"Ahhhhh... s**t! DAMN YOU! "teriak gadis itu menyalang dan sontak membuat Devano dan lainnya terkejut.
"Thal, Athala. Ka-kamu bicara apa? Segera minta maaflah. Atau kau-"Ucap Fafa pada Athala dengan gugup dan malah dipotong oleh Athala.
"Enak aja, dia yang salah kenapa aku yang harus minta maaf? Seharusnya dia gantiin makananku dong. "
Devano menyunggingkan senyum smirknya karena Devano sama sekali tidak bisa tersenyum atau tertawa. Tampangnya yang datar nyaris seperti triplek serta berhati dingin.
"Saya akan menggantikannya. "Ucap Devano. Kejadian yang menimpanya tadi membuat heboh seisi Mall.
"Gak usah, gak perlu. "Ucap Athala ketus, ia segera menggelandang tangan Fafa pergi menjauhi kerumunan. Ia mulai terasa sesak tanpa tahu apa penyebab kehebohan, apa mungkin karena ulahnya?
"Thal, Athala... Ka-kamu nabrak pemilik Mall ini. "Jelas Fafa menegang, sedangkan Athala sudah mengendurkan pegangannya. Apa tadi? Pemilik?
"Oh. "Hanya satu kata dan datar-datarnya mimik wajah yang diutarakan Athala hingga membuat Devano gemas. Athala menaikkan satu alisnya menelisik penampilan pria tampan itu. Tampan. Tapi bukan Athala kalau sampai kepincut.
"So?? "Athala mengedikkan bahunya lalu pergi meninggalkan Fafa yang berusaha mengejarnya dari belakang.
"See? Aku sudah menemukannya, An. Sekarang giliranmu mencari identitasnya, aku tidak akan melepasnya."Anthonio hanya mengangguk tanda setuju. Ia juga heran, ternyata ada gadis yang lebih mengerikan dibandingkan Devano.
Athala pov
"Ah..... s**t! Double s**t! Holy s**t! Doggy! Arghhhh.... ". Fikiranku yang sedari tadi badmood manakala Fafa yang meminta ice cream dan menarikku kembali masuk Mall setelah duduk di taksi. Ditambah insiden tabrakan dengan laki-laki yang entah rasanya aku menubruk tembok. Benar-benar membuatku naik pitam. Sudah cukup!
"AAAHHH.... s**t! DAMN YOU! "Entah kenapa emosiki kali ini benar-benar memuncak, atau mungkin ini efek kelelahan? Mereka seakan terkejut mendengar perkataanku, oh great! Aku menimbulkan efek perkenalan yang buruk.
Yang lebih membuatku terkejut adalah, Fafa temanku ikut membela dia yang menabrak makananku. Oh.... Betapa marahnya aku, tidak tahu aku membelinya diujung Mall dan baru aku makan sesendok ??! WHAT THE f**k!
"Saya akan menggantikannya. "Suaranya begitu manly hingga rasanya gugup sendiri, cukup tampan.
"Gak usah gak perlu. "Ucap gue gak mau repot dan segera menggelandang Fafa, tapi apa?! Kejutan.....
"Thal-Athala... Kamu nabrak pemilik Mall ini. "Cicit Fafa, aku tau dia sedang ketakutan. Masalahnya takut denganku atau dengannya? Bisa diulang? PEMILIK? barusan ia bilang pemilik?
MALU, ya hanya kata itu yang bisa menggambarkanku. Jadi orang tampan dihadapanku ini pemilik Mall besar di Paris?
"Oh. "Karena aku sudah kehabisan kata-kata. Inginku tepuk jidat sekarang.
"So?? "Gue Blank. Dan sekarang aku berjalan cepat keluar dari Mall laknat ini. Syukurlah semoga aku tidak belanja lagi disini. Bisa tamat kalau pemilik itu hafal wajahku.
"Thal.... Athala.... "Teriak Fafa dari belakang.
"APA! "Sergahku memasuki taksi.
"Lo-lo ko gitu sama Mr. Devano?" tanyanya yang SUTO alias super tolol! Dan gak bermutu. Aku hanya melirik tajam dan datar. Apakah laki-laki tadi begitu mengancam? Memang aku akui tatapannya menghunus tajam dan tak kalah dingin.
"Memang kenapa? "Tanya gue acuh dan datar seperti biasa.
"Dia itu orang terkaya nomor 1 di Paris, tampan, mapan. Aduuh... Nikmat tuhanmu manakah yang kau dustakan, Thala... "
"Oh, terus? "
"Ya tuhaaaaaan.... Lo makin kelainan deh. Dari SMP sampek sekarang, lo sama sekali gak respon sama cowok?! Lo lesbi? "
Bletak!
"Sekali lo ngomong gak faedah, gue buang lo ke Ciliwung. "Fafa hanya terdiam memasang muka memelas sambil menepuk halus jidatnya.
"Lo sakarang main kasar. Dulu aja nyenengin, sekarang tampang lo minta ditabok."
"Bodo Ahmad. Kalo lo masih berkutat dengan masa lalu, lo akan susah menggapai masa depan."
"Yaya, diem. "Aku kadang juga berfikir, kenapa aku gak pernah respon ya sama cowok? Tapi aku juga gak doyan sama cewek. Udah ah, mikir nanti malam ada fashion show. Harus lancar!
Author pov
Athala pagi ini sangat bahagia. Ia memakan sarapannya sambil membaca majalah. Salah satu halamannya berisi tentang keberhasilannya kemarin Malam. Akan ada banyak job mengantri nantinya, ia masih belum cukup puas, tapi ia sudah mengantongi beberapa pabrik industri di Perancis untuk bergabung dengannya.
Hari ini ia memutuskan untuk pergi mengarungi kota Paris untuk mencari Blackmarket. Ia akan mendesain pakaian miliknya. Ia juga sudah berkerja sama dengan salah satu pembuat besi di Paris. Cukup melegakan untuk langkah awal.
Dilain sisi, nampak seorang pria tampan yang duduk dikursi kebesarannya. Ia menatap pemandangan kota Paris dari atas lantai 20 miliknya. Nampak pintu terbuka tanpa diketuk dahulu membuatnya naik pitam.
“Kalau kau mengulanginya lagi, kau akan mati esok. "Ucap Devano memutar kursinya kehadapan seorang gadis cantik.
"Oh, ayolah Devano.... Aku merindukanmu, kapan kau akan berkunjung kerumahku? "Tanyanya manja sambil melangkah mendekati meja.
"Najis, menjauhlah. Aku sedang sibuk. "
"Kau jahat sekali, tapi aku suka. "Ucap gadis itu yang sekarang tengah duduk diatas mejanya, sedangkan Devano hanya menaikkan sebelah alisnya dan kembali berkutat dengan berkasnya.
‘Devano.... "Kini tangan gadis itu sudah mulai menyentuh lengannya.
"Akh... "Pekik gadis itu setelah tangannya tersayat oleh pisau.
Devano hanya menyerigai menatap gadis itu yang sudah nanar. Mereka berdua dikejutkan oleh suara ketukan pintu dan langkah kaki. Anthonio memasuki ruangan sambil menyerigai menatap kedua lawan jenis itu.
"Ah, sori. Ada sesuatu yang harus segera aku laporkan. "Ucap Anthonio sambil melemparkan sebuah majalah kehadapan Devano.