Penangkapan yang gagal

1054 Words
Gilang dan Darren pun melaksanakan tugasnya untuk menggeret Stefan dan temannya ke ruko di mana Sean berada. Mereka sudah gemas ingin mengintrogasi korban-korbannya itu. Namun, saat mereka sedikit lagi sampai di ruko.  Stefan dengan cepat menonjok Gilang dari belakang kemudian menyelamatkan temannya dan kembali berlari menjauhi mereka. “s**l! Dia berhasil lolos lagi!” teriak Gilang yang tampak terkulai lemas di lantai sambil memegangi lehernya yang dijadikan samsak oleh Stefan. Darren ingin mengejar, namun ia tidak tega dengan Gilang yang tampak sangat kesakitan itu. “Lo gapapa kan? Ya udah kita ke ruko dulu yuk,” ucap Darren kemudian mengetuk rolling door yang di dalamnya berisi kedua temannya dan satu penjahat yang berhasil mereka bekuk. Andai saja ada sebuah kantor polisi di sini pasti sudah banyak kasus kematian  yang mereka laporkan dan tak jauh-jauh dari sana. Darren pun membopong Gilang ke ruko yang baru saja Alefukka buka, Alefukka cepat-cepat membantu Gilang untuk duduk. “Gimana udah dapet orangnya?” tanya Alefukka dengan wajah penasaran begitu pun Andrew yang terlihat gugup ia takut jika Gilang dan Darren menemukan ketiga orang itu. “Dapet Cuma dua sih, salah satunya adalah Stefan dan satunya lagi gue ga tau namanya,” kata Darren dengan wajah gusar, ia tak menyangka jika teman kostnya berani berkhianat seperti itu. Wajah Alefukka juga tampak terkejut mendengar nama Stefan, Stefan adalah mahasiswa yang paling akrab dengan Darren dan merupakan teman kost pemuda itu. “Satunya lagi Si Rezki, kalau dia emang gue gak heran dia tipe anak-anak begajulan, tapi yang gue gak habis pikir adalah Stefan mahasiswa yang bisa dibilang sangat rajin dan kutu buku seperti itu malah masuk ke dunia game dan berkumpul dengan orang-orang bengal seperti Rezki,” ucap Gilang dengan wajah yang tak habis pikir. Sebenarnya orang-orang yang disebutkan bukanlah player game dan tentu saja mereka pastilah dipaksa benar kata Andrew. Alefukka melihat Andrew dengan tatapan membenarkan. “Semua orang bisa berubah tanpa lo sadari, jadi jangan terlalu muluk menganggap semua orang sama dan baik dilihat dari penampilannya,” ucap Andrew memperingati. Sebenarnya apa yang dikatakan Andrew ada benarnya, namun ketidaksukaan Darren membuat pemuda itu memelototi Andrew. “Kita lagi gak ajak ngomong lo ya! Lang sumpel mulut itu orang!” ucap Darren memerintahkan Gilang untuk kembali menyumpal mulut Andrew agar orang itu tak lagi bersuara atau berpendapat disela-sela pembicaraan mereka. Gilang yang berada di dekat Andrew langsung menyumpal pria itu tanpa berbasa-basi, kepalanya yang sedang sakit membuat ia lebih cepat emosi dari pada biasanya. Darren menghela napas, sedari tadi ia sudah lelah karena harus bertengkar dengan orang-orang itu. Namun, saat ia mau istirahat malah Andrew penuh dengan kebacotannya. Andrew terpaksa menerima perlakuan Darren dan Gilang dengan sepenuh hati karena dirinya benar-benar sudah tak berdaya, tangannya sudah terlalu pegal karena ikatan Gilang yang begitu kencang. Alefukka menatap Andrew miris, ia tidak bisa membantu Andrew karena ia juga tidak ingin mengkhianati extramers dengan membantu musuh. Bagaimana pun Andrew adalah musuh mereka dan berkomplotan dengan tim gladiator walaupun anak tiri tetap saja tidak bisa membuat Andrew dapat dipercaya. “Bagaimana keadaan Sean? Dia belum bangun juga?” tanya Darren seraya mendekati sahabatnya itu melihat Sean yang sedang terbaring di dekatnya. Rasanya benar-benar menyedihkan ketika melihat sahabat yang terbaring di lantai dengan kondisi tak menyenangkan itu. “Lo lihatkan karena komplotan lo, Sean jadi seperti ini. Apa lo gak punya rasa kasihan sama sekali melihat orang lain menderita?” tanya Darren menatap Andrew dengan tajam, ia kesal sekali dengan manusia bebal satu ini. Andrew tak memberikan reaksi apapun selain menunduk, ingin mengatakan yang sebenarnya juga tak akan bisa membuat Darren percaya. “Sudahlah, gak baik ngomel di depan orang yang lagi sakit. Kita harus tunggu Sean pulih dulu dari lukanya baru bisa menyelidiki yang lain-lain,” kata Alefukka menasehati Darren agar tak lagi membuat kekacauan di dalam ruko yang sudah sumpek itu. Darren terdiam, memang sebaiknya mereka menunggu Sean siuman dari pingsannya dulu baru bisa fokus pada hal lainnya. “Selamat datang di game survival. Halo para pemain hebat, selamat karena kalian sudah berhasil mendapatkan si ‘tak kasat mata’ yang dimaksud kami. Oleh karena itu tunggulah pengumuman berikutnya untuk mendapatkan misi selanjutnya. Semoga harimu menyenangkan” Semua yang berada di ruko benar-benar merasa bahwa mereka belum menemukan tak kasat mata yang dimaksud, namun sepertinya penangkapan Rezki dan Stefan yang dianggap sebagai si tak kasat mata sudah dianggap tertangkap walaupun satunya belum sempat tertangkap. “Berarti benar yang dimaksud si ‘tak kasat mata’ adalah orang-orang yang tersembunyi itu?” tanya Darren yang merasa bahwa mereka benar-benar hebat karena menyelesaikan misi ketiga ini. Alefukka melirik ke arah Andrew yang tampak aneh, Alefukka kemudian terdiam. Ia merasa misi ketiga ini bukan sebuah misi yang nyata ini hanyalah sebuah pengalihan belaka yang dilakukan tim gladiator. “Sepertinya begitu, berarti analisa Alefukka kali ini salah,” ujar Gilang yang merasa aneh juga karena Alefukka baru pertama kalinya salah dalam menganalisa sesuatu. Padahal Gilang tahu persis bahwa Alefukka tak akan menganalisa jika ia merasa belum yakin. “Namanya manusia ya wajar salah,” kata Darren dengan santai, ia tidak peduli tentang analisa Alefukka yang mungkin saja benar. Sean mengerjapkan matanya pelan melihat sekeliling yang tampak buram, kepalanya juga masih merasa sakit dan nyeri. Membutuhkan waktu beberapa menit sebelum benar-benar bisa melihat dengan jelas semua yang berada di ruko itu. Sean lupa apa yang terjadi dengan dirinya sampai bisa pusing seperti ini padahal ia tidak mencelakakan diri. “Sean, lo udah bangun? Syukurlah kita panik banget kalau ternyata lo mati di sini dan kita harus berhadapan dengan mayat,” kata Gilang yang langsung memeluk Sean. Darren terlihat jijik melihat Gilang memeluk Sean. Entah mengapa kedua lelaki yang berpelukan seperti sebuah hal yang menjijikkan untuk dilihat, mungkin itu sudah takdir mengapa para pria sangat menjijikkan jika sudah berdekatan dan berpelukan. “Kalian siapa?” tanya Sean yang sepertinya belum sadar betul, Darren, Alefukka dan Gilang saling pandang. Mereka tidak mungkin harus membawa-bawa orang yang lupa ingatan dalam keadaan seperti ini. “Sean, ini kita sahabat lo masa gak inget? Lo tadi dicelakain sama orang, tapi belum berhasil kita tangkap pelakunya. Kalau lo udah sembuh kita bisa menyelidiki ini sama-sama,” ucap Gilang dengan wajah tegang, ia takut bisa saja luka di kepala Sean membuat pemuda itu tak bisa mengingat lagi apa yang terjadi dan tampaknya tak ada waktu untuk menjelaskan kembali pada Sean apa yang sedang terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD