Bab 9 Daftar Kuliah

1082 Words
Hari Senin datang dengan langit yang cerah di atas kota. Bagi banyak orang, Senin hanyalah awal minggu kerja yang melelahkan. Namun bagi Allena, Senin ini terasa berbeda. Sangat berbeda. Hari ini adalah hari di mana ia akan benar-benar memulai langkah menuju mimpinya—mendaftar kuliah. Pagi di rumah keluarga Fernad berjalan seperti biasa. Terlalu rapi. Terlalu teratur. Allena sudah bangun sejak sebelum matahari sepenuhnya terbit. Ia membantu staf dapur menyiapkan beberapa kebutuhan sarapan Zacky, memastikan semuanya sesuai jadwal seperti biasa. Namun kali ini pikirannya tidak sepenuhnya berada di dapur. Ia terus melirik jam dinding. Hari ini… ia akan keluar rumah. Untuk urusan pribadinya. “Ibu Sumi sudah tahu?” tanya Mira sambil mengikat apron. Allena mengangguk. “Sudah. Aku izin setengah hari.” Mira menatapnya sekilas. “Untuk kuliah?” “Iya.” Mira tidak banyak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk kecil. “Bagus.” Satu kata sederhana. Namun bagi Allena, itu cukup berarti. --- Setelah semua pekerjaan pagi selesai, Allena menemui Ibu Sumi di ruang pelayan utama. Wanita itu sedang memeriksa daftar kebutuhan rumah. “Allena.” “Ya, Bu Sumi.” “Kamu jadi berangkat hari ini?” Allena mengangguk. “Ya, Bu. Saya mau ke kampus untuk pendaftaran.” Ibu Sumi menatapnya sebentar. Tatapannya seperti sedang menilai. Bukan meragukan. Tapi memastikan. “Jaga waktu.” “Jangan sampai mengganggu jadwal di rumah.” Allena langsung mengangguk cepat. “Baik, Bu.” Ibu Sumi lalu menyerahkan sebuah kartu akses kecil. “Ini transportasi dari pihak rumah.” “Supaya kamu tidak kesulitan.” Allena menerima kartu itu dengan sedikit ragu. “Terima kasih, Bu Sumi…” Wanita itu hanya mengangguk. “Gunakan dengan bijak.” --- Beberapa menit kemudian, mobil dari rumah Fernad sudah siap di depan gerbang. Allena berdiri di samping pintu mobil. Ia menoleh sebentar ke arah rumah besar itu. Rumah yang baru beberapa hari ia tinggali. Rumah yang masih terasa asing. Tapi juga mulai terasa… sedikit familiar. Ia menarik napas panjang. “Semoga berjalan lancar.” bisiknya. Lalu masuk ke dalam mobil. --- Perjalanan menuju kampus memakan waktu sekitar empat puluh menit. Selama perjalanan, Allena terus melihat ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi. Jalanan yang ramai. Orang-orang yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Semua terasa begitu hidup. Dan di antara semua itu, ia merasa seperti sedang memasuki bab baru dalam hidupnya. Bab yang selama ini hanya ia baca dalam mimpi. --- Kampus yang dituju adalah salah satu universitas pendidikan yang cukup terkenal. Begitu mobil berhenti di depan gerbang, Allena turun perlahan. Matanya langsung membesar. Gedung kampus itu tidak hanya besar. Tapi juga penuh dengan suasana yang membuat jantungnya berdebar. Mahasiswa berlalu-lalang. Beberapa membawa buku tebal. Beberapa sedang tertawa bersama teman-temannya. Allena berdiri sejenak. “Aku benar-benar di sini…” bisiknya pelan. Ia menggenggam tasnya lebih erat lalu melangkah masuk. --- Di bagian administrasi, Allena mengantri bersama beberapa calon mahasiswa lain. Tangan-tangannya sedikit dingin. Bukan karena udara. Tapi karena gugup. Ketika namanya dipanggil, ia langsung berdiri. “Nama?” “Allena.” Petugas administrasi memeriksa data di komputer. “Tujuan pendaftaran?” “Program studi pendidikan.” Petugas itu mengangguk. “Baik. Jalur beasiswa dari yayasan Fernad, ya?” Allena terkejut. “Ya…” Ternyata semua sudah disiapkan. Sampai