1. Adam Jin Iprit

995 Words
Kalia Aditama kembali menghela nafas setelah mendapat perintah untuk melakukan peliputan di salah satu hotel mewah daerah Jakarta Pusat.  "bang, ini gue banget yang harus ngeliput? gak abang aja?" Kalia mencoba bernego dengan Adam, koordinator news, atau penanggung jawab Kalia. "gue gak bisa, gue ada acara diluar" Hati Kalia dongkol bukan main, selalu saja laki-laki itu memberi alasan untuk menolak peliputan di daerah Jakarta, lain hal jika peliputan ke luar daerah, laki-laki itu akan menjadi yang paling semangat. Halah! bilang saja ingin jalan-jalan! Menyebalkan. Sudah satu tahun setengah Kalia bekerja di sebuah  organisasi yang cukup besar yang bertempat di Jakarta. Sebuah organisasi yang bergerak di berbagai bidang, baik itu sosial, kesehatan, seni budaya juga olahraga. Saat bergabung dengan organisasi ini Kalia masih berstatus fresh graduate,  minimnya pengetahuan mengenai dunia kerja, membuat Kalia begitu nurut dengan apa yang diucapkan Adam, Kalia ingat sekali, saat hari pertama masuk, Adam langsung meminta Kalia melakukan peliputan, dibandingkan beradaptasi terlebih dahulu. Awalnya sih Kalia tidak masalah, tapi semenjak dia dimarahi atasan karena berita yang dibuat Adam, Kalia mulai benci laki-laki itu. Tapi tetap saja sebenci apapun, Kalia sulit menolak perintanya. Ah, Kalia jadi kesal dengan diri dia sendiri jadinya!  Kalia bertugas di bagian konten berita, mengurus konten berita mengenai aktivitas organisasi di website maupun aplikasi. Dia melakukan peliputan, lalu meredaksi menjadi sebuah berita dan kemudian di serahkan kepada Adam untuk di cek atau di edit lalu di tentukan apakah berita itu layak atau tidak untuk kemudian di naikan. Kalia tidak diberi akses untuk mengunggah berita secara langsung, hal itu dibuat agar lebih mudah dalam pemantauan. Jadi hanya Adam yang memiliki keputusan sebuah berita itu layak untuk naik atau tidak. Tapi giliran ada kesalahan, Kalia yang selalu kena. Dasar Adam kurang ajar! "tapi bang, kan acara dari Departemen Kesehatan ini kan tanggung jawab lo kemarin"   "iya, tapi mendadak gue gak bisa liput Kal, tolong ngerti lah" Ngerti-ngerti! gigimu ompong! sok sibuk banget lo Dam. Gerutu Kalia dalam hati.  "tapi bang, gue juga mau liputan di acara Departemen Sosial" Kalia masih berusaha menolak "ya lo pergi setelah liput acara Dep Kes" Jawab Adam dengan santainya, rasanya ingin Kalia jambak rambutnya sekarang juga. Kalia menutup matanya, mencoba menahan sabar. Memang si Adam k****t jin Iprit ini selalu saja banyak alasan. "iyadeh, serah lo" pasrah, Kalia menerima perintah Adam. Tuhkan, Kalia mana berhasil nolak permintaan Adam. Cemen memang. "nah gitu dong, kan makin cantik" "dari dulu gue emang udah cantik!" "hahaha, sukses ya liputannya" ucap Adam semolah menggoda Kalia Kalia menatap sinis Adam, dulu sih dia mana berani melakukan itu, kalau sekarang? bodo amat.   *** Satu hal yang ingin Kalia lakukan setelah kembali berada di kantor, menggaruk wajah Adam! Kalia benar-benar dibuat Kesal oleh Adam, karena melakukan peliputan di Departemen Kesehatan lebih dulu, dia jadi terlambat ke tempat acara yang diadakan Departemen Sosial. Dan Karena hal tersebut pula Kalia harus mendengar "pidato" panjang dan "manis" dari ketua acara, dibilang gak profesional lah, gak ontime lah. Astagfirullah, rasanya langsung ingin berenang di lautan biar bebas. "Gimana? lancar?" Tanya Adam yang baru masuk ruangan dengan begitu santainya. "hm"  "sensi banget bu, nih kopi" Adam meletakan kopi disamping layar komputer Kalia. Menurut Kalia, meskipun Adam ini banyak minusnya alias menyebalkan, tapi masih punya sisi baik. Seperti sekarang ini. Memberikan Kopi atau makanan manis setelah Kalia melakukan peliputan.  "bilang aja lagi nyogok bang" "yeee, kalau nyogok lo mending gue beli kopi lima belas rebu, itu mahal" Memangsih, kopi yang Adam berikan ini cukup mahal. Tidak seperti yang Kalia beli biasanya.  "sombong lo!" Jawab Kalia lalu meminum kopi pemberian Adam. "gue itu tipe manusia yang sudah diperbolehkan sombong oleh Tuhan"  "dih Najong! dilaknat baru tahu rasa lo!" "omongan mu Kal, setidaknya gue menikah dulu baru Tuhan laknak gue" "dih ngaco! kasian bini lo! rugi bandar dia nikahin lo" "lo ngerasa rugi Kal?" "Hah?" "lo kalau nikah sama gue rugi gak?" "ya rugi lah! gila aja. Gak memperbaiki keturunan!" "pedes amat itu mulut. Btw kopi itu ada guna-guna nya lo" "SERIUSAN?!" teriak Kalia yang langsung menjauhkan kopi pemberian Adam. "anjir, gue bercanda doang kali Kal, guna-guna lo mana mempan, lo kebal sama guna-guna kayanya" "udah ah, ngaco aja lo!" "gimana tadi liputan di DepKes? orang DepKes banyak duitnya ya Kal, ngadain acara mulu" "yagitu, urusan orang DepKes itumah"  "lo ketemu mba Hani? ketua acara yang cerewetnya itu ngalahin Eminem nge rap?" "iyalah, orang gue dikasih semprotan juga sama dia" kesal Kalia saat dia dimarahi sang ketua acara "hahaha, sebenernya, itu alasan gue gak mau liputan disana Kal" Sialan, untung Kalia bisa sabar. Kalau engga, ini kursi udah melayang ke kepala Adam. "jahot lo. Jomblo seumur hidup tahu rasa!"   "udah ah. Ampun kalau ngomongin jodoh, cepet langsung kerja! gue tunggu hasilnya" Suruh Adam "hmm" Biasanya, Kalia itu selalu menulis berita saat peliputan, jadi dalam perjalanan dia tinggal membaca ulang atau mengeditnya sebelum di serahkan pada Adam, tapi berhubung di dua tempat itu Kalia hanya mendapatkan press Release karena, mau tidak mau Kalia harus mengerjakan itu sekarang. "jadi lo gak sempet nulis pas liputan?" Kalia memutar bola matanya saat suara Adam kembali terdengar.  "gak, gue sibuk. Di Depkes gue jadi seksi dokumentasi dadakan, di Depsos gue telat" balas Kalia dengan jari yang terus mengetik berita. "oh" Sabar, sabar! orang sabar kuburannya lebar  Kalia terus merapalkan itu dalam hatinya. Tangan dan otaknya kembali fokus menulis berita. Jangan sampai gara-gara ini dia harus lembur. Ogah!  Hampir dua puluh menit Kalia menyelesaikan satu beritanya, mungkin untuk ukuran jurnalist, Kalia memang masih lamban, kalia akui itu dan diapun akan terus selalau belajar. Sebelum memulai pekerjaannya lagi, ponsel Kali berbunyi, sebuah notifikasi pesan dari sang ayah.  Abi Teh, Minggu ini jangan lupa pulang. Kumpul Keluarga  Kumpul keluarga adalah hal yang paling ingin Kalia hindari, latau lebih tepatnnya sang nenek yang Kalia ingin hindari. Nenek kalia itu definisi astagfirullah dalam menguji kesabaran Kalia. Setiap mereka bertemu benar-benar tidak ada akurnya. Sebenarnya Kalia juga mau menjadi cucu yang baik, yang goals banget pokonya. Tapi susah. Banget! ada saja pemancing keributan untuk keduanya, meskipun hal sepele.  Iya, Abi Balas Kalia akhirnya, meskipun dalam hati tidak. Tapi Kalia tetep harus datang, Hal itu karena Kali menghormati sang Abi sebagai anak laki-laki paling tua di kelurganya, sekaligus inisiator dari acara tersebut.  Menghela nafas, Kalia kembali melanjutkan pekerjaannya. FYI, DepKes disini bukan yang ada di pemerintahan, tapi Departemen yang ada di organisasi tempat kalia bekerja. Sama  seperti Devisi tapi ini disebut Departemen.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD