Ketika Louise terbangun, segalanya tampak buram. Namun ia dapat mengenali tempat itu, aromanya yang khas, dan suasananya. Tahun-tahun yang dihabiskannya di dalam rumah itu, sendiri dan kesepian, telah menajamkan seluruh indra-indranya, membuatnya merasa akrab dengan setiap sudut tempat di sana. Sebuah kursi kayu yang hampir reyot ada di seberang meja, kemudian karpet flanel merah, sofa berwarna biru tua yang ditempatinya, kemudian hiasan yang dipajang di dinding. Sebelumnya ada tiga bingkai, kini yang tersisa hanya dua. Ia tidak merasa malu sedikitpun ketika bangkit dari tempatnya karena hal itu. Tapi Ally telah menahannya, mendorong Louise agar tetap menyandarkan kepalanya di atas sofa. Louise bisa mengenali wangi parfum Ally, wanginya selalu mencolok, sementara gambaran sosok Ed yang buy

