Chapter 82

1059 Words

“Kenapa, Nau?” “Lo bisa temui gue sama Rita?” “Di mana?” “Nanti gue kabarin lagi, ya.” “Oke.” Sambungan terputus, dan Ale tidak begitu memikirkan apa pun. Dia bahkan tidak penasaran terhadap pembicaraan macam apa yang akan dia dapatkan dari Rita atau pun Naura. Cowok itu kembali memandangi boneka babi yang sudah tampak kotor akibat terkena debu setiap hari. Ale berniat untuk mencuci boneka tersebut nanti. Pemberian Ajeng harus dia rawat dengan baik meskipun pemiliknya sudah tidak mau lagi bersama dengan dirinya. Ponsel Ale berdenting. Tidak segera dibuka olehnya, karena terlalu fokus pada kenangan yang diputar oleh otaknya secara otomatis. Pesan yang masuk ke ponselnya baru dia baca satu jam kemudian. Pesan tersebut berisi sebuah foto yang membuat jantung Ale terasa seperti melo

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD