Sang Jun terus berlari dengan membawa Ae Ri yang tak sadarkan diri di atas punggungnya. Hanggu, Hanggu, Hanggu. Itulah kata yang terus muncul di benaknya. Ia harus segera mencapai Hanggu dan menemui Hae Won.
Sang Jun menembus lebatnya hutan. Langkahnya terhenti di jalan menanjak menuju Hanggu. Napasnya terengah-engah. Ia tak boleh berlari lagi. Usai membetulkan posisi Ae Ri yang masih tak sadarkan diri di atas punggungnya, ia mulai berjalan hati-hati menapaki jalan setapak menanjak yang membawanya ke Hanggu.
"Bertahanlah, Agasshi. Sebentar lagi. Bisik Sang Jun di tengah napasnya yang terengah-engah karena harus menapaki jalan menanjak menuju Hanggu. Ia mengumpulkan sisa tenanganya untuk mencapai puncak. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai Hanggu.
"Ok Hae Won Agasshi!" Sang Jun berteriak memanggil nama Hae Won saat ia memasuki gerbang Hanggu. "Agasshi!" ia berlari menuju pendopo dan terus berteriak.
Hae Won muncul dari lorong samping yang menghubungkan ke kebun sayuran. Ia membawa keranjang bambu berisi sayuran di tangannya. Langkahnya pelan, tangannya sibuk mengutak-atik sayuran dalam keranjang dan kedua matanya meneliti apakah semua sayuran yang ia butuhkan sudah lengkap.
"Agasshi!" Panggil Sang Jun yang melihat Hae Won muncul dari arah kiri. "Agasshi!" ulangnya memanggil Hae Won.
Langkah Hae Won terhenti. Kedua matanya melebar, terbelalak melihat Sang Jun berdiri di dekat pendopo dengan membawa seseorang di punggungnya. Keranjang sayuran di tangannya jatuh ke tanah ketika ia menyadari pakaian yang dikenakan orang yang berada di atas punggung Sang Jun. Hae Won berlari menghampiri Sang Jun.
Sang Jun duduk dengan gusar di depan kamar tempat Ae Ri dirawat. Satu jam berlalu, tapi Hae Won belum juga keluar dari kamar itu. Entah berapa kali ia mendesah usai memerhatikan pintu kamar yang masih tertutup rapat. Ia cemas sekaligus menaruh harapan besar agar Ae Ri selamat. Ketika pintu kamar terbuka, spontan ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Hae Won.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya Sang Jun pada Hae Won yang baru saja keluar kamar. Ia menatap ember air yang dibawa Hae Won. Air yang sebelumnya bening kini berganti warna menjadi merah.
Sang Jun menelan ludah menatap air dalam ember itu. "Apa dia baik-baik saja?" Ia terbata. Ini salahku. Jung Ae Ri Agasshi terluka karena aku. Ia merutuki kebodohannya dalam hati.
"Doryeonnim?" panggil Hae Won lembut.
"Iya?" Sang Jun tersadar. Ia berdeham, lalu kembali berkata, "Iya? Jung Ae Ri Eonni, baik-baik saja, kan?" dengan nada yang lebih rendah.
Hae Won tersenyum. "Terima kasih karena telah membawa Eonni kembali. Doryeonnim tidak perlu khawatir. Eonni baik-baik saja. Saya akan menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk Doryeonnim. Pakaian Doryeonnim..." sambil berusaha melihat bagian belakang pakaian Sang Jun yang kotor terkena darah Ae Ri, "saya akan mencucinya. Tolong tunggu sebentar."
"Agasshi!" Sang Jun menahan langkah Hae Won dengan memegang lengan gadis itu. "Apa benar Jung Ae Ri Agasshi baik-baik saja?!" ia benar-benar mengkhawatirkan Ae Ri hingga tergambar jelas di wajahnya.
"Eonni pernah mengalami yang lebih parah dari ini dan selamat. Karenanya, kami menjulukinya, 'Kucing dari Hutan Timur'. Beberapa kali Eonni selamat dari kematian. Eonni seperti kucing yang memiliki sembilan nyawa. Doryeonnim jangan khawatir lagi. Tunggu sebentar, saya akan menyiapkan pakaian dan air hangat. Doryeonnim juga harus beristirahat."
Sang Jun mengangguk pelan dan melepas genggamannya pada lengan Hae Won.
***
Hak Kun dan pelayan pribadi Sang Jun telah kembali ke Hanggu. Sang Jun yang sudah mengganti pakaiannya menolak beristirahat dan memilih duduk di depan kamar Ae Ri menunggu gadis itu sadar.
Hae Won mengobati luka kecil pada lengan pelayan pribadi Sang Jun. Sesudahnya ia meminta pemuda itu untuk beristirahat. Ia pun meminta Hak Kun untuk beristirahat usai mengobati luka-lukanya. Selesai dengan tugasnya, Hae Won kembali menemui Sang Jun. Ia membawa teh herbal untuk bangsawan muda itu.
"Teh herbal ini akan membuat Anda merasa lebih baik," Hae Won meletakkan nampan kayu tempat mangkuk porselen berisi teh herbal di depan Sang Jun. "Doryeonnim harus istirahat setelah meminumnya. Dengan begitu tenaga Doryeonnim akan segera kembali."
"Bagaimana aku bisa istirahat sedang Jung Ae Ri Agasshi masih tak sadarkan diri? Itu semua salahku." Sang Jun menundukkan kepala penuh sesal.
"Semua itu tidak akan terjadi jika Sang Penguasa Alam tak mengizinkan. Takdir Eonni hari ini adalah demikian. Semua itu sudah digariskan dan bukan merupakan kesalahan Doryeonnim."
Sang Jun mengangkat kepala dan menatap Hae Won. Gadis itu tersenyum padanya.
"Apa Anda tidak ingin menyambut Eonni dengan wajah segar?"
"Iya??"
"Kalau Anda terus duduk di sini dan tidak beristirahat, maka kondisi Anda bisa menurun. Tidak akan segar seperti biasanya. Eonni pasti akan sedih melihatnya. Doryeonnim jadi seperti itu, karena Eonni terluka dan tak sadarkan diri. Eonni akan memiliki pemikiran sama, Doryeonnim jadi begini karenanya. Apa Anda berdua senang berada dalam lingkaran itu?"
Sang Jun tersenyum dan mengangguk. Ia meraih mangkuk porselen berisi teh herbal dan meminumnya pelan-pelan.
"Rasa obat memang tak pernah enak." Komentar Hae Won membuat Sang Jun tersenyum.
"Jadi Ok Hae Won-ssi seorang mudang dan tabib di Hanggu?" Sang Jun memulai obrolan yang sebenarnya hanya pengalihan agar Hae Won tak memaksanya untuk istirahat.
"Anda percaya saya seorang mudang?"
"Mm?" Sang Jun menunjukan ekspresi bingung.
Hae Won tersenyum. "Saya tidak begitu ahli dalam urusan bertarung, karenanya saya memilih belajar ilmu pengobatan dari ibu pengasuh kami. Dengan demikian saya akan berguna di Hanggu."
"Jadi kemarin kau memasuki hutan untuk mencari tanaman obat?"
"Benar sekali." Hae Won kembali tersenyum manis.
"Oh. Itu butuh keberanian luar biasa. Seorang gadis berjalan sendiri di tengah hutan."
"Hanya karena sudah terbiasa."
Sang Jun meneguk sisa teh herbal yang tersisa hingga habis.
"Lalu bagaimana Doryeonnim bisa lolos dari medan pertempuran?" Giliran Hae Won yang bertanya. Ia penasaran bagaimana Tuan Muda itu bisa lolos dari kepungan para pembunuh.
"Tadinya aku berpikir itu pasukan bantuan dari Hanggu."
"Pasukan bantuan? Itu tidak mungkin. Abonim membawa seluruh pemuda yang tersisa bersamanya. Hanya saya yang tersisa di sini. Doryeonnim mendapat bantuan dari pasukan misterius?"
"Entah pasukan atau hanya beberapa orang. Saat mataku terbuka, pembunuh bayaran yang hendak menyerangku sudah tergeletak tak bernyawa dengan anak panah menancap di dadanya. Aku tak sempat melihat siapa yang membantu kami karena saat aku berbalik, aku melihat Jung Ae Ri Agasshi jatuh pingsan, tak sadarkan diri. Aku hanya ingin segera membawanya kemari tanpa memedulikan siapa yang telah membantu kami."
Hae Won diam. Tak ada komentar yang keluar dari mulutnya. Ia bertanya-tanya siapakah yang telah membantu Ae Ri dan Sang Jun?
"Hae Won-ssi."
"Mm?" Hae Won tersadar dari lamunannya
"Kau mengetahui sesuatu?"
"Tidak. Hanya penasaran pada sosok penolong misterius itu. Aa, Doryeonnim harus istirahat agar teh herbal tadi bereaksi sempurna. Jangan khawatir, saya akan menjaga Eonni di sini. Saya akan memberi tahu Doryeonnim begitu Eonni kembali sadar."
Sang Jun mengangguk, lalu bangkit dari duduknya. Ia pamit untuk beristirahat.
Hae Won menghela napas. Rasa penasaran itu masih tergambar jelas di wajahnya. "Apa benar peri hutan itu ada? Mereka bersenjatakan panah?" gumamnya lirih.
***
Suasana masih teduh di dalam hutan belantara walau waktu telah menunjukkan tengah hari. Burung-burung berkicau bersahutan. Sinar matahari menerobos masuk dari celah pepohonan yang rindang dan tinggi menjulang.
Seekor kelinci putih melompat cepat. Bukan melompat, tapi berlari menyusuri tanah hutan yang dipenuhi rerumputan. Gerakannya gesit menghindari akar pohon atau perdu yang menghadang jalan. Tak jauh di sisi kanan si kelinci, tampak kucing hutan yang tak kalah lincah berlari. Kedua hewan itu seperti balapan atau mungkin si kucing berusaha mengejar si kelinci yang menjadi target makan siangnya.
Si kelinci putih lebih dulu keluar hutan dan sampai di tepian sungai. Ia celingukan, lalu melompat pelan menuruni bebatuan menuju sebuah gua yang berada di dekat sungai.
"Hyung, kau kah itu?" Seorang pemuda dengan baju berwarna hijau keluar dari dalam gua. Rambut hitam panjangnya ia gelung sebagian dan sisanya ia biarkan terurai.
Si kelinci putih segera menghentikan langkah tak jauh di depan pemuda tampan berbaju hijau. Ia terengah-engah dan diam menatap pemuda yang berdiri gagah di hadapannya.
"Ah! Kau ternyata! Dari mana saja kau?" Tanya pemuda tampan berbaju hijau pada si kelinci putih.
Tubuh kelinci putih itu bergetar. Asap mengepul setelah terdengar bunyi, blup. Kelinci putih itu berubah menjadi pemuda tampan berambut putih. Namun, ada dua telinga kelinci di sela-sela rambutnya. Deok Ki, si siluman kelinci putih tersenyum lebar. Wajahnya sumringah dengan napas masih sedikit terengah-engah. "Hyung! Hari ini aku menang!" Lapornya dengan riang.
"Ck!" Cho Rok, pemuda tampan berbaju hijau, berdecak sebagai respon dari laporan Deok Ki.
"Hyung, tak suka aku menang?" ekspresi Deok Ki berubah kecewa. "Aku menang balapan lari dengan Yang Yi. Hyung tak suka mendengarnya?"
"Apa pentingnya lomba lari?!" Cho Rok kesal.
Seekor kucing hutan berwarna coklat dengan motif tutul hitam datang menyela obrolan Deok Ki dan Cho Rok. Asap melingkar bak angin topan kecil menyelubungi tubuh kucing hutan itu. Ia pun berubah menjadi pemuda tampan berbaju coklat dengan dua telinga kucing di sela rambutnya.
"Yang Yi, aku suka caramu mengubah diri," puji Cho Rok pada Yang Yi si siluman kucing hutan yang baru datang bergabung. "Tak seperti dia yang selalu mengejutkan dengan bunyi blup itu," lanjutnya sembari menuding Deok Ki dengan lirikan mata.
"Itu tidak indah. Sama sekali tidak indah!" Deok Ki melipat tangan di d**a. Ia ngambek. Kesal dibandingkan dengan Yang Yi si kucing hutan. "Kelinci dan kucing kan tak sama. Kami punya cara masing-masing."
"Ya, tak sama. Tipe pemburu dan buruan. Sejak kapan dua tipe berlawanan ini bisa bermain-main bersama?" Cho Rok menggelengkan kepala, lalu bergantian mengamati Yang Yi dan Deok Ki.
"Sejak Ha Yan Hyung menolong kami!" Deok Ki dan Yang Yi menjawab bersamaan.
"Aigo...." Cho Rok kembali menggeleng-gelengkan kepala. "Oya, kalian tahu Ha Yan Hyung ke mana?"
"Ha Yan Hyung tak di sarang?" Yang Yi balik bertanya.
"Kalau Hyung ada di dalam, aku tak akan bertanya! Ck!" Cho Rok berdecak kesal.
"Aku tak melihat Hyung sejak pagi." Deok Ki menatap Cho Rok, lalu Yang Yi.
Ketiganya diam. Lalu tatapan Cho Rok tertuju ke arah Deok Ki dan Yang Yi sebelumnya muncul.
"Hyung!" Cho Rok menyambut pemuda berbaju putih dengan rambut putih panjang yang tergelung sebagian. "Hyung dari mana?"
Ha Yan, pemuda berbaju putih dan berambut putih panjang tergelung sebagian, tersenyum manis. "Hanya jalan-jalan. Hah... lembap dan hangat usai hujan badai kemarin, bukankah itu bagus untuk jalan-jalan?"
"Hobi kaum ular." gumam Deok Ki membuat Cho Rok segera mendelik padanya. "Itu kenyataan, kan?" protesnya.
Ha Yan tersenyum melihat tingkah adik-adiknya. "Kalian balapan lagi?"
Pertanyaan Ha Yan membuat wajah Deok Ki kembali sumringah. "Iya. Dan aku menang dari Yang Yi." Ia mengulang laporannya dengan antusias.
"Tipe buruan memang harus berlari kencang agar selamat dari tipe pemburu." Yang Yi beralibi membantah kekalahannya.
Lagi-lagi Ha Yan tersenyum melihat tingkah adik-adiknya.
"Hari ini ada p*********n di hutan atas. Pasukan berbaju hitam pada rombongan. Hanggu. Bantuan itu, apakah Hyung yang melakukannya?" Cho Rok bertanya pada Ha Yan dengan nada dan ekspresi serius.
"p*********n? Bantuan?" Ha Yan terlihat tak paham.
"Serangan anak panah itu ulah Hyung kan? Aku tiba saat pertempuran usai. Pemuda Hanggu itu berhasil menumpas sisa pasukan berbaju hitam. Mereka pembunuh bayaran yang dikirim untuk menghabisi hakim baru. Hyung yang membantu mereka? Serangan anak panah itu, aku tahu itu ulah Hyung."
Deok Ki dan Yang Yi diam. Mereka menatap Cho Rok lalu Ha Yan.
"Hah.... Rakyat Haedochi mengharapkan hakim baru yang adil. Aku melihat aura positif padanya. Dan Hanggu, selama ini mereka berjuang keras untuk melindungi hutan ini dari para penjarah dan tangan-tangan serakah."
"Tapi mereka manusia!" Cho Rok memotong penjelasan Ha Yan. "Bukankah kita tak boleh ikut campur urusan manusia?"
Ha Yan tersenyum. "Aku tak mau kalian mencampuri urusan manusia karena aku khawatir..." ia diam sejenak, "kita hidup berdampingan. Selama ini, secara tak sengaja Hanggu melindungi kelangsungan hidup kita. Posisi mereka terjepit dan pohon-pohon memintaku untuk membantu mereka. Jika alam tak ingin aku membantu mereka, maka ia tak akan menuntunku ke sana. Ini takdir."
Cho Rok bingung mendengar jawaban Ha Yan.
Ho Yan tersenyum dan menepuk pundak Cho Rok, lalu berjalan memasuki gua. Deok Ki dan Yang Yi turut pergi, meninggalkan Cho Rok yang berdiri terdiam.
***