1 : Problem From Beginning

582 Words
Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur ini, aku memejamkan mataku mengingat kejadian barusan. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak melihat wajah pria itu, kini ia kembali ada di hadapanku, membuat rasa yang semula padam kembali menyala. Aku pikir, selama ini aku sudah berhasil melupakan dia, ternyata aku salah, rasa ini masih tetap sama. Dia tidak berubah, dia tetaplah tampan, menawan, dan senyumannya selalu dapat menghipnotis detak jantungku agar berdegup kencang, dia juga sepertinya masih mencintai orang yang sama, Melody, sahabatku. Aku bisa membaca semua itu dari tatapan matanya pada Melody, sakit memang menghadapi kenyataan bahwa dia masih mencintai sahabatku. Namun apa yang bisa kulakukan? Aku bukanlah siapa-siapa baginya. Memang benar kata suatu pepatah, yang bukan siapa-siapa tak akan mendapatkan apa-apa. Michael Rickard, aku tidak tahu darimana datangnya rasa ini, mengapa awet sekali, dan mengapa sangat sulit untuk menghapusnya, tapi inilah pilihanku, aku memilih tetap mencintai dia, tentu aku harus menahan risikonya, yaitu aku harus menegarkan diriku saat melihat dia mencintai gadis lain. Tiba-tiba kurasakan ponselku yang ada di dalam tas berdering, aku langsung bangun dari posisiku yang semula berbaring menjadi duduk, dengan malas aku merogoh isi tasku dan langsung mengambil ponselku. Kedua alisku bertautan membaca siapa yang meneleponku, nomer tidak dikenal? Siapa ini? Jawab tidak ya? Ah, jawab sajalah, siapa tau penting. "Hallo...?" kataku malas sambil menempelkan ponselku ditelinga. "Steffi?" Aku mengernyit, terdengar sahutan seorang pria diseberang sana, siapa ini? Kenapa suaranya terasa familier? "Iya, ini Steffi, kamu siapa ya?" tanyaku. Terdengar orang itu seperti menghela napasnya, "Syukurlah nomor lo gak ganti, gue bingung, mau nelepon siapa lagi. Ini gue Mike." Aku membulatkan mataku mendengar jawaban itu. Benarkah ini? Aku tidak sedang bermimpi? Mike? Mike yang meneleponku? Dia masih menyimpan nomor ponselku? Oh Tuhan, beribu tanya terlintas dalam benak ku. "M-Mike? Kenapa ya?" tanyaku kikuk, untung saat ini kami tidak sedang berhadapan, jika saat ini kami berhadapan, dapatku pastikan, wajahku pasti sangat konyol. "Itu.. gue.. bingung..." sahutnya terdengar cemas dan putus asa. Aku mengernyit, "Bingung kenapa?" "Melody, lo tau dimana dia sekarang? Dia belum pulang ke apartement gue, atau dia masih sama kalian? Lo masih di Kopitiam?" Aku tersenyum kaku, ternyata ini tentang Melody. Lupakan rasa sakitmu, Steffi. Ini tentang sahabatmu. "Gue dan Bella baru pulang dari Kopitiam, tapi tadi Melody pergi lebih dulu dari kita, katanya dia ada janji sama Kak Salsha, setau gue sih gitu," jawabku. Terdengar Mike mendesah kesal, "Kenapa dia gak bilang ke gue dulu sih? Ah, dasar itu anak, gak tau apa gue khawatir banget?! Btw, makasih ya Stef, lo emang orang yang tepat buat dimintain tolong," sahut Mike. Aku tersenyum masam, "Iya, Mike sama-sama. Mungkin sekarang Melody lagi di rumah dia... Maksud gue rumah mamah papahnya," ujarku. "Ah, iya mungkin, sekali lagi makasih ya, Stef. Lo dari dulu gak pernah berubah, selalu baik," ucap Mike sambil terkekeh. Kamu juga gak berubah Mike, kamu masih seperti dulu, dan kamu masih bertahta dihati aku. Aku terkekeh kecil, "Iya, sekali lagi sama-sama." "Udah ya, Stef? Gue tutup dulu, gue udah lega sekarang, bye...," ucapnya beriringan dengan terputusnya percakapan telepon kami. "Bye juga, Mike...," gumamku konyol, jelas jawabanku itu tidak akan sampai padanya, namun aku masih sangat ingin mendengar suaranya, meskipun dia tidak berbicara tentang diriku. Aku menjauhkan ponselku dari telinga, aku melemparnya asal keatas kasur. Aku menghela napasku, meskipun aku menyanggupi perasaan ini, tapi aku tidak bisa menepis rasa pedih tiap kali aku menyadari, bahwa Mike bukanlah siapa-siapaku, Mike juga tidak pernah melihat ke arahku, itu membuatku sakit, sangat sakit, namun ini adalah salahku, aku yang memilih mencintai dia, jadi aku menerima rasa sakit ini. Yang bisa kulakukan hanya satu, menunggu dia peka pada perasaanku, entah itu kapan, tapi aku akan tetap pada jalan yang sama, kemudian menunggu dia singgah dan menjemputku. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD