Tak terasa hari barlalu semakin cepat, hingga ujian telah usai. Tebakan Athala sama sekali tidak meleset. Ia melihat Ranking yang turun drastis. Ia hanya mendesah panjang.
Athala pov.
Akan ada hari dimana hari yang menjadi alasan senyumku pudar dan tergantikan dengan kedinginan. Dan hari yang kunanti itu, hari ini.
"Athala, sudah ibu bilang. Kamu harus mempertahankan rangkingmu. Ibu selalu kasih tahu kamu untuk berhati-hati dalam berteman, jangan sampai dia memengaruhi kamu yang buruk-buruk. Apa kamu gak malu dilihat teman-teman kamu? Apa kamu gak malu sama ayah kamu yang siang malam cari kerja buat kamu? "
Aku hanya terdiam, sekarang aku sudah bisa mengendalikan emosiku. Aku tidak mau kepalaku berdenyut akibat aku menagis, menangis hanya akan membuatmu lemah. Aku diam mencoba menulikan telinga, yang nyatanya terekam jelas bagai radio.
"Sudah ibu duga. Raga itu membawa dampak yang buruk buat kamu. "Aku mulai tak suka dengan nada bicaranya, siapapun itu jika mereka menyinggung temanku. Pasti aku tidak akan segan-segan padanya. Aku hanya menatap wanita paruh baya itu tersenyum, bukan senyum seperti dulu, tapi senyum devil. Cukup sudah.
"Kamu sekarang mulai nakal ya, mencoba bolos. "Ucap ayahku yang tumbennya berbicara.
"Huft, aku memang salah. Maaf nilaiku tidak bisa menyetarai uang saku yang kalian berikan padaku setiap hari. Karena nilai tak memengaruhi pekerjaan. "
"Setidaknya itu membuat kami senang. "Ucap ibuku melemah, hal yang paling aku benci. Merasa akulah yang selalu salah dan egois, katakanlah aku sadar 100% memang egois, semua sama. BK itu juga tidak menyelesaikan masalah, sama juga hanya bisa memojokkanku dan membuatku semakin bersalah. Dan aku benci itu.
"Dan juga.... Jangan sekali-kali kalian menyeret teman-temanku dari semua masalah yang menyangkut diriku. Sama sekali." Ucapku tegas.
"Kenapa kau begitu perhatian dengan mereka, kau tak pernah berfikir kau hanya diperalat? Ditipu dan dibohongi? Kau bodoh telah membela mereka. Bahkan air matamu sekalipun! "Cibir ibuku yang begitu menusuk, hingga tak terasa mataku mulai memerah dan dadaku terasa sesak.
Memang aku bodoh, aku tau aku diperalat. Tapi biarkan aku yang berpura-pura tidak tahu. Itu lebih baik. Sahabat? Mereka hanya mengerubungiku untuk bercanda, tak tahu rasa tawa itu hambar? Aku butuhkan pelukan. Lalu ketika ada sandaran, dia menenangkanku untuk bersikap tenang dan memaksaku untuk tidak membongkar siapa diriku yang sebenarnya membuatku lelah. Bunuh diri? Konyol. Itu adalah solusi tergila yang pernah terlintas selain meminum obat depresan.
Raga yang menghilang begitu saja, serta kejadian ini? Aku pernah merasakan dimana aku meminta kepada tuhan untuk memperparah sakitku, biar aku merasakan berapa nikmatnya kepala berdenyut. Dan apa yang membuatku menyunggingkan senyum adalah dimana mereka? Mereka membiarkanku meringkuk diranjang. Panas? Kalau teman-temanku begitu dimanja ketika sakit. Tapi tidak denganku.
Parah memang, aku harus memeras air mataku lalu menjadikannya kompres. Tapi itu nyata dan aku selalu mengingatnya. Aku tidak akan diperhatikan sebelum mengalami penyakit yang parah. Aku juga tidak mau memperdebatkan hal ini. Karena aku tahu, mereka yang menang dan aku yang akan semakin terpojokkan.