Bab 64

1626 Words

“Fanfan.” Luna membuka pintu melihat Rafan masih dengan benda pipih besar di tangannya, fokus dan terlihat sangatlah tampan. Sekejap, Luna menyadari betapa bersyukurnya ia memiliki suami yang tampan, tak rugi jika pernikahannya terjadi bukan atas dasar cinta. Menggeleng kepala dan menepuk pipi untuk menyadarkan bukanlah itu tujuannya masuk ke kamar. Luna pun datang, menyandarkan bokongnya di meja menatap Rafan yang duduk di atas kursi. “Fanfan, mengenai yang tadi … lo marah ya?” Mencoba untuk tak basa-basi agar cepat menemukan akar penyebab Rafan mendadak cuek. Tak menjawab, Rafan menggoreskan stylus di atas layar iPad tepat pada namanya sebagai wakil CEO Efendi Sejahtera. “Fanfan!” Kesabaran Luna hanya setipis tisu. Gemas, dia pun menarik tangan Rafan sampai membuat stylus bergerak ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD