Tio menatap nanar pintu yang ditutup kasar oleh Anna. Matanya terlihat sayu.
'Apa aku sudah keterlaluan? Tapi, mau bagaimana lagi? Itu adalah satu-satunya cara untuk membuatnya sakit hati dan segera me-reject Thomas. Dengan begitu, balas dendamku sudah tercapai.' Batin Tio lalu tersenyum tipis. Ia pun beranjak dari kasur menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya sebelum tidur.
.
.
.
Anna berlari sambil menangis dengan senggugukkan, ia tak percaya bahwa Thomas akan setega itu dengannya. Selingkuh setelah sehari menikah? Bukankah itu keterlaluan?! Biasanya, diawal pernikahan pasangan suami istri seharusnya sedang menikmati masa-masa romantis berdua. Tapi, yang Anna alami sekarang sangat berbeda dari yang biasanya. Baru sehari ia menikah, ia melihat suaminya berciuman dengan wanita lain, lebih parahnya lagi suaminya lebih memilih si wanita selingkuhan dari pada dirinya.
'Kenapa aku yang mengalami semua ini moongoddes? Aku baru sehari menikah dengan mateku, jodoh yang telah kau siapkan untukku. Orang yang menghancurkan kehidupanku adalah mateku dan sekarang ia sudah menghancurkan hatiku moongoddes! Apa benar dia yang terbaik untukku?' Batin Anna sambil melihat rembulan yang bersinar begitu terangnya, bertolak belakang dengan keadaan hatinya.
Anna, sebaiknya kita pergi dari sini! Kita kembali ke pack redmoon saja!
Ujar Nithy memindlink Anna. Ia juga merasakan apa yang Anna rasakan saat ini.
'Baiklah. Mari kita pergi.' Balas Anna setuju dan segera berganti shif dengan Nithy karena ia tak ingin orang-orang di silvermoon pack mengetahui apa yang sedang ia alami saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya Nithy sampai di tempat tujuannya, pack redmoon. Dengan cepat ia berganti shif dengan Anna. Anna menghampiri penjaga yang bertugas menjaga pintu gerbang mansion pack redmoon. Si penjaga terkejut melihat kedatangan Anna sedangkan Anna tersenyum pada penjaga itu.
"Ho-hormat hamba luna." Ucap penjaga itu.
"Lama tak bertemu." Balas Anna masih dengan senyumnya.
"Apa ayah dan ibu ada di dalam?" Tanya Anna.
"Iya, Luna. Mereka ada di dalam." Jawab penjaga itu.
"Hm.. kalau begitu aku masuk dulu. Aku sangat merindukan mereka." Pamit Anna hendak melangkahkan kakinya memasuki mansion.
"Ah, iya luna." Balas panjaga itu menunduk.
"Panggil aku tuan putri saja, di sini aku adalah anak ayah dan ibu." Ucap Anna menghentikan langkahnya sejenak.
"Maaf luna saya tidak berani melakukannya. Saya takut alpha Thomas akan murka." Ucap penjaga itu menolak perintah Anna. Mendengar itu Anna menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah penjaga itu.
"Tenang saja, dia tidak ikut. Aku sendiri ke sini. Lagi pula dia sangat sibuk untuk ikut bersamaku ke sini." Ucap Anna setengah berbohong untuk menenangkan penjaga itu.
"Benarkah itu lu- eh maksud saya tuan putri?" Tanya penjaga itu tergagap.
Anna mengangguk menjawab pertanyaan penjaga itu.
"Jadi, panggil aku 'putri Anna' saja ya. Aku belum terbiasa dipanggil luna di sini."
"Baik putri Anna." Ucap penjaga itu.
"Kalau begitu aku mau menemui ayah dan ibu dulu." Pamit Anna meninggalkan penjaga yang tersenyum melihat punggungnya yang menjauh.
.
.
.
Anna memasuki ruang utama mansion pack redmoon, untuk mencari orang tuanya namun, yang dicari tidak ada di sana.
"Dimana mereka berdua? Kenapa mereka tidak ada di sini? Mereka belum berubah, masih saja melalaikan tugas mereka sebagai seorang pemimpin padahal sudah dua tahun mereka meninggalkan pack ini seharusnya ini adalah masa-masa sibuk mereka untuk mengelola pack ini." Keluh Anna kesal meninggalkan ruangan itu.
Anna melangkah dengan pasti, ia tidak perlu mencari orang tuanya ke seluruh penjuru mansion pack redmoon karena ia yakin kalau orang tuanya berada di kamar karena sudah malam.
Anna sampai di depan pintu kamar berwarna putih. Terukir indah nama Viole dan Rainha di tengah pintu itu.
Toktoktok
Anna mengetuk pintu dengan keras tanpa berniat untuk mengeluarkan suaranya. Viole dan Rainha yang sedang melakukan aktivitas suami istri terhenti karenanya. Viole kesal karena aktivitasnya terganggu sedangkan Rainha hanya menahan tawanya melihat suaminya yang mencoba untuk meredam amarahnya.
"Siapa yang berani mengetuk pintu sekeras itu?! Apa ia tak menyadari apa yang ia perbuat mengganggu aktivitas kita!". Kesal Viole.
"Sudahlah. Siapa tau ada hal penting."
Toktoktok
Ketukan pintu yang lebih keras kembali terdengar. Membuat Viole gemas.
"Sayang, kamu diam disini! Nanti kita lanjutkan." Ucap Viole beranjak dari ranjang untuk membuka pintu kamarnya dalam benaknya sudah tersusun rencana untuk menghukum orang yang berani mengacaukan aktivitasnya.
Kriieeett
"Berani sekali ka-" Viole menggantungkan ucapannya melihat siapa yang berada dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan Anna.
"Mau menghukumku karena mengganggu aktivitas rutin ayah yang sama seperti dulu?" Tanya Anna sinis memotong ucapan Viole sambil menatapnya tajam.
Viole terdiam seribu bahasa sedangkan Rainha langsung menghampiri keduanya karena mendengar suara Anna.
"Anna! Putriku!!" Ucap Rainha langsung memeluk Anna. Anna membalas pelukan ibunya namun tatapan matanya masih tajam melihat Viole yang diam mematung.
"Apa ayah tidak merindukanku?" Tanya Anna melepas pelukannya dengan ibunya. Mendengar itu Viole langsung memeluk Anna dan Rainha.
"Tentu tidak sayang! Ayah sangat merindukanmu. Mana suamimu?" Viole memeluk Anna dan Rainha lalu bertanya pada Anna karena ia tidak melihat Thomas di samping maupun di belakang Anna.
Anna terdiam mendengar pertanyaan sang ayah. "Apa aku tidak boleh kembali ke pack orang tuaku kalau aku tidak bersama dengan suamiku?" Tanya Anna tersenyum kecut pada sang ayah.
"Tentu saja tidak. Kau boleh datang kapan pun tanpa maupun bersama suamimu sayang, pack radmoon selalu terbuka untuk putriku yang cantik ini." Ucap Viole menjawil hidung Anna.
Anna mengusap hidungnya yang dijawil oleh Viole.
'Mungkin aku tidak akan pernah datang bersamanya ayah. Karena aku tidak mau kembali ke pack itu dan tidak mau bertemu dengannya lagi.' Lirih Anna dalam hatinya.
"Apa Thomas tidak tahu kalau kamu berkunjung ke sini?" Tanya Rainha menatap putri semata wayangnya.
"Aku sudah izin bu. Jadi, untuk saat ini tidak apa-apa." Jawab Anna berdusta.
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita makan malam bersama." Ajak Rainha pada suami dan putrinya. Anna dan Viole mengangguk setuju.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju ruang makan dengan Anna yang verada di trngah-tengah orang tuanya.
.
.
.
.
Tio keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di pinggangnya. Ia mengacak-acak rambutnya yang masih basah. Ia terlihat sangat seksi bagi kaum hawa yang melihatnya, namun untuk saat ini ia hanya sendiri di kamar.
"Apa dia tidak akan kembali ke kamar ini lagi?". Tanyanya pada dirinya sendiri sambil mengambil handuk kecil lalu ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
"Kenapa aku peduli?" Tanyanya lagi karena bingung dengan sikapnya yang bisa memikirkan hal lain selain balas dendamnya pada Thomas.