Villain: Chapter Delapan

2043 Words
PLAK! Satu tamparan membuat Shanna terbangun dari tidurnya. Hal itu juga yang membuat Shanna sadar jika dirinya sudah tidak ditutupi oleh kain hitam yang menutupi muka nya. Dengan mata memicing dapat dia lihat jika Dionald tengah berdiri di hadapannya dengan senyuman sinis. "Tidur nyenyak, Tuan Putri?" tanya Dionald sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur berukuran king size tak jauh dari Shanna Shanna menatap sekitarnya yang tidak sesuai ekspektasi nya ketika wajahnya ditutup. Shanna berada di dalam sebuah kamar berukuran besar. Lengkap dengan furniture yang mewah. Wajah Shanna kembali tersentak ke kanan ketika Dionald kembali melayangkan tamparan nya pada Shanna. "AKU BERTANYA APAKAH KAU TIDUR DENGAN NYENYAK?!" bentak Dionald Shanna menatap Dionald dengan hampa sebelum akhirnya sebuah senyuman sinis turut menghiasi wajahnya. "Kau pikir? Kau tidak sebodoh itu dengan berfikir jika aku akan tidur nyenyak dengan keadaan seperti itu, kan?" sarkas Shanna Dionald hendak menampar Shanna kembali ketika sebuah pikiran keji memasuki pikiran nya. "Ah dibanding dengan menyiksa mu, aku mempunyai kesepakatan." ujarnya dengan senyuman miring Shanna menatap Dionald dengan datar sebelum akhir nya mendengus meremehkan. "Kesepakatanmu hanya berputar pada harta, tahta dan s**********n. Isi kepala mu tidak beda jauh dengan ayahmu. Sepertinya hanya David yang berbeda diantara kalian." sahut Shanna meremehkan Dionald menggeram marah. Dia beranjak mendekati Shanna dan menjambak rambut panjang Shanna hingga kepala Shanna mendongkak dengan keras. Amarahnya semakin menjadi jadi ketika dia tidak menemukan setitikpun raut ketakutan di wajah Shanna. "Jadilah pemuas nafsu ku dan aku akan membiarkan mu hidup nyaman di istana ku ini!" sentak Dionald Senyuman miring Shanna semakin terlihat jelas ketika mendengar ucapan Dionald. "Benarkan ucapan ku? Kepala mu hanya berisi nafsu." bisik Shanna "Kau ingin mengurungku disini. Menjadikanku boneka mu dan disisi lain kau akan merayu kakek untuk menyerahkan perusahaan padamu. Apa aku benar?" lanjut Shanna 'Maaf jika keputusanku membuatmu tertekan, Shanna. Tapi aku tidak bisa mempercayai The Legiond pada cucu ku yang lain nya.' Ucapan Kakek nya kembali terdengar di telinga Shanna. "Pilihan mu hanya dua, Shannaya. Jadi pemuas nafsu ku atau mati di tangan ku?!" bentak Dionald "Aku tidak sudi menjadi kedua nya." seru Shanna "Sejujur nya aku penasaran sudah berapa lama kau merencanakan hal ini, Dionald. Kau terlihat tenang, tidak seperti Annie yang terang terangan ingin membunuhku." ujar Shanna Dia mencoba mengulur waktu. Sudah dua hari sejak dia di kurung dan selama itu dia mencoba untuk melonggarkan ikatan di tangannya lumayan membuahkan hasil walaupun sedikit. Ikatan itu sedikit melonggar. Tidak terlalu ketat mencekik seperti sebelum nya. Karena hal itu juga, Shanna mengantuk dan jatuh tertidur setelah usaha nya membuahkan hasil. Dia hanya membutuhkan sedikit lagi waktu sebelum akhirnya berhasil membuka ikatan di tangannya. Beruntungnya kursi yang Shanna duduki sudah berhasil Shanna dorong hingga menempel dinding. Sehingga apa yang sedang dia lakukan tidak akan terlihat oleh Dionald yang diam di depannya. Dionald menggeram marah. Dia membelakangi Shanna dan mulai melempar lampu hias. Dia menghardik Shanna dengan keras "KARENA KAU AKU MENJADI SEBATANG KARA! KARENA KAU DAVID TIDAK MENGANGGAPKU ADIKNYA!" "Kau dendam padaku? Dendamlah pada ayahmu. Jika dia tidak bertingkah, maka semua ini tidak akan terjadi." balas Shanna Mata Dionald berkilat marah. Dia berjalan cepat menghampiri Shanna sebelum akhirnya mencengkram dagu Shanna dengan erat. "Melihat wajahmu membuat ku muak." desis nya "Sayang nya wajah ini terlalu cantik dan indah untuk menjadi mayat saat ini." lanjutnya "Aku akan membuat wajahmu hancur hingga tidak berbentuk dan membuat mayat mu sulit di kenali!" seru Dionald sambil tertawa keras Shanna menatap Dionald dengan datar sebelum akhirnya tersenyum meremehkan. "Kau butuh bukti? Aku akan langsung membuktikan nya!" teriak Dionald Dia membuka kaos yang di pakainya. Menampilkan tubuh kotak kotak yang entah dibentuk sejak kapan. Dia hendak menerjang Shanna ketika Shanna mendahului untuk menendangnya. Shanna dengan cepat berdiri dan melepaskan ikatan tali tambang di tangannya. Dia hendak membuka pintu kamar ketika Dionald kembali bangkit dan langsung mencengkram pergelangan tangan Shanna. Dia mendorong tubuh Shanna hingga membentur dinding. Kepalanya sedikit berdengung ketika Dionald mencengkram rahang nya dan mencoba mencium nya. Shanna terdiam sejenak. Kedua tangannya tertahan oleh Dionald di dinding. Dia menunggu saat yang tepat ketika Dionald memiringkan wajahnya, mencoba memperdalam ciuman nya pada Shanna. Sebelum akhirnya Shanna membuka mulutnya dan mengigit bibir Dionald hingga berdarah. "f**k off!" umpat Shanna Untuk pertama kali nya dalam sejarah hidup Shanna. Dia mengumpat. Hal lain nya yang patut di syukuri oleh Shanna adalah dia berlatih bela diri sejak kecil. Jadi ketika berada di situasi seperti ini, Shanna mempunyai banyak pilihan. Bertahan atau menyerang. Dengan cepat, Shanna langsung menbuka pintu nya. Dia memanfaatkan keadaan dimana Dionald sedang merintih kesakitan sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah. "KAU KIRA SETELAH KELUAR DARI KAMAR INI, KAU AKAN SELAMAT DAN BAIK BAIK SAJA? AKU TIDAK SEBODOH ITU, SHANNAYA!" Dionald berteriak marah Shanna dengan cepat berlari kecil. Menuruni tangga menuju ke lantai satu. Dia tersentak kecil ketika mendapati banyak nya pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam menjaga tempat ini. Shanna berdecak kesal. Tatapan nya teralih pada sepucuk pistol yang terdapat di meja kecil lengkap dengan sebuah box berisi peluru. Dia menatap keadaan sekitar sebelum akhirnya mengambil kedua benda itu dengan tergesa. Dia mengecek jumlah peluru yang terdapat pada pistol. "Ini lumayan. Aku harus menghemat peluru dalam box ini." gumam nya Dia keluar dari persembunyian nya sambil menodongkan pistol yang dia pegang. Setelah memastikan jika ruangan yang akan dia masuki kosong, dia langsung menurunkan pistol itu. Kembali berjalan dengan mengendap endap, mencari sebuah pintu atau tempat persembunyian. Shanna sedang berjalan di sebuah lorong panjang, ketika mendengar teriakan Dionald yang menyuruh para bawahannya untuk mencari Shanna. Dengan cepat, kaki Shanna memasuki sebuah ruangan yang berada tepat di sebelah kanan. Dia dengan cepat mengunci pintu itu. Bukannya merasa tenang, Shanna justru harus menahan mulutnya agar tidak terkesiap atau berteriak. Shanna menatap isi ruangan itu. Merah. Semua berwarna merah. "Apa apaan ini?!" serunya tertahan Ruangan ini dipenuhi dengan darah. Pada meja kecil di samping tempat tidur, pada dinding, pada lantai bahkan pada tempat tidur nya sendiri. "Monster." lirih Shanna Tanpa mengendurkan pertahanan nya, Shanna melangkahkan kakinya berkeliling mengamati isi ruangan itu. "Semua darah ini sudah mengering..." gumam Shanna. Dia mencoba mengukur telapak tangan yang berbekas di dinding itu dengan telapak tangannya sendiri. "Perempuan. Pemilik bercak darah ini adalah perempuan." lirih Shanna