BAB 4: Sedikit kemajuan

1005 Words
" Kayanya gak aman ni, mending gue kabur." Dengan ketakutan Toni pun keluar kelas, tak lama dia pun masuk kembali dengan tampang betenya di ikuti oleh Pak Jafar di belakang nya yang membawa tongkat saktinya. "Pelajaran apa hari ini?" tanya pak Jafar dengan menyenderkan b****g nya di depan meja guru sambil memainkan tongkat saktinya. "Ki-kimia pak." Cicit sang ketua kelas dengan gugup karna di tatap dengan guru killer nomer wahid di cakrawala. "Wah beruntung ya kalian guru kimia kalian ga masuk hari ini karna ada pelatihan, jadi hari ini kelas kalian bebas pelajaran." Kata pak Jafar. "Tapi jangan seneng dulu kalian! kalo sampe ada yang keluar kelas atau ada yang ribut-ribut, nanti bapak hukum lari lapangan basket dan bersihin seluruh toilet sekolah! kalo gitu bapak tinggal dan jangan berisik. Tolong untuk ketua kelas di catat nama-nama yang berbuat ulah, nanti serahin ke bapak." Lanjutnya dengan nada santai tapi mengintimidasi setiap yang di tatap. Gak salah si kalo pak Jafar di jadiin guru BK karna memang sangat berwibawa dan tegas tapi entah mengapa semua wibawa dan ketegasannya lenyap ketika berhadapan dengan anggota inti dari dragonfury, ya siapa lagi kalo bukan Ardan cs, sekarang pun mereka tampak santai menanggapi setiap ucapan dari pak Jafar. Sepeninggalan pak Jafar, kelas yang tadinya hening pun mulai rame kembali seakan-akan ucapan guru BK hanya angin lalu. "Ekhem." Dehaman Ardan seketika menarik perhatian Alana yang tengah melamun, ia pun melirik ke arah ardan. "Kenapa Ar? mau keluar?" "Ga." "Terus?" "....." "Aneh." Gumam Alana dengan melipat kedua tangan di meja lalu menenggelamkan kepalanya ke lipatan tangan itu. Dengan nafas gusar Ardan mencari kata yang pas untuk di utarakan ke Alana, sebenernya hanya ingin mengajak Alana untuk ikut ke acara rutin bulanan genk motornya tapi dia merasa sangat gugup untuk mengatakannya. "Kenapa gue jadi gugup gini si kaya bukan gue aja, apa kata orang-orang nanti kalau seorang Ardana kavin abiputra gugup karna seorang cewe, ckk memalukan" Decak Ardan dalam hati. Randi yang melihat raut kesal di wajah Ardan pun menghampiri Ardan yang diikuti oleh kekasihnya Adisty. "Ar kenapa lo?" tanya Randi melihat muka Ardan yang tidak seperti biasanya. Buru-buru Ardan mengubah raut mukanya menjadi datar seperti biasanya lalu berkata "Ada apa?" Randy menggelengkan kepalanya, sebenernya Randy ingin sekali berteriak di depan muka datar Ardan, mana ada coba orang bertanya yang di jawab dengan pertanyaan lagi. "Enggak." Jawab Randy, lalu mengalihkan pandangan nya ke Alana "Lan malam minggu ini lo ada acara?" tanya Randy pada Alana tapi tatapan nya sekilas melirik ke Ardan sebelum menatap sepenuhnya ke arah Alana. Ardan yang mendengar pun ikut melirik ke arah alana. "Gak ada, kenapa emang?" jawab Alana sambil menegakkan badannya. "Kalo lo gak ada acara mending ikut sama kita Lan mau gak?" ucap Randy. Ardan yang mendengar perkataan Randy pun tanpa sadar tersenyum tipis masih dengan menatap Alana. "Iya Lan ikut aja dari pada lo kaya jomblo ngenes tiap malem minggu di kamar terus kaya ayam betelor." Sahut Adisty sambil terkekeh yang dibalas dengusan kasar Alana. "Emang acara apaan sih?" bingung Alana karna dua sejoli itu belum memberitahu Alana. "Acara rutin dragonfurry, rencana nya sih mau tour ke puncak. Iya kan Ar?" dengan cepat Ardan mengubah wajahnya menjadi datar kembali karena Alana dan sepasang sejoli itu sudah menatapnya dan menunggu jawabannya. "Iya. kalo lo mau ikut nanti biar di jemput." Menutupi rasa gugupnya Ardan mengepalkan kedua tangannya dengan erat dibawah meja. "Begini amat ngomong sama cewe yang kita suka." Ucap Ardan dalam hati. "Siapa yang jemput?" sahut Alana sambil memutar badannya agar berhadapan dengan Ardan. Entah hilang kemana rasa gugup yang mendera Ardan tiba-tiba dia mendekatkan diri ke Alana. "Lo mau di jemput sama siapa?" "Kalo gue mau nya lo yang jemput gimana?" "Gak masalah." "Oke kalo gitu gue ikut, nanti gue ijin dulu ke nyokap baru gue kabarin ke elo boleh atau enggak nya." "Biar gue aja yang izin! lo siap-siap aja nanti gue jemput jam 5 sore." "Lo tau rumah gue?" " Of course....not." Mendengar ucapan terakhir Ardan senyum Alana yang tadinya mengembang sedikt demi sedikit memudar Alana pun mencebik kesal. gemas dengan reaksi Alana, Ardan pun tersenyum dan mengacak rambut Alana. Alana terkesiap melihat dengan jelas Ardan tersenyum untuknya. Wahh bisa masuk ke 7 keajaiban dunia nih seorang pentolan SMA CAKRAWALA si pria dingin dan tak tersentuh tersenyum dengan lebar hanya karna ALANA, sudah pasti semua cewe yang ngefans dengan manusia dingin ini pasti bakalan iri melihat Ardan sang pentolan sekolah tersenyum manis kearah Alana. Randy dan Adisti yang melihat pun akhirnya kembali ke tempatnya karna tidak mau mengganggu dua anak manusia tersebut. Sadar dengan kelakuan nya Ardan pun berdeham dan memposisikan badannya ke posisi semula, disenderkan kepalanya ke bangku dengan mata terpejam. Gemas dengan kelakuan sang pentolan Alana pun menggoda Ardan dengan menusukkan jari telunjuknya ke pinggang Ardan tapi, Ardan tetap tak bergeming. "Ar ko pipi nya merah si kaya kepiting rebus." Goda Alana tapi tetap saja Ardan tak bergeming. "Just make it melt." Gumam Alana kecil lalu memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Tak jauh dari Alana dan Ardan, ternyata ada seseorang yang melihat kedekatan mereka dengan pilu, ia sudah menyukai !Alana sejak lama tapi dia tak mau ambil resiko, lebih baik seperti ini mencintai secara diam tanpa ada orang yang tahu tentang perasaannya. ••• Di lain tempat seorang lelaki sedang menunggu kabar dari informan nya, pria itu menatap lekat handphone yang sedari tadi tergeletak di meja. Dan tak lama handphone nya pun bergetar senyum tipis pun ia sunggingkan dan tak menunggu lama lagi dia lihat handphone nya ternyata sms dari seseorang yang sudah dia tunggu-tunggu sejak tadi yaitu sang informan. Unknown Sabtu, Villa rist Bogor setelah membaca pesan tersebut senyum pria itupun makin lebar, informan nya memang sangat bisa di andalkan. dicari nomer seseorang lalu ia menekan tanda telpon di layar handphone nya dan diletakkan di telinga nya. Tidak menunggu waktu lama ketika di deringan kedua panggilannya pun di angkat, tanpa basa basi pria itu memberi perintah kepada lawan bicaranya dan mematikan panggilannya secara sepihak tanpa mendengar jawaban lawan bicaranya disebrang sana. "Let'see, the game will start" Seringai pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD