"Tadi gue ketemu cewek pake sepada ke sini masa, gue lumayan kaget ya. Baru liat orang naik sepeda di halaman sekolah yang megah ini," ujarnya. Tak ingin memikirkan dia lebih baik pulang ke rumahnya. Dari pada harus memikirkan cewek aneh itu. Icha yang sedang mengayuh sepedanya akhirnya sampai pada tujuan. Icha harus bisa mandiri, di usianya yang masih sangat mudah. Dia tak ingin merepotkan Reifa dan juga neneknya. Walau pun begitu, dia juga harus sadar sesuatu. Bahwa dirinya masih seorang anak kecil, yang bahkan harus diberikan kasih sayang lebih dari kedua orang tuanya. Tapi takdir Icha tetaplah sama, percuma selalu mengingat apa yang terus menyakiti hatinya. Bukan mendapatkan ketenangan dan kesenangan, tapi penderitaan dan juga siksa batin. Ah terlalu aneh jika dirangkai dengan sebua