Shanna terdiam sejenak. Dia jelas tahu jika Dionald adalah alasan dari semua bercak darah ini. "Aku harus bisa memutar balik keadaan. Tapi bagaimana? Ponsel ku bahkan tidak ada bersama ku." ujar Shanna Shanna kembali mengetatkan kewaspadaan nya ketika mendengar suara rintihan dari dalam sebuah ruangan. Dia berjalan mendekat pada sebuah pintu. Memastikan jika suara suara lirih itu memang berasal dari sana. Shanna membungkus tangannya menggunakan kaos yang di pakainya. Dia berusaha untuk tidak meninggalkan sidik jari dimana pun. Alangkah terkejutnya Shanna ketika menemukan seorang perempuan muda yang mungkin umurnya dibawah Shanna. Perempuan itu berada dalam bathub yang dipenuhi dengan darah. Shanna bahkan ragu jika perempuan itu masih hidup seandainya tidak terdengar suara suara lirih dari mulut perempuan itu. "Kau masih bisa bertahan?" bisik Shanna "Aku tidak akan bisa membawamu bersama ku. Kau jelas akan merepotkan ku dan peluang untuk melarikan diri dari tempat ini akan lenyap." lanjut Shanna dengan suara pelan "Tapi mungkin aku bisa mencari bantuan untuk mu ketika aku berhasil melarikan diri nanti." ujar Shanna Shanna mengerutkan dahinya ketika melihat perempuan itu berkali kali membuka mulutnya. Seakan sedang berbicara, tapi tidak terdengar suara dari mulutnya. Akhirnya Shanna berinisiatif mendekat, dia mendekatkan telinga nya pada perempuan itu. Dia mendengarkan ucapan lirih perempuan itu dengan seksama. Suara itu benar benar kecil. Sangat mustahil mendengarnya dengan jarak Shanna yang sejauh tadi. "Baiklah, terimakasih. Maaf karena tidak bisa membawa mu." ujar Shanna Perempuan itu mengangguk pelan sebelum akhirnya menutup kedua matanya. Shanna langsung bergerak cepat. Keluar dari kamar mandi dan membuka sebuah lemari berukuran besar yang berisi pakaian pakaian wanita. Tangannya mengetuk pelan bagian dalam dari lemari itu. Mencari sebuah suara yang berbeda dengan bagian lainnya. Dia langsung menendang bagian dalam lemari yang terasa kosong itu. Shanna melakukan nya dengan cepat karena suara derap langkah sudah mulai terdengar dari luar kamar. Dan tidak lama setelahnya terdengar suara dobrakan di pintu kamar bersamaan dengan Shanna yang berhasil membuka bagian belakang lemari. Dia dengan cepat menuruni tangga yang berada di balik lemari. Menuju ke ruang bawah tanah dan berlari menuju sebuah pintu yang membatasi nya dengan dunia luar. "Di... Belakang lemari. Ada jalan menuju ruang bawah tanah. Kau harus berlari lurus dan akan menemuka sebuah pintu menuju keluar dari rumah monster ini..." Shanna mendengar kembali bisikan lirih dari perempuan itu. "Dionald gila! Apa yang dia lakukan selama ini sebenarnya?!" umpat Shanna Jujur saja tubuhnya mulai melemah. Dua hari tubuhnya tidak mendapatkan asupan makanan sama sekali. Bahkan air sekalipun. Tapi Shanna lebih baik mati kelelahan dari pada harus mati setelah sebelumnya di jadikan pemuas nafsu Dionald dan para bawahannya. "Aku tidak akan pernah sudi! Jika memang aku akan mati setelah sebelumnya di lecehkan, aku akan menghantui mereka. Akan aku siksa mereka dengan menampilkan wajah menyeramkan ku." ujar Shanna penuh tekad Shanna langsung membuka pintu di depannya yang untungnya tidak dalam keadaan terkunci. Angin langsung menerpa wajahnya begitu Shanna membuka pintu itu. Shanna langsung berlari keluar tanpa membiarkan dirinya membuang waktu. Dia mengamati lingkungan sekitarnya. Hutan, ilalang dan air. Hanya tiga hal itu yang dapat dia dengar selama dia berlari menjauh. Tidak ada suara kendaraan atau bising nya suara suara khas perkotaan. "Dimana aku sebenarnya?" tanya Shanna Dia terdiam sejenak. Memanfaatkan keadaan yang sepi dan juga jaraknya dengan rumah milik Dionald sudah jauh. Shanna menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar. Dia memikirkan langkah seharusnya yang harus dia lakukan. 