sempat goreng telur, coba Irma siapin makan buat Karin ya, pasti dari semalam Karin belum makan". Suruh Bu Winda. Irma dan Bu Winda keluar dari kamar Karin, Irma masuk ke dapur menyiapkan makanan, Bu Winda lanjut pulang ke rumahnya. Irma menyuruh Karin makan setelah dia menyajikan sepiring nasi dan telur dadar buatan Bu Winda. Karin memakannya dengan lahap, Irma tersenyum senang melihatnya. Sambil menunggu Karin makan, Irma melihat-lihat isi kamar Karin. Kamar kost berukuran 3x4 cm ini dicat warna biru langit walaupun sudah terlihat lama tapi masih bersih tidak seperti kamar kostnya yang bercat putih dan sudah kusam. Ada tempat tidur dari kayu dengan kasur yang cukup tebal juga ada meja kecil berlaci dua di sampingnya, mukena dan sajadah ditaruh di atas meja itu. Di atas tempat tidur ada jam dinding berbentuk bulat menggantung. Lalu di depan tempat tidur ada kursi dan meja yang terbuat dari kayu juga, di atasnya terdapat beberapa buku dan alat make up juga cermin kecil. Di tembok sebelah kanan ada dua gantungan baju, yang satu tergantung jaket dan baju seragam yang sudah digosok, yang lainnya dipakai menggantung tas-tas, ada empat buah tas di sana dengan bentuk yang berbeda. Sisi lain tempat tidur ada kipas angin berdiri dan paling pojok dekat jendela terdapat lemari plastik dua tingkat dengan empat pintu. "Rin, meja sama kursi itu beli di mana? lucu, aku jadi mau juga". Irma menunjuk. Sebelum menjawab Karin meneguk segelas air es, tadi ia memang sudah memesan pada Irma untuk dibawakan air dingin. "Semua barang di sini gak ada yang aku beli koq, ini semua punya ibu kost". Jawab Karin santai. Irma melongo, kedua bola matanya melebar. "Ih yang bener kamu Rin? ini fasilitas kost? koq aku waktu masuk sini cuma disediain kasur, itu pun kasur tipis sama kipas angin. Lemari sama meja pendek tempat aku taro laptop itu aku beli sendiri, sebagian barang malah aku bawa dari rumah". Jelas Irma, dia benar-benar tidak percaya jawaban Karin. "Masa sih beda?". Karin malah ikut heran. Irma mulai memicingkan matanya sambil mendekati wajah Karin. "Jangan-jangan kamu juga sodaranya Bu Winda ya?". Irma merasa curiga. "Ish bukanlah, beneran. Kalo aku sodaranya ngapain tiap bulan bayar kost? pasti gratis kayak Mbak Siska". "Iya juga sih". Irma manggut-manggut. "Tapi kalo diliat-liat kamar kost kamu lengkap gini kayak kamar Mbak Siska loh". "Emang kamu pernah masuk ke kamarnya?". Tanya Karin, karena selama ini penghuni kost memang tidak ada yang akrab dengannya. "Gak masuk sih cuma liat aza kebetulan waktu nganterin paket punya dia. Paket aku dateng barengan sama punya dia jadi sekalian aku bawain. Pas dia buka kamarnya keliatan tuh isinya, kayak kamu gini lah tapi dia lebih lengkap sih, ada TV LED dipasang di tembok sama kulkas kecil". Irma kembali teringat isi kamar Siska. "Kamu tau kan gimana kamar aku, Kak Lina sama Mbak Sari? gak ada yang kayak kamu gini kan? Kak Lina aza sekarang lengkap karena dia rajin belanja online". Lanjut Irma. "Bener juga sih". Pikir Karin. "Eh ngomongin Mbak Sari, aku koq curiga ya sama dia". Suara Irma jadi lebih pelan. "Curiga kenapa?". "Aku sering liat dia keluar malem nanti pagi baru pulang, gak lama pergi lagi. Terus udah berapa hari ini kan gak pulang?". "Iya sih aku juga udah lama gak liat dia". Memang sudah sekitar lima hari ini Karin tidak melihatnya. "Terus nih ya, aku pernah lewat depan kamarnya. Ternyata dia lagi telponan tapi suaranya malah bisik-bisik terus kayak pake kode-kode gitu. Pas dia liat aku, langsung tutup pintu sekencengnya. Aneh kan kalo gitu?". "Apa mungkin dia gak betah karena sering ribut sama Mbak Siska kali?". Karin mencari kemungkinan. "Iya bisa jadi sih, emang kalo mereka berdua ketemu suka ada aza yang bikin berantem. Padahal mereka baru kenal ya? kayak dendam banget gitu Mbak Sari ke Mbak Siska". "Iya keliatan banget gak sukanya, aku juga pernah ditanya-tanya sama Mbak Sari soal Mbak Siska. Apa karna dia kesel banget ya sama Mbak Siska? biasanya kan orang kalo gak suka jadi malah kepo. Bener kan?". Tanya Karin pada Irma yang terlihat sedang berpikir keras. "Iya bener juga, tapi kenapa sampe segitunya ya?". Irma kembali bertanya. "Hhmmm... gak tau lah aku". Karin tidak sanggup berpikir. "Ya udah lah pusing mikirin orang, aku mau beresin piring-piring dulu". Karin mencoba bangkit. "Eh mana ada orang sakit beres-beres, udah tiduran sana istirahat. Biar ini semua aku yang beresin". Irma merebut piring dari tangan Karin. "Masa daritadi aku dilayanin terus, kayak nyonya aza". Karin masih ingin bangun. "Ya namanya juga orang lagi sakit, udah nurut aza. Sana ke kasur". Perintah Irma. Karin pun terpaksa naik ke kasurnya. "Makasih banyak ya Ma". Ucap Karin sambil tersenyum lebar. "Itu lah gunanya teman, saling membantu". Irma berdiri membawa piring dan gelas kotor. "Kalo ada apa-apa telpon aza ya, aku ada di kamar koq". Ucapnya sambil berjalan keluar. Karin mengangguk, Irma menutup pintu kamar Karin. *** Bersambung ke Bab 3
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD