----------
Ribuan pertanyaan muncul dari otak Kirei. Tak ayal berbagai ketakutan pun muncul dalam benaknya.
Mungkinkah laki-laki yang selama ini begitu mencintainya, bahkan rela menunggu sampai sekian tahun, rela menduakan cintanya?
Ah, rasanya itu tidak mungkin. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi di dunia ini.
Kirei berusaha mengatur emosinya sebaik mungkin. Berusaha agar dirinya tidak dikuasai oleh amarah dan tetap menjaga kewarasannya.
"Aku akan tunggu kamu pulang, Mas."
********
Waktu rasanya berjalan sangat lambat bagi Kirei. Berkali-kali ia menoleh ke arah jam yang bersandar di dinding. Namun, jarum jam seolah mempermainkan perasaannya.
Saking gusarnya, Kirei sampai tidak bernafsu untuk makan seharian ini. Mandi pun ia enggan. Namun, untung dia masih mau mengurus bayinya.
Pukul 19.00 terdengar suara mobil datang dan parkir di halaman rumah.
Kirei yang tahu persis akan kedatangan suaminya, hanya terduduk diam di sofa ruang televisi. Padahal, biasanya jika suaminya datang, maka ia akan menyambutnya di depan pintu.
Tatapan mata Kirei lurus ke depan dengan tatapan yang terkesan kosong. Tangannya menggenggam erat handphone milik Jordan.
"Sayang, Mas kira lagi ngelonin jagoan kita. Eh, ternyata lagi duduk melamun di sini," ucap Jordan yang langsung mengecup pucuk kepala Kirei.
Kirei hanya diam saja seperti patung dengan tatapan kosong. Tanpa reaksi, tanpa ekspresi.
Jordan tak menyadari perubahan dalam diri istrinya sehingga ia langsung berjalan menuju kamar.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Jordan langsung menciumi Zidan yang telah terlelap di kasur.
"Jagoan Papa udah bobo ternyata. Pagi waktu Papa berangkat kerja masih bobo, sekarang pulang kerja juga udah bobo. Maafin Papa ya, Nak. Kita jadi ga ada waktu bermain bersama." Jordan membelai lembut pipi jagoan kecilnya.
KRUCUK ... KRUCUK ....
Perut Jordan keroncongan. Ia lapar sekali.
"Papa laper 'ni, Sayang. Papa mau makan dulu. Jagoan Papa bobo yang nyenyak."
Jordan mengayunkan kaki keluar kamar. Ia baru sadar kalau istrinya masih duduk di sofa tanpa ekspresi. Baru Jordan merasa heran karena tak biasanya Kirei bersikap seperti itu.
Biasanya Kirei akan selalu mengekor dirinya dari mulai datang sampai waktunya istirahat.
Apakah Kirei sakit?
Jordan berjalan ke arah Kirei dan duduk tepat di samping istrinya itu.
"Sayang, kamu kenapa? Kok dari tadi diem aja?" tanya Jordan seraya memegang kening Kirei.
"Jangan sentuh aku!" hardik Kirei.
Jordan bergeming. "Kok, bilangnya kayak gitu?"
"Jangan pernah panggil aku sayang kalau ternyata masih ada sayang-sayang yang lain di luaran sana!"
Kening Jordan mengernyit. "Apa maksudmu, Sayang? Mas gak ngerti."
"Oh, jadi kamu gak ngerti ya? Atau mungkin pura-pura bego?" sinis Kirei.
Kirei melempar handphone milik Jordan ke meja. "Mungkin dengan melihat isi HP ini kamu baru ngerti kali ya?" cibir Kirei.
Jordan tersentak. Dengan ragu ia mengambil handphone miliknya. Wajahnya mulai terlihat pucat.
"Siapa wanita itu?" tanya Kirei.
"Wanita yang mana, Sayang?"
"Sudah kubilang jangan panggil sayang." Kirei merebut HP ditangan Jordan dan mengutak-atik isi di dalamnya.
"Ini kamu lihat! Jelas-jelas kamu bermesraan di chat dengan wanita ini. Masih mau menyangkal, hah!? Jawab siapa wanita ini?" cecar Kireu penuh amarah.
Jordan menghela napas panjang. Kali ini dia benar-benar tak bisa berkutik. Mau tidak mau harus cerita karena percuma saja bohong kepada wanita. Toh sembilan puluh sembilan persen biasanya kaum Hawa sudah tau jawabannya. Hanya saja mereka selalu ingin dijelaskan secara rinci.
Jordan menghela napas panjang. "Dia Reta."
Bola mata Kirei membesar mendengar penuturan Jordan.
"Dia adalah mantan pacarku, dulu."
Bola mata Kirei semakin membesar. Dadanya mulai bergemuruh. Emosinya mulai naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya mencabik-cabik lelaki di depannya itu.
"Terus kenapa kamu berhubungan lagi dengan dia? Kamu mau kembali sama dia? Kamu mau ninggalin aku sama anakmu, hah!?" bentak Kirei.
"Enggak, Sayang. Dengerin dulu penjelasanku!"
"Penjelasan apa lagi? Jelas-jelas kamu balas chat mesra gitu. Kalau kamu gak menginginkanku, kenapa kamu menikahiku? Dari awal aku juga ingin menggugurkan janinku tapi kamu melarang. Sekarang ... sekarang setelah seperti ini. Kamu mau menyianyiakan kami!?" Kirei tergugu.
"Enggak, dengerin Mas. Mas cuma cinta sama kamu. Mas sayang sama kamu dan anak kita. Mas cuma main-main sama dia. Dia itu--"
"Main-main katamu? Berbicara mesra kamu anggap main-main? Apa sikap mesramu padaku juga main-main? Jawab?"
"Mas mohon dengerin dulu penjelasan Mas!"
Kirei mengatur napasnya sendiri agar dirinya tetap tenang. Ia berusaha menguasai emosi. Ia juga penasaran ingun mendengarkan penjelasan apa yang akan diberikan oleh Jordan.
"Oke, aku ingin tahu penjelasan macam apa yang akan keluar dar mulutmu."
Jordan menatap lekat manik mata Kirei. "Re-Reta adalah mantan pacarku. Kami berpacaran sekitar tiga tahun lamanya. Dia tidak tahu jika aku pewaris tunggal Abraham Company sehingga memutuskan meninggalkanku dan memilih lelaki yang kaya raya ...."
Jordan menceritakan semuanya kepada Kirei bahwa Reta merupakan mantan kekasih yang telah meninggalkannya dulu.
Reta tidak pernah tahu jika Jordan adalah pewaris tunggal Abraham Company sehingga lebih memilih Roni yang disebut-sebut sebagai pengusaha kaya raya sehingga memutuskan untuk menikah dengan Roni.
Namun, siapa yang tahu. Ternyata Roni hanyalah seorang penipu ulung. Laki-laki itu bukanlah pengusaha kaya raya, melainkan hanya seorang sopir di rumah seorang pengusaha kaya.
Reta akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan Roni. Wanita itu pun bekerja di perusahaan eksport rotan seperti Jordan. Perusahaan yang bergerak di bidang sama, tetapi beda perusahaan.
Jordan dan Reta kembali dipertemukan saat Jordan ada acara keluar kota selama seminggu kemarin. Saat Kirei menginap di rumah ibunya.
Saat itu diadakan pertemuan seluruh pengusaha rotan dengan mengadakan pesta. Saat itulah Jordan dan Reta bertemu.
Jordan memang tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Reta. Namun, wanita itu terus saja berusaha mendekati Jordan.
Jordan yang dibutakan oleh api kebencian, malah menyambut Reta dengan tujuan ingin balas dendan atas perlakuan Reta padanya dulu. Jordan ingin mempermainkan perasaan Reta.
Lagi-lagi Kirei menarik napas panjang saat Jordan bercerita. "Kamu nyadar gak kalau kamu itu salah?"
"Iya, Mas sadar." Jordan menundukkan kepala.
"Sekarang gini aja. Aku kasih kamu pilihan. Pilih aku atau dia?"
Jordan mengangkat kepala. "Jelas aku pilih kamu dan anak kita," jawa Jordan mantap.
"Kalau gitu, hubungi wanita itu sekarang juga! Bilang padanya kalau kamu sangat mencintai keluargamu dan jangan pernah menghubungimu lagi!" perintah Kirei.
"I-iya, Sayang. Tapi--"
"Tapi apa? Ga ada tapi-tapi ... kamu selesaikan sekarang juga pokoknya. Aku gak mau tahu. Atau mau aku yang selesaikan? Aku yang telepon wanita itu dan langsung kulaporkan juga kelakuanmu sama Papa Abraham?" ancam Kirei.
Pak Abraham memang selalu membala anak mantunya itu.
"Eh, jangan-jangan! Biar Mas saja yang selesaikan. Lagian tadi bilang tapi itu, mau bilang tapi bikinin makan, Mas laper."
Jordan menghubungi Reta dan bilang kalau dia tidak ingin berhubungan dengan wanita itu apa oun alasannya.
Setelah itu, kartu provider kepunyaan Jordan pun dipatahkan oleh Kirei. Jordan ganti nomor handphone.
Meskipun begitu, rasa kepercayaan Kirei terhadap suaminya telah berkurang.
Dalam pikirannya selalu berprasangka buruk kepada suaminya. Entah sampai kapan, tetapi yang pasti sampai Jordan bisa membuktikan kesungguhan dirinya.
Bersambung ....
-------------------