Hilangnya Surat Wasiat

1199 Words
“Itu berarti, ada orang lain yang sengaja datang ke kamar Bayu untuk mengambil dokumen itu.” Jamil pun menerka-nerka. Sambil membereskan map yang tercecer di lantai, ia menatap wajah istrinya nanar. Hafsah menggeleng. Meskipun saat itu berada dalam rumah, Hafsah tidak berani menerka-nerka lebih jauh. Hafsah ingat kondisinya saat itu sangat tidak memungkinkan. Ia yang pada malam itu sedang melalui proses pengobatan, merasa tidak konsentrasi dengan segala hal. Hafsah hanya fokus terhadap penyakit yang dideritanya pada malam itu. “Malam itu, Bayu juga sempat telepon Mas minta solusi. Dia kebingungan lantaran tidak memiliki uang dua koma lima juta untuk membayar Ki Mutar. Jadi, Mas memberikan solusi untuk membayar dukun tersebut dengan uang seadanya saja. Selebihnya, Mas akan bayar setelah pulang,” ungkap Jamil sambil terus melayangkan pikiran jauh ke belakang. “Oh, jadi Bayu sempat telepon Mas dulu?” “Ya. Itu pertama kali Bayu telepon Mas dan setelah itu, Dia mulai menceritakan semua hal yang terjadi sama kamu dan Lala di rumah. Oleh sebab itu Mas memilih pulang lebih cepat.” Mendengar penjelasan dari sang suami, Hafsah mengangguk-angguk sambil terus menitikkan pandangan ke beberapa map yang tak bertuan. “Mas, sebentar, deh!” Hafsah mengambil satu map hijau tua yang sedikit terbuka di hadapannya. “Map ini kosong. Seharusnya, di dalam map ini ada dokumen sertifikat tanah dan sertifikat rumah ini, Mas.” Hafsah terbelalak. Dua alisnya hampir bertaut saat menyadari sesuatu. “Astagfirullah.” Jamil yang awalnya hanya memperhatikan, langsung mengambil alih map hijau dari tangan istrinya. Kosong. Map itu benar-benar kosong. Tidak ada sehelai kertas pun yang tertinggal di sana. Jamil kemudian melirik Hafsah. Wanita di sampingnya tampak begitu syok dan hampir tidak percaya kalau satu-satunya harta peninggalan yang diwariskan kepadanya, ternyata dicuri oleh seseorang yang entah tujuannya untuk apa. “Ini tidak bisa dibiarkan, Dek. Kalau memang ada orang yang sengaja mengambil surat-surat itu. Sudah dapat dipastikan, orang tersebut memiliki suatu niat terhadap keluarga kita. Dan yang Mas takutkan, orang tersebut mempunyai niat tak baik atau bahkan, ingin menguasai seluruh rumah ini.” Jamil pun berandai-andai. Wajahnya sedikit menampakkan kegeraman. Lelaki itu tidak menyangka bahwa kepulangannya kali ini, malah dihadapkan dengan suatu perkara yang sulit. Tidak ada yang bisa Hafsah perbuat selain menitikkan air mata. Wanita yang baru saja keluar dari rumah sakit itu, merasa terguncang dengan kenyataan di depan mata. “Apakah ini semua adalah pertanda bahwa di antara kami, ada yang ingin memperebutkan warisan?” Hafsah mengajukan pertanyaan yang entah pada siapa. Tatapannya seketika kosong. Matanya hanya tertuju pada tumpukan map warna-warni di atas tempat tidur sang adik. “Mas tidak membenarkan sikap suudzon, Dek. Walau bagaimanapun, keluarga adalah orang-orang yang seharusnya kita percaya. Kita tidak boleh berpikiran buruk sedikit pun kepada salah seorang dari keluarga. Kita harus tabayyun dan mengatasi masalah dengan pikiran jernih. Kalau sejak awal kita sudah berandai-andai, pikiran buruk pasti akan terus membersamai.” Jamil berusaha menenangkan Hafsah sambil mengusap-usap pelan bahu wanita itu. “Kalau sudah begini, kita bisa apa, Mas? Apa yang seharusnya kita lakukan? Pasrah? Lapor polisi?” Hafsah tertunduk. Dua tangannya sibuk menyeka buliran bening yang tidak mau berhenti mengalir di pipi. “Jangan, Dek. Kita jangan tergesa-gesa melaporkan ini pada pihak kepolisian. Kita harus melakukan musyawarah terlebih dahulu. Siapa tahu di antara saudara kita, ada yang mengambilnya dengan sengaja untuk suatu keperluan. Kita tidak bisa menuduh terlalu jauh dan harus tetap tenang agar yang lain menganggap semua baik-baik saja.” Meskipun merasakan kejanggalan, Jamil tetap berupaya membuat Hafsah tenang. Ia tidak ingin istrinya mencurigai saudara sendiri. Terlebih, urusan harta dalam keluarga adalah urusan yang sangat sensitif dan tidak bisa ditangani dengan cara emosi. “Kami