Akhirnya hanya air mata yang bisa ku tumpahkan, bayiku tidak selamat, tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan kesedihanku, selain dari kesedihan aku juga merasakan perasaan lain yaitu ketakutan, aku takut dengan meninggalnya bayiku aku akan di pulangkan ke kampung. Tidak lucu kan kalau aku pulang kampung, sementara kehidupan di kota belum aku nikmati, aku harus mencari cara agar tetap menjadi istri mas Guntur dan mencari cara untuk menyingkirkan wanita itu. Memang wanita itu di benci oleh ibu mertuaku dan iparku, tapi dia sangat di sayangi oleh suaminya, sampai-sampai mas Guntur harus pulang kerumah hanya untuk menjaga perasaannya dari pada menemaniku yang jelas hancur karena kehilangan anak kembar. Dan kali ini dia dengan tanpa perasaan bergandeng mesra di depanku, hatiku yang sakit