sejauh itu. Ia hanya perlu mengikuti prosedur. Beberapa formulir diberikan. Semua terasa cepat. Terlalu cepat. “Silakan isi ini dan kembali ke loket dua.” Allena mengangguk. “Baik.” --- Di ruang tunggu, Allena duduk sambil mengisi formulir. Tangannya sedikit gemetar saat menulis nama sendiri di kolom pertama. Allena. Nama yang selama ini ia bawa sejak ditemukan di depan panti. Nama yang tidak ia tahu asalnya. Tapi kini nama itu akan tercatat resmi sebagai mahasiswa. Matanya sedikit memanas. “Aku benar-benar mau kuliah…” bisiknya lagi. --- Setelah semua dokumen selesai, ia dipanggil untuk verifikasi terakhir. Seorang dosen wanita tersenyum padanya. “Selamat ya. Kamu diterima di jalur beasiswa penuh.” Allena langsung terdiam. “Apa… benar?” “Iya.” “Selamat datang di dunia kampus.” Kalimat itu terasa seperti pintu yang terbuka. Allena menunduk dalam-dalam. “Terima kasih banyak…” Suaranya sedikit bergetar. --- Setelah keluar dari ruangan administrasi, Allena berdiri di halaman kampus. Angin bertiup pelan. Ia menatap langit. Hari ini seharusnya hanya pendaftaran. Tapi bagi Allena… ini lebih dari itu. Ini adalah bukti bahwa mimpinya tidak sia-sia. --- Namun di tengah rasa bahagianya, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Tugasnya di rumah Fernad. Zacky. Jadwal. Semuanya. “Aku harus cepat kembali…” gumamnya. Ia segera menghubungi mobil dari rumah Fernad. --- Di sisi lain kota, di rumah keluarga Fernad… Zacky sedang berada di ruang kerjanya. Laptop terbuka. Dokumen berserakan. Ibu Sumi masuk perlahan. “Tuan muda.” Zacky tidak menoleh. “Apa.” “Allena hari ini izin setengah hari.” Tangan Zacky berhenti sejenak di keyboard. Namun hanya sebentar. “Untuk apa.” “Daftar kuliah.” Ruangan menjadi hening. Zacky tidak langsung menjawab. Matanya tetap pada layar. Namun pikirannya sedikit berubah arah. “Sudah selesai?” “Iya.” “Baik.” Hanya itu. Tidak ada komentar lain. Tidak ada ekspresi tambahan. Tapi entah kenapa… ruangan terasa sedikit berbeda. --- Sore hari, Allena kembali ke rumah Fernad. Begitu masuk, Mira langsung menghampiri. “Cepat juga kamu balik.” Allena tersenyum kecil. “Iya, sudah selesai.” Juna yang kebetulan lewat ikut tersenyum. “Selamat ya.” Allena sedikit kaget. “Sudah tahu?” “Berita di rumah ini cepat,” jawab Juna santai. Allena tersenyum malu. “Terima kasih…” Ibu Sumi muncul dari belakang. “Langsung kembali ke tugas.” “Baik, Bu.” Allena segera mengganti pakaian kerja dan kembali ke rutinitasnya. Namun kali ini… hatinya jauh lebih ringan. --- Sore menjelang malam, Zacky turun dari lantai atas. Seperti biasa. Rapi. Diam. Sempurna. Ia berjalan menuju ruang makan. Allena sudah menunggu di samping meja, memastikan semuanya siap. Ketika Zacky duduk, ia melirik sekilas. “Sudah kembali.” kata Zacky datar. Allena sedikit terkejut. “Iya, Tuan.” Zacky mengangguk kecil. Tidak ada lagi percakapan. Namun sebelum Zacky mulai makan, ia berkata pelan. “Mulai besok, jangan ganggu jadwal saya.” Allena langsung mengangguk. “Baik, Tuan.” Zacky makan seperti biasa. Tepat waktu. Tepat porsi. Tepat segalanya. Namun untuk pertama kalinya… Allena merasa bahwa hidupnya tidak lagi hanya tentang rumah ini. Ia punya dunia lain yang mulai terbuka. Dan tanpa ia sadari… Zacky juga mulai menyadari sesuatu kecil yang berubah dalam keseharian rumahnya. Sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya. Allena sudah melangkah. Dan itu baru awal dari perubahan besar yang akan datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD