Detik demi detik , jam demi jam dan tahun demi tahun telah dilalui oleh keluarga Khanza , dan semuanya ujian dan musibah yang dialami keluarga tersebut membuat Khanza tumbuh menjadi gadis yang sangat bersifat dewasa, saat ini usianya sudah 21 tahun dan 13 tahun dia telah hidup bersama dengan kegelapan yang terus ia dekat dalam kesehariannya.
Semenjak sang ayah bangkrut, keluarga Khanza pun merantau ke kota dengan sisa-sisa harta yang masih mereka miliki dengan harapan mereka dapat hidup lebih baik namun harapan mereka tidak sesuai kenyataan, sekarang sang ayah hanya seorang buruh yang bekerja di salah satu perusahaan swasta dan gajinya pun tak tetap, malangnya lagi sang bunda sakit-sakitan , dan khanza pun tidak tinggal diam dengan keadaan keluarganya, dia pun mencoba mencari uang dengan mengajar ngaji anak-anak orang berada. Ya dia menjadi guru ngaji yang dibayar sukarela, dan Khanza pun hafal 30 juz Al-Quran, semenjak ia buta, ia belajar dan menghapal Al-Quran dengan sangat cepat dengan Al-quran braille.
Hari itu saat siang hari Khanza kerumah Bu Ana, tempat dia mengajar membaca Al-quran, dirumah bu Ana anak-anak tetangga bu Ana berkumpul untuk belajar mengaji, Bu Ana dan ibu-ibu lainnya sangat senang dengan Khanza, karena Khanza sangat sabar dan telaten mengajarkan anak-anak mereka mengaji meskipun dengan kekurangan yang Khanza miliki.
"Assalamualaikum bu.. maaf bu anak-anak uda pada kumpul bu?".tanya Khanza kepada bu Ana yang sedang duduk didepan rumahnya.
"Waalaikumsalam eh Khanza uda datang, sepertinya sudah kumpul semua diruang tengah, ayo masuk". Balas bu Ana dengan ramah.
"Iya bu..." Khanza pun masuk meraba-raba jalan dengan tongkatnya.
Khanza segera mengajari satu-persatu anak-anak itu Al-quran. Setelah selesai mengajar anak-anak pun bubar dan berpamitan dengan Khanza. Khanza pun tersenyum mendengar kericuhan anak-anak didiknya. Ia sangat senang bisa mengajar anak-anak itu, karena mereka sangat santun dan lucu.
Setelah semuanya pulang Khanza pun berpamitan dengan Bu Ana dan Tessa putri kecil bu Ana yang tak lain adalah anak didiknya.
"Ummi pulang dulu ya sayang, bsok kita lanjut lagi ngakunya sama temen-temen",ucapnya kepada Tessa."saya izin pulang dulu ya bu Ana, Assalamualaikum ".
"Waalaikumsalam, iya... hati-hati ya Za".Jawab bu ana.
Khanza pun bergegas pulang dengan menaiki angkot untuk sampai ke rumahnya.
Sesampainya dirumah Khanza sangat heran dan saat ia mengetuk pintu dan memberi salam tidak ada jawaban melainkan hanya kesunyian yang ia dengar. Tak lama ia mendengar langkah kaki dari jalan samping rumahnya.
"Za, bunda kamu tadi dibawa kerumah sakit, karena tiba-tiba dadanya sesak... tadi ayah kamu bilang sama mbak Eros suruh ngasi tau kamu kalo kamu uda dirumah."sapa Kak Eros tetangga Khanza yang tinggal didekat rumahnya.
"Ya Allah, benar kak ,jadi bunda dibawa ke RS mana kak?, kakak tau nggak?...". Tanya Khanza dengan wajah panik.
"Kalo nggak salah kakak denger tadi RS Sehati Za, oh iya Za mendingan kamu ke RS sekarang kasian ayah kamu pasti sedang kebingungan dan sedih."Jawab kak Eros.
"Iya kak, doakan bunda Khanza ya kak, semoga cepet sembuh, Khanza pergi dulu ya kak...Assalamualaikum..". Sedikit mempercepat langkahnya dengan tongkat.
"Waalaikumsalam.. Za.. aamiin... hati-hati Za.. ",Balas kak Eros
Akhirnya Khanza menemukan rumah sakit tempat bundanya dirawat dengan bantuan supir angkot langganannya yang tak sengaja berpapasan dijalan raya saat Khanza mencoba mencari kendaraan untuk kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Khanza pun langsung masuk dan meminta bantuan kepada org yang ditemuinya didepan rumah sakit itu, untuk mengantarkannya ke meja resepsionis.
Setelah sampai di meja resepsionis, Khanza pun bertanya kepada petugas disana. Dan setelah mendapat informasi mengenai kamar tempat sang bunda dirawat.
Akhirnya Khanza pun sampai dikamar rawat bundanya, dan sangat beruntungnya Khanza tidak harus sampai menaiki tangga untuk mencapai kamar tempat bundanya dirawat.
Sesampainya didepan kamar bunda sang ayah pun menyambut khanza dan langsun memeluk pundak sang anak sambil mengusap kepala anak semata wayangnya.
"Bagaimana keadaan bunda , yah??"Tanya Khanza dengan panik.
"Asmah bunda kamu sudah semakin parah nak, dan ada masalah pada paru-paru, jadi kita harus memiliki biaya kurang 20jt untuk membeli obat dan keperluan rumah sakit untuk bundamu... jujur Ayah bingung nak harus cari uang sebanyak itu dengan jangka waktu pendek.."sambil menghela napas panjang.
"Ayah tenang aja, kan ayah sendiri yang ngajarin Za untuk percaya kepada Allah dan tidak putus asa, dikala ujian, Insya Allah ya Ayah.. Allah kasi jalan...". Ucap Khanza sambil tersenyum dan menyembunyikan wajah khawatirnya.
Setelah perbincangan akhirnya malam pun tiba , mereka pun sepertinya harus bermalam dirumah sakit untuk menemani sang bunda yang sedang terbaring sakit.
Tetapi saat itu Khanza berpikiran untuk pulang untuk mengambil beberapa perlengkapan bunda, dan barang-barang yang mungkin dibutuhkan oleh sang ayah selama berada dirumah sakit.
"Yah.. Za mau pulang dulu boleh nggak, mau ambil baju ganti ayah dan barang-barang lainnya...".Khanza memulai pembicaraan kepada ayahnya.
"Iya boleh nak.., kamu juga pasti capek, atau besok aja kamu kesini, kasian kamu seharian ini nggak ada istirahat...".
"Hem.. nggak.kok yah.. , Za pun mau temenin bunda disini sama ayah...".Jawab Khanza dengan wajah yang sedikit lesuh.
"Yaudah terserah kamu nak, tapi kalo kamu capek kamu tidur aja dirumah, biar ayah aja yang nemenin bunda kamu disini, hati hati kamu pulangnya..."Jawab sang ayah.
"Iya yah.. Za pergi dulu Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." memerhatikan sang putri pergi dengan berjalan meraba-raba dengan tongkat.