Galih mengangguk. "Iya, Sayang. Gue paham banget. Tapi kita nggak bisa apa apa selain nunggu. Nunggu kabar dari Ajeng atau bahkan dari Ale. Biar kita nggak menebak nebak kayak orang tolol." Rita bangkit, melepas pelukannya dari tubuh sang pacar. Netra cewek itu menatapnya dengan binar penuh harap. "Kabar masnya Fatir gimana, Ga?" tanya dengan penuh antusias. Galih tampak berpikir. "Kalau itu … gue kurang tahu. Meskipun masnya Fatir staf rektorat, untuk ngebujuk yang punya akses ke keamanan, kan, bukan hal yang mudah." Sinar penuh harap dalam netra seorang Rita Armadina hilang dalam sekejap. Berganti menjadi raut tanpa gairah. "Sayang." Galih meraih tangan Rita, lalu menggenggamnya erat-erat. "Lo harus yakin, ya? Ajeng pasti ngehubungin lo atau Naura kalau waktunya udah tepat. Bisa