'Jika benar tidak ada akses jalan kemana pun, sudah jelas aku akan tamat disini. Tidak ada ponsel atau alat yang bisa aku pakai untuk meminta seseorang mengirimkan bantuan.' pikirnya Pikiran Shanna terhenti ketika mendengar suara derap langkah yang semakin mendekat. Disusul dengan seruan seruan yang meminta Shanna untuk berhenti. "NONA KEMARILAH!" "KAU TIDAK AKAN KECEWA MENDAPATKAN PELAYANAN KAMI!" Shanna mendesah kesal. Dia menatap sepucuk pistol di tangannya sebelum akhirnya kembali berlari. Dia tidak boleh memakai benda ini sembarangan. Dia masih harus bersembunyi dari orang orang itu. Kedua mata Shanna membola sempurna ketika melihat jika sudah tidak ada lagi hutan di depan sana. Mau tidak mau Shanna harus mengandalkan kemampuan menembaknya untuk membela diri. "BERHENTI, NONA. KAU SUDAH TIDAK BISA LARI KEMANA PUN!" Shanna menghentikan larinya. Dia berbalik dan menatap sekumpulan pria bertubuh tinggi besar di belakang nya. Senyum sinis nya terlihat ketika dia mendapati ada seseorang diantara para pria itu yang mengarahkan sebuah senapan pada nya. 'Apa dia pembunuh bayaran? Hebat. Dionald pasti akan jatuh miskin setelah ini.' Sebuah tembakan dikeluarkan oleh si pembunuh bayaran. Pelurunya melewati bahu Shanna bahkan hampir mengenai nya. "Berhenti, Nona! Itu tadi adalah sebuah peringatan!" seru si pembunuh bayaran Shanna meringis kecil. Dia berusaha berlari menjauh dari semua laki laki itu. 'Aku masih bisa berlari. Kaki ku tidak terluka.' "NAHH, MAU KEMANA NONA?!" Shanna berdecak kesal. Dia mengedarkan pandangannya, menatap semua pria bertubuh besar yang mengelilingi nya dengan wajah penuh nafsu. "Cih, menjijikan." Shanna berdecih Dia menyiapkan postur tubuhnya, akan melawan siapapun yang berani menyentuhnya dengan lancang. BUKK! Shanna menendang kuat seorang pria yang mendekat kearahnya. Tubuhnya bergerak lincah menyikut dan memukul semua pria yang terus menerus mendekat kearah nya. Seorang pria mengaduh kencang. Gigi nya patah karena Shanna menendangnya tepat di rahang. Sebagai sentuhan terakhir, Shanna mengeluarkan pistol yang dia sembunyikan. Dia menarik pelatuk pistol itu, mengarahkannya pada bagian bagian fatal yang dapat melumpuhkan seketika. "Seharusnya kalian tahu siapa aku. Ayahku adalah pemilik perusahaan yang memproduksi senjata api untuk tentara. Bukan hanya menjadi pemiliknya, Ayahku juga mencintai senjata senjata itu." ujar Shanna Nafasnya terengah, tubuhnya sudah mulai pada batasnya untuk bertahan. DORR "Karena itu, Ayahku mengajarkan semua anaknya untuk memakai senjata kesayangannya." lanjut Shanna datar Shanna menutup kedua matanya. Bayang bayang kedua orang tua dan adiknya benar benar mendorongnya agar tidak menyerah. Dia kembali membuka kedua matanya ketika mendengar suara air. "Jembatan? Sungai?" gumamnya Hal itu membuat nya kembali berlari menjauh. Keluar dari arah hutan dan menghampiri sumber suara. Dia menoleh ke belakang, tidak terlihat satupun dari orang orang yang mengejarnya. Semua sudah tumbang dengan darah yang tersimbah dimana mana. Sejauh ini Shanna berlari, dia menyadari sesuatu. Jika dia di culik dan dibawa ke pulau pribadi milik Dionald. Terbukti dari tidak ada satupun orang lain yang dapat menolong nya. Hingga pikiran Shanna menggelap. Dia mendekat ke tepi jembatan dan berdiri di atas pembatas jembatan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD