Pagi telah menyapa dan Khanza terbangun dan merasakan sebuah pelukan pada tubuhnya dengan cepat dia menepis tangan itu dan berusaha mencari kamar mandi, Khanza menangis sejadi-jadinya di kamar mandi karena mengetahui dirinya sudah tidak suci lagi.
"Ya Allah.. sanggupkah aku melalui ini semua ini.. hiks.. hiks.. hiks..". Menangis dengan wajah pucat seperti tanpa ada sorot kehidupan dari dirinya.
Sedangkan Andra masih tertidur pulas dan tak menyadari apa yang sudah dia perbuat dengan seorang gadis.
Sungguh kasian nasib Khanza sehingga semua hal yang tak baik harus dia alami, tapi apalah daya takdir sudah menentukan begitu.
Khanza pun keluar dengan wajah pucat dan mencari tongkatnya, dia pergi dari apartement tanpa memperdulikan laki-laki yang masih tidak sadar dengan tindakannya malam itu.
"Saya sudah tidak tau arah hidup saya... Mengapa semua ini terjadi.. ". Khanza menangis perlahan menyusuri jalan dan tanpa arah.
Meski mentari sudah mulai menyinari dengan hangatnya sinarnya, didalam jiwa dan diri Khanza hanya ada ada kegelapan yang tak punya arah hidup.
Khanza terus berjalan dan dia tidak tau jalan mana yang sekarang dia lewati. Tiba-tiba dia menyeberang jalan dan tanpa memperdulikan suara kendaraan yang melintas, karena pikiran Khanza sudah benar-benar kosong seperti jasad yang tak mempunyai ruh.
Tiba-tiba ada yang menabrak Khanza dan mobil itu melaju dengan cepat, Khanza terjatuh dan orang-orang melihat itu langsung mengerumuni Khanza yang kepalanya berdarah.
Khanza merasakan sakit di hati dan fisiknya saat ini. Hingga dia tak bisa merasakan kesadaran penuh dan akhirnya ambruk kejalan.
"Kasian... cewek buta ini, cepat cari bantuan, nanti bisa-bisa nyawanya tidak tertolong". Kata salah satu orang yang mengerumuni Khanza yang sudah tak sadarkan diri.
Disisi lain seberang jalan terlihat perempuan yang berjilbab modis tengah menelpon dan belum sadar dengan kejadian disekitarnya.
"(Halo... Assalamualaikum.. mobil Aya lagi mogok ini bi.. pak Darman pun nggak tau kenapa bisa mogok padahal katanya kemarin baru aja benerin, Abi.. Tolong kirimin montir ya, soalny 1 jam lagi Aya ada pertemuan.)" Gadis itu menutup panggilan telponya, dan memandang kearah sekitar tak sengaja melihat keramaian dan dia penasaran dengan itu.
"Ada apa ya disitu kok, ramai orang ngumpul, sambil nunggu lebih baik aku kesana aja... Jadi penasaran..." Gadis itu menyeberang jalan dengan hati-hati.
Disaat dia sampai dia pun mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi, dia melihat seorang perempuan tengah terbaring disana dan betapa terkejutnya gadis yang bernama Alya Maira Akbar itu. Dia sangat merasa iba dengan gadis yang seumuran dengannya itu tengah terbaring dan tak berdaya.
"Ya Allah.. kasian sekali mbak ini, hem.. lebih baik aku telpon Bang Arfan, kan dia kebetulan lagi jaga pagi ini.".
Alya pun menelpon abangnya, sedangkan dirumah sakit Arfan tengah duduk diruangannya, ya Arfan adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di kota itu. Saat Arfan ingin mengambil jas dokter yang tergantung di gantungan ruangannya. Handphonenya tiba-tiba berdering.
Dilihatnya nama Alya yang sedang menelponnya.
"Kenapa anak ini nelpon pagi-pagi seperti ini, bukannya dia kerja ya, nggak mungkin dia ngajakin aku keluar untuk makan bersama.". Kata Arfan yang mengoceh sendiri.
Memang benar sering kali Alya menelpon Arfan hanya untuk mengajak abangnya itu maka di cafe samping rumah sakit itu. Karena menurut Alya makanan disana anak-anak.
Arfan pun mengangkat telponya setelah bergelut dengan pikirannya tentang adiknya itu.
"Halo Assalamualaikum.. kenapa ya.. abang masih di Rs ini..". Jawab Arfan uang mencoba menjelaskan kepada sang adik.
"Waalaikumsalam bang, iya makanya Alya nelpon abang, ini bang di deket persimpangan jalan merak ada mba-mba yang tersenggol kendaraan dan sepertinya korban tabrak lari. Kasian bang mba-mbaknya masih pingsan ini, abang bisa nggak ke sini bawa ambulan atau apa kek".
"Oh iya.. iya.. abang segera kesana ya.. bentar-bentar.. assalamualaikum...". Arfan langsung menutup telponya dan segera kesana.
Memang keluarga mereka selalu mengajarkan membantu orang adalah hal utama dalam kehidupan jadi Arfan dan Alya selalu ingat pesan ayah dan ibu mereka. Oleh karena itu mereka senang membantu orang lain.
Singkat cerita Arfan pun berangkat dengan supir ambulan rumah sakit. Saat sampai dilokasi Arfan turun bersama 2 orang perawat yang bersamanya membawa bed dorong rumah sakit.
Mereka pun mengangkat Khanza dan memasukkannya ke ambulan.
"Bang Alya bisa ikut abang nggak?, nanti abang antar Alya ke kantor ya soalnya mobil Alya mogok tu". Alya sambil menunjuk mobilnya diseberang jalan.
"Iya cepat naik..". Arfan menarik tangan adiknya. Serta mereka segera ke rumah sakit.
Arfan pun menatap Khanza dan dilihatnya pergelangan gadis itu seperti memar. Dan Arfan melihatnya dengan aneh. Namun Arfan berpikir itu adalah memar yang disebabkan karena kecelakaan yang menimpa gadis itu.
Sesampainya dirumah sakit mereka langsung membawa Khanza ke ruang IGD dan Arfan sendiri yang menangani Khanza. Arfan pun memeriksa keadaan Khanza dan melakukan tindakan medis. Sedangkan Alya menunggu abangnya di kursi tunggu ruang IGD rumah sakit itu.
Tak lama kemudian Arfan keluar dan terlihat dua orang perawat mendorong bed Khanza yang masih terlihat tak sadarkan diri. Sontak Alya pun penasaran dan bertanya kepada abangnya.
"Bang mba tadi mau dibawa kemana?, dan gimana keadaannya?".
"Oh... pasien tadi dipindahkan ke ruang rawat inap, dan keadaanya Alhamdulillah tidak terlalu serius hanya lecet-lecet dan memar sedikit jadi nggak ada luka yang parah".
"Oh.. alhamdulillah kalo gitu..". Sambung Alya yang terlihat lega.
"Ayo lah abang antar kamu ke kantor sekarang takutnya ada pasien nanti yang harus abang tangani.". Lanjut Arfan.
"Iya ayo..". Alya mengikuti langkah abangnya.
Mereka pun pergi. Dan saat Arfan tengah fokus mengemudi dan Alya masih sibuk dengan Handphonenya. Tiba-tiba Arfan mulai bicara menanyakan tentang gadis yang mereka tolong tadi.
"Ya.. emm.. mba-mba tadi itu, nggak ada identitasnya ya..?, soalnya saat abang suruh perawat yang perempuan mariska badannya tadi nggak ditemukan identitasnya sama sekali, nggak ada dompet atau handphone, mungkin nggak sih dia itu korban perampokan yang mengalami kecelakaan pula.?".
"Hem.. iya bang mungkin juga seperti itu, makanya Alya telpon abang.. Alya kasian liatnya..". Jawab Alya
Arfan hanya mengangguk dan melanjutkan fokus untuk mengemudi.
Setelah mereka sampai di kantor Alya, Alya pun segera turun dan masuk ke kantornya. Sedangkan Arfan segera bergegas kerumah sakit lagi.