Kedatangan Analis dan Doma di rumahnya, membuat Metya sedikit bingung. Tumben sekali Analis datang kemari, diantar pula oleh Doma.
Analis dan Metya memang sering bertemu. Tapi lebih sering di luar rumah—itu pun saat jam makan siang atau sepulang dari kantor.
Metya mempersilakan Analis dan Doma masuk ke dalam. Walau agak bingung, Metya lebih memilih diam dan menjamu tamunya lebih dulu.
"Met."
Suara seseorang dari belakang berhasil mengejutkan Metya. Sebelah bahunya ditepuk, otomatis, perempuan itu memutar tubuhnya sehingga berdiri berhadapan dengan Analis.
Metya mengusap dadaa, setengah mengomeli temannya. Padahal Analis tahu sendiri kalau Metya orangnya suka kagetan!
Analis tertawa kecil sambil membungkam bibirnya sendiri dengan kelima jarinya. "Sori. Sori," ujar Analis menepuk bahu Metya.
"Lo, ah." Metya memberengut. "Hampir aja gelasnya gue lempar ke lo!"
Analis mengatakan maaf sekali lagi dengan suara sangat pelan sesekali menoleh ke belakang. Ia meninggalkan Doma sendirian di ruang tamu. "Gue mau ngomong sama lo, Met."
Metya menyibukkan diri lagi. Ia membuatkan minuman untuk kedua tamunya. "Tinggal ngomong aja, An. Gue dengerin nih."
"Orang tuanya Doma mau nginep di rumah," kata Analis, maju beberapa langkah hingga berdiri di samping Metya persis.
"Mertua lo berarti, kan?" tanya Metya.
Kepala Analis terangguk. "Iya."
Sesaat, Analis menggigit bawah bibirnya. Ia jadi sangat gelisah mendengar orang tua Doma akan datang dan menginap di rumah suaminya. Bukannya Analis mau membohongi kedua orang tua Doma. Yang diketahui orang tua Doma, Analis itu calon istri anak mereka. Bukan perempuan yang telah dinikahi Doma beberapa tahun yang lalu secara siri.
Dalam kepala Analis, yang ia bayangkan, kedua orang tua Doma pasti akan kecewa juga marah—karena merasa dibohongi.
Yang lebih ditakutkan Analis adalah, orang tua Doma berbalik membenci dirinya. Bagaimana kalau Mama dan Papa Doma meminta mereka bercerai suatu hari nanti?
"Hei!" seru Metya menjentikkan kedua jarinya di depan wajah Analis.
Analis gelagapan. Ia tersadar dan menatap Metya. "Eh! Iya, Met," balasnya, menggosok belakang lehernya.
"Ditanyain dari tadi malah bengong lo, An." Metya mengomel. "Lo mikirin apa sih? Buruan, tadi lo katanya mau ngomong. Minuman sampai selesai gue buat, lo belum selesai ngelamun!"
Kedua mata Analis memandangi dua gelas minuman di atas meja dapur yang telah diletakkan ke nampan. Metya memandanginya. Sepasang mata perempuan itu menyipit, jelas sekali menunggu jawabannya.
"Gue boleh tinggal sama lo beberapa hari ya?" pintanya memelas.
"Hah? Gimana, An?" Metya terlihat bingung. "Lo mau tinggal di sini? Ya nggak apa-apa, sih... cuma, suami lo gimana di rumah? Masa lo tinggal."
"Ada Mama sama papanya nanti," jawab Analis.
Metya masih belum paham. Kan, orang tua Doma mau datang ke rumah, kenapa malah ditinggal sama Analis untuk menginap di sini?
"Bentar, deh. Gue masih belum paham. Mertua lo dateng jenguk kalian, kenapa lo minta izin tinggal sama gue beberapa hari?" tanya Metya tidak paham.
Analis menggelengkan kepalanya. Ia meraih tangan Metya, kemudian bertanya, "Nanti gue kasih tahu alasannya apa. Yang penting, gue boleh tinggal sama lo, kan? Paling cuma tiga hari doang, Met."
"Oh, oke." Metya mengiakan.
Kedua perempuan itu mengakhiri obrolan mereka. Metya membawa nampan berisi dua gelas minuman, di sampingnya ada Analis. Mereka berjalan beriringan keluar dapur dan menyusul Doma yang ditinggal duduk sendirian di sofa ruang tamu.
"Kak," sapa Metya pada Kakak iparnya.
Doma tidak duduk sendirian. Di sofa seberang, ada Rinjani—Kakak ipar Metya—sekaligus psikiater yang Analis kenal. Tentu saja ia mengenalnya dari Metya. Akan tetapi, Analis melihat Doma dan Rinjani seperti dua orang yang saling mengenal satu sama lain.
"Mau berangkat, Kak?" tanya Metya, meletakkan dua gelas minuman untuk Analis dan Doma.
Rinjani mengangguk. "Iya, Met."
"Dok," sapa Analis, canggung.
Perempuan itu berdiri dan balas menyapa Analis. "Iya, An. Apa kabar?"
"Baik, Dok," jawab Analis sambil melirik Doma yang hanya diam sejak tadi. "Oh ya, Dok, kenalin ini Doma, suami saya..."
Secara otomatis Rinjani menolehkan kepalanya ke arah Doma sedang duduk dan menatap ketiga perempuan di depannya. "Oh," gumamnya setengah terkekeh. "Saya kira tamu yang dateng itu temennya Metya. Ternyata suami kamu, ya."
Analis manggut-manggut.
"Ya udah, kalian lanjut ngobrol lagi ya. Saya tinggal dulu," kata Rinjani menepuk sebelah bahu Analis. Ia kemudian berpamitan kepada Metya dan juga kedua tamu adik iparnya.
***
Entah, Analis harus senang atau sedih karena berpisah dari Doma untuk beberapa hari ini. Di satu sisi ia senang memiliki lebih banyak waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya tanpa kepikiran siapa yang akan melayani Doma di rumah. Dan di sisi yang lain, Analis penasaran apa saja yang terjadi di rumah mereka selama kedua orang tua suaminya menginap di sana.
Analis bisa pergi ke sana kemari bersama teman-temannya tanpa takut pulang telat atau terlalu malam—karena ia akan menginap di rumah Metya. Analis menikmatinya. Tapi juga merasa bersalah meninggalkan suaminya di rumah.
Bagaimana makan Doma, siapa yang akan menemani Doma tidur, menyiapkan makanan dan baju kerja lelaki itu. Setelah hubungan mereka jadi lebih dekat, sejak itu pula Analis yang mengurus semua keperluan Doma.
"Suami lo kayak gimana, sih?" tanya Ilana penasaran.
Selama ini kan, Ilana hanya tahu dari cerita kedua temannya—Analis dan Berin—tentang sosok Doma. Belum pernah sekali pun Ilana melihat atau berbicara secara langsung.
"Doma orangnya cuek banget. Ngomong aja irit," jawab Analis santai. "Jangan kan sama orang lain, sama gue aja yang jelas istrinya, irit banget kalau ngomong. Biar gue ngambek, paling dilihatin doang."
Metya mendelik, lantas ia menyahut, "Masa sih, An?"
"Iya." Analis menjawab lagi. "Sampai mamanya aja protes ke gue, kok. Emang dasarnya dia aja kayak gitu. Tapi nggak apa-apa, sih. Gue jadi agak tenang. Dia bukan tipikal yang suka lirik sana sini kayak kebanyakan lelaki."
"Eh, An..." Ilana tiba-tiba memikirkan sesuatu.
Analis dan Metya kompak menatap ke Ilana.
"Lo sama Doma, kan, nikahnya udah lama banget. Ya, walaupun lo sama dia nggak tinggal bareng karena lo sekolah asrama, pas lulus pun, lo langsung dikirim ke luar negeri. Tapi, masa pas lo udah pulang ke Indonesia, udah tinggal bareng juga, masa belum gituan, An?" cerocos Ilana.
Sontak, Metya menengok ke Analis, kemudian mengangguk penuh semangat. "Iya, iya. Gue juga penasaran sama yang itu!"
Kedua pipinya berubah hangat. Pertanyaan Ilana, juga reaksi Metya barusan membuatnya malu.
"Udah, kan?" tebak Metya sambil menunjuk Analis.
"Iya..., udah," jawab Analis dengan suara paling pelan.
Seluruh wajahnya terasa hangat. Analis meringis. Ditatapnya Metya dan Ilana yang sekarang malah menggodanya. Analis mendelik, tetapi Metya tidak berhenti menggodanya dengan pertanyaan, "Gimana rasanya, An? Pak Doma—"
Analis cepat-cepat membungkam mulut Metya. Ditanya begitu saja sudah membuatnya malu setengah mati. Astaga!