13. Kena Kamu Mas.

1081 Words
POV Kasih Guntur Agam! Dia obsesiku, cinta pertama sejak melihat gambarnya yang di kirimkan oleh ibu Galuh padaku. Mas Guntur persis seperti orang yang ada di dalam tv, putih bersih dan mempesona, di tambah pula dia memakai seragam abdi negara, Ah! Sungguh mas Guntur adalah laki-laki idaman semua wanita. Aku hanya tamatan SMP, kata ibu dan bapak wanita tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya akan kedapur juga, tapi saat mas Guntur menyatakan kalau dia ingin datang ke kampung ku untuk menikahi ku aku langsung tidak bisa tidur siang dan malam, membayangkan betapa bahagianya diriku yang hanya tamat SMP akan di nikahi oleh laki-laki berseragam khaki. Di tambah pula mas Guntur datang dengan mengendarai mobil bewarna putih, dengan rencana menikahi ku dan membawaku ke kota. Ah! Beruntungnya aku. Pernikahan kami di rayakan dengan sederhana tepat di hari kedatangan mas Guntur itu juga, para warga kampung berbondong-bondong datang ke kenduri pernikahan aku dan mas Guntur, kepala desa, pak RT, ketua adat, tua-tua tengganai pun turut menghadiri pernikahan kami, hanya tua-tua keladi saja yang absen kali ini. "Kenapa kamu mau menikah denganku?" Tanya mas Guntur di saat malam pertama kami. "Aku mencintai kamu Mas." Jawabku seadanya, entah mengapa dia mempertanyakan hal seperti itu. "Benar-benar mencintai?" Dia terus menatap padaku seolah ingin kepastian. Aku mengangguk, mau jawab apa lagi, mas Guntur pantas di cintai, dia laki-laki sempurna, tidak mempunyai cacat cela. "Aku adalah laki-laki beristri." Aku tertegun, rasanya aku di bohongi oleh mas Guntur dan ibunya, kenapa tidak sejak awal dia mengaku beristri, kenapa sudah sah baru berbicara, aku marah! "Aku tau pasti kamu kecewa dan marah, tapi inilah kenyataan nya, aku menikahi kamu karena aku ingin membuktikan siapa di antara aku dan istriku yang mandul, tapi kalau kamu menolak terserah, aku tidak memaksa, kamu punya pilihan." Rasanya aku di hadapkan oleh pilihan yang berat, ingin menolak mas Guntur tapi aku sudah terlalu cinta, tidak ada lelaki seganteng dan se wah mas Guntur di kampungku ini, apa lagi si kang Asep, pemuda yang belakangan ini tergila-gila denganku, tidak selevel dengan mas Guntur, tapi jika mas Guntur di terima kok rasanya sakit ya, aku akan menjadi istri kedua. "Kalau kamu keberatan kamu tinggal bicara pada kedua orangtuamu dan hubungan kita tidak perlu di lanjutkan." Mas Guntur semakin menekan ku di dalam keraguan ini. "Tapi Mas aku ikut kamu kan?" Tanyaku ragu-ragu. "Tentu saja, jika kamu hamil." Akhirnya kami melewati malam pertama dengan penuh kehangatan, ini pertama kalinya bagiku, rasanya luar biasa, aku bahkan rela di gagahi oleh mas Guntur berkali-kali dalam semalam. Puncak kesedihanku adalah mas Guntur harus kembali ke kota esok harinya, dan dia tidak membawa serta diriku, alasannya banyak sekali kepada kedua orangtuaku, tapi aku sudah tau alasan yang sesungguhnya, aku harus hamil baru aku di bawa oleh mas Guntur ke kota, jika aku tidak hamil artinya aku di abaikan begitu saja. Miris nasib ku! Malam-malam ku lewati dengan bayangan mas Guntur, dan bahkan aku mulai di interogasi oleh para warga kampung yang memang kepo nya melewati batas normal, aku harus bagaimana ini? Dan yang lebih menambah kekhawatiran ku adalah aku mendapati datang bulan, di saat Minggu kedua mas Guntur meninggalkanku, artinya apa? Cocok tanam kami di malam itu gagal! Pupus lah harapan yang semula bersemi di dalam hati. Di tambah lagi ibu mertuaku menelponku hampir setiap hari, menanyakan apakah aku sudah mengalami tanda-tanda kehamilan? Tiba-tiba tercetus sebuah ide gila di dalam benakku. Bulan berikutnya aku hamil, kabar baik ini langsung aku beritahu kepada ibu Galuh sebagai ibu mertuaku, aku tidak bisa memberitahukan langsung kepada mas Guntur karena dia sama sekali tidak memberikan akses untuk menghubunginya, jadi aku dan mas Guntur komunikasi melalui ibu Galuh. Mas Guntur menjemput ku sembilan bulan kemudian, jadi selama itu pula aku menanggung berbadan dua sendirian, cukup berat di tambah lagi komentar para tetangga, bayangan mas Guntur bermesraan dengan istrinya terus menghantuiku setiap saat, secantik apa wanita itu sampai mas Guntur tega membuat diriku seperti ini, sampai tega menjadikan aku bahan percobaan untuk membuktikan kalau dia mandul apa tidak. Tidak mengapa, aku akan membalas sikap tega mas Guntur dengan sesuatu yang lebih menyakitkan lagi, berani menikah dengan ku berarti berani menerima segala resiko yang akan terjadi dalam keluargamu mas! Mas Guntur menangis haru saat melihatku, melihat perutku yang membuncit, dia langsung memelukku dan mencium perutku. "Kapan lahirannya Kasih? Apakah ini sudah menunggu hari? Mas sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak kita." ucap mas Guntur dengan mata berkaca-kaca, tentu saja dia menganggap aku akan segera melahirkan karena berdasarkan perhitungan ini bulan kesembilan kami menikah, tetapi usia kandunganku baru menginjak tujuh bulan, biarlah itu menjadi rahasia diriku saja. "Iya Mas, ini sudah mendekati kelahiran bayi kita, kamu berjanji akan membawa aku ke kota kan Mas?" tanyaku penuh harap "Kamu menjemput ku kan Mas?" "Maafkan aku kasih, aku tidak bisa membawamu ikut serta, setelah anak ini lahir aku akan membawa anak ini saja bersamaku, aku tidak mau melukai Syala sebagai istriku, maafkan aku kasih!" Aku tidak percaya jika mas Guntur akan mengatakan hal demikian, hal yang tidak seharusnya di katakan nya, apakah aku orang kampung dan dia menganggap aku bodoh! Keterlaluan mas Guntur. "Kamu ingkar janji Mas, kamu bilang akan membawa ku ikut serta jika aku hamil, lalu aku mendapatkan apa dari pernikahan ini Mas? Jangankan ingin mendapatkan kamu, bahkan darah dagingku sendiri ingin kamu ambil dariku, kamu jahat Mas!" Aku memukul d**a mas Guntur, melampiaskan amarah ku yang memang sedang memuncak. "Kasih, tenanglah! Bukankah kesepakatan kita sejak awal sudah jelas, aku menikahi kamu bukan karena aku mencintaimu, melainkan aku hanya ingin membuktikan bahwa di dalam pernikahan kami bukan aku yang salah, kamu bahkan sebelumnya tau itu." Mas Guntur berusaha menenangkan aku. Dasar laki-laki bodoh dan munafik. "Terserah kamu Mas, pokoknya aku tidak mau menyerahkan bayi ini pada kamu, kalau kamu memaksa aku tidak akan pernah melahirkan anak ini, aku akan membunuhnya!" Kebetulan ibu dan bapak ada di sawah, orang tuaku tidak mendengarkan pertengkaran kami, aku keluar kamar dan berlari kedapur untuk mencari pisau lalu mengarahkan pada perut buncit ku. "Ini balasan untuk orang egois seperti kamu Mas!" Aku mengangkat pisau bersiap untuk menusukan pada perutku. "Jangan Kasih!" Aku tau pasti mas Guntur akan menyusul ku dan menghentikan drama yang sengaja ku lakukan ini. Mas Guntur itu lemah, aku tau dia tidak pernah tega dengan wanita. Mas Guntur merebut pisau yang hampir menusuk perutku, lalu dia kembali memelukku. "Maafkan aku Kasih, aku akan membawamu ke kota ikut tinggal bersama kami." ucapnya dengan rasa bersalah yang tinggi. Sedangkan aku yang berada dalam dekapan mas Guntur tersenyum penuh kemenangan! Kena kamu mas!.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD