"Bi, jadi kamu beneran hamil anaknya Mas Ezra?" "Mom." Bianca mendekat dan bahkan berlutut di hadapan sang ibunda yang telah melahirkan dan mengurusnya selama ini. Sang ibunda yang telah mengorbankan nyawa dan hidupnya untuk Bianca. Sang ibunda yang selalu menjadikan kebahagiaannya nomor satu, di atas apapun. "Maafin Bibi." Aalifa menarik napas dalam dan mendongak, mencoba menghalau air mata yang sudah menggenang di pelupuknya. "Jawab pertanyaan Moma dengan jelas Bi, sejelas mungkin, jadi kamu beneran hamil anaknya Mas Ezra, Bianca?!" "I-iya Moma, maafin Bibi, ampuni Bibi!" "Astagaaaa Biancaaa!" Aalifa berteriak keras mengeluarkan amarahnya kepada sang anak yang kini masih menangis deras sembari memegang kakinya. "Maafin Bibi, Mom, maafin Bibi. Moma boleh bunuh Bibi, kalau itu bisa b

