Mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi di jalanan bebas. Rita berhenti untuk mengisi bahan bakar dan membeli kopi yang dijual di mesin kotak di tengah jalan. Ia membiarkan mobilnya terparkir di seberang jalan sementara Rita bergerak menyusuri jalur melandai menuju bukit. Ia mendaki undakan batu dan berhenti di dekat jembatan pembatas tepat dimana pemandangan kesibukan kota dapat dilihat dari sana. Rita tertegun saat dua titik cahaya kecil di kejauhan membesar dan suara gemuruh mesin yang keras terdengar begitu kereta melesat di hadapannya. Ia menggosokkan telapak tangannya hanya untuk merasa hangat. Udara dingin malam begitu menusuknya, sementara ia tidak memiliki rencana untuk melakukan sesuatu. Ada banyak hal yang menyita perhatiannya kala itu. Kemudian ia memikirkan penyataan yang d