belum salat asar, kan!” Jamil meraih dagu Hafsah dan mengangkatnya. “Belum, Mas.” “Kalau begitu, kamu salat dulu, ya! biar Mas yang bereskan ini semua. Mas juga mau telepon Bayu setelah ini,” pinta Jamil dengan penuh kelembutan. Ia pun tak segan mengusap wajah istrinya yang tampak terhalang kesedihan. Kecupan lembut, lelaki itu daratkan di kening Hafsah sebagai bentuk semangat dan kekuatan. Hafsah menunduk sambil mengulum senyum. Rona kesedihan di wajahnya kini berganti dengan sipu malu. Namun, apa yang telah hilang dari dirinya, masih sangat melekat dalam ingatan. Hafsah merasa bersalah dan hilang kepercayaan diri di hadapan sang suami, mengingat keadaan fisiknya yang tidak sempurna lagi. “Aku ke luar dulu, ya! Jangan lupa dibereskan kembali,” pinta Hafsah seraya menarik tongkatnya. “Baik, Sayang. Kamu hati-hati, ya. Jangan melangkah terburu-buru. Nanti malam, kita akan bahas hal ini lagi. Sekarang, kita harus tetap bersikap seperti biasa agar tidak ada orang yang curiga.” Jamil tak henti-hentinya berpesan. Lelaki itu sangat tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya. *** Sementara itu di sebuah rumah, dua orang laki-laki sedang duduk bersemedi. Sambil bersila dan menangkup kedua tangan, dua laki-laki beda usia itu tidak henti-hentinya melafalkan bacaan mantra. Beno dan Ki Mutar. Keduanya tampak khusyuk dan tidak bergerak sedikit pun meski telah duduk di posisi itu selama delapan jam. Mereka tidak makan atau pun minum. Padahal di hadapan mereka,. Begitu banyak buah-buahan dan makanan yang diperuntukkan untuk persembahan. Aroma sisa-sisa dupa yang masih menyala di wadah tanah liat, amat begitu menyengat di indra penciuman. Keringat sebesar biji jagung, mengucur deras di tubuh dua lelaki tanpa busana itu. Rupanya Ki Mutar dan Beno sedang melakukan semedi singkat. Ini adalah kali kedua Beno melakukan hal itu. Terakhir kali Beno melakukan semedi adalah, saat malam pertama meninggalnya sang ibu mertua. Semedi Beno pada saat itu bertujuan untuk meminta bala bantuan kepada pasukan gaib, untuk mengirimkan gangguan ke rumah Hafsah secara bertahap. Oleh sebab itulah pada malam itu, Lala dan Hafsah mengalami halusinasi sampai Hafsah Hampir tewas tercebur sumur. Pada semedi yang kedua ini, Beno pun berniat untuk mengirimkan kembali gangguan-gangguan gaib ke rumah tersebut. Laki-laki itu ingin Hafsah dan suaminya tidak betah tinggal sehingga memilih untuk meninggalkan rumah tersebut dan pergi jauh dari desa ini. Bukan tanpa alasan Beno sampai nekat melakukan hal itu. Ia sangat butuh biaya besar untuk melunasi hutang-hutangnya yang sampai ratusan juta yang pernah ia pergunakan untuk berjudi. Ya, Beno sendiri merupakan pejudi ulung. Oleh sebab itulah, selama bekerja sebagai mandor beberapa tahun di kebun mertuanya, Ia tidak sama sekali menghasilkan simpanan berbentuk rumah atau tanah, atau tabungan deposito sedikit pun. Upah Beno pada saat itu sudah sangat lebih dari cukup. Namun, Haya justru tidak mendapat hak yang benar sesuai dengan penghasilan suaminya. Jatah belanja Haya sangat pas-pasan, hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan satu bulan. Oleh sebab itulah, ketika dua mertuanya meninggal, Beno seperti mendapatkan jackpot. Ia sudah sangat yakin istrinya akan mendapatkan sebagian harta warisan. Namun, saat mengetahui jatah Haya adalah sebuah ruko di pinggiran pasar, Beno menjadi enggan untuk menjualnya. Beno ingin ruko itu sebagai sumber penghasilan. Dan kini, Beno mengincar rumah dan tanah yang menjadi jatah Hafsah. Beno ingin menjual rumah tersebut tanpa sepengetahuan dua adik iparnya. Berbagai macam cara pun dilakukan oleh Beno, baik gangguan fisik maupun gaib telah Beno lakukan agar Hafsah dan anak suaminya merasa tidak betah tinggal di rumah itu. Semangat Beno begitu menggebu-gebu. Ia sudah tidak sabar dengan keberhasilannya melihat Hafsah pergi jauh dari rumah itu. Namun, Beno sendiri tidak tahu kalau ternyata sertifikat dan surat-surat yang menyangkut rumah tersebut, ternyata telah hilang entah ke mana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD